My Clown Boy

My Clown Boy
69 (End)


__ADS_3

"Haruskah ini berakhir dengan kata merelakan".


***


Matahari telah menampakkan sinarnya dengan malu-malu. Tak ada hujan atau mendung. Pagi ini cukup cerah.


Seorang gadis berjalan  linglung menyusuri trotoar dengan menundukkan kepala.


Minggu seharusnya menjadi hari yang paling menyenangkan baginya, karena bisa berlibur dari sekumpulan tugasnya yang menumpuk. Juga seperti sekarang bisa berjalan santai di pagi hari.


Dia tercegang ketika menyadari kakinya membawanya ke sebuah taman bermain. Mata coklatnya menatap sayu tempat itu. Entah apa yang ada di pikirannya.


Karena berjalan terlalu lama, tenggorokannya tiba-tiba merasa kering. Gadis itu lalu berlari kecil ke arah warung hendak membeli minuman.


Saat sampai di sana tanpa banyak bicara dia langsung mengambil sebotol air mineral lalu menegak isinya.


"Berapa pak?" tanyanya menatap si pemilik warung yang sedang tersenyum ramah itu.


"Lima ribu rupiah nak!" jawab si pemilik warung itu.


Gadis tersebut duduk di salah satu kursi yang tersedia. Istirahat sebentar karena merasa agak lelah. Dia juga mengamati sekitar, karena warung ini berdiri di pinggir jalan. Dan hal itu membuat si gadis betah menatap keluar.


"Si neng kan yang malam itu hujan-hujanan!" pemilik warung mendekat, menelisik wajah si gadis dari atas ke bawah.


Deg


Si gadis tertegun, juga menelan kasar salivanya. Mau tak mau ia mengangguk kecil.


"Oalaah.... Si neng memang cantik. Orang yang di tunggu malam itu gimana? Udah datang ke si neng?" pemilik warung yang ramah itu terus saja mencerocoki Fany dengan antusias.


Fany hanya mengangguk. Tapi dia tetap merasa tak bersemangat.


"Orang itu pasti sangat beruntung. Karena punya pacar seperti kamu neng!" Kata si pemilik warung dengan menerawang.


Fany menjadi meringis kecil teringat apa yang menimpa mereka setelah peristiwa taman itu. Entah mengapa hatinya menjadi terasa sangat sesak.


"Assalamu alaikum wr.wb" suara pembawa berita membuat fokus si pemilik warung tertuju ke arah televisi kotak yang menyala menyiarkan berita pagi.


"Selamat pagi. Berjumpa lagi dengan saya Eli dalam berita pagi ini".


Dan hal itu membuat Fany sedikit lega. Walaupun si pemilik warung duduk di kursi yang tak jauh darinya tetap saja ia merasa sedikit aman karena tak lerlu ditanyai hal seperti tadi.


"Pemirsa. Setelah sekian lama, akhirnya pembunuh berantai yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat akhirnya di tangkap kapolsek. Pembunuh itu menggunakan alasan masa lalu untuk membunuh korbannya berdasarkan keterangan saksi. Juga beberapa sengaja di culik untuk di siksa. Tapi berdasarkan pemeriksaan yang lebih lanjut. Ternyata pembunuh berinisyal W itu mengindap gangguan mental. Juga obsesi kuat untuk membunuh".


"Dan berdasarkan hasil sidang pembunuh itu dikenai hukuman  penjara seumur hidup. Tapi sebelumnya akan di rawat di rumah sakit jiwa. Juga pembunuh melibatkan dua orang anak di bawah umur untuk aksinya tersebut. Dan keduanya akan di berikan hukuman yang sesuai".


Mendengar siaran langsung barusan membuat Fany menegang. Apalagi melihat foto si pembunuh yang sudah di sensor itu juga sudah Fany tahu orangnya.


Entah mengapa dia tiba-tiba merasa lelah jika ada yang menyinggung itu lagi.


***


Sarah mematung di tempat melihat orang yang datang menjenguknya. Ketika barusan sipir penjara memanggilnya keluar dia tak ada firasat apapun hanya mengikuti arahnya.


