My Clown Boy

My Clown Boy
22


__ADS_3

"bagaimana cara mengetahui jika itu rasa,jika kamu tak pernah memberinya kesempatan"


***


Fany terbangun diruangan yang tak asing,dengan warna pink yang mendominasi siapapun kan tahu kamar siapa itu. Fany mengerjapkan mata beberapa kali, "kok bisa gue ada disini"batinnya.


Fany memegang kepalanya mencoba mengingat,dan sebuah memori terlintas. Lapangan upacara,ciuman,hukuman,dan pingsan. Omg, masa dia lupa. Tadi dia dihukum karena hal itu. Walaupun gak sengaja tapi dinikmati,kayak ada manis-manisnya kaya lemineral(uh kenapa jadi ngiklan).


Fany memikirkan kejadian tadi pagi tak menyangka first kissnya jatuh padanya. Fany tak berhenti tersenyum hingga pintu kamarnya terbuka. Fany berlari demi melihat siapa yang sekarang berdiri di depan pintu.


"mami!!!!"teriaknya,karena sangat merindukan orang itu. Bayangkan pamitnya Cuma sepuluh hari,tapi hasilnya hampir tiga bulan baru kembali. Untung Fany mengerti kesibukan orang tuanya itu karena tuntutan bisnis. Walaupun jujur Fany sangat kesepian,apalagi Aly juga sedang menjalani program pertukaran pelajar di Singapura.


Ratih tersenyum melihat tingkah putrinya yang masih seperti biasa.


"Mami baru pulang?"tanya Fany disertai rengekan manjanya.


"kerjanya baru selesai sayang",Ratih menjelaskan seruntut mungkin.


Fany memutar bola mata,hafal betul apa jawaban ibunya.


"Mami gak lihat Fany kurusan!" Fany masih terus mencari perhatian,agar ibunya itu mengerti apa yang sebenarnya ia inginkan.


"kok bisa!" jawaban itu membuat Fany menghela nafas pelan,pada akhirnya ia harus sadar bahwa keinginannya agar ibunya selalu ada untuknya tak akan pernah dimengerti. Kode seperti apapun yang ia gunakan,bisnis mereka akan lebih utama.


Dia jadi berfikir mungkin ibunya menyekolahkannya di sekolah Aly agar ada yang mengawasinya,tapi percuma. Karena ia rasa kesialannya datang setelah sekolah di AH.


"abisnya Fany kurang belaian kasih sayang!"cengirnya,walaupun bermaksud menyindir secara halus.


"gimana keadaanmu udah baikan"


"iya.mi ku yang jarang dirumah!"akhirnya ia mengucapkannya secara gamblang.


Fany menepuk jidatnya,pelan lalu duduk di kasurnya sambil menatap ribuan sticky note warna warni yang selalu ia tempel setiap bertemu Adly.


"Mi. Kok Fany bisa ada disini ya? Perasaan tadi masih ada di sekolah"


Ratih berfikir sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Fany,"Um...kamu tadi pingsan lalu diantar teman kamu kesini".


"cewek apa cowok Mi!" Fany semakin penasaran


"ya cowoklah Fany!"ucap Ratih gemas sambil mencubit pelan pipi putrinya,sehingga Fany mengaduh kesakitan.


"terus terus namanya siapa?" perasaan Fany tiba tiba mengahangat,jantungnya berdebar berharap orang itu Adly. Walaupun gak mungkin,dan itu harus digaris bawahi.


"gak tahu mami lupa nanya!" Fany kecewa mendengarnya,


"orangnya gimana?"dan seakan harapnnya belum musnah dia mencoba mencari tahu ciri-cirinya.


Ratih berfikir sejenak"....orangnya sih baik,ramah,sopan,ganteng,tinggi,putih,kayaknya dia perhatian banget ke kamu deh...."cerita Ratih berapi api.


"Tapi....."tiba tiba bel rumah mereka berbunyi,dan ucapan Ratih terpotong.


"Tapi apa mih?"


"kayaknya ada orang dibawah deh!" ujar Ratih kemudian meninggalkan Fany sendirian di dalam kamar dengan perasaan berkecamuk,udah digantungin oleh ibunya sendiri. Kan rasanya gak enak.


Fany kemudian mengambil Hpnya di nakas,berniat mengirimkan pesan ke Adly.


