My Clown Boy

My Clown Boy
56


__ADS_3

"Berharap ada yang berubah setelah hari ini".


***


Fany menghela nafas lega akhirnya dia bisa pulang setelah menikmati hari pertamanya sekolah. Sekarang dia sedang di kamar setelah tadi dijemput oleh pak Karman. Gadis itu bertanya-tanya dalam hati. Kemana perginya Adly setelah mengantar Delano ke UKS tadi?


Dia bahkan tak terlihat hingga jam pulang. Dan jika bolos tumben dia melakukannya. Karena Adly dikenal sebagai cowok antibolos. Tapi kali ini dia  melakukannya lagi.


Karena tak ingin menahan rasa penasarannya terlalu lama terpaksa gadis itu segera mengeluarkan Hpnya.


Dia tersenyum melihat nama kontak Adly yang ternyata belum berubah sama sekali.


Room chat


Calon pacar


Hai!Ad😂


Lo dimana?


Gue tebak lo pasti lagi mikirin gue!😘


Setelah mengirim chat seperti itu. Fany segera meletakkan hpnya. Dia sudah hapal kebiasaan Adly yang satu itu. Chatnya hampir karatan baru cowok itu mau membalasnya. Awalnya Fany memang gregetan menunggu. Walaupun sekarang masih sama sih.


Ya intinya begitulah. Fany kemudian mengganti seragamnya,lalu membawa serta hpnya turun ke bawah untuk makan siang.


Di ruang makan,Fany tahu semua disediakan oleh bi Inah makanya dia hanya perlu mengambil piring lalu duduk cantik sambil makan dengan nikmat.


***


Calon pacar


Gak!


Fany langsung membuka pesan yang berusaja diterimanya. Dari cowok yang bernama Adly itu. Dia sedikit tersenyum mendapati balasannya yang lebih cepat dari biasanya. Gadis itu sekarang tiduran des sofa ruang keluarga sambil menonton televisi di temani makanan ringan.


Calon pacar


Online


Hehehe...:V tahu


Aku cm mau ngomong


Hal pntg sm km


?


Ad!jujur ya! Lo mmng gak ada rasa sama gue bareng sedikit pun?


Fany menghela nafas kasar teringat dengan perkataan teman-temannya. Dan dia bimbang,dengan hatinya sendiri. Dia menyukai Adly tapi takut menyakiti Delano yang entah kenapa memang sabgat berhubungan dengan kehidupannya. Juga si Badboy itu.


Dia ingin mendengar jawaban Adly kali ini. Apalagi hubungan mereka pernah memiliki peningkatan. Juga perhatian kecil cowok itu. Walaupun tak nyata Fany menyadarinya. Juga perubahan sikapnya yang kadang-kadang. Tapi Fany tahu dibalik itu mungkin saja masih ada harapan untuknya disana.


Memang mulut cowok itu terkesan tajam. Tetapi bukankah di dalam sana mungkin saja tersimpan perhatian yang lebih besar.


Pesan Fany sudah dibaca oleh cowok itu dua puluh menit yang lalu. Tapi kenapa belum ada balasan hingga sekarang. Fany kemudian meletakkan hpnya lalu kembali menonton televisi dihadapannya yang terus menyala.


Kali ini saja. Gue mohon Ad?batin Fany masih terus berharap.


Calon pacar....is calling


Dengan hati berdebar Fany segera mengangkatnya.


***


Sedangkan di tempat lain terlihat


Adly meletakkan ponselnya setelah membaca chat dari Fany. Cowok itu tak berniat membalas apapun karena Fany juga sudah jelas tahu jawabannya. Dia terlalu malas melakukan hal sia-sia.


"Lo lagi chat sama pacar lo?" tanya Emon yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya. Sambil berusaha mengintip isi hp Adly.


Melihat wajah mengesalkan Emon,Adly langsung menabok kepala cowok berkacamata itu.


Dengan gamang ia berkata. "Jangan sok tahu", ceplos Adly yang membuat Emon langsung mengusap kepalanya.


"Ya elah! Baru gitu aja lo belagu! Di jadiin bucin ama tuan putri tau rasa lo ntar!" cetus Emon karena kesal sendiri.


Emon merasa kesal ke cowok yang gak peka itu. Jelas-jelas ada cewek cantik yang ngaku suka padanya eh malah di tolak.


Dia kadang mempertanyakan Adly. Apakah cowok itu benar-benar menyukai perempuan atau justru sesama lelaki.


Emon segera menggeleng, membayangkanya saja membuatnya bergidik. Tapi dia berfikir rasional semua hal bisa terjadi. Apalagi dia tak pernah melihat seorang Adly Mahardika dekat dengan seorang cewek. Kecuali teman kecilnya,Sarah.