Dia kemudian duduk di kursi yang telah di sediakan. Lalu memandang wajah wanita paruhbaya yang duduk di depannya. Dan keduanya dibatasi oleh kaca.


Wanita itu menekan nomor pada sebuah telepon yang tersedia. Dan langsung terhubung ke telepon yang berada di dekat Sarah.


Sarah dapat melihat mata wanita paruh baya itu sedikit berkaca-kaca memandangi dirinya.


"Kamu gak papa kan nak?" tanyanya serak yang membuat Sarah merasa sedikit bersalah.


Gadis itu menggeleng. Terus menatap wajah itu.


"Sarah gak papa ma!"


"Seharusnya mama aja yang di penjara bukan kamu. Yang bersalah itu mama, karena tak pernah memberitahumu tentang sosok ayahmu", sekarang bulir bening itu keluar. Terjatuh perlahan di pipi bu Wiwik.


Ingin rasanya Sarah mengusap pipi itu. Lalu menghiburnya. Ibunya selama ini sudah sangat menderita.


"Tidak ma! Mama tidak bersalah. Sarah yang salah karena mudah terpengaruh olehnya. Sarah yang salah karena telah terlibat dalam rencana pbunuhan itu. Sarah yang salah karena berbuat sesuatu tanpa memmikirkan mama", sesal gadis itu. Kepalanya menunduk dalam.


Teringat pertemuan pertamanya dengan Wils.


"Hai gadis kecil!" sapa seseorang yang membuat Sarah kecil langsung mendongak. Sarah sedang bermain boneka di teras rumahnya sendirian.


Kening gadis kecil itu mengerut. Matanya menyorot penuh tanya.

__ADS_1


"Kamu kok main sendiri nak! Mamamu mana?" tanya laki-laki badut itu.


Dengan sedikit ragu Sarah menjawab.


"Mama sedang ke pasar paman!" jawabnya kemudian.


Si badut terkekeh pelan. Suaranya menggema sedalam sumur. Tapi Sarah menatap penuh kagum pada si badut.


"Kamu jangan panggil paman. Panggil saja papa. Aku adalah papamu. Bukankah kamu selalu merindukanku?"


Sarah kecil semakin tak mengerti. Suasana di rumahnya sangat sepi. Hanya beberapa pohon mangga yang tertanam di halaman.


"Bukankah kata mama papa sudah tidak ada. Papa Sarah katanya sudah di surga", ada keraguan dalam kalimat gadis kecil itu.


Si badut terkekeh.


Entah apa yang di pikirkannya.


"Tidak nak! Papamu belum mati. Melainkan papamylu di sini sedang berbicara denganmu!".


Karena dasarnya anak kecil Sarah akhirnya percaya dengan kalimat yang di ucapkan orang berpakaian badut di hadapannya. Dengan mata berbinar di langsung memeluk si badut. Dan hal itu tanpa berfikir panjang.


"Aku mau lihat wajah papa gimana. Selama ini Sarah udah terlalu rindu sama papa!"pinta anak itu. Pipi kecilnya menggembung menggemaskan.


"Baiklah" putus si badut akhirnya. Menit berikutnya dia membuka kepala micky mouse yang menutupi wajahnya.


Sarah kecil sedikit terkejut ketika melihat wajah itu. Bagaimana tidak. Dia berekspektasi wajah ayahnya sangat tampan bak malaikat tapi yang ada di hadapannya justru sebaliknya.


Yang di lihatnya adalah sebuah wajah rusak. Mata kirinya berputar-putar seakan hendak mencuat keluar sedangkan mata kanannya berwarna merah. Seakan ada darah menggenang di sana.


"Kamu takut?" tanya orang itu ketika melihat Sarah kecil termundur sedikit.


Gadis itu menggeleng.


"Sarah gak takut. Hanya terkejut melihat wajah papa", cicitnya.


Orang itu tersenyum tapi bukannya terlihat ramah justru wajahnya terlihat lebih menyeramkan dari sebelumnya.


