My Clown Boy

My Clown Boy
54


__ADS_3

"Sayangnya dugaanku benar jika ternyata dia adalah orang yang dekat. Tapi bagaimana jika sikapnya sendiri membuatku bingung"


***


Tapi tiba-tiba sebuah hal mengejutkan Fany terjatuh dari saku Delano ketika dia mencoba membangunkannya.


Sebuah surat warna abu-abu,gambar tengkorak bertuliskan untuk Fany.


Mata Fany membulat tak percaya. Dia tak mungkin.....


***


Entah mengapa hari ini terasa sangat panjang. Padahal ini hari pertamanya ke sekolah semenjak kejadian itu. Tapi kenapa justru di hari pertamanya ini Fany kembali terlibat keadaan yang sama. Serta orang yang sama.


Fany sedang duduk di salah satu kursi UKS menunggui Delano yang masih pingsan. Walaupun sudah ditangani oleh dokter sekolah tapi tetap saja gadis itu merasa tak tenang.


Jujur Fany tak mengerti bagaimana posisi Delano sekarang. Dan juga apa hubungannya dengan Sarah hingga cowok itu melakukan kekerasan pada gadis itu.


"Lano udah sadar?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang entah dari mana.


Fany menggeleng sebagai jawaban. Merasa moodnya buruk. Dia hanya terus memandangi surat warna abu-abu yang sekarang di pegangya.


Banyak pertanyaan bermunculan di otaknya. Mulai dari benarkah dia Delano? Atau mungkin saja Delano menemukannya di suatu tempat.


"Alah palingan dia udah sadar tapi keenakan tidur jadinya pura pura pingsan". Cengir cowok bergigi kelinci itu lalu masuk ke uks. Duduk di kursi yang berada di seberang Fany.


"Terus lo ngapain ke sini?" tanya Fany penuh selidik,matanya memicing melihat ketua osis geblek itu.


Cowok itu nyengir,hingga matanya menyipit. Serta gigi kelincinya mencuat,sebuah eyesmile terlihat di pipi sebelah kirinya.


"Gue teman yang baik Fan"ucapnya khidmat.


"Makanya pas Dengar Delano pingsan ya gue langsung ke sini!"


"Alasan!" kata Fany yang membuat cengiran Reza semakin lebar.


"Palingan lo berharap agar Delano sering!sering pingsan. Biar lo sering datang ngadem ke sini". Kata Fany kemudian sehingga berhasil membuat Reza terdiam.


"Hush jangan bilang-bilang. Ini rahasia antara lo dan gue!" bisik Reza penuh isyarat yang membuat Fany terheran-heran.


"Emang ada ketua osis kek dia yang doain temannya sendiri sering pingsan". Batin Fany yang tentunya tak mampu di dengar oleh Reza.


"Gak menarik ya?" tanya Reza melihat Fany mengabaikannya.


Memang setelah Fany di rawat entah kenapa perilaku hiperaktifnya sedikit menghilang. Cewek itu menjadi lebih tenang dan jarang memperlihatkan ekspresinya. Tak seperti dulu,yang selalu dia ganggu karena Fany sangat gampang dia kerjain. Dia merasa Fany berubah sedikit lebih dewasa dan Reza menjadi segan mengganggunya. Apalagi jika sampai si Ali tahu. Bisa-bisa si kakek kakek cerewet itu akan memenggal duluan kepalanya.


"Fan mau gue beritahu sebuah rahasia yang menarik?" tanya Reza lagi,yang sedang memikirkan entah mengapa Fany berubah menjadi pendiam gini.


Cowok itu kemudian memajukan tubuhnya hendak berbisik tepat di telinga Fany. Fany yang mengikuti permainan Reza hanya bisa pasrah,mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh sang ketua osis.


***


"Tumben pagi-pagi gini udah pulang. Biasanya juga kalau matahari udah tenggelam!" semprot Wendi ketika mendapati Adly sudah kembali ke kostan di jam yang masih waktu sekolah.


Adly yang sedang melepas kemejanya tak peduli cowok itu terus saja fokus pada apa yang dilakukannya sekarang.


Emon mendekat memeriksa suhu tubuh Adly lalu membandingkannya dengan dirinya sendiri.


