
"Apakah aku harus bahagia atau justru mengutuk karena ternyata dia orang yang sangat dekat denganku".
***
Bel berbunyi nyaring hingga terdengar di seluruh sudut sekolah. Guru sejarah di depan sana membereskan buku-bukunya,lalu setelah ketua membubarkan kelas. Mereka berhamburan keluar. Tak terkecuali Ima dan Rinhy yang langsung menghampiri Fany di tempatnya.
Mereka berbincang sejenak sampai akhirnya keluar. Tapi ketika sampai di depan pintu,Fany di kejutkan seseorang.
Di sana Ali telah berdiri menunggunya dengan bersandar di dinding sambil melipat tangan di depan dada. Fany bertanya dalam hati.
Tumben dia datang kek gini. Biasanya juga ke kelas gebetan-gebetannya di luar sana.
"Uwuww!!!! Babang Ali.....sejak kapan berdiri di situ bang?" tanya Ima yang tiba-tiba muncul di dekat Fany lalu memaksa berdiri tepat diantara Fany dan Ali.
"Sejam yang lalu mungkin?" jawab Ali merasa sedikit ragu. Pasalnya dia hampir lupa berapa lama cowok itu berdiri menunggu sang adik tercinta. Dia takut,jika adiknya ini harus terlibat dengan orang-orang yang membuat adiknya ini terganggu.
"Unccchhhh....babang Ali. Dedek makin sayanggggggg!" tiba-tiba Rinhy juga datang dan memaksa masuk di antara Ima dan Ali yang membuat Fany semakin teedorong ke samping.
"Enak aja lu!main masuk-masuk aja ganggu gue sama bang Ali!" kesal Ima karena Rinhy berlagak seenaknya.
Tanpa mengindahkan ucapan Ima,Rinhy kemudian mengeluarkan ponselnya. Berniat mengambil gambar dirinya dan Ali. Mayan,kalau bukan Aliando ya kwnya juga gak papa.
Tapi sebelum Rinhy sempat menekan tombol hpnya. Tiba-tiba Ima merebutnya lalu berlari dengan tawa setannya. Karena tidak terima Rinhy pun mengejarnya.
Fany hanya mengamati kelakuan kedua sahabatnya yang ternyata tidak berubah sama sekali. Mereka berdua masih sering bertengkar hingga lupa waktu walaupun yang mereka pertengkarkan hanya hal sepele.
Fany menghela nafas pelan. Lalu menarik lengan kakaknya karena perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Tapi sebelum ke kantin,dia sempat menoleh ke dalam kelas dan mendapati Adly masih ada di sana.
Karena berniat iseng,gadis itu pun mengedipkan sebelah matanya. Dia tak peduli bagaimana tadi cowok itu membuatnya berdebar lalu menghempaskaannya secara sepihak.
Jika hal itu mampu di lakukan Adly padanya maka seharusnya dia bisa melakukan hal yang sama suatu saat nanti. Tiba-tiba kejadian tadi pagi kembali berputar di kepala cowok itu.
Gila-gila. Mengapa dia sempat berfikir jika Adly akan menciumnya. Sungguh pemikiran Fany yang logis kemana.
Dia bisa merasakan embusan nafas hangat cowok itu yang mengeluarkan aroma mint. Tatapan mata tajamnya yang tepat saat tubuh mereka sejajar. Serta bibir warna merah alaminya yang agak kecil. Sungguh Fany hampir gila. Jantungnya bahkan berdetak tak keruan. Tapi kalimat cowok itu selanjutnya membuat Fany mati kutu.
Tak terasa karena memikirkan hal lain. Mereka sekarang telah sampai di kantin bertuliskan 'Kantin Mas Dono'.
Fany teringat saat pertama kali ke sini,dia di keluarkan dari kelas oleh pak Rinto. Walaupun dia sadar jika sekarang Pak Rinto sudah berjaya di sekolah baru. Dan dia tak akan ada di sekolah ini kembali lalu menyuruhnya keluar kelas seenaknya.
Dia tersenyum sendiri membayangkan bagaimana nasib murid selanjutnya yang akan di ajar oleh guru paruh baya itu.
Ali menyentuh pundak Fany hingga gadis itu kembali ke duania nyata.
