
Happy reading...
_
Fany menatap bangku pojok yang sudah seminggu ini kosong. Dia sebenarnya sedikit gelisah,bagaimanapun semenjak hari 'itu' Adly belum muncul di sekolah.
Dia kemudian membereskan buku-bukunya lalu hendak keluar. Dia menghela nafas berkali-kali. Antara ingin mencari atau membiarkan. Fany bingung.
Pada akhirnya Fany memutuskan mencari cowok yang tak Fany ketahui jalan fikirannya itu.
"Sar,lo tahu rumah Adly?" tanyanya hati hati.
Sarah berfikir sejenak. "Gak!"
Jawaban itu membuat Fany meregut kecil.
"Tapi...gue tahu dimana dia ngekos".
Demi mendengar kata itu Fany langsung berbinar. Sarah memberitahukannya alamat lengkap dengan jalannya. Walaupun Fany gak pernah ke sana sih sebelumnya. Tapi setidaknya itu lebih baik dibanding mencarinya dari rumah ke rumah.
Setelah mengentar Sarah pulang Fany langsung menuju jalan yang dimaksud dengan menggunakan motor barunya. Tapi dia bingung sendiri melihat padatnya pemukiman di kompleks tersebut,serta timbul niatnya untuk sembunyi gitu aja. Gak tahu tujuannya.
Daerahnya lumayan sepi gak ada orang berlalu lalang. Rumah rumah bertingkat dua atau tiga juga terdapat di sana. Hingga ia menghela nafas lega begitu melihat seorang ibu yang bermain bersama putrinya di taman yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Fany menghampirinya,duduk lalu bertanya baik-baik. Tapi kehadirannya disadari oleh anak yang bermain sepeda itu.
"Kak Fany!!!!" teriakan itu membuat Fany menoleh,mengerjap beberapa kali merasa tak asing dengan wajah anak itu.
Sebuah nama muncul di fikirannya begitu berhasil mengingat peristiwa 'itu' lagi.
"Vanilla",mereka entah mengapa langsung saling memeluk seakan dua kawan lama yang sudah lama tak bertemu.
" kak main yuk!"ajak Vanilla sambil mengeluarkan jurus puppy eyes nya.
__ADS_1
Mau nolak tapi gak tega,padahal urusannya ini mendadak apalagi hari sudah mulai sore.
Tapi untung saja Bu Wati segera angkat bicara,hingga Vanilla tak merengek lebih jauh. Gadis kecil itu akhirnya bermain sendirian kembali,dengan mengayuh sepedanya pelan sambil menyanyi kecil.
"Kamu tadi menanyakan alamat rumah seseorang yang bernama Adly?"
"Iya tante" jawab Fany serak.
"Kalau boleh tahu Adly apanya Fany" tanya bu Wati hati-hati.
Fany menelan saliva kasar,mau bilang pacar gak ada hak.
"Umm... Cuma teman tan,tapi sudah seminggu ini Adly gak masuk sekolah. Makanya saya berusaha mencari tahu keadaannya gimana". Jawab Fany lancar,tapi itu memang termasuk salah satu alasannya untuk mencari cowok itu.
Wati membalas lambaian tangan Vanilla lalu tersenyum kecil ke Fany.
"Yang saya ketahui,di kompleks ini hanya ada satu tempat kos. Dan tepatnya lima rumah dari belokan yang sebelah kanan di depan sana" Bu Wati akhirnya menjawab pertanyaan Fany.
"Iya,tante makasih" kata Fany hendak beranjak dari tempatnya.
Fany bingung,kerja bukannya beberapa hari ini cowok itu tak pernah datang lagi ke cafe tempat pertama kali mereka bertemu. Dan Fany pikir cowok itu telah berhenti,tapi yang di katakan Wati sebaliknya. Adly tidak berhenti hanya pindah tempat sehingga bisa membuat Fany bernafas lega.
" Kamu suka sama Adly" pertanyaan tak terduga itu sukses membuat Fany mematung lalu perlahan bersemu. Pipinya merona.
"Enggak kok tan" jawabnya salah tingkah hingga akhirnya ia memalingkan wajah.
Wati tertawa melihat reaksi gadis di hadapannya jelas sekali ia berbohong,tanpa sadar ia merangkul Fany lalu tertawa lepas.
Fany malu,hingga ia merutuk dalam hati kenapa tubuhnya gak sejalan dengan mulutnya sih.
"Udah kamu gak usah malu. Tante juga pernah muda kayak kamu kok".
Fany kembali mengerjap hendak bertanya tapi tiba tiba Vanilla sudah ada di hadapannya.
__ADS_1
" Bunda Vani mau juga",katanya dengan bibir mengerucut.
"Mau apa?" heran wati melihat Vanilla yang merengek kecil.
"Mau apa hmm...." Fany merasa gemas melihat pipi chubby Vanilla tak tahan hanya melihatnya. Sehingga tangannya dengan nakal langsung mencubit pipi gembil itu.
"Kak main yuk" ajak Vanilla kembali merengek.
Fany melirik jam tangan,mungkin sekarang Adly sudah ada di rumah.
Dengan perasaan tak enak dia menolak halus ajakan gadis kecil itu.
"Lain kali ya dek! Kak Fany lagi ada urusan".
" tante saya pamit dulu ya mungkin Adly udah pulang". Wati tersenyum sedangkan Vanilla merenggut kecewa.
"Kak lain kali kita harus main bareng ya!" pinta Vanilla sebelum Fany menstarter motornya. Fany mengangguk kecil,berjanji.
Setelah itu melajukan pelan motornya ke lorong yang dimaksud.
Fany berhenti di hadapan rumah bercat warna putih,yang sunyi lebih mirip rumah kosong tak berpenghuni. Catnya sudah sedikit mengelupas,begitu pula pagarnya yang di liliti tumbuhan menjalar yang tak Fany ketahui namanya.
Emangnya ada orang yang ngekos di tempat yang lebih mirip rumah hantu ini.
Sedikit terbesit rasa takut,tapi ia melawannya dengan meyakinkan diri alamatnya sudah benar. Dia yakin akan petunjuk Wati tadi.
Fany masuk kemudian mengetuk pintu beberapa kali. Tak ada sahutan,tak ada tanda tanda kehidupan. Tapi gadis itu terkejut begitu melihat kucing yang bulunya berwarna hitam seluruhnya mendekat padanya.
Dan lebih terkejut lagi ketika melihat pantulan seseorang pada kaca jendela,dengan pakain serba hitam tapi wajahnya tak jelas. Sebuah topi juga menutupi wajahnya hingga Fany mulai berfikiran negatif.
Fany ketakutan tanpa di komandoi jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dan tangan yang mengeluarkan keringat dingin.
Mungkinkah.....
__ADS_1
Tbc