My Clown Boy

My Clown Boy
31


__ADS_3

"Seseorang yang kuat juga memiliki titik jenuh untuk terus pada posisinya"


***


"Bahaya....bahaya....bahaya..."


Ima berteriak saat mengetahui ketua kelas belum berhenti mengejarnya. Dan jalan satu-satunya adalah bersembunyi di kelas XII. Dia memasuki kelas XII IPS 3. Selaku kelas terdekat dan semua yang ia lakukan itu tanpa pikir panjang karena sesuatu itu benar-benar mendesak.


Ia berdiri dengan posisi tangan menumpu pada lututnya dengan nafas ngos-ngosan karena lelah. Yang ia baru sadari beberapa menit kemudian adalah mata kakak kelasnya yang jelas terarah padanya membuatnya mengeluarkan cengiran maut.


"Lo kenapa Ma datang-datang kayak habis lari marathon" celetuk salah satu cowok yang sibuk dengan hpnya tapi masih sempat melirik siswi yang menerobos masuk ke kelasnya.


Melihat ke arah suara,Ima kembali tersenyum. "Gue di kejar ketua kak" Ucapnya kalem tak meledak-ledak seperti biasanya.


Cowok itu mengangguk-Ariyasta namanya. Salah satu senior Ima di ekskul karate. Makanya Ima merasa gak salah memasuki kelas.


"Di kelas lo!yang murid baru itu cantik juga. Namanya siapa?" tanya cowok itu masih terus fokus pada benda pipih yang di pegangnya.


Ima mengeryitkan kening,dia jelas tahu orang yang dimaksud cowok itu. Tapi jika Ariyasta sampai mendekati Fany jelas dia tahu Ali tak akan tinggal diam. Makanya dia harus mencegahnya.


"Sebaiknya jangan dia deh kak. Gue ingatin,kalau kakak sampai sama dia. Jelas kak Asta akan menyesal" Sekarang keadaan Ima sudah membaik,dan dia yakin ketua kelas tak akan mengejarnya lagi. Dia memutuskan keluar.


"Gue cabut dulu ya Kak" pamitnya,yang dibalas anggukan malas oleh Ariyasta.


Saat Ima keluar dari pintu saat itulah suara tawa kesetanan terdengar disertai dengan gapitan di lehernya.


"Tahu rasa loooo!!!" Masih berani nginjak gue.


Ima megap-megap kehabisan udara.


"Woi!!!lepasin leher gue. Lo mau bunuh gue" teriaknya mencoba menggapai tangan yang sedang menjitak kepalanya itu.


"Woi!!!kalau sampai gue mati. Nanti GUE GENTAYANGIN LO" Ima mengeluarkan tenaganya yang tersisa hingga ketua kelas itu terhempas. Gitu,siapa suruh anak karate di lawan.


Dan setelah itu dengan santainya Ima berjalan meninggalkan ketua kelas yang meringis kesakitan.


Tapi sebelum memasuki kelas terdengar pengumuman.


"Diberitahukan kepada seluruh siswa,sekarang sudah bisa pulang karena akan akan di adakan rapat"


Selepas itu terdengar keriuhan dari seluruh kelas IPS. Jangan tanyakan gimana senangnya Ima dengan cepat dia menyambar tasnya lalu berniat pergi. Tapi sebelum itu terjadi ujung bajunya di tarik oleh Rini.


Jangan lupakan teman-temannya yang lain,bukannya pulang malah asik menepuk nepuk meja dengan keras.


"Apaan sih?" Ringisnya,


"Kita ikutin si Adly!" mata Rini berkilat tajam.


Ima jelas tahu maksud sahabatnya itu,dan mau tak mau dia harus menurut.


"Oke".


***


Di tempat lain,tepatnya dirumah berlantai dua dengan nuansa putih itu seakan tak hidup. Bunga yang berada di kebun belakang seakan mendadak layu,mengingat gadis itu jarang keluar kamar. Walaupun di luar sana serta beberapa bagian rumah banyak orang-orang bertubuh besar yang berjaga tapi tak menutup kemungkinan rumah itu rasanya suram.


Seorang gadis berambut coklat itu hanya terus menatap lurus melalui jendelanya. Pandangan matanya kuyu,jelas karena ketakutan terus terpancar dari mata beriris coklat terang itu.