"Papa dulu kecelakaan. Dan mamamu mengira papa meninggal padahal papa masih hidup. Tetapi dampaknya wajah papa cacat. Dan mamamu sudah tak mengenal papa lagi. Dia seakan tak mau lagi bertemu papa", cetus orang itu menerawang. Dan hal tersebut membuat Sarah kecil sedikit iba.


Hanya saja yang tak ia sadari  orang itu menyeringai.


Tapi Sarah kecil saat itu sangat senang. Karena sewaktu-waktu ketika mamanya tak di rumah, orang yang mengaku papanya itu akan datang diam-diam dan membawakannya makanan dan mainan yang banyak.


Sarah menghela nafas kecil. Ia hanya bisa menyesal sekarang. Dia juga baru sadar jika ternyata anak kecil yang dulu menyapanya dan orang yang pertama kali merebut perhatiannya adalah Adlian yang ia kira Adly tapi nyatanya tidak. Dia adalah orang yang dipanggil William oleh Wils. Saat ia dan Liam pertama kali bertemu dia sadar akan tatapan penuh kasih itu tapi berusaha di tepisnya.


Juga karena Liam terlihat penuh luka di sekujur tubuhnya makanya dia tak percaya anak sepolos itu dahulu tumbuh dan berubah seratus delapan puluh derajad.


Sementara Adly yang dikenalnya nama lahirnya adalah William. Mereka tanpa sengaja namanya tertukar. Dan membuat Sarah benar-benar merasa orang paling bodoh di dunia.


Gadis itu tak berbicara apapun lagi ketika melihat sipir penjara mendekat.


"Waktu kunjungan sudah habis. Silahkan datang lain kali nyonya", ucap polisi wanita itu kalem.


Sarah menoleh sebentar ke ibunya lalu kembali mengikuti si sipir.


***


Delano yang sedang asyik mengemudi langsung mengerem mendadak ketika tiba-tiba di luar sana seorang gadis menghadang mobilnya.


Dia merutuk. Kenapa sih orang-orang sangat suka melakukan hal itu pada Delano. Dahulu pernah dilakukan oleh Rinhy dari XI IPA 2. Sekarang oleh gadis berwajah blasteran yang akhir-akhir ini sering mengganggu dirinya.


"Kak!!! Kakak mau kemana buru-buru!" tanya gadis itu dengan wajah berbinarnya terlihat sedikit centil.


Delano menghembuskan nafas frustasi. Tanpa sadar memukul stir mobil.


"Bukan urusan lo!" desis cowok itu karena merasa sangat terganggu.


"Ya elah kak! Mentang mentang cucu pemilik sekolah, malah bicara seenak jidat pada gadis seksoy kaya aku", cerocos gadis itu yang membuat Delano jadi teringat pada seseorang.


Delano hanya menatapnya datar tak terlalu peduli. Saat gadis itu mendekat ke mobilnya dan beranjak dari jalan. Dia langsung menekan gas mobilnya. Lalu melaju cepat yang membuat si gadis melongo.


"Kak Delano. Akan kubuktikan siapa yang paling pantas untukmu!" teriak gadis itu yang masih bisa di dengar Delano.


Tapi Delano tak peduli dia melajukan mobilnya ke suatu tempat. Kerena yang ada di fikirannya saat ini hanyalah Fany. Dia teringat bagaimana kacaunya gadis itu setelah malam nahas itu berlalu.


Bagaimana Fany yang berusaha untuk bangkit kembali jatuh bahkan lebih dalam. Dia juga sudah tahu bagaimana perasaan Adly yang sesungguhnya pada Fany.

__ADS_1


Jadi pada akhirnya inilah yang dipilih Delano menjadi sahabat dari adik sahabatnya itu. Dia tak mau memaksakan perasaannya pada Fany, dan berujung menambah beban fikiran Fany.


Cukuplah ia melihat Fany bahagia. Tapi kini rasanya berbeda. Gadis itu sudah jarang tersenyum semenjak peristiwa itu.


