My Clown Boy

My Clown Boy
39


__ADS_3

"Sebaiknya jangan berjanji jika tak dapat menepati"


***


Adly menghentikan motornya di depan sebuah bangunan warna putih. Cowok itu sedikit tercegang begitu menyadari jika dia pernah ke tempat ini tadi malam.


Orang-orang berkeliaran dengan pakaian yang aneh. Ada yang bernyanyi sangat keras,ada yang menangis sambil memegang boneka,ada yang tertawa-tawa sendiri sambil mengacak rambutnya sendiri.


Pokoknya banyak orang dengan pakaian yang berbeda-beda. Mungkin sekitar lima belas. Dan Adly tak bisa mendeskripsikannya dengan jelas.


"Ngapain disini?"tanya Adly.


"Ketemu mama!" jawab Sarah santai.


Adly untuk sesaat tercegang sebelum akhirnya kembali menormalkan ekspresinya.


"Mama lo dirawat disini?" tanyanya memastikan.


"Yap...." ucapnya membenarkan.


Sarah yang berdiri di depan pintu besar itu menarik tangan Adly.


"Ayo masuk"


Mereka kemudian masuk ke dalam. Melalui sekumpulan orang-orang yang terus berjalan tak beraturan dengan suara-suara keras.


Adly memerhatikan sekitar, kamar-kamar di tempat ini lebih mirip sebuah penjara. Seakan tak punya celah untuk si empunya kabur. Di dalamnya pun tak kalah sederhananya,hanya ada sebuah tempat tidur kecil beserta wc di sudut ruangan. Adly berjalan dengan raut penasaran saat ia melihat Sarah berdiri di depan salah satu kamar pasien.


Dapat dengan jelas cowok itu lihat senyum kecil terbit dari bibir tebal gadis itu.


"Lo kenapa?" tanya Adly ketika sudah berdiri tepat di sebelah Sarah.


Sarah sedikit gelagapan sebelum akhirnya tersenyum kikuk.


"Disini?"


"Bukan,tempat mama di depan sana!" tunjuknya pada kamar yang sudah tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Adly berniat melihat apa yang baru saja menarik perhatian gadis di dekatnya. Tapi dengan segera Sarah menarik tangannya.  Dan cowok itu hanya bisa mengedikkan bahu tak peduli.


Mereka tiba di depan pintu kamar mama Sarah. Dan segera saja gadis itu masuk mendahului Adly. Di dalam sana terlihat bu Wiwi terbaring dengan tenang sambil memandang keluar jendela.


Mungkin sedang menikmati matahari pagi. Adly ikut masuk, tapi tak sebgaja manik matanya bertemu dengan mata Bu Wiwik. Adly tahu wanita paruhbaya itu sudah mulai tenang. Tak seperti dahulu.


Terlihat dari sorot matanya yang tulus.


Sarh segera saja memeluk wanita itu.


"Mama! Gimana keadaan mama hari ini. Sarah kangen sama mama!". Sarah menyapa ibunya.


Bu Wiwik tersenyum kecil pada putrinya,sangat jelas jika kesadaran wanita itu perlahan pulih seperti sebelumnya. Dan Adly juga turut merasa senang karenanya.

__ADS_1


"Pagi tante!" Adly ikut menyapa Bu Wiwik. Dan dibalas anggukan oleh wanita itu.


Sarah segera mengeluarkan rantang makanannya. Menata isinya diatas meja. Lalu mengeluarkan sebuah piring.


"Sarah hari ini masak khusus buat mama!" Cerita Sarah dengan antusias yang membuat ibunya berbinar.


"Mama mau coba dong!"


Mendengar jawaban itu Sarah tersenyum lebar.


"Sarah suapin ya Ma!".


Wanita paruh baya itu mengangguk antusias.


Adly yang melihat interaksi itu tak berniat mengganggu. Dia memutuskan untuk keluar dari kamar berukuran 4×3 meter itu.


"Gue keluar dulu ya!" pamitnya.


"Kemana?"


"Cari angin"


Sarah hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan Adly menganggap itu sebuah persetujuan.


Dia pun melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.


***


Karena sekarang membaca buku. Begitu pula dengan kakinya yang sudah tak terikat.


"Mami percaya kamu nak. Jangan berbuat aneh-aneh". Pesan ibunya tadi sebelum meninggalkannya sendiri. Mana bisa dia macam-macam,saat mengetahui kamarnya terkunci dari luar.


Fany bahkan sekarang hampir berada di pertengahan buku saking asiknya membaca. Dia tak menyadari jika pintu sudah terbuka.