__ADS_1


Adly kemudian meletakkan hpnya di atas meja. Tak mau meladeni cowok berkacamata itu terlalu lama. Dia hanya perlu membersihkan diri sebelum bekerja. Dia tak perlu mengkhawatirkan hp miliknya akan dibuka oleh Emon ataupun Wendi karena dia telah menguncinya terlebih dahulu.


***


Calon pacar....is calling


Baru saja Fany ingin menggeser tombol hijau hpnya. Tiba-tiba panggilannya berhenti. Dia menghembuskan nafas merasa sedikit kecewa. Karena ia yakin mungkin saja Adly hanya salah pencet.


Tapi selang beberapa detik sebuah chat masuk dari nomor yang sama. Sehingga tak sadar senyum di bibir gadis itu kembali muncul.


Calon pacar


Mari bertemu di tempat biasa.


Demi melihat pesan itu Fany rasanya ingin melompat di tempat saking senangnya. Dia tak menyangka jika ternyata Adly mengajaknya bertemu secara langsung.


Oh! Jantungnya mendadak berdebar.


Tanpa membalas pesan Adly,Fany labgsung berlari ke kamarnya. Memilih baju di walk in closet. Juga sepatu serta sling bag.


Ini sungguh kesempatan Emas baginya. Kapan lagi hal seperti ini akan terjadi. Makanya,dia tak akan menyia-nyiakannya.


Berhubung hanya dia yang berada di rumah,karena ibunya sedang ke acara arisan. Gadis itu tak perlu repot-repot merengek pada ibunya. Dia cukup memberitahu Bi inah. Dan Bi Inah yang akan menyampaikannya nanti pada Ratih.


Fany mengenakan dress selutut warna navy yang memiliki kerah,dengan flat shoes warna putih. Rambutnya yang mulai panjang di gulung ke atas sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Penampilannya simpel. Tapi terlihat sangat cantik. Sling bag kecil miliknya di gunakannya untuk menyimpan hp serta dompetnya.


Setelah siap gadis itu segera menyuruh Pak Karman untuk membawanya ke taman dekat alun-alun kota. Tempat yang pernah ia datangi bersama Adly. Makanya pas dia Adly mengirim pesan dia langsung memikirkan tempat itu. Karena hanya tempat itu satu-satunya yang pernah mereka datangi bersama.


"Emang nona mau ketemu siapa?" tanya Pak Karman takut-takut sambil melirik beberapa bodyguard yang masih stay di tempat mereka. Beberapa juga bersiap untuk mengikuti Fany.


Melihat ketakutan Pak Karman Fany mendekatkan wajah. Lalu berbisik tepat di telinga sopir itu.


"Teman Pak!" ucap Fany antusias. Senyuman di bibirnya belum padam.


"Tunggu saya telepon tuan dulu!" ucap Pak Karman berniat meminta izin pada majikannya.


Fany menepuk jidatnya. Mengingat jika penjagaanya sangat ketat belakangan ini. Lihat saja rumahnya mungkin sekitar sepuluh orang bodyguard berjaga.


Sebelum Pak Karman menelpon ayahnya Fany segera menghentikannya.


"Gak! Gak usah Pak! Aku gak jadi ketemu,mau ngerjain tugas", sergah gadis itu lalu melenggang masuk.


Tapi bukannya masuk ke rumah,dia malah berinisiatif kabur melalui pintu belakang rumahnya.


Dia tahu di gerbang belakang pasti di jaga sama seperti gerbang depan. Tapi setidaknya,jumlahnya lebih sedikit jadi Fany bisa memiliki kesempatan untuk kabur. Walau kemungkinanannya hanya satu persen. Tapi kan kata guru matematika di sekolah manfaatkan semua peluang sekecil apapun itu. Jadi sebagai siswa yang baik dia akan memanfaatkan peluangnya sekarang.


Dia memerhatikan orang berpakaian hitam yang hanya berjumlah dua orang. Dia tersenyum licik.


Ayahnya benar-benar salah menempatkan orang. Tapi masa bodohlah. Secepatnya dia harus kabur. Dari pada nanti Adly kebosanan menunggunya lalu pulang. Bisa berabe urusannya.


Sebuah ide terbesit di benaknya.


Fany ke dapur membuatkan minuman untuk keduanya. Terlihat menggiurkan dengan Es batu yang meleleh di dalamnya, di cuaca panas seperti ini. Siapapun pasti akan meminumnya.


Tapi tidak lupa dia memasukkan bubuk pencagar ke dalamnya.


Setelah siap dia segera memberikan ke keduanya.


"Tumben non Fany bikin minum!biasanya juga bi Inah!" kata salah satunya berbasa basi.  Tapi dengan senang hati menerimanya.


Fany berusaha berakting senatural mungkin.


