
"Hilang. Datang. Membiarkan bernafas. Lalu kembali datang. Mengusik. Membuat lelah. Mengunci. Hilang. Hendak kembali mengambil sesuatu yang berharga. Tapi kenapa? Bukankah dia sudah di tebus dengan nyawa?"
***
Langit kian lama kian gelap. Perlahan rintik hujan mulai jatuh. Lalu lama-kelamaan volumenya jadi semakin besar.
Seharusnya dia sadar di sakunya ada kotak hadiah warna merah yang warnanya sudah mulai pudar. Seharusnya dia ingat, tapi kenapa setiap ia berusaha ia tak pernah bisa. Saat ia melihat isi kotak itu. Di sana ada sebuah kalung,berwarna silver dengan huruf SR sebagai bandulnya. Seharusnya dia tak pernah lupa.
Tapi kenapa setiap kali melihat benda itu rasanya ada kenangan di setiap keping memorinya yang tak bisa di ingatnya. Dia melihat speedometer mobilnya dan ternyata itu sudah kecepatan yang maksimal.
Dia takut! Sangat takut akan terjadi sesuatu pada gadis yang di sukainya.
Tapi saat berada di jalan yang cukup legang. Entah berasal dari mana tiba-tiba dua buah sepeda motor berhenti di depannya. Dan sebelum sempat terjadi tabrakan, cowok itu menginjak pedal rem. Hingga mobil mendadak berhenti.
Hampir saja kepalanya teerbentur di setir mobil. Tapi untungnya keseimbangan cowok itu sangat tinggi.
Awalnya hening,motor di hadapannya tak bergerak. Juga dua orang pemiliknya hanya duduk di atas jok. Tapi tak lama kemudian sebuah mobil jeep berhenti di belakang mobilnya. Dia hendak melihat dari spion tapi tak bisa karena gelapnya malam menghalangi pandangannya.
"Shitt!", umpat cowok itu begitu menyadari apa yang sekarang menimpanya tak mungkin kebetulan.
Melainkan konspirasi. Konspirasi yang sudah direncanakan dengan matang. Cowok itu tak takut, malahan ia ingin menantang. Tapi jumlah mereka pasti lumayan banyak. Dan sengaja memilih tempat yang sepi.
Orang yang tadi berada di atas motor entah sejak kapan sudah mengetuk kaca jendela mobilnya.
Ketukan itu semakin lama semakin keras hingga mau tak mau cowok itu langsung keluar. Dia bisa melihat keduanya melalui sinar penerangan lampu motor di depan sana. Dua orang berbadan kekar dengan rambut gimbal. Serta tindik di telinga. Yang satunya mengenakan kalung berwarna perak yang mungkin cukup berat menggantung di leher.
"Apa mau kalian?" tanya cowok itu berusaha bersiap dengan segala kemungkinan.
Kedua orang itu melirik ke arah mobil jeep. Di sana terlihat sedikit jelas. Seseorang yang duduk di jok kemudi menatap cowok itu tajam. Mata kirinya yang rusak,seakan di sana pernah ada yang menusuknya terlihat berputar-putar. Sedangkan mata kanannya berwarna semerah saga.
Cowok itu tercegang beberapa saat. Entah kenapa rasanya dia pernah melihat wajah itu. Dia menelisiknya lebih dalam. Hingga imgatan buram terbit di memorinya. Tanpa sadar tangan cowok itu mengepal. Karena mereka memang orang yang sama di waktu itu. Yang membawa kedua temannya secara paksa. Dan hal itulah yang membuatnya hingga sekarang kehilangan kontak dengan kedua teman kecilnya itu.
"Kau...?" desis cowok itu menahan geram. Kedua laki-laki kekar yang berdiri di dekatnya merapat hendak mengambil tindakan tapi mereka harus bersabar menunggu aba-aba dari tuannya.
Tak berapa lama. Orang yang duduk di samping jok kemudi itu keluar. Membawa payung bening, hingga mereka tak kehujanan. Berbeda dengan cowok tadi yang sudah basah kuyup. Tapi pandangannya mulai buas.
Orang berpayung itu,berlari kecil ke samping pintu kemudi. Lalu menit berikutnya orang yang di tatap tajam si cowok keluar. Langkahnya pelan tapi terdengar berirama. Penuh keangkuhan.
Saat mereka mendekat ke arah si cowok. Dia bisa melihat orang yang memegang payung masih remaja. Mungkin mereka sesusia. Hanya saja dia tak bisa melihat dengan jelas wajahnya,karena terhalang oleh topi yang di kenakannya.