Sepuluh hari setelah kejadian itu selama itu pula ia menutup diri dari orang-orang. Serta sepuluh hari pula mimpi itu datang menghampirinya setiap ia memejamkan mata.


Pintu kamarnya terbuka memunculkan kedua orang tuanya di sana. Ratih dan Farhan,memandangnya dengan sorot sedih. Tapi hal itu tak mengubah tatapan kosongnya.


Dia Fany,kembali terduduk di ranjang ketika kedua orang itu masuk. Lalu memeluknya, membuat Fany kembali mengeluarkan air matanya. Serta keringat dingin yang memang selalu keluar akhir-akhir ini.


"Aku takut Mi" Ucapnya parau.


"Suara-suara itu gak mau berhenti berteriak di telinga Fany".


Hal itu membuat Ratih mengeratkan pelukannya.


"Maaf sayang!" wanita paruh baya itu mengecup dahi putrinya.


"Orang-orang itu terus menyiksa anak yang ada di mimpi Fany!" Gadis itu bergetar ketika mengingat mimpi yang selalu hadir. Ratih dan Farhan tertegun,saling menatap untuk sesaat lalu kembali mengusap bahu putrinya.

__ADS_1


Melihat itu Farhan menghela nafas.


Setelah Ratih melepaskan pelukannya,Fany membuka mata dan melihat ke arah pintu. Di sana sudah berdiri seorang wanita berjas putih menatapnya dengan tersenyum. Senyuman menenangkan,tapi melihat itu kepala Fany terasa sakit.


Seakan tak asing dengan wajah itu. Saat ia mencoba mengingatnya,rasa sakit itu kian menjadi. Membuatnya merasa lemah. Dan orang tuanya khawatir melihat purubahan Fany secara tiba-tiba itu.


Wanita yang berusia sekitar awal tiga puluhan itu masuk. Lalu duduk di pinggir ranjang saat Fany mulai tenang.


"Fey!Lakukan yang terbaik". Ucap Farhan,lalu memberi ruang untuk dokter itu memeriksa putrinya.


Setelah yang tersisa hanya dokter Fey dan Fany.


Fany kembali mengeratkan selimutnya membuat dokter Fey menghela nafas.


"Apa yang kamu rasakan nak!" tanyanya pelan. Dan hal itu membuat Fany merasa nyaman dengan sapaan akrabnya.


Dengan mulut bergetar,Fany menjawab.


"Takut" cicitnya pandangannya kosong.


"Apa yang membuatmu takut?" tanyanya lagi. Dan kali ini Fany merasakan elusan di jari tangannya.


Dan entah mengapa hal kecil itu rasanya pernah dialami Fany sebelumnya. Yang ia ingat hanya perasaannya yang menjadi tenang.


"Banyak!mereka mengganggu pikiranku".


Dokter Fey menghela nafas,gadis ini berubah. Dia tahu ada pemicu yang menyebabkannya seperti ini. Tapi bicara dengan gadis ini mungkin tak akan memberinya jawaban. Tidak sekarang,karena kondisinya benar-benar kacau.


"Apa kau mengenalku?" tanya Fany menatap manik biru di hadapannya.


"Ya!" jawabnya singkat.


Fany merasa aneh,orang dihadapannya hanya sibuk mencatat. Sambil sesekali bertanya pada Fany. Apa dokter sekarang hanya seperti itu. Tak mengeluarkan alat seperti stetoskop atau jarum suntik.


"Kata orang tuamu,kau sering bermimpi buruk. Apa memang benar?"


Fany hanya mengangguk,tak berminat mengingat mimpinya. Rasanya mimpi itu mengganggunya.


Dokter Fey mengamati perubahan ekspresi Fany dari sorot matanya. Mata yang tadi kosong,sekarang terpancar ketakutan.


Melihat Dokter Fey memasukkan alat tulisnya,kembali ke dalam tas Fany menghela nafas lega.


"Apa sudah selesai?"


Dokter itu mengangguk lalu keluar.


Melihat Dokter Fey keluar dari kamar Fany. Farhan dan Ratih segera menghampirinya.