"Bi Inah tadi lagi masak,makanya dia minta tolong ke sayang untuk mengantarkan minum!" jawab Fany lancar. Untung saja bakat akting Fany tak anjlok. Seandainya itu terjadi dia tak bisa membayangkan cara kabur tercepat dari rumah ini.


"Saya masuk dulu ya Mang!" ucap Fany pada keduanya yang hanya di angguki oleh mereka.


Fany berlagak masuk padahal sembunyi di balik tembok lalu memerhatikan keduanya. Dia tersenyum sendiri,walaupun dalam hati tak berhenti meminta maaf. 


"Baik bener ya!Anak tuan Farhan!" kata salah satunya. Fany dengan was-was masih terus mengamati mereka dalam diam.


Saat minuman keduanya habis obat itu mulai bereaksi. Ketika jelas-jelas keduanya terlihat merasa sakit pada perut. Wajah mereka terlihat lucu seperti menahan sesuatu. Menit berikutnya,mereka bersamaan lari untuk ke toilet.


Fany tersenyum puas. Lalu berlari keluar lewat halaman belakang. Ingatkan Fany nantinya untuk meminta maaf pada keduanya. Lupakan penampilan Fany yang tadi sempurna. Saat ini dia hanya perlu kabur dari bodyguard yang sialnya tak membiarkannya bebas bergerak.


Fany berhenti berlari ketika tiba di halte terdekat. Juga rumahnya sudah lumayan jauh. Jadi dia sudah merasa aman sekarang. Tak ada lagi bodyguard menyeramkan itu. Dia bebas sekarang.


Sebuah bus berhenti tepat di depan halte. Dengan semangat Fany naik. Dia berharap Adly tak segera pulang.


***


Setelah selesai mandi Adly keluar dengan pakaian santainya. Dia sudah siap . Dia melihat Wendi yang berbaring malas di sofa serta Emon entah kemana. Batang hidungnya tak terlihat sejak tadi.


Cowok itu mendengus,lalu mengambil hpnya yang masih tergeletak di meja. Dia yakin mereka berdua pasti tak bisa membukanya. Setelah itu dia berangkat. Karena hari ini ada yang menunggunya.

__ADS_1


Dia hanya tak sadar jika setelah keluar ada orang yang tersenyum puas.


Cowok itu tak berniat mengecek ponsel. Dia hanya langsung memasukkannya ke saku.


***


Fany sampai di taman tempat mereka bertemu beberapa saat yang lalu. Gadis itu tak berhenti tersenyum. Apalagi di sore hari seperti ini banyak orang yang berada di taman sekadar jalan-jalan atau sengaja janjian seperti yang di lakukannya sekarang. Tak sedikit juga anak-anak yang datang bergerombol untuk bisa bermain kejar-kejaran.


Sungguh sore yang sempurna. Fany memutuskan duduk di bangku taman. Menunggu Adly karena cowok itu mungkin belum sampai. Dia suka di sini di depan kolam kecil sambil menikmati indahnya pemandangan sore serta langit yang perlahan berubah dari biru cerah menjadi jingga. Selalu sepeeti itu dan setiap melihatnya entah kenapa perasaan tenang itu selalu datang menghampiri.


Lima belas menit berlalu dengan cepat tapi cowok itu belum juga datang. Tapi Fany masih terus tersenyum melihat anak-anak bermain bergerombol. Kadang ia merasa iri pada mereka. Karena kenangan masa kecilnya memghilang tak berbekas. Tak ada secuil pun yang bisa di ingatnya. Siapa teman-temannya, di mana ia bermain, apa saja yang mereka lakukan. Entah mengapa hal itu bisa terjadi.


Hanya entahlah,mungkin badut yang ia ingat juga seorang anak laki-laki bermata hitam sekelam malam. Juga nyanyian mereka bersama badut ada sedikit. Sisanya ia lupa. Menghilang. Tapi gadis itu bersyukur setidaknya ada orang-orang yang menyayanginya selalu berada di sekelilingya.


Satu jam berlalu. Sekarang sudah tepat jam lima. Tapi belum ada tanda-tanda cowok itu akan datang. Fany tak berprasangka apapun dia tetap tersenyum sambil menunggu. Apalagi taman semakin ramai karena banyak pengunjung lansia yang datang menikmati matahari sore.


Fany masih terus duduk di tempatnya siapa tahu nanti Adly datang dan kesusahan mencarinya. Maka ia cukup berdiri.


Satu jam berlalu lagi dengan cepat. Orang-orang perlahan mulai pulang meninggalkan taman. Senja juga sudah berakhir. Matahari hanya siluetnya saja yang terlihat lalu perlahan gelap mulai datang sedikit demi sedikit. Lampu taman mulai dinyalakan tapi Adly tak juga datang.