"Lo gak sakit kan es batu?" tanya cowok itu menatap Adly penasaran.


Adly menghempaskan tangan teman satu kostnya itu. Lalu menghempaskan diri ke kasur yang tidak terlalu besar miliknya. Dia tidur telentang di sana. Lalu berusaha memejamkan mata.


Tangannya menyapu rambutnya ke atas. Jelas sekali cowok itu sedang frustasi,tapi tak mengatakannya.


"Dia kesambet apa sih di jalan tadi?"tanya Wendi pada Emon.


Yang dijawab gelengan oleh cowok berkacamata itu. Dia juga sibuk memerhatikan perubahan Adly yang sudah mirip seperti orang patah hati.


"Apa jangan jangan!!!!!!" Emon dan Wendi saling bertatapan ketika tahu apa yang mereka maksud masing-masing.


"Lo putus sama si Phany Ad?" tanya Emon kembali mendekat ke Adly yang terlihat tak ingin diganggu itu. Tapi Emang dasarnya Wendi dan Emon. Cara apapun akan mereka lakukan untuk menjawab rasa penasarannya.


"Anji**!" umpat Adly sembari melempar bantal tepat di kepala kedua temannya itu.


"Hahahaahaaaaa! Jadi gue beneran. Lo putus sama si Pany. Makanya lo galau kayak mak kunti kek gini". Cetus Wendi merasa menang karena tebakannya benar.


"Adly putus sama Fany!" ejek keduanya yang membuat Adly rasanya ingin menyumpal mulut kedua temannya ini menggunakan pagar besi. Agar sekalian tak bisa bicara.

__ADS_1


"Stop!!!!" kata Adly kembali berusaha menghentikan mereka.


"Gak mau wleeeee!" Wendi sekarang menjulurkan lidahnya. Membuat wajahnya terlihat sangat menyebalkan di mata Adly.


Melihat Adly yang kembali berbaring membuat mereka juga lelah sendiri. Sehingga tak jadi melancarkan aksinya menggoda teman satu kostnya itu.


"Lo emangnya kenapa?" tanya Emon kembali serius. Cowok itu memperbaiki letak kacamata tebalnya yang sedikit miring karena terlalu asik meledek Adly.


"Malas!" jawab Adly singkat.


Hanya kata itu,padahal Emon dan Wendi sudah menunggu cukup lama untuk mendengar jawabannya. Kirain Adly akan menceritakan kronologisnya. Eh! Hanya satu kata itu,Malas.


Ya Ampun!!! Apa artinya coba.


Emon dan Wendi saling bertatapan. Lalu menit berikutnya merasa prihatin satu sama lain.


"Andainya si Rengga ada di sini,Mon!!!huuuuhuhuhu" ucap Wendi penuh drama. Bahkan cowok itu seakan menyeka ujung matanya.


Emon yang terbawa suasana tapi tak connect itu terpaksa bertanya.


"Memangnya kenapa?"


"Kita gak akan kejebak sama si kanebo kering!!!!" kata Wendi melanjutkan sambil meraung-raung.


"Husshhh!berisik!" ucap Adly penuh penekanan sambil menutup kepalanya menggunakan bantal.


"Jangan ganggu orang galau!" peringat Emon


"Kenapa?"


"Soalnya lo bisa jadi pelampiasan! Woaahahahahaa" menit berikutnya entah kemana suasana haru biru itu menghilang digantikan tawa mengejek dari keduanya.


Adly bukannya mendapat ketenangan seperti impiannya. Malah harus terjebak dengan kedua curut-curut jomblo dihadapannya.


"Urrgghhhh!!!! Kalian bisa diam?" kesal Adly seperti hendak mengamuk. Entah mengapa bagi Wendi dan Emon Adly berkali-kali lipat lebih menyeramkannya sekarang. Di banding sebelum cowok itu bertemu Fany.


"Rengga cepatlah kembali dari umrohmu!" ucap Emon khidmat. Matanya penuh harap.


"Kami sudah tak tahan serumah dengan kanebo kering ini", tambah Wendi.


"Pantes. Si tuan putri gak tahan sama lo. ternyata lo cowok KDRT!" kata Emon kesal lalu keluar dari kamar Adly di ikuti Wendi setelahnya. Satu harapan mereka yang paling besar agar Rengga teman mereka yang lebih gila secepatnya kembali.