Boyfriend(online)


Hai ad! Lo apa kabar


√√


ih Adly kok lo diamin gue sih


√√


Adly! Adly! Adly! Adly!


Adly! Adly! Adly! Adly! Adly! Adly!


Adly! Adly! Adly! Adly! Adly! Adly!

__ADS_1


Adly! Adly! Adly! Adly! Adly! Adly!


Adly! Adly! Adly! Adly! Adly! Adly!


Adly! Adly! Adly! Adly! Adly! Adly!


√√


2 jam kemudian


Ck! Pengganggu!


What the f*** hanya itu balasan dari penantian Fany yang panjang,nulis aja malas. Gimana kalau ketemu secara langsung. Pasti akan terlihat seperti biasanya,gak peduli bahkan jika Fany salto sekalipun.


Dia memang sering mengirimi Adly pesan dan akhirnya selalu mengenaskan. Ya!tiap malam Fany mengirimi cowok itu chat,sekadar bertanya tapi sangat jarang dibalalas. Fany tiba tiba iseng ingin mendengar suara cowok itu. Dia segera menelpon si cowok es batu.


" Halo! Adly sayang. Gimana rindu gak sama gue?" entah mengapa Fany menjadi sesemangat ini padahal baru beberapa jam yang lalu ia berbaring tak sadarkan diri disini.


Dia mengambil foto Adly,berukuran 5R yang pernah ia ambil secara sembunyi sembunyi ketika cowok itu menatapnya sinis. Lalu memeluknya.



"gak"


"kok gitu sih" Fany memberengut kecil,sambil memainkan kakinya.


"lo gimana?"


"apanya?"


"mmmm..."


"apanya memang"


"keadaannya"Fany tertawa mendengarnya,merasa beruntung karena cowok itu tiba tiba saja bertanya


"menurut lo!"


"apanya"Fany benar benar merasa seperti orang **** bicara dengan cowok itu.


"gue udah baik. Cie yang perhatian ke gue!" Fany benar-benar gemas ingin tahu bagaimana reaksi yang ditunjukkan Adly terhadapnya.


"gue tutup"


"kenapa?"


"gk penting"


"eitsssss jangan- gue mau ngajak lo nonton"


"lo baru pingsan" Fani sekarang berguling diatas kasur,tanpa sadar Adly memerhatikannya.


"lo kenapa?"


"seneng! Diperhatiin Adly!"


"gue tutup"


"adly!please,Cuma hari ini. Mau ya!"


"gak"


"gue mohon"


"gak"


"ya!"


"lebih baik gue mati aja deh!


"oke!oke.Cuma 5 menit"


"yaps"

__ADS_1


Walaupun yang dikatan Adly Cuma 5 menit tapi Fany nanti akan melakukan segala cara agar mereka bisa nonton lebih lama. Mana ada coba Film yang durasinya cuma 5 menit. Tapi setidaknya,Fany sekarang bisa mengajak cowok itu jalan.


Kalau kalian mengatakan Fany cewek bodoh,maka ia akui itu. Dia sangat bodoh sementara yang hidup disekitarnya semua orang pintar,termasuk saudara kembarnya sendiri. Aly. Tapi Aly tak pernah mempermasalahkannya. Karena walaupun menyebalkan abangnya itu sangat sayang padanya.


Fany memutuskan untuk menghirup udara segar di balkon,langkahnya terhenti ketika menemukan kotak kecil yang bertuliskan 'untuk Fany'.


Kening Fany mengeriyit,lalu mengambil kotak itu perlahan. Siapa yang meletakkan kotak itu di depan kamarnya. Dengan beribu tanda tanya cewek itu membukanya,lalu duduk dikursi kayu yang memang terletak dibalkonnya.


Dan terlihat dengan jelas surat warna abu abu dengan gambar tengkorak.bertuliskan badboy.


"jangan mengejar sesuatu yang gak akan pernah kamu raih. Tapi cobalah membuka mata,apa yang menunggumu mungkin lebih baik"


Dan setiap kalimat,dari surat yang ia dapat dari si badboy tak pernah ia mengerti dengan jelas. Selalu memiliki makna ditiap kata. Tak ada tanda tanda si pengirim disana. Badboy itu mungkin orang yang berada disekitarnya,mungkin pula orang yang tidak ia tahu tapi mengenalnya dengan dekat. Fany melirik jam tangannya,pukul 15.15.