Fany masih terus tersenyum, mungkin saja Adly akan memberinya kejutan malam ini. Makanya dia terlambat datang. Mungkin juga pekerjaannya sedang banyak-banyaknya. Dia terus menunggu. Dan dia berharap Adly tak menyurutkan harapanya.


Jam delapan malam. Atau empat jam sudah gadis itu duduk di bangku taman. Muda-mudi mulai berdatangan saling bergandengan tangan. Saling tertawa satu sama lain. Saling berharap untuk masa depan yang baik.


Tapi anehnya Adly belum datang. Fany masih terus tersenyum. Walau nyatanya dia masih terus menyimpan harapan. Perutnya juga mulai kelaparan. Tapi dia tak mau beranjak,barangkali jika nanti ia pergi dia akan datang dan kesusahan mencari Fany.


Gadis itu mengeluarkan ponselnya mengirim chat ke cowok itu.


Terpaksa,karena dia khawatir terjadi sesuatu padanya makanya terlambat datang.


Calon pacar


Ad! Gue udah nunggu lo di sini empat jam. Lo jadi datang? Gue tunggu sebentar lagi ya :v


Fany menghembuskan nafas kasar begitu melihat pesannya hanya centang satu. Artinya cowok itu mungkin saja mematikan ponselnya. Dia menatap sekitar. Banyak pasangan muda mungkin usianya sepantaran dirinya. Datang bersama pacar mereka, atau mungkin sahabat. Hanya Fany yang duduk menunggu seseorang masih dengan terus tersenyum.


Tiga puluh menit berlalu lagi dengan cepat. Jam delapan tiga puluh. Tapi tak ada tanda-tandanya. Fany tak terlalu peduli hal itu dia mengucapkan sesuatu berulang kali.


Dia menggugurkan kelopak bunga satu persatu sambil menggumamkan sesuatu.


"Datang, tak datang, datang, tak datang!"


***


"Fan! Fany! Kamu makan malam dulu sayang!" panggil wanita paruhbaya tapi kecantikannya masih terlihat jelas itu. Memasuki kamar anak gadisnya.


Ratih merasa aneh ketika mendapati lampu kamar Fany belum menyala padahal anaknya itu takut gelap.


Ratih segera menyalakan saklar lampu. Dan melihat kamar Fany yang kosong.


Tiba-tiba perasaannya menjadi kalut. Dia mencari Fany di sekeliling kamarnya tapi tak menemukannya. Mendadak rasa cemas menyelimuti diri Ratih. Wanita itu segera menelpon Ali untuk menayakan keberadaan anaknya.


"Halo,ada apa mi?"


"Fany ada di sana?" tanya Ratih harap-harap cemas.


"Seharian ini Ali tak bersama Fany,dia tadi langsung pulang!",


Jawaban Ali barusan membuat Ratih terhenyak. Tanpa sadar pegangannya pada benda pipih itu mengendor. Lalu benda itu terjatuh terhempas ke lantai.


"Mi! Fany kenapa?"


Ratih tak kuasa menjawab pertanyaan anaknya itu. Ratih tahu melalui otak cerdas miliknya Ali sudah bisa menyimpulkan sendiri.


Ratih berteriak,mencari Fany. Membuat bodyguard serta pekerja di rumahnya berkumpul di ruang tengah. Dengan perasaan kalut. Dan air mata yang tak bisa di bemdung wanita itu bertanya.


Lama-kelamaan suaranya meninggi.


"Kenapa kalian tak menjaganya?bagaimana jika dia di culik seseorang!" kata Ratih miris. Tapi dia tak boleh berfikir negatif seperti itu. Dia berharap Fany aman di suatu tempat.


Dua orang yang tadi sakit perut menceritakan apa yang dilakukan Fany kepada mereka.


Juga membenarkannya dengan Bi Inah. Sehingga mereka tiba pada kesimpulan Fany kabur. Tapi kenapa anak itu kabur?


"CARI DIA SEKARANG JUGA!" kata Ratih tak bisa mengontrol agar suaranya tak meninggi. Tapi tetap saja dia lepas kendali.


"Juga jangan ada yang memberitahu Tuan. Dia sedang meeting dengan calon investor. Jangan sampai karena hal ini dia jadi tak konsen!"


"Baik nyonya!" ucap mereka serempak. Sedikit takut dengan perubahan istri majikan mereka yang tiba tiba. Karena Ratih adalah wanita yang lembut. Tak pernah berkata keras. Tapi sekarang. Karena merasa kalut wanita itu hilang kendali.


Bi Inah menghampiri majikannya yang memegang kepalanya mondar-mandir,menunggu kabar.


Tapi juga berharap agar nona mudanya kembali secepat mungkin. Sebelum keadaan semakin memburuk.

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2