My Clown Boy

My Clown Boy
29


__ADS_3

"Seseorang dapat berubah hanya karena kenangan masa lalu yang tiba-tiba menghantui".


***


Ali mengehela nafas,pelan lalu menghampiri sang adik. Berusaha menenangkan....


***


"Sudah!sudah Fan,abang ada di sini". Ali kembali menghibur adiknya yang sangat kacau. Dengan seluruh tubuh yang bergetar ketakutan,dan suara yang kian parau.


Fany membuka bantal yang menutup kepalanya,lalu melihat Ali dengan wajah teduhnya. Dan tanpa aba-aba air matanya kembali bercucuran.


Dia bangun lalu kembali memeluk Ali erat.


Menyalurkan ketakutannya pada saudara kembarnya yang biasanya menyebalkan.


"Aku takut" cicitnya.


"Iya! Abang tahu,dan abang juga tahu kamu kuat".


"Tapi...."


Sebelum kata-katanya keluar,Ali dengan segera meletakkan telunjuknya di depan mulut adiknya.


"Hushhh....kamu jangan banyak pikiran dulu. Semua pasti baik-baik aja!" Ali menghembuskan nafas pelan.


Hingga gadis itu harus mengalah,apalagi dia tahu dengan persis keadaannya sangat jauh dari kata baik. Ia hanya mengangguk pasrah.


"Kamu mau coklat?"tawar Ali yang langsung di setujui Fany.


Ali kemudian mengusap puncak kepala adiknya dengan sayang.


"Tunggu di sini ya!", katanya sebelum akhirnya cowok itu keluar kamar.


Fany menatap punggung Ali yang perlahan menjauh. Entah apa yang sebenarnya di sembunyikan darinya. Dan Ali setelah dari Singapura sifatnya seakan berubah 180 derajat dari biasanya yang menyebalkan langsung perhatian.


Tapi ia bersyukur karena kakaknya sangat perhatian padanya. Walaupun sebenarnya kata 'Mami' jeda kelahiran mereka cuma lima menit.


Jujur,entah sejak kapan Fany memiliki sifat lemah seperti ini. Dia terbiasa di sayangi. Makanya jika ada yang membentaknya ia ketakutan. Tapi lama kelamaan rasa takut itu kian menjadi,apalagi karena kadang mimpi buruk seperti tadi.


Rasanya ia akan mati jika mendengar suara yang berlebihan. Dan Fany tahu kalau keluarganya juga menyadarinya,makanya sebagai anak bungsu gadis itu di berikan segalanya. Agar rasa takut itu tak muncul,hal itu juga memicu perilakunya. Jika memiliki keinginan maka mutlak harus di turuti.


Sifatnya kekanakan,karena terbiasa dengan hal itu. Dia manja,suka merengek dan lain sebagainya karena keluarganya sah-sah saja memberikan perhatian lebih pada dirinya. Kecuali jika memang ada hal yang lebih mendesak,maka pada saat itu meskipun Fany merengek sepanjang hari. Mereka akan mendahulukan hal mendesak itu,dan jika selesai mereka akan menghiburnya. Karena sangat mudah membuatnya teralihkan dari rasa kesalnya.

__ADS_1


Fany melihat ponselnya yang ia non aktifkan sejak pagi. Lalu membukanya,terlihat di walpapernya foto cowok yang tadi membuatnya ketakutan.



Gambar itu diambil ketika cowok itu sedang menatapnya datar. Dan tanpa ekspresi sedikitpun.


Fany menarik nafas,bahkan hanya melihat foto cowok itu tanpa sadar air matanya kembali menetes tanpa ia sadari.


Dia kembali mengeratkan selimut lalu mematikan benda pipih itu. Dia tak peduli jika ada panggilan yang masuk. Hanya saja jika mendengar atau melihatnya,suara keras itu kembali menggema di telinganya.


Ali kembali ke kamar sepuluh menit kemudian. Lalu meletakkannya di nakas tepat samping kanan Fany.


"Hmmm...kamu harus kuat!" Ali menyemangati adiknya,yang sekarang meneguk coklat hangat yang tadi di buatnya.


Ali tahu sekacau apapun fikiran adiknya,jika ia di beri coklat maka ia akan menerimanya. Lalu memakan atau meminumnya beberapa saat kemudian. Dia tersenyum tipis menyadari adiknya begitu lemah terhadap sesuatu yang dinamakan coklat.


Mereka terdiam beberapa saat. Hanya hening yang menyelimuti kamar yang bernuansa pink itu.


