My Clown Boy

My Clown Boy
44


__ADS_3

"Selayaknya sebuah cerita yang panjang semua tak akan berakhir semudah itu".


***


Ali berdiri di depan tempat rehabilitasi. Dia seakan tak berniat masuk. Entah kenapa cowok itu tak dapat menahan perasaannya.


Jujur dia lelah. Dia lelah seperti ini tapi dia tak boleh lemah. Jika sampai seperti itu maka siapa yang akan melindungi adiknya.


Cowok itu menaikkan lengan hoodienya.  Lalu menghela nafas beberapa kali.


Flasback


Suara benda pipih itu terdengar menggema di seluruh ruangan kelas XI IPA 1 tapi hal itu tak seberapa di banding apa yang dirasakan Ali saat ini. Beberapa temannya terkejut melihat perubahan sikap Ali yang tiba-tiba ini.


Cowok yang biasanya ramah,mudah senyum kepada semua orang tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan.


Apakah memang tak seharusnya Ali tahu? Atau memang beginilah seharusnya. Atau salahkan saja si penyebar yang entah apa tujuannya itu?


"Siapa di balik semua ini?" tanya cowok itu dingin. Reza yang berada di dekatnya pun bergidik karena takut pada Ali.


"Siapa?" tanya cowok itu sekali lagi. Suaranya lebih datar dan tegas dibanding sebelumnya.


Dengan takut-takut seorang gadis menunjuk cowok berkaca mata yang tak terlalu tebal. Dengan rambut yang selalu tersisir rapi.


"Dia!"


Ali melihat cowok berkaca mata itu. Menyeringai,auranya berkali-kali lebih menyeramkan dibanding biasamya. Cowok itu menelan ludah,tak tahu harus berkata apa begitu Ali tiba di depannya.


Menghampirinya dengan wajah tak bersahabat. Di ikuti Delano di belakangnya. 


"Gue ada salah apa sama lo?" tanya Ali masih dingin. Tangannya sempurna mengepal bersiap melayang sewaktu-waktu jika ada yang salah menurutnya.


Revan, cowok berkaca mata itu terdiam. Wajahnya pucat seakan darah berhenti mengalir ke sana. Buku buku jarinya pun memutih,dan diam-diam beberapa bagian tubuhnya bergetar.


"Kalau lo sakit hati jangan gunain orang yang gue sayang. Langsung aja serang gue. Jangan dia!" suara Ali naik satu oktaf yang membuat Revan memundurkan langkahnya perlahan. Tapi Ali terus saja maju seakan tak memberinya ruang walau hanya untuk bernafas.


Ali mengepalkan tinjunya. Bersiap hendak memukul,lalu menaikkan bahunya memgambil ancang-ancang.


Revan memejamkan mata,tak berani melawan. Atau memang tak bisa. Karena dia tak pandai bela diri. Berbeda dengan Ali yang memang sudah sabuk hitam.


"Maa...af!" ucap cowok berkaca mata itu terputus-putus suaranya yang biasanya nyaring dalam pelajaran ketika berdebat dengan Ali entah menguap kemana.


Ali tersenyum miring. Dia melanjutkan bogemnya. Tapi tak mengenai wajah Revan. Atau cowok itu memang tak sengaja tak mengenainya. Dia hanya memukul tembok yang berada tepat di wajah cowok itu.


"Maaf!!!!" Revan memekik ketakutan. Rasanya lebih baik dia langsung di pukul dari pada di permainakan seperti ini.


Delano menatap tajam teman-temannya yang diam diam mengintip atau memotret. Cowok itu merekam wajah anak-anak yang ada di sini lalu nanti memberikan mereka pelajaran agar tak ada yang buka mulut. Untungnya,sekelasnya belum semuanya datang. Hanya sekitaran sepuluh murid dengan mereka bertiga.


"Jadi memang lo?" tanya Ali sarkas. Yang membuat Revan menggeleng cepat.


"Sebenci-bencinya gue!gue gak tahu siapa cewek yang ada di dalam video itu. Gue tak tahu kalau ternyata orang itu berarti bagi lo. Sumpah gue gak tahu", kata cowok berkacamata itu.


Ali masih terus menatap revan tajam.


"Lalu siapa dia?" ucapnya tanpa memneri jeda.


"Siapa?" tanyanya lagi begitu tak mendapat jawaban dari Revan.

__ADS_1


"Gue juga gak tahu!" ucap Revan pada akhirnya.


"Gue nemuin video itu di internet. Lalu gue masukin ke forum sekolah karena merasa cewek itu tak asing".


Ali menahan geram. Karena ternyata,bukan Revan yang melakukannya. Tapi tetap saja,gara-gara cowok itu. Satu sekolah harus menjadikan adiknya lelucon.