Mereka kemudian masuk ke kantin yang penuh sesak karena banyaknya manusia-manusia kelaparan yang hendak mengisi perut. Waktunya agak lama hingga dia bisa kembali menikmati keadaan seperti ini.
"Yuk! Masuk" ajak Ali begitu melihat Fany masih bergeming di tempatnya. Mereka tak kesusahan mencari tempat duduk karena di sana Deska dan Reza sudah menyiapkan tempat di pojok untuk geng mereka. Dan ini pertama kalinya Fany bergabung dengan geng kakaknya.
Fany duduk di dekat Ali. Yang anehnya masih ada kursi kosong yang seharusnya di isi seseorang yang tepat berhadapan dengannya.
"Si kakak panutan kita telah datangggg.....jeng....jeng...." sambut Reza heboh setelah melihat Ali duduk di depannya.
"Makan aja!gak usah lebay. Paling juga nanti minta di bayarin!" sindir Ali pedas,pada cowok bergigi kelinci itu.
"Hehe tahu aja lo!" ucap Reza santuy. Deska yang duduk di dekatnya langsung menepuk punggung Reza keras. Dan hal itu sontak membuat Fany tertawa.
Fany menyadari hanya makanannya saja yang tak ada begitu melihat ternyata. Deska,Reza, bahkan Ali sudah memilikinya masing-masing.
Fany beranjak berdiri hendak memesan. Tapi langkahnya di tahan oleh Ali karena cowok itu menahan lengannya menyuruhnya duduk kembali.
"Lo tunggu di sini aja! Dia pasti udah mesanin lo?" ucap Ali sambil memakan batagor miliknya.
"Gue juga penasaran kok makanan ini tiba-tiba ada di meja gue!" ucap Ali melanjutkan ketika Fany kembali menghempaskan pantatnya ke kursi.
Kening Fany mengeriyit.
__ADS_1
"Emang bukan lo yang mesan sendiri?"
Ali mengangguk pelan sambil terus memakan makanannya. Reza yang berada tepat di depan Ali menatap Deska melalui sudut matanya. Tapi gadis tomboy itu lebih fokus pada makanan dihadapannya. Tak terlalu peduli pada sekitarnya.
Tak berapa lama,sebuah mangkok berisi bubur ayam diletakkan seseorang tepat di hadapan Fany.
"Tuh!!kan baru aja di bilangin udah datang".
Setelah mangkoknya di letakkan di depan Fany orang itu langsung duduk di hadapannya.
Fany yang tadi mengeluarkan senyuman jadi menyurutkan senyumnya begitu melihat sosok yang berbaik hati memesankan makanan untuknya.
"Kenapa gak makan lo. Katanya tadi lapar?" tanya Ali ketika memyadari adiknya tak bereaksi apapun selain memandangi bubur ayam dan orang yang duduk dihadapan adiknya secara bergantian.
"Lo kayak baru liat Delano aja Fan!" celetuk Reza tiba-tiba yang membuat Fany menoleh ke arah cowok bergigi kelinci itu.
"Gue bercanda aja kok!" ucapnya setelah melihat Fany hendak melemparnya menggunakan garpu.
"Kamu makan aja sekarang" ucap suara itu ketika Fany berniat melemparkan garpu miliknya pada Reza. Bersamaan dengan itu tangan Fany di pegang seseorang lalu menariknya pelan kembali ke tempatnya.
Fany tertegun sejenak,lalu matanya terpaku pada sesosok cowok yang duduk berhadapan dengannya yang sedang menatapnya balik.
Mata-itu entah kenapa Fany merasa ada sesuatu yang lain di netra abu-abunya. Juga tatapan penuh kemarahan ketika terakhir kali mereka bertemu itu berubah menjadi sangat lembut.
Cowok itu kemudian menepuk pelan pipi Fany.
"Kamu pasti makannya gak teratur karena sekarang kurus kerempeng kek gini". Cetus Delano tapi langsung mendapat lemparan tissue dari kursi seberang.
"Gue tahu adek gue cantik. Tapi lo jangan seenaknya cubit-cubit dia kek gitu", protes Ali dengan mata melotot tapi tak di gubris Delano.