"Bang...."takut-takut Fany memulai percakapan,hingga Ali yang tadi menatap hpnya kembali mengalihkan atensinya pada sang adik.


"Apa?"


"Lo udah move on dari kak Raya?" Entah mengapa hal itu yang muncul di likirannya.


"Hmm...."jawabnya singkat hingga Fany tahu apa yang sedang terjadi pada saudara kembarnya itu.


Gurat wajah sedih itu masih sama seperti dulu. Saat Raya-mantan Ali-pergi. Dan Fany tahu alasan Ali menjadi playboy seperti sekarang ini. Hanya karena orang itu,yang Fany sempat kenal karena Ali pernah membawanya pulang ke rumah.


Satu-satunya cewek yang di perlakukan demikian oleh seorang tuan muda sepertinya.


Fany juga tahu pacar-pacar kakaknya yang sekarang hanya pelarian dari gadis bernama Raya itu.


Fany entah mengapa juga merasa ada yang aneh dari Ali seakan kakaknya itu menyembunyikan sesuatu dari keluarganya. Dan hanya dirinya sendiri yang harus mengetahui apa yang di sembunyikannya seakan semua baik-baik saja. Fany sadar bahwa kakaknya jauh dari kata itu.


"Maaf...." Fany berujar parau.


Mata Ali membulat,dan Fany seakan tahu arti tatapan itu.


"Aku udah ngebuat abang khawatir,dan lupa jika abang sendiri juga punya masalah". Bibir Fany bergetar saat mengucapkan kata itu,entah karena apa.


"Gue udah bilang,lo gak pernah bikin gue repot". Jelas Ali,kembali menghela pelan.


"Udah tanggung jawab gue buat jagain adik yang di titipkan Tuhan!" tambahnya yang membuat gadis bermata coklat terang itu kembali terisak.

__ADS_1


"Fany takut sewaktu-waktu abang juga marah ama gue,lalu suara itu kembali terdengar" Risau gadis itu masih menatap lekat mata saudaranya.


"gue udah janji buat jagain adek gue yang menyebalkan ini" Ali terkekeh pada akhir kalimatnya.


"Lo mau jalan-jalan?" tanya Ali yang dijawab gelengan oleh Fany. Dan Ali memalkluminya,adiknya masih trauma dari hal itu.


Dan Ali paham kebiasaan Fany,gadis itu baru akan keluar kamar jika mood dan perasaannya kembali baik.


***


Seorang gadis berambut hitam,berjalan sendirian memasuki gedung tua yang sudah di tumbuhi semak belukar. Pada bagian depan,belakang,dan samping kanan maupun kirinya.


Pohon-pohon tinggi menjulang di sekitar gedung tua itu,mengakibatkan matahari susah menerobos masuk. Menandakan lamanya tempat itu tak di jamah orang-orang. Mungkin dilupakan atau justru memang tidak di ketahui keberadaanya.


Beberapa bagian sudah berkarat pada atapnya,pintu dan jendela.


Menambahkan kesan angker pada bangunan tua satu lantai itu.


Tapi anehnya gadis berambut hitam itu justru berjalan tanpa takut masuk ke dalam gedung. Senyuman terukir di wajah orientalnya. Tapi bukan senyum tulus,malainkan senyum yang penuh maksud tersembunyi.


Derit pintu terdengar saat ia tiba di ruang tengah gedung. Seseorang berpakaian serba hitam keluar dari balik pintu tadi dengan seringai khasnya.


Mata merah itu menatap tajam si gadis,walaupun tak memberikan efek apa-apa padanya.


Sebelah matanya tertutup kain yang membuat gadis itu tak bisa melihat hal yang tersembunyi di baliknya.


Senyumnya semakin melebar,saat ia yakin setelah ini orang itu akan senang karenanya.


"Apa?" suara sedalam sumur itu menggema di gedung tua.


Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada pria paruhbaya itu.


"Mereka kembali...." ucapnya yang langsung di mengerti oleh pria berpakaian serba hitam karena dia melihat dengan jelas di dalam beberapa lembar foto.


Seorang pemuda badut dan gadis  berambut kecoklatan. Fotonya berbeda beda letaknya. Tapi orang yang sama.


Orang itu tertawa,beberapa menit kemudian.


"Itu baru anakku...." dia lalu merentangkan tangan hingga si gadis dengan tersenyum langsung masuk kedalam pelukan sang pria.


Tapi,tanpa ia sadari pria itu menyeringai di balik punggung si gadis. Suasana mencekam,di hutan di balik gedung tua. Ada suara lolongan yang seakan menyayat hati.


Tbc

__ADS_1


Huhua.....gajelasss


__ADS_2