Laki-laki paruh baya itu, terus menatap sang cowok dari atas ke bawah. Laki-laki itu terkekeh pelan.
"Kau rupanya tumbuh dengan baik nak!", katanya di sela kekehannya. Tapi mata itu, tak menyiratkan keramahan sama sekali. Melainkan nada suaranya sedikit lebih memberikan penekanan.
Kening cowok itu berkerut, tak mengerti dengan yang dikatakan orang barusan.
"Jangan bicara seolah-olah kita teman lama!" sarkas cowok itu menatap orang dihadapannya tak takut.
"Aku suka keberanianmu itu. Sangat berbeda dengan anak kecil yang dulu bersembunyi di semak-semak!" dia berbicara penuh sindiran tetapi cowok itu semakin tak mengerti. Dia berusaha menhingat tapi sulit.
"Hentikan mulut omong kosongmu. Dan katakan apa yang kau inginkan!"tekan cowok itu. Dia tak mau membuang-buang waktu di tempat seperti ini. Ada hal yang lebih mendesak yang harus dia lakukan sekarang.
"Hohoho....selain menjadi lebih berani. Ternyata kamu juga tak sabaran!", laki-laki paruh baya itu menggeleng seakan miris padahal kenyataanya dia terlihat sangat-sangat senang.
Tak berapa lama dari dalam mobil keluar orang-orang berpakaian serba hitam. Mungkin sekitar sepuluh orang. Mereka semua menatap cowok itu seakan hendak menerkamnya hidup-hidup. Tapi dia tak peduli matanya terus mengawasi orang yang berdiri tepat dihadapannya.
"Katakan saja apa yang kau inginkan?" kata cowok itu ketus.
Si mata rusak yamg tadi terkekeh sekarang dengan perlahan menghentikan tawanya. Dia menatap cowok itu tepat.
Aura menyeramkannya menguar seketika. Suara sedalam sumur itu mulai menggema di indra pendengaran si cowok.
"Saat itu kubilang jangan terlibat terlalu jauh nak! Tapi kau rupanya bocah yang keras kepala. Kau masih saja melibatkan dirimu yang menyedihkan itu".
"Kau membunuh ibumu. Hidupmu sangat menyedihkan", ejek si mata rusak kembali tergelak.
__ADS_1
Mendengar kalimat terakhir orang di hadapnnya cowok itu tak bisa lagi menahan luapan emosi yang tiba-tiba membuncah. Adrenalinnya meningkat berkali-kali lipat. Dia tak peduli lagi berapa anak buah yang di bawa orang di hadapannya.
Amarahnya sudah di puncak ubun-ubun.
" TUTUP MULUT LANCANGMU!" kata cowok itu sembari maju, memukul telak wajah si mata rusak. Amarahnya tak dapat di bendung, dia memukul wajah itu membabi buta. Sehingga si mata rusak jatuh tersungkur ke aspal. Pakaiannya lansung basah, karena air hujan. Tapi seakan tak kapok dia tak berhenti memyeringai dengan senyum mengejek.
Melihat itu pemuda berpayung tak tinggal diam.
"Pa!", katanya hendak memukul orang yang sedang menghajar orang yang di panghilnya papa habis-habisan.
Si mata rusak menahannya,tapi dia tak bisa. Dia tak bisa terus-terusan melihat ayahnya, orang yang membesarkannya di siksa di depan matanya. Dia langsung menarik cowok itu yang membabi buta. Dia msrasakan bagaimana kuatnya cowok itu, tapi tetap saja amarahnya meluap-luap.
"*******!" kesal cowok itu hnedak menghajar orang yang memghentikannya. Dan saat itulah dia tercegang melihat wajah si payung. Karena tanpa sengaja dia berdiri di depan mobilnya, sehingga cahaya bisa menyorotinya dengan jelas.
"Lo!", desis cowok bertato di lengan kirinya itu.
Tapi tak berapa lama,anak buah si mata rusak maju. Menahan lengan cowok itu agar tak menyerang anak majikannya. Dan mau tak mau si cowok harus melawan belasan orang itu secara sendirian. Dia menatap buas mereka satu persatu. Mulai menyerang, masih membabi buta.
Si mata rusak di bantu berdiri oleh orang yang memanggilnya papa. Mereka menyaksikan perkelahian tak seimbang itu dengan rasa puas.
Dia tercegang begitu melihat si cowok menumbangkan hampir separuh anak buanya. Tapi kembali tersenyum,melihat pertunjukan itu secara langsung.