Jika dia selalu di samping Fany siapa tahu saja suatu saat nanti hati Fany akan terbuka.


***


Angin berembus pelan di tempat pemakaman umum sekarang. Membuat pakaian dua orang yang berjalan di sana melambai-lambai. Mereka berjalan beriringan dengan pakaian serba hitam.


Mereka berdiri memandangi nisan yang ada di hadapan mereka cukup lama. Lalu saling berpandangan.


Wajah si gadis menyendu. Sementara si pemuda menatap nanar.


"Semoga tenang di alam sana!" ucap si pemuda dengan nada getir. Sementara si gadis bermata coklat terang itu menitikkan air matanya yang tak dapat di tahannya.


"Liam lo yang kuat ya!" ucapnya menenangkan. Bagaimanapun orang yang dikubur itu adalah orang berarti bagi mereka.


"Tapi dia begini karena melindungiku. Jadi tetap saja aku tak bisa Fan", katanya pelan dan serak. Matanya terpaku pada nisan.


Si gadis kemudian meletakkan bunga yang tadi di bawanya.


Lalu mengusap air matanya dengan pelan.


"Om Dika semoga bahagia ya di sana! Ian sudah kembali" kata gadis itu berusaha tegar.


Setelah beberapa saat mereka akhirnya berdiri lalu melangkah meninggalkan pemakaman umum itu.


Dada keduanya merasa sesak. Tapi lebih lagi jika tak ada yang bisa menerima kenyataan. Fany membiarkan Liam berjalan lebih dulu. Gadis itu kembali menoleh ke arah kuburan. Angin menerbangkan rambutnya.


"Suatu hari nanti kami akan kembali datang Om. Bertiga jika dia sudah bangun. Om pasti tahu siapa yang Fany maksud",kata Fany dalam hati lalu kembali berjalan.


Ada sebuah tempat lagi yang harus ia datangi.


Karena tak semua rasa sayang di tunjukkan dengan memiliki. Ada saatnya ia diuji apakah memang pantas atau tidak. Apakah rasa itu memang besar atau mudah goyah. Apakah ia mampu menjaga hati untuk seseorang.


Fany berusaha tersenyum walau pahit. Cowok badutnya itu selalu menjadi hal terindah yang ia syukuri bertemu dengannya. Walau tak berakhir seperti yang diharapkannya tapi ia bisa yakin seberapa besar rasa yang di simpan cowok itu padanya.


Fany bisa tahu dari caranya memerhatikan Fany diam-diam. Dari caranya yang selalu menjaga Fany dari jauh. Dan dari caranya berusaha agar tak terlibat lagi di hidupnya untuk menghindarinya dari bahaya.


Tapi tetap saja takdir selalu membawa Fany padanya seakan cowok itulah yang memang diciptakan untuk melengkapi bahagianya.


Walaupun pada akhirnya mereka berpisah. Tak bisa bertemu dalam waktu yang lama tapi tetap saja membuat Fany merasa kehilangan.


Mata coklat terangnya menatap langit yang cerah pelan ia memejamkan mata. Ia merasakan kehadiran Adly selalu di sekitarnya.


Dengan sedikit senyuman ia berkata lirih.


"I will wait you my clown boy"


   _The End_


Huaaaaa akhirnya end jugaaa😂


Senang akhirnya cerita pertamaku yang abal-abal ini juga utuh. Tentunya dari perjuangan yang cukup panjang🙃


Gimana gimana? Ada yang bisa nebak Adly kemana? Siapa yang tadi ngira yang di dalam kubur itu Adly? Hayooooo


Tapi bukan heheee😂😂😂


Okeee....babang Lano dikejar cewek tuh. Ada yang tendang tuh cewek.


Apalagi kayaknya tuh cewek degem..


So intinya semoga kalian happy selalu...karena Fany udah gak bisa bikin kalian geleng geleng kepala lagi.


Jangan lupa krisarnya ya😂😂😂


D


adahhh


End


1 september 2020


13.03 Wita

__ADS_1


__ADS_2