"Awas saja jika lo berbong!" ancam Ali pada akhirnya.  Lalu pergi,dari sana.


Selepas kepergian Ali. Delano tak langsung menyusul. Dia berbisik pada cowok bernama Revan itu.


"Gue bunuh lo!" ucapnya penuh penekanan yang membuat Revan sulit bernafas.


Setelahnya Delano juga berniat pergi. Tapi langkahnya degan cepat di tahan oleh Revan membuat cowok itu berhenti.


"Gue akan lakuin apapun untuk lo!" dan hal itu membuat Delano tersenyum miring.


Flasback end


Ali melangkahkan kaki masuk ke tempat dimana adiknya dirawat. Dia membuat bibirnya tersenyum dengan paksa. Lalu hal itu lama-kelamaan terlihat natural.


Dia tak peduli pada orang orang yang menganggapnya aneh. Karena apapun akan dilakukannya untuk orang yang dia sayang.


***


Fany duduk di kursi rodanya, dengan menatap lurus ke depan di koridor rumah sakit. Gadis itu sudah di perbolehkan meninggalkan kamarnya tapi harus terus di awasi oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi gadis itu tak sadar jika di sekitarnya ada orang-orang tertentu yang memang bertugas mengamatinya.


Walaupun suasana di koridor sangat ramai karena banyaknya orang-orang yang memiliki masalah kejiwaan berkeliaran di sana untuk menjalani rehabilitasi dan pengobatan sama sepertinya.


Fany seakan tak bersemangat suara-suara itu kadang kadang muncul melalui mimpi. Tapi kalau siang hari seperti sekarang sudah jarang terdengar. Tapi gadis itu masih belum bisa bersosialisasi seperti dahulu.


Tak berapa lama seorang cowok berhoodie warna kuning cerah datang dengan senyuman lebarnya. Tas sekolah masih tersampir di punggungya. Tak ada gurat lelah karena di tutupi oleh senyuman yang kian lebar.


"Siang bayi besar!!!!" celetuk cowok itu tanpa pikir panjang. Mata coklat terangnya terus terpaku pada wajah adiknya yang kian hari kian tirus. Dan mata layu itu.


Fany tak merespon,dan demi melihat itu Ali menjadi gemas.


"Fany!!!!" katanya sambil mengapit pipi Fany dengan kedua tangannya. Sehingga pipi itu mengembang. Dan mau tak mau mata Fany terpaksa melihat ke arah kakaknya.


"Gimana keadaan lo hari ini?"


Fany menggeleng. Ali tahu jawabannya. Gadis itu pasti lelah. Karena beberapa hari terakhir Fany harus menjalani beberapa terapi penting untuk melakukan penyembuhan.


"Semangat!!!" katanya sambil melepaskan tangannya. Ali lalu berdiri,kemudian menghela nafas panjang. Sudah terbiasa dengan pemandangan di tempat ini.


Seorang wanita pendek dengan pakaian warna biru khas pasien lewat di hadapan mereka sambil menggaruk kepalanya. Lalu tak lama orang itu berteriak,seakan kesakitan. Berikutnya tertawa.


Di belakangnya menyusul dua orang yang saling tarik menarik boneka besar. Ali kembali menghela nafas panjang.


Cowok itu kemudian mendorong kursi roda adiknya. Mereka mengambil jalan memutar untuk sekadar membawa Fany jalan-jalan seperti biasa ketika ia pulang sekolah. Ali lebih menyibukkan diri sekarang bersama Fany di banding melakukan kegiatan lain. Apalagi kedua orang tua mereka sibuk.


Tapi ibunya sekarang lebih memilih menjaga Fany dan kerjaannya di urus orang lain. Ayah mereka Farhan yang menyuruh ibunya berhenti untuk sementara ini.


Lorong-lorong rumah sakit ini berwarna hijau. Mungkin agar selalu ada perasaan tenang dan tentram bagi penghuninya jika melihatnya.


"Lo mau tau tentang teman teman lo?"


Fany menggeleng,tapi hal itu tak sesuai dengan pemikirannya yang sebenarnya. Dia sangat ingin tahu tentang mereka tapi entah mengapa dia merasa belum siap. Belum siap untuk mengetahui fakta yang tidak bisa di terimanya.

__ADS_1


Tak terasa mereka sampai sekarang di depan pintu utama rumah sakit. Dan Fany bisa melihat keadaan di luar. Jalanan yang sepi karena memang di area itu sangat jarang di lalui orang. Parkiran yang juga isinya hanya beberapa kendaraan. Mungkin milik petugas. Fany mendongak ke atas. Dan jelas gadis itu bisa membaca huruf besar yang tertulis di sana.