Setelah keluar mereka berdua mendapat ide brilian.


"Gimana kalau kita beritahu si pany?"


"Gue setuju banget. Biar dia tahu kondisi lakinya yang sedang mengamuk".


***


Jam istirahat kedua tiba. Adly melihat Fany yang terus-terusan gelisah di tempatnya. Tepat di sebelah mantan sebangkunya, sang ketua kelas. Tapi tak ada yang menyadarinya selain Adly sendiri.


Cowok itu berusaha tak peduli tapi entah mengapa tingkah laku Fany terlihat aneh. Apalagi,saat ini. Adly menoleh pada Sarah, entah kenapa juga terlihat aneh. Entah gugup atau apa yang jelas baik Sarah maupun Fany semua menyembunyikan sesuatu.


Tak berapa lama Adly melihat Fany keluar dengan tergesa-gesa. Dan entah kenapa kaki sialannya ini terus mengikuti langkah gadis itu. Termasuk ketika Sarah memintanya menemaninya. Cowok itu tetap saja mengikuti keinginan kakinya ini.


Dan pada akhirnya sampailah mereka di gedung belakang sekolah. Dia bisa melihat Fany yang berjalan mengendap-ngendap seperti hendak mengintip sesuatu. Dan hal itulah yang juga ikut memicu rasa penasaran Adly.


Dari tempat yang cukup dekat Adly mengamati semua yang di saksikan Fany. Dia tercekat jika ternyata gadis yang di paksa memgaku oleh Delano itu adalah Sarah. Sahabatnya.


Akhurnya dia tadi tahu alasan Sarah terlihat gugup. Juga memintanya menemaninya. Tapi pertanyaannya,sejak kapan Delano membawanya ke tempat ini.


Karena tak tahan melihat hal di sana. Cowok itu hampir saja keluar. Dan kasus yang sama seperti sebelumnya hampir terjadi. Tapi cowok itu di dahului oleh Fany.


Rupanya Fany lebih tak tahan melihat temannya tersiksa. Walaupun Adly tahu,Fany sama sekali tak tahu alasan Delano menyuruh Sarah mengaku. Memang jika saja dia tak keduluan Delano cowok itu juga berniat menginterogasi Sarah.


"Fany...." ujar cowok itu lirih,dia memandangi Fany yang saat ini benar-benar ketakutan. Menangis,walaupun berusaha tak gentar. Lalu kembali memandangi cewek yang sudah kacau balau karena ulahnya.


"Lo masih gak mau ngaku?" tajam cowok itu yang membuat Sarah menggeleng,tapi tak ada yang sadar jika gadis itu menahan senyum agar tak terbit.


Walaupun belum sepenuhnya terlepas,berkat keberadaan Fany Sarah bisa bernafas walau sedikit.


Tapi entah berasal dari mana tiba-tiba seseorang berpakaian serba hitam datang lalu memukul cowok itu. Karena perhatiannya terpusat pada gadis yang berdiri di sudut. Dia tak sadar kapan datangnya orang itu.


Cowok yang tadi jatuh tersungkur,perih pada wajahnya. Juga mulai ada lebam karena orang yang memukulnya bertubi-tubi itu seakan tak memberi ampun.


Setelah yakin cowok itu tak lagi melawan dia kemudian membawa Sarah. Mengangkatnya dalam gendongan dan meninggalkan kedua orang yang kondisinya berbeda itu.

__ADS_1


Fany yang melihat semuanya syok. Hendak mengejar Sarah tapi orang yang tadi membuatnya takut sekarang tergeletak tak berdaya.


"Jangan tinggalin sa...ya!" katanya lemah yang membuat Fany menoleh,seketika matanya bertemu dengan netra abu-abu itu sebelum akhirnya pingsan.


"Lan!lan! Delano bangun!" ujar Fany tak jadi mengejar Sarah. Dia menggoyang-goyangkan tubuh yang sekarang sedang tak sadarkan diri itu.


Tapi tiba-tiba sebuah hal mengejutkan Fany terjatuh dari saku Delano ketika dia mencoba membangunkannya.


Sebuah surat warna abu-abu,gambar tengkorak bertuliskan untuk Fany.


