My Clown Boy

My Clown Boy
34


__ADS_3

sadar rasa khawatir itu muncul tapi tak berani melangkah terlalu jauh.


***


Ratih menghela nafas pelan,saat ia melihat Ali masuk terpaksa ke dalam mobil sport merah milik Delano. Entah kemana mereka akan pergi. Tapi sudahlah ia tak boleh mengekang putranya.


Sesekali biarlah Ali menikmati masa mudanya. Batinnya sambil tersenyum kecil.


Ratih berbalik setelah menutup jendela kamar Fany. Dan terkejut mendapati putrinya tengan berbaring,dengan tangan berlumuran darah. Dan sebuah pisau buah tergeletak di dekatnya. Seketika wanita paruh baya itu panik. Berlari mendekati putrinya yang mulai tak sadarkan diri.


"Bi Inah!Bi Inah" teriaknya beberapa kali,sambil mendekati Fany yqng terlihat sangat lemah. Dalam sekejap ia panik. Apalagi,Ali baru saja keluar sedangkan suaminya belum kembali dari kantor.


"Fany....bertahan nak!" ucapnya berusaha menghentikan darah yang terus keluar dari tangan putrinya.


Bi Inah masuk dengan tergopoh-gopoh dan terkejut mendapati majikannya tengah menangis dengan Fany di hadapannya.


"Telepon dokter! Sekarang"


"Baik nya!" ucap Bi Inah lalu berlari keluar.


Tapi mendadak Ratih ketakutan saat melihat wajah Fany mulai pucat,dia takut kehilangan putrinya.


"Bi....panggil pak karman".


" kita ke rumah sakit sekarang", titah Ratih,yang tak mau mengambil resiko. Wanita itu kalut melihat keadaan putrinya.


Dengan cepat bi Inah berlari ke bawah memanggil pak Karman dengan berlari-lari. Hingga para bodyguard yang berjaga juga merasa terkejut.


"Ada apa?" tanya pak Karman melihat bi Inah dengan nafas ngos-ngosan.


"Siapkan mobil. Nona akan di bawa ke rumah sakit" ujarnya patah-patah tapi masih bisa di dengar oleh Pak Karman.


Sementara beberapa bodyguard sudah naik ke lantai dua untuk membawa gadis itu.


***


"Ima lo lelet banget sih!" protes Rini,karena Ima melajukan motornya ke rumah Fany. Dan perjalanannya rasanya masih jauh. Apalagi tadi mereka sempat singgah untuk makan, karena melihat hari yang mulai gelap.


Apalagi mereka belum makan sepulang sekolah.


"Sabar. Dari pada gue gaspool. Lo mau?" Ima tertawa pelan.


"Jangan ******. Lo mau mati".


"jadi jangan protes",ucap Ima santai yang membuat Rini merasa kesal.


"Kapan sampainya kalau kayak gini. Si Fany keburu tidur"


"Oiyya....gue lupa hehe..." cengir Ima yang membuat Rini rasanya ingin menampol cewek itu.


Ima sedikit menambah kecepatannya,dan saat itu Rini membuka hpnya. Malas berdebat dengan Ima. Dia membuka grup sekolah yang ternyata banyak kiriman baru yang belum di bacanya. Matanya membaca cepat  chat yang baru saja masuk itu.


Cogant team ADH


Poppy: Omaigeee.... Cogant kita ada di club guys!malam ini uwuwuwww senangnya👻😱

__ADS_1


Istrisahbangali: Siapa?


Lovey: uhhh...gue siap-siap ke sana...m😎


Poppy:Ali sama Delano. Enaknya cuci mata jam segini😋😘


Poppy: @lovey oke bebyuuu


Jungkookwife: fotonya dong


Istrisahbangali: uwuwuwwww gue juga oteweee...ada bang Ali.


Istrisahbangali:dedeq rindu ama dia😂. Dah lebih seminggu gak masuk.


Poppy: sent a picture


Lovey: 😘😍😍😍love youuu


Miranda: mereka gak lagi bareng ciwi ciwi gatel kan?


Lovey: 2


Jungkookwife: gantengnya,nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?


Poppy: gak mereka berduaan lagi minum-minum. Delano minum wine sedangkan bang Ali minum apa?


Poppy: tebak


Lovey: vodka


Istrisahbangali: cocktail?


Poppy:bukan


Jungkookwife: soju?high ball?


Poppy: bukan...


Lovey: apa emangnya?


Poppy: milkshake😂


Rini menutup grup chatnya,dan menghela nafas tepat saat motor Ima berhenti di depan rumah Fany. Yang hingga saat ini masih terlihat bodyguard nya yang berjaga.