Lalu menit ke berikutnya dia kembali tenggelam ke dalam lamunannya. Peristiwa kelam itu sudah membuatnya kebal. Dia berusaha tak peduli akan suasaana takut yang muncul di hatinya ketika perasaan kelam itu kembali. Mimpi anak kecil yang membuatnya nyaris pingsan. Serta penjelasan masa lalu yang aneh.


Gadis itu sudah kebal,tapi bukannya membaik entah mengapa malah terasa semakin buruk. Karena sekarang dia sangat jarang bicara. Responnya lun sangat singkat. Tapi untungnya dia tidak pernah berhalusinasi seperti yang kadang di jelaskan dokter Fey pada Ali terhadap gejala umum pada pasien seperti Fany.


Mereka masih sibuk dengan pemikiran masing-masing ketika sebuah mobil berhenti di parkiran. Lalu kemudian keluar dokter Fey,mata birunya yang memancarkan ketenangan selalu membuat Ali terdiam takjub. Serta Fany yang mau tak mau memusatkan perhatian pada wanita berusia tiga puluh tahunan itu.


"Gimana keadaan kalian?" tanya dokter Fey dengan suara lembutnya. Mata birunya itu menatap Ali tepat,hingga cowok itu langsung menjawab.


"Baik kak!eh maksud saya tante!" Ali gelagapan karena tatapan dokter Fey. Memang Ali kadang-kadang lupa jika Fey adalah dokter. Kadang keceplosan dengan memanggilnya kakak karena wajahnya yang cantik.


Dan Ali lebih biasa memanggil dokter Fey dengan tante. Karena orang tua mereka berteman akrab dengan dokter Fey.


"Ada-ada aja kamu Ali!" kata dokter Fey masih dengan senyannya.


"Oh ya! Mulai hari ini ada seorang relawan yang akan datang untuk berusaha membantu mereka. Dan tentunya dia sudah bertemu langsung dengan pemilik rumah sakit sebelumnya. Saya harap Fany dan orang-orang di sini bisa lebih baik setelah dia datang" jelas dokter Fey cukup panjang yang membuat Ali sedikit terkesima.


Apa salahnya jika ada seorang relawan? Dan Ali paham maksud kata mereka dari kalimat yang di ucapkan dokter Fey tadi.


"Itu malah lebih baik tante"


"Oh ya Ali kamu udah nemuin orang yang tepat?" tanya dokter Fey yang membuat Ali paham dengan jelas maksud dari pertanyaan itu.


Dengan lesu cowok itu menggeleng.


Dokter Fey merasa prihatin.


"Kamu tak usah selemah itu. Dengan pengobatan yang sekarang di laluinya peluang kesembuhannya jauh lebih besar di banding sebelumnya", hibur dokter Fey berusaha kembali menormalkan suasana.


"Oh ya! Itu dia relawannya!" kata dokter Fey sembari mengangkat wajah ketika pintu dari mobil yang tadi di gunakannya muncul seseorang.


Ali tak bisa melihat wajah orang itu karena menggunaakan costplay mikey mouse. Atau lebih tepatnya badut. Tak berapa lama badut itu mendekat.


Dia berdiri cukup lama di dekat dokter Fey. Karena kepalanya menunduk menatap Fany. Sedangkan Fany terus melihat badut itu datar.


Entah mengapa ada sebuah memori yang di sukainya tentang badut lucu itu. Dia berusaha mengingatnya tapi terasa sangat samar. Hanya suara-suara mereka yang bernyanyi yang bisa di ingatnya sedikit.


"Hai!" sapa Ali pada badut itu,yang membuat si badut menoleh ke arahnya. Dan dengan canggung badut itu membalas sapaan Ali.


"Gue Ali. Kakak Fany, mohon bantuannya ya!" kata cowok itu tulus sembari mengulurkan tangan.


Tangan Ali mengambang di udara untuk beberapa saat. Karena badut itu merasa tak percaya,dia memerhatikan tangan Ali. Dan menit berikutnya dia segera membalas uluran tangan itu.


"Gue Lian" katanya kikuk.


"Oke salam kenal bro. Gue harap adek gue bisa akrab sama lo!"


Demi melihat interaksi mereka dokter Fey tertawa lega. Lalu dia berpamitan kepada mereka untuk memeriksa beberapa pasien.


"Al...Fany jangan lama-lama di luar ya!" pesan dokter Fey sebelum melenggang masuk lalu di ikuti oleh Lian di belakangnya.


Fany juga tak tahu jika kakaknya memang menyembunyikan sesuatu darinya.


Toh Fany seharusnya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sekolah


Dia dia yang akan menyelesaikannya tanpa melibatkan adiknya kembali di situasi yang sama.

__ADS_1


Ali memerhatikan Liam dari belakang. Entah mengapa dia merasa tak asing dengan orang itu.


Tbc


__ADS_2