Mata Fany membulat tak percaya. Dia tak mungkin.....


Adly menyaksikan semuanya dalam diam. Bahkan ketika Delano tak sadarkan diri. Dia membeku,syok,semuanya bersatu. Apa yang harus dilakukannya.


Tapi melihat Fany kesusahan. Walaupun ia yakin dia membenci cewek itu. Kenapa dia tak suka Fany melihat orang lain. Kenapa dia tak suka melihat Fany peduli pada Delano. Kenapa dia tak suka melihat air mata Fany jatuh seperti sekarang.


Adly memegang dadanya,tak ada yang aneh. Tapi kenapa semuanya bisa terjadi. Coba beritahu Adly apa alasannya.


Entah keinginan dari mana. Terpaksa cowok itu menampakkan diri. Awalnya Fany terkejut,tapi cewek itu tak protes banyak.


"Adly!!! Lo sejak kapan ada di sini?" tanya gadis itu penasaran.


"Bukan urusan lo!" ucap cowok itu yang sukses membuat Fany terdiam.


Entah kenapa dia marah melihat Fany sekarang. Seakan Fany berusaha menjauh darinya. Tapi bukannya memang itu yang ia inginkan. Kenapa justru sekarang dia di tempatkan di posisi seperti ini.


Ketika membopong Delano Adly berusaha menyakinkan diri sekali lagi. Tapi,semakin dia pikirkan semakin Adly tak bisa.


"Makasih Adly!!!!!karena udah ngikutin gue" sindir Fany setelah dia meletakkan Delano di ranjang uks dan langsung mendapat pemeriksaan dari Bu Risma dokter pengawas uks.


Tapi entah mengapa jika Adly melihat mata coklat terang itu. Binarnya tak sama dengan yang dulu. Binarnya jauh lebih redup,entah karena apa.


"Jangan Geer!" ucap Adly datar.


"Iya.iya" respon Fany hanya itu tak lebih. Tak seperti dulu,gadis itu akan senantiasa bicara panjang dan membuat Adly kesal tapi sekarang.


Begitu Bu Risma keluar Fany langsung masuk. Raut khawatir memenuhi wajahnya. Dan entah kenapa Adly muak melihat pemandangan itu. Cowok yang bernama Adly memilih pergi melewati tembok belakang. Tanpa berniat kembali. Rasa kesalnya sangat besar.


Memang ini salahnya membuat gadis itu seperti sekarang. Tapi dia sendiri tak tahu jika dampaknya akan seperti itu.


***


Cowok itu kemudian memajukan tubuhnya hendak berbisik tepat di telinga Fany. Fany yang mengikuti permainan Reza hanya bisa pasrah,mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh sang ketua osis.


"Delano.....!"


Bersamaan dengan itu sebuah chat masuk ke hp Fany.


"Tunggu...dulu ya! Ntar lo lanjutin bisikannya" kata Fany membuat Reza nanggung.


"Masa di pending sih Fan?" protes Reza merasa kesal. Akan ketidakpekaan cewek itu.


Fany memeriksa Hpnya tak terlalu memedulikan gerutuan Reza yang paling-palingan hal yang gak terlalu penting yang akan di sampaikannya.


E-monyet🙈🙉


Lo mau lihat mode ngambeknya suami lo?


Demi membaca chat dari Emon tadi kening Fany mengeriyit gadis itu kemudian mengirim balasan.


Maksud lo apaan?


E-monyet send a video.


Video


Play


Kalian kenapa sih sampe sampe tuh anak pulang pulang lemparin semua barangnya🙄😅


Fany langsung membuka video barusan. Dan cewek itu sedikit demi sedikit menarik ujung bibirnya begitu melihat orang yang berada di dalam video ternyata Adly. Jelas sekali jika Emon mengambil video itu diam-diam. Apalagi dalam bentuk boomerang. Dan cowok itu terlihat lucu. Adly wajah kesal itu entah kenapa menurut Fany sangat menggemaskan.


Diam diam dia benar-benar merindukan menjahili cowok itu. Sama seperti sebelumnya. Berharap apa yang dilakukannya bisa meluluhkan sikap dingin Adly padanya.


Tapi masalahnya sekarang. Fany bertanya badboy itu siapa?


Tbc

__ADS_1


__ADS_2