Ali yang melihat interaksi mereka menarik sudut bibirnya. Merasa aneh melihat Delano menjadi sangat perhatian kepada seorang gadis. Dan anehnya gadis itu adalah adiknya. Biasanya Delano akan mengacuhkan gadis lain. Atau justru mengatainya dengan kasar.
Tapi melihat cara Delano memperlakukan adiknya,dia seakan melihat sisi lain dari sahabatnya itu dalam memperlakukan perempuan.
Fany berdehem sejenak untuk menormalkan suasana. Tiba-tiba dia merasa canggung berada di situasi seperti ini.
"Lo jangan ngejek adek gue monyet" ujar Ali tiba-tiba merasa kesal sendiri
***
Dering ponsel membuat mereka menghentikan aktivitasnya lalu tertuju pada suatu titik asal suara. Delano.
Termasuk Fany. Delano sedikit mengambil ruamg umtuk mengangkat telepon dan di persilahkan oleh teman-temannya.
Fany yang merasa kandung kemihnya penuh segera minta izin ke toilet. Juga karena makanannya sudah habis,dia berniat nanti langsung ke kelas.
Tak mau berlama-lama cewek itu sedikit berlari. Tapi anehnya,entah menagapa toilet di lantai dua penuh secara bersamaan. Apalagi dia sudah tak kuat menahannya. Jalan satu-satunya menunggu atau memilih toilet yang berada di bawah.
Tapi emang dasarnya Fany orang yang gak sabaran,terpaksa gadis itu memilih pilihan kedua. Dengan langkah seribu setengah berlari cewek itu menuruni anak tangga. Tak peduli pada beberapa orang yang terang-terangan menatapnya tak suka.
Setelah sampai di toilet lantai satu yang terletak di bawah tangga. Gadis itu segera masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Fany mengeluarkan semuanya hingga gadis itu merasa lega.
Setelah selesai gadis itu berniat keluar tapi kerika mendengar seseorang berbicara dia membatalkan niatnya dan lebih memilih tetap mendemgarkan.
"Lo tahu nggak!gadis gila itu gue lihat udah datang ke sekolah tadi pagi"ujar salah seorang cewek yang memiliki suara agak cempreng.
"Benarkah,kok gue gak lihat sih?" ujar suara lain,sebut saja ini suara kedua.
"Hooh! Dan lo tahu cewek gila itu. Nempel terus pada Ali sejak pagi. Udah kayak lem aja", imbuh si suara pertama lalu mereka terkikik.
"Tau tuh. Tuh anak siapa sih sok keganjenan banget. Gue bahkan ngerasa lebih cantik dari dia. Apalagi tuh anak sakit jiwa. Gak pantes bersanding sama Ali atau Delano!"sahut si suara ke dua.
"Eh! Tapi dengar-dengar dia katanya cewek murahan di kelasnya. Lo tahu si Adly! Dia bahkan ngejar-ngejar tuh cowok setengah mati. Dan katanya dia pernah datang ke kos si Adly". Suara yang ketiga ini terdengar berbeda dari suara sebelumnya Fany merasa sedikit familiar. Tapi entahlah mungkin hanya perasaannya saja. Dan juga karena suara ke tiga ini gadis itu harus mati-matian menahan dongkol agar tak keluar memplester mulut mereka bertiga.
"Eu!!!! Mereka ngelakuin apa aja tuh?" tanya suara pertama dengan nada sinis.
__ADS_1
"Kalian bisa tebak sendiri kalo cewek dateng ke kost cowok lakuin apa coba?"
Dan ketiganya tertawa,tak sadar jika gadis yang mereka bicarakan sedang bersembunyi di balik salah satu bilik toilet.
"Kalau gitu gue pergi dulu! Bye". Ucap suara ketiga sebelum pergi.
Fany mengingat suara yang sama. Ingatannya berputar pada saat yang lalu. Tapi gadis itu menggeleng. Tak mungkin dia akan tega melakukan hal seperti ini padanya.
"Gue jadi jijik pada tuh cewek sakit jiwa!"
"Tapi lo harus hati-hati jangan sampai salah satu penjaganya mendengarnya. Kalau gak lo bisa habis di tangan Delano!" ujar suara pertama kembali.
"Gue! Tahu,apalagi nasib anak kelas IPS 3 kemarin. Dia tak sadar ngomongin tuh cewek pas Delano lagi lewat. Eh...tau tau keesokannya tuh anak udah ada
RS".