"Serem gak sih?" tanya Ima saat tak sengaja melirik salah seorang bodyguard yang botak dan berbadan besar besar yang berdiri tak jauh dari mereka. Sambil menatap tajam.


Rini mengangguk,ikut merasa ngeri. Lalu mereka turun,dengan senyuman yang di buat buat.


"Om...kita bisa masuk gak?" tanya Ima dengan suara yang sengaja di buat centil.


"Kalian siapa?" tanya si kepala plontos dengan wajah yang masih belum melunak hingga mereka berdua serentak meneguk saliva.


"Teman Fany om!" jawab mereka masih cari muka.


Si kepala plontos,mengangguk berniat menghubungi Ratih meminta izin. Tapi sebuah suara gaduh terdengar dari pos satpam.

__ADS_1


Mereka melihat Bi Inah,dengan wajah terkejut. Hingga mereka mendekat termasuk si kepala plontos.


"Nona...mau bunuh diri" dan itu sukses membuat Rini maupun Ima menganga terkejut, mendadak mereka bingung. Apalagi mereka tak tahu masalahnya,dan tiba-tiba terdengar jika Fany akan bunuh diri.


Seberat itu kah hingga temannya itu tak bisa menanggungnya. Lalu apa gunanya mereka sebagai sahabat, jika Fany bahkan sekacau itu tapi tak pernah cerita sedikitpun pada mereka.


Bahkan panghilan mereka sengaja diabaikan.


Rini merosot ke jalanan. Tak mampu berdiri,"gue ngerasa gak berguna jadi sahabat Fany Ma?"ucapnya parau.


Si kepala plontos menatapnya prihatin,karena juga ikut mendengarnya.


"Fany sekacau itu dan kita malah asik-asikan" Ima menambahi, hingga mereka berdua merasa bersalah.


"Kalau sampai Fany tak tertolong,lo bisa maafin diri lo sendiri?" tanya Rini yang di balas gelengan oleh Ima.


Beberapa menit berikutnya, mereka melihat mobil sport hitam milik keluarga Fany keluar dari rumah besar itu. Mereka berdua hanya bisa menatap nyalang. Dapat mereka lihat seberapa khawatir ibu Fany saat mobil itu lewat tepat di hadapan mereka.


"Semoga Fany baik-baik saja" ujar Ima.


Yang diangguki Rini.


"Kalian sekarang pulang,orang tua kalian pasti khawatir apalagi saya tebak pasti kalian belum pulang sejak pulang sekolah" Cetus si kepala plontos,yang membuat Ima maupun Rini menelan saliva kasar.


Mereka kompak menepuk dahi,"gue lupa. Bisa habis di makan papa kalau gak segera pulang"Ima segera naik ke atas motor berniat pulang cepat.


Rini yang melihat itu refleks juga berdiri tapi baru saja ia hendak duduk di jok Ima sudah melaju.


Membuatnya mau tak mau berteriak kesetanan.


"Imaaaaa....lo ninggalin gue"tapi tak di dengar Ima karena sudah menjauh. Si kepala plontos menggeleng,tak percaya. Apalagi Rini sudah mewek sambil merengek.


Ima yang merasa ada yang aneh pada motornya monoleh ke jok belakang.


"buseeeet!si Rini mana dah?"


Lalu tanpa pikir panjang ia segera kembali ke rumah Fany dan mendapati Rini tengah menangis di sana. Dan hal itu membuatnya tertawa.


Rini menabok kepala Ima saat cewek itu sampai di hadapannya.


"Gue lupa kalau ada lo!!" ucapnya polos yang membuat Rini membuang muka kesal.


"Katanya sahabat,lo gak elit banget sih" kesal Rini lalu naik ke jok belakang.


Si kepala plontos dan beberapa orang di sana hanya menggeleng memaklumi. Mereka juga turut prihatin atas apa yang terjadi barusan. Yang bisa mereka lakukan hanya berdoa.


Tapi tanpa mereka sadari seseorang mengawasi di balik pohon besar yang terdapat tak jauh dari mereka. Orang itu tersenyum miring,lalu pergi. Seperti biasanya.


Tapi orang dengan pakaian serba hitam itu juga tak sadar jika tak jauh darinya terdapat seseorang berjaket hitam dengan celana training hitam menatapnya dingin. Orang itu adalah Adly. Dan setiap malam semenjak kejadian itu, entah mengapa kakinya selalu membawanya ke rumah ini. Dan kali ini dia benar-benar tercegang.


Ada rasa takut kehilangan yang menyeruak ke dadanya.


Rasa apakah yang mengganggunya ini?


Bukannya ia tak peduli?

__ADS_1


Tbc


__ADS_2