
"Gak ada sesuatu yang terlihat istimewa jika hanya sesaat. Yakini itu".
***
Jika ini mimpi maka biarkan Fany lebih lama lagi menyelam didasar mimpinya. Untuk saat ini dia tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Dengan kata lain dia sedang bahagia. Dan dengan sebuah senyuman kecil dia menulis sesuatu pada buku kecil berwarna pink. Dengan pulpen yang memiliki bulu bulu warna pink pada bagian atas.
Dan ketika selesai Fany memeluk buku itu sambil memandangi sebuah Foto kecil yang terletak di meja belajarnya.
" you'll be mine,Adly" Desisnya.
***
Keesokan harinya,Fany benar benar bahagia. Bahkan sangat,hingga ia tak mampu mengucapkannya dengan kata kata.
Bagaimana tidak Fany melihat orang yang selama ini ia nanti berada di sekolah sekarang datang. Walaupun penampilannya tetap seperti biasa.
Ya itulah Adly orang yang beberapa minggu ini memenuhi pikirannya.
Fany berlari kecil menghampirinya dipojok belakang kelas.
"Good morning prince!!" sapanya semangat.
Adly hanya melihatnya sekilas lalu kembali mengalihkan dunianya pada buku.
Kalian tahu itu buku apa?
Jangan coba coba berfikir itu buku pelajaran. Adly sangat malas membaca buku seperti itu apalagi yang berkaitan dengan angka angka. Tapi entah mukjizat dari mana walupun malas dia tetap pintar bahkan sangat pintar untuk mapel itu.
Kadang cowok itu juara satu dikelasnya,kadang pula terakhir. Tapi dia tak pernah peduli pelajaran. Cowok ini seakan tak punya semangat hidup.
Jangan dimasukkan ke hati ya! Karena ini persepsi Fany tentang Adly.
"Fany.....ngapain mandangin Adly kayak gitu?" entah dari mana Ima tiba tiba muncul yang menyebabkan Fany harus berhenti memandangi wajah pangeran badutnya.
"Bacod kau Ma. Gangguin!" sebal Fany yang membuat Ima ngakak.
Lalu gadis tomboy itu segera duduk di dekat Fany.
"Fany cantik! Bebeb Aly udah kembali gak dari Singapura?" tanya Ima.
Fany memutar kursinya memghadap Ima.
"Belum, tapi mungkin minggu depan bakal balik". Jawabnya malas.
Ima manggut manggut.
" Tapi tadi gue ngelihat post terbarunya di IG bareng cewek cantik. Iri gue Fan!" Ima bercerita dengan ekspresi kecewa.
"Yaelah. Paling cuma korban gombalannya aja. Lo tahu sendiri kan?". Fany berusaha menghibur temannya yang satu itu. Ima memang tukang gas,tapi begitu mewek susah nenanginnya. Olehnya itu dia harus segera mengantisipasinya sebelum terjadi.
" iya juga sih. Tapi Fan,lo sama Delano ada hubungan apa?". Ima kembali bertanya tapi kali ini sengaja mengecilkan volumenya,takut Adly di belakang terganggu.
__ADS_1
"Gak ada kok!" elak gadis bermata coklat itu.
"Cie!!!! Jangan bohong lo. Selama ini mana ada cewek yang berani dekat dia. Jangankan cewek,cowok aja hanya orang orang tertentu yang dekat sama dia". Cerita Ima dengan semangat,dan sebenarnya dia mulai tertarik pada kasus yang dilalui Fany.
"Kok bisa sih? Perasaan Delano gak seburuk itu". Ujar Fany tak percaya kan bisa aja Ima ini jadi pengarang dadakan.
Fany mencoba mengingat bagaimana awalnya dia dan Delano bertemu. Dan itu membuatnya semakin tak percaya.
"Ya itulah,yang kami pertanyakan! Para jomblowati pengagum cowok tampan. Dan lo nggak tahu kan,setelah masalah lo yang di gosipin sama babang Aly kelar,lo menduduki peringkat lain di hati para pengagum cowok tampan".
Fany melongo gak mengerti apa yang dimaksud oleh Ima.
" lo ngerti?" tanya Ima.
Dan Fany akhirnya menggeleng kaku.
"Lo udah jadi bahan gosipan para jomblowati,karena apa? Mereka iri sama lo". Lanjut Ima.
" Apa gue segitu terkenalnya?" Muka Fany berseri seri,mengetahui fakta itu.
Ima menepuk jidatnya,lalu kembali fokus. Tak peduli riuh karena hiruk pikuk teman sekelasnya.
"Sekarang coba lo jawab pertanyaan gue. Andainya Adly dan Delano suka ke lo mana yang akan lo pilih". Bisik Ima tepat di dekat telinga Fany karena takut akan didengar oleh Adly yang masih sibuk dengan komiknya.