"Serius banget!!!!" Ali tiba-tiba memperlihatkan wajahnya tepat di depan kepala Fany hingga gadis itu terkejut dan segera menutup bukunya.


Hampir saja buku itu di lemparkannya pada sang kakak.


"Kayak setan lo bang!" semprotnya tanpa sempat memikirkan ucapannya barusan.


Ali tertawa,tawa yang lepas setelah beberapa hari terakhir terlihat murung.


Fany yang melihat itu hanya cemberut.


"Jadi adek gue udah kembali!" ledeknya di sertai senyuman khasnya.


"Apaan sih?"


"Beberapa hari ini lo kayaknya di culik!" jawab Ali santai yang membuat Fany memelototinya.


"Suara itu udah pergi!" jelasnya yang membuat Ali mengangguk.

__ADS_1


"Apa karena obat?"


Tapi Ali kembali tertegun ketika pertanyaannya barusan dijawab anggukan oleh Fany.


"Emang kenapa bang?" tanya Fany memecah lamunan Ali.


Ali menggeleng lalu menggumam pelan. "Syukurlah!"


Tapi Fany bisa menangkap sorot khawatir dari mata coklat itu.


"Gak papa! Ayo,mami sama dokter Fey nyuruh gue bawa lo jalan-jalan!" Ucap Ali sambil melebarkan kursi roda yang tadi sempat dibawanya masuk.


"Pake kursi roda?" tanya Fany memastikan penglihatannya tak salah.


Ali mengangguk yang membuat Fany memutar bola matanya malas.


"Gue gak selemah itu bang!"cibir Fany merasa kesal.


"Tapi ini perintah dari MAMI" ucap Ali menekankan kata terakhir.


Fany pun hanya bisa pasrah lalu duduk diatas kursi roda. Tangannya yang terluka masih memiliki perban yang melekat disana. Dan jika di gerakkan akan terasa sedikit sakit.


Ali merasa sedikit lega,walau ia tahu keadaan Fany yang sekarang hanya sementara. Tapi cowok itu merasa sangat bersyukur. Setidaknya adiknya di beri kesempatan untuk kembali menjadi dirinya sendiri.


Setidknya saat ini mereka diberi kelegaan. Bukan kecemasan,akan kehilangan adiknya yang sangat berharga. Walaupun kadang gadis itu menyebalkan dan suka meledeknya atau merengek padanya. Tapi Ali tahu rasa sayangnya pada adiknya sangat besar.


Ali menggerakkan kursi roda itu keluar kamar. Mereka melewati koridor rumah sakit menuju ke ujung lorong. Dan tepat di ujung lorong itu Fany melihat taman. Taman rumah sakit ini.


Gadis itu merasa takjub melihat pemandangan dihadapnnya. Setelah beberapa hari ini hanya merasa ketakutan. Dia baru merasakan ketenangan ini. Dan dengan cepat Fany menghirup nafas sebanyak mungkin.


Sebuah senyuman terbit dari bibir mungilnya. Senyum yang hampir dua minggu ini tak terlihat dari sana.


"Bang gue boleh berdiri, plus berlari gak?" tanya Fany sedikit memohon pada Ali.


Ali berdecak sebal,lalu menggeleng.


"Dokter gak nyuruh gue ngizinin lo berlari atau berteriak!" cetus Ali yang membuat bibir Fany mengerucut.


"Bang bawa gue kesana!" ucap Fany ketika melihat bunga yang bermwkaran tak jauh dari tempat Ali berdiri.


Demi melihat itu Ali segera mendorong kursi roda milik adiknya. Ada seekor kupu-kupu terbang di sana. Hinggap diatas bunga yang satu ke bunga yang lainnya. Memang,taman rumah sakit pagi ini sepi. Dan bisa dibilang hanya mereka berdua yang sekarang berada di sini. Hingga mereka berdua bebas melakukan apapun.


Di lantai dua,tepat di atas taman melalui jendela dokter Fey dan Ratih memerhatikan keduanya. Tawa masing-masing dari saudara kembar itu. Melihat itu Ratih sedikit tersenyum.


"Semoga cara ini berhasil Fey!" harapnya yang diamini oleh dokter Fey.


Fany mengulurkan tangan ke arah kupu-kupu itu. Dan tanpa ragu kupu-kupu itu segera hinggap diatas tangannya. Ali yang melihat itu tersenyum.


"Masih sama seperti dahulu" batinnya.


tbc

__ADS_1


__ADS_2