"Bukankah itu menarik Ly?" tanyanya pada si anak.
"Itu sangat menarik. Pa!" sahut si anak.
"Kau tahu tugasmu kan?"
"Ya!/saya tahu apa yang mesti saya kerjakan!"
"Bagus!"
Cowok itu awalnya berada di atas angin. Tapi lama kelamaan tenaganya juga terkuras habis. Apalagi melawan belasan laki-laki dewasa bertubuh kekar sendirian. Pertahanan tubuhnya memang luar biasa. Tapi kali ini cuaca tak memungkinkan. Dia memukul lincah orang yang hendak memukulnya dari belakang. Dan orang itu sukses terjatuh di aspal.
Dia berkelahi seperti menari, berputar menendang. Semua bagian tubuhnya bekerja secara optimal. Tapi ketika orang-orang itu menyerangnya dari empat arah sekaligus cowok itu kewalahan. Dan sebuah pukulan berhasil mengenai tulang keringnya. Dan hal itulah yang mengawali susulan pukulan lainnya.
Seringaian orang bermata rusak itu bisa di tangkapnya sebelum akhirnya kesadarannya diambil alih.
Lalu setelah itu,si payung mengambil mobilnya. Anak buah si mata rusak kembali ke mobil jeep. Juga dua orang yang tadi menggunakan motor. Mereka meninggalkan tubuh yang tak bergerak itu di tengah jalan sendirian. Tanpa rasa iba.
***
Suasana di lantai satu tempat kost itu sedang sepi ketika Adly menginajkkan kaki di sana. Sekelmbalinya dari taman cowok itu hendak menghajar seseorang. Tidak lebih tepatmya dua orang.
Cowok tinggi itu langsung naik ke atas. Menghampiri mereka berdua yang sedang berkumpul bersama penghuni kost lainnya.
"Heheheee! Tumben bang Adly datang!", ucap Liya salah satu penghuni kost begitu melihat Adly menginjakkan kaki di sana. Tapi hal itu tak mengubah ekspresi wajah Adly yang sudah mengeras. Dia ingin memberi pelajaran kepada Emon dan Wendi yang bercanda terlalu berlebihan.
Tanpa memedulikan sapaan dari penghuni yang lainnya. Adly menatap mereka tajam.
"Emon sama Wendi mana?" tanya cowok itu dengan gigi bergemelatuk.
Wajahnya tetap terlihat tenang tak ada ekspresi apapun. Tapi jelas dari nada suaranya cowok itu tak ingin bercanda. Dan melihat hal itu Liya bergidik. Dia segera menunjuk Emon dan Wendy yang duduk di sudut ruangan.
Tanpa aba-aba lagi cowok itu menarik keduanya dari sana. Penghuni kost yang lainnya tidak mau mencari masalah. Mereka memilih melanjutkan aktivitas masing-masing di banding terlibat terlalu jauh sehingga membuat Adly semakin marah.
Saat sampai di bawah. Tepatnya di halaman belakang. Cowok itu langsung memberi bogem pada Emon. Orang yang ia yakini biang kerok dari sumber masalah yang datang. Jika bukan karena pesan gilanya Fany tak akan datang, lalu harus hujan-hujanan sampai larut malam karena menunggu Adly.
Melihat sahabatnya di pukul Wendi tak tinggal diam. Dia berusaha menghentikan Adly. Tapi jelas saja kemarahan Adly yang seperti ini sangat jarang terjadi. Dan hal itu membuatnya sedikit kewalahan.
"Apa yang udah lo lakukan, *******!!!!" geram Adly, wajahnya yang terbiasa datar tak terlihat kali ini.
Nafasnya memburu, terus memukuli Emon. Tapi Emon tak melawan, dia menerima apa yang dilakukan Adly. Seakan memang benar jika dia yang bersalah. Hujan memang mulai reda, hingga mereka tak terlalu basah. Tapi tetap saja masih ada yang merembes jatuh dari sela-sela daun.
"JAWAB!" tekan Adly begitu melihat Emon tak bereaksi sama sekali. Dia kesal, pada cowok yang bercandanya terlalu berlebihan itu. Seharusnya mereka tak sampai melakukan hal seperti itu.
__ADS_1
Jangan salahkan Adly yang terlambat datang dan membuat Fany menunggu. Tapi salahkan kedua cowok, yang mengaku teman Fany tapi berbuat usil dengan berlebihan.