Fany berfikir sejenak,lalu dengan senyuman devilnya dia menjawab" Dua duanya mungkin". Dia memasang muka sok cantiknya. Yang membuat Ima refleks menabok kepalanya.
Dan hal itu membuat Adly terganggu. Fany berbalik,dan dia mendapatkan Adly sedang menatapnya tajam.
"Hai Adly,"sapanya kikuk.
" Ad, lo kenapa segitunya mandangin Fany. Apa janngan jangan......" Ima tertawa nakal begitu melihat Adly terus terusan menatap Fany datar.
Adly mengalihkan pandangan tepat ke kornea Ima. Hingga gadis itu sedikit demi sedikit berhenti tertawa.
"Woi!!! Woi ngapain ngerumpi pagi pagi". Oceh seseorang yang baru saja masuk kelas.
Sarah,gadis itu langsung duduk di dekat Adly.
"Lo dari mana aja?"
"Males" jawab Adly pendek.
"Umm...kirain ada masalah"
Adly menggeleng singkat.
"Jamkos,jamkos bro...Pak Rinto gak masuk". Teriak Maya dari luar.
Seisi kelas berteriak,merayakan bulan jatuh ini. Karena rasanya kemerdekaan seorang siswa tuh kalau guru killer dengan pelajaran berhitung sedang berhalangan masuk kelas. Dan itulah yang sekarang menimpa mereka.
Fany melihat interaksi antara Sarah dan Adly yang membuat gadis itu merasa sedikit risih. Ya Fany akui Adly dan Sarah itu cocok,apalagi sekarang mereka berdua sudah sibuk pada dunia mereka. Seakan lupa,bahwa Fany masih ada diantaranya.
"Fany lo ada yang nyariin" teriak ketua kelas yang berada di depan pintu.
__ADS_1
"Siapa ketua?"
"Delano" dan nama itu terdengar menggema ditelinga Fany.
Sedangkan Ima sudah mendorong Fany agar gadis itu segera keluar untuk menemui orang yang dimaksud. Hanya saja Fany tak sadar jika sepasang mata tajam itu masih menatapnya hingga menghilang di balik pintu.
Fany terkejut begitu melihat Delano terlihat sangat kacau. Dengan luka lebam di sekitar pipinya.

Wajahnya tak seperti kemarin,cowok itu menatap kosong yang membuat Fany semakin panik.
"Delano lo kenapa sampai bonyok kayak gini?" tanya Fany. Delano memandang Fany dari atas kebawah. Tak berselera memjawab..
Namun,saat matanya bertemu dengan netra gelap itu Delano berkata pelan tepat di dekat telinga Fany. "Rooftop"
***
Delano duduk dibangku kecil di dalam gudang,namun wujudnya sangat bersih dan rapi untuk dikatakan gudang. Kata yang cocok lebih tepatnya adalah kamar.
Fany dengan telaten mengobati lukanya sedangkan Delano hanya terus menatap ke depan.
"Jadi Lan,gimana ceritanya sampai lo kayak gini?"
Delano menghembuskan nafas kasar, "Ck...gak penting".
Setelah selesai diobati,Delano memdekat ke jendela yang berukuran sedang memandangi sesuatu di luar sana.
Fany hanya duduk diam di tempatnya berfikir menerawang pada surat abu abu gambar tengkorak yang masih sering di terimanya.
" Apakah mungkin orangnya dia?" batin Fany.
Namun entah mengapa dia menepis jauh jauh pikiran itu lalu kemudian kembali menghadirkan sosok yang akhir akhir ini selalu membuatnya tersenyum sendiri kala memikirkannya.
Mungkin agak lucu..
Suara bel pergantian pelajaran terdengar. Fany dengan cepat beranjak dari duduknya.
"Lano,gue ke kelas dulu ya!Lo kalau udah siap cerita lo bisa langsung panggil gue. Gue selalu siap buat dengerin cerita dari lo!".
Tanpa memunggu respon dari Delano cewek itu segera berlari keluar.
Takut terlambat masuk di jam pelajaran Bu Dina.
Fany sudah berada di dekat tangga,perjuangannya tinggal sedikit. Nafasnya tidak beraturan,karena lelah.
Suara langkah kaki di belakang san terdengar,sangat cepat. Apalagi koridor sedang sepi,Fany kembali berlari cepat hingga tiba di depan kelasnya. Dan langkah itupun berhenti.
Fany memejamkan mata,mengatur nafas kemudian berbalik. Gadis itu terkejut .....
***
Tbc
__ADS_1
Next..
Chapter 19 hu laalalaa