Telinga Fany rasanya ingin meledak mendengar gosip-gosip tak berdasar di luar. Cewek itu berniat keluar sebelum akhirnya dia urung ketika mendengar suara Ima dan Rinhy yang membuat kedua orang itu berhenti bergossip.
"Siapa yang lo bilang penjaga?" tanya Ima penuh penekanan.
Fany yakin kedua cewek tukang gibah itu susah payah menelan ludah. Apalagi ketika Fany membayamgkan bagaimana wajah kesal Ima. Entah mengapa gadis itu merasa sangat senang menyadari kedua sahabatnya langsung datang.
Fany tahu mungkin mereka yang tadi sibuk bertengkar tak sengaja tiba di lantai satu lalu mendengar mereka berdua bergosip.
"Gak ada tuh. Penjaga kantin maksud kami. Ya kan Vin?" ujar suara kedua mencari pembelaan.
"Lalu kenapa tadi ada Delano-Delano?" tanya Rinhy yang membuat mereka berdua bungkam.
"Maksud kami tadi Delano itu tampan", jawab si suara pertama kemudian.
Fany mendecih di dalam bilik toilet.
Dasar penjilat. Batinnya.
"Ima coba lo putar apa yang tadi kita dapatkan!" kata Rinhy kemudian karena kedua cewek itu terlihat tak mau mengakuinya.
Fany bisa menebak bagaimana ekspresi mereka berdua saat ini. Pasti seperti orang yang ketiban durian runtuh. Lalu Fany bisa mendengar rekaman suara ke dua gadis tadi,sebelum datang suara yang ketiga. Lalu setelahnya percakapan ketiganya secara lengkap.
"Skakmat!" desis Fany tanpa sadar gadis itu lalu mengintip melapui celah bilik. Dan benar saja kedua orang yang tadi menggosipkannya sudah tak berlutik. Keduanya menatap takut-takut Ima dan Rinhy.
"Maaf kak! Kami gak akan ngulangi lagi hal ini" ucap mereka hampir bersamaan.
"Sekarang gue tanya,orang yang tadi bersama kalian siapa?" tanya Ima penuh tekanan serta ancaman. Meskipun matanya agak sipit tak mengurangi ketakutan kedua siswa kelas sepuluh di hadapan mereka.
"Kami gak tahu dia siapa! Dia tadi hanya tiba-tiba datang lalu pergi". Kata si suara pertama.
"Tapi kalian berdua bukan si Anymous kan?" tanya Rinhy dan membuat kedua juniornya itu menggelemg secara bersamaan.
"Kalian gak mau kan nasib kalian sama seperti si siswa IPS 3"
"Gak!"
"Kalau gitu,muliai sejarang jika ada info yang kalian tahu mengenai si Anymous langsung lapor saja! Ingat jangan sampai bocor. Kalau gak.....".ujar Rinhy lancar tapi di akhir kalimatnya menggantung.
"Kalau gak apa Rin?" tanya Ima setengah berbisik.
"Kalau gak,gue cat mulut kalian pake no drop". Dan hal itu sontak membuat Fany tertawa di dalam bilik.
Tanpa gadis itu sadari suaranya menggema hingga keluar. Dan otomatis terdengar oleh ke empat orang yang tadi sedang bicara serius. Dan hal itu mengundang rasa penasaran ke empatnya.
Fany langsung membekap mulutnya yang tak tahu situasi itu. Dia diam beberapa saat. Untuk menormalkan denyut jantungnya yang entah sejak kapan rasanya ingin keluar dari tempatnya.
Tapi karena tidak ada respon berarti dari bilik toilet mereka berempat memutuskan keluar. Ima yang paling belakang menggaruk tengkuknya yang tak gatal,juga rambut-rambutnya sedikit meremang. Cewek bermata sipit itu kemudian menggeleng lalu melenggang pergi.
Setelah merasa aman Fany akhirnya keluar dari bilik toilet. Dia berniat langsung naik ke kelas. Tapi ketika melihat seseorang yang di kenalnya berjalan ke belakang sekolah. Entah kenapa kakinya terus mengikuti langkah orang itu.
__ADS_1
Tbc