"Berhenti Ad! Memangnya apa yang terjadi?" tanya Wendi yang masih berusaha menghentikan tingkah Adly.
Emon sudah babak belur. Terjatuh di tanah basah, cowok itu terlihat menyedihkan dengan sekujur tubuh penuh luka. Adly akhirnya berhenti.
Tatapannya tertuju pada Wendi.
"Gara-gara lelucon sialannya. Fany sampai menunggu hingga larut malam!", jawab Adly lancar. Mata tajamnya menyorot Emon tepat.
"Dan gue tahu lo juga ikut!" tekan Adly berikutnya. Dia lalu memukuli Wendi yang masih syok.
"Tapi kita hanya bercanda!", kata Wendi berusaha menghentikan Adly memukuli dirinya. Dia tak mau berakhir mengenaskan seperti Emon.
"Akibatnya fatal bro!" tanpa bisa di cegah lagi bogem itu juga mengenai wajahnya. Lalu Adly berhenti, hanya itu yang diberinya ke Wendi. Karena memang dia yakin yang mengirimnya itu Emon bukan Wendi.
Cowok itu lalu duduk di bangku halaman belakang. Berusaha menenangkan diri.
Dia memijit pelipisnya yang entah sejak kapan terasa sakit.
"Sejak kapan bro lo perhatian gini ke Fany?" pertanyaan Wendy barusan membuat Adly terdiam cukup lama.
"Bukan urusan lo!" jawab cowok itu sekenanya.
Dia juga bertanya dalam hati, sejak kapan dirinya merasakan seperti ini melihat Fany. Sejak kapan dia tak suka melihat Fany di perlakukan tak baik oleh orang lain. Sejak kapan dia tak suka melihat air mata gadis itu. Dan sejak kapan ia tak suka melihat Fany dekat dengan orang lain.
Juga kenapa ia tadi memilih menyusul gadis itu, padahal dirinya bisa saja mengabaikannya. Juga kenapa hatinya terasa panas membaca chat yang tadi di kirimkan Fany. Yang mengatakan jika Delano mentukainya.
Adly menggeleng, pertanyaan sejak kapan itu berhasil membuatnya ternganggu. Sejak kapan Fany secara tak sadar berhasil mengambil alih Adly.
Tapi sebelum cowok itu bisa menemukan jawabnnya. Entah berasal dari mana. Dan entah sejak kapan ada orang lain di sana.
Orang itu tanpa aba-aba langsung menarik kerah baju Adly. Amarah serta rasa takut terlihat dari pancaran matanya.
"Dimana lo sembunyiin adek gue?" tanyanya bersiap menerkam Adly.
Cowok itu terkejut. Mata hitamnya menatap mata coklat terang itu tepat. Tak gentar. Walaupun rasa takut juga menggerogoti hatinya.
Malam semakin larut dan perseteruan keduanya tak kunjung reda.
"Apa...ma...k..sudnya?" tanya Adly tergagap.
Dia bisa melihat orang di hadapannya tercegang. Tapi menit berikutnya berhasil mengirimkan pukulannya pada Adly.
"Jangan berakting,selayaknya tak tahu apa-apa! Gue tahu, lo yang nyembunyiin dia!" Ali berteriak di ujung kakimatnya. Yang membuat rasa penasaran penghuni kost terpancing. Mereka melongokkan kepala dari jendel. Juga beberapa dari balkon untuk memyaksikan dari mana asal suara.
"JAWAB!" suara Ali penuh penekanan kali ini.
"Gue gak tahu!",jawab Adly berikutnya. Dan hal itu membuat Aly semakin geram.
***
Tbc
Holaaaaaa.....
Jadi Fany kira-kira dibawa kemana kalau Adly juga gak tahu.
Uwuwwww.....semakin memanas rupanya ya.....Eh bdw aku rasa semakin mendekati tamat. Jumlah kata tiap part itu gak pernah di bawa 2000++ kenapa bisa begitu?
😦jadi Fany muncullah. Katakan siapa yang membawamu nak. Apakah kamu mau meninggalkan Adly setelah ini. Tau-tau lu udah berhasil buat Adly ketar-ketir tuh. Lu harus tanggung jawab ya! Jangan keenakan sama cowok yang culik lo nak. Ingat ada dua hati lainnya yang harus lo jaga.
Cusss abaikan. Gue lagi gabut. Skuyyyy tunggu part selanjutnya aja ya. Karena akan ada kejutan yang membuat kalian menganga.
Byeee...
__ADS_1
Love you All. Jangan lupa comment and vote ya...