"gue harus datangin tuh cowok!"gumamnya. lalu Fany segera mengganti bajunya. Dia memutuskan mengguanakan kemeja warna biru lengan panjang dipadukan luaran warna hitam. Dan penampilannya sungguh cantik.



"mi Fany mau keluar dulu ya!"ijinnya pada ibunya yang sedang membaca majalah.


"kemana?"


"mau ketemu teman mi!"


"teman atau pacar?"selidik Ratih sambil tersenyum menggoda.


"teman mi! Tapi doa'in semoga bisa jadi pacar!"


Ratih tersenyum maklum,emang dasar anak muda batinnya.


"pulangnya jangan kemaleman!"


"oke!"Fany sudah ngacir ke tempat biasanya pak Karman(sopir)dan pak Supri(satpam) nonton acara indosiar.


"mau kemana non?"Pak karman reflek bertanya melihat majikannya rapi,dan terlihat sedikit buru buru.


"nanti saya tunjukin tempatnya Pak!",dan Pak Karman segera mengeluarkan mobil,lalu mengantar Fany ke tempat Adly bekerja. Sebuah mall yang memang selalu ramai dikunjungi.


Setelah mobil berhenti,Fany langsung masuk mencari Adly. Karena biasanya cowok itu berada di permainan anak-anak selama bekerja di tempat ini.


Dan benar saja,tanpa perlu bersusah susah mencarinya gadis itu melihat Adly seperti biasanya dengan kostum badutnya. Fany segera menghampirinya lalu merangkulnya dari belakang.



Fany menyapanya,yang entah mengapa tiba tiba Adly yang tadi kesenangan bermain langsung kaku. Mukanya yang tadi berseri langsung menghilang,walaupun orang lain gak akan mengenalinya cewek di hadapannya ini. Justru seperti memiliki radar yang bisa menemukannya kapanpun dan dimanapun. Adly menatapnya tak suka lalu menatap tangan cewek berambut coklat itu yang masih setia bertengger di bahunya.


Fany mengerti maksud tatapan itu langsung menurunkan tangannya. "Adly jalan yuk!lo tadi udah janji sama gue"Rengeknya.


Adly menghela nafas pelan,perasaan dia tidak pernah mengajak jalan cewek ini. Hanya Fany yang terlalu bersemangat.


"adly ayolah!masa cantik cantik gini lo tolak sih!"protes Fany,tiba tiba adegan 'itu'kembali berputar dikepalanya.


"gue lagi kerja"


"tapikan Fany udah bilang sama bosnya Adly!"


"tetep gak boleh"


Fany memanyunkan bibirnya,anak anak yang tadi bermain bersama Adly menatap mereka keheranan.


"badut!kasihan kakaknya.sedih tuh!"


"kata badutkan kita gak boleh sedih,masa kakak itu dibiarin sih!" mata polos seorang anak berusia lima tahun itu mengerjap penasaran,yang membuat Adly menghela pelan. Berbeda dengan Fany yang langsung berbinar penuh harapan,dia justru bertampang terpaksa.


"oke! Tapi ini demi mereka!"ucap Adly penuh penekanan lalu menunjuk anak anak yang berada dibelakang Adly,sekitar sepuluh orang. Dan mereka semua terlihat kurus,dan hitam. Fany tak mengerti,ada apa antara Adly dan mereka. Tapi dia sangat berterimah kasih pada anak anak itu,dan dia menyuruh pak Karman membelikan mereka semua es krim.


"Adly ...ayolah"ujar Fany menarik lengan Adly,sementara cowok itu hanya dibuat pasrah olehnya tanpa sempat mengganti kostum. Dan fany tak akan peduli bagaimanapun penampilan Adly.


"Pak bioskop",Pak Karman menggeleng begitu melihat Fany menyeret Adly masuk kemobil dengan wajah kusut,dia tahu sifat Fany. Semua orang akan selalu menuruti keinginannya karena kebiasaannya yang manja,dan itu pasti berdampak besar bagi seseorang.


Keinginan Fany untuk kebioskop berhenti ketika melihat sebuah taman bermain"pak!pak gak jadi disini aja berhentinya!" pak karman kembali menggeleng begitu melihat fany lagi lagi menyeret Adly keluar dari mobil.


tbc

__ADS_1


__ADS_2