"Apa masalahnya serius Fey?" tanya Farhan akrab,karena Dokter bermata biru berambut pirang itu adalah temannya. Jadi dia memanggilnya tanpa embel-embel Dokter.


Dan hal itu juga tidak mengganggu Fey.


"Ku rasa dia harus dibawa ke rumah sakit untuk di diagnosa" jelasnya yang membuat Farhan maupun Ratih sedikit terkejut.


"Mungkin mimpi buruk yang dia maksud itu adalah kejadian masa lalu itu" Ratih mengeluarkan asumsinya.


Suasana di ruangan itu benar-benar berubah.


"Bisa jadi. Karena dia memang memiliki trauma psikis".


Farhan dan Ratih kembali membenarkan.


"Lalu bagaimana jika dia tak bisa melawannya Fey. Apa yang akan terjadi dengannya?" Farhan menjambak rambutnya frustasi.


"Kita harus bersiap dengan kemungkinan terburuk. Tapi kau harus percaya padanya" Ucap Fey hati-hati.


Dia tahu hal itu sangat sensitif,bagi kedua orang di hadapannya.


"Aku tahu dia kuat. Buktinya,sejauh ini masih bisa bertahan. Intinya,secepatnya kalian harus membawanya ke rumah sakit". Tutup Fey sambil menyerahkan kertas berisi resep obat yang harus di tebus di apotik.


"


Oke!"

__ADS_1


Setelah itu Fey pamit,Farhan dan Ratih mengantar ke depan.


***


"Rin,lo yakin akan ngikutin Adly?" tanya Ima kembali memastikan.


Sekarang sekolah sudah mulai sepi,hanya Adly dan beberapa orang yang tinggal untuk ekskul yang berada di sekolah.


Ima dan Rini berteduh di dekat motor Ima yang berada di bawah pohon mangga.


Adly sendiri sekarang mulai menaiki motor hitamnya. Hingga Ima dan Rini segera bersiap-siap.


"Kita harus menemukan sesuatu kali ini" kata Rini sembari naik ke boncengan Ima.


"Cepetan. Gobs,jangan banyak cincong. Si Adly udah keluar" Maki Ima melihat Rini yang sempat-sempatnya bercermin.


"Gooo!"


Setelah pantat Rini naik ke belakang. Dengan cepat Ima menarik gas motornya,hingga hampir saja Rini terjungkal. Cewek itu memegang dadanya istigfar beberapa kali.


"Ima lo mau bunuh gue" teriaknya histeris.


Ima hanya tertawa menanggapinya,lalu kembali menarik gas.


Rini hanya bisa bersabar menghadapi sifat brutal tiba-tiba ini. Memang Ima hobinya balapan. Tapi harusnya tidak di kondisi mendesak seperti ini.


Di depan sana sudah terlihat motor Adly yang melaju dengan kecepatan sedang. Melihat itu Ima juga menurunkan kecepatan. Hal ini dilakukannya agar tidak terlalu mencolok jika ia sedang menguntit.


Rini di belakangnya hanya terus menatap kemana perginya motor itu.


Adly tiba-tiba berhenti di depan minimarket. Membuat mereka juga ikut berhenti.


Setelah itu ikut masuk ke dalam.


Pura-pura melihat indomie padahal mata mereka terus mengawasi cowok itu.


Saat Adly menoleh ke arahnya mereka melambai. Berlagak baru ketemu.


Adly keluar setelah membeli banyak cemilan. Lalu kembali ke motornya. Ima dan Rini pun langsung keluar tanpa membeli apa-apa melihat target akan kembali melaju. Membuat kasir,melongo melihat keanehan keduanya.


"Lo udah ngelihat kan,masa dia membeli sebanyak itu".Ucap Rini.


"Siapa tahu untuk dia beli untuk kebutuhan seminggu". Ucap Ima masih berfikiran positif.


Adly kemudian kembali berhenti di depan toko buku.


Kedua cewek itu juga melakukan hal yang sama seperti tadi ketika di minimarket. Cengengesan ketika cowok itu melihatnya.


Saat mereka melihat Adly membeli buku yang banyak,mereka kali ini benar-benar curiga.


"Masa buku cerita anak-anak dia beli sigitu banyaknya" Ima berkata ragu ketika mereka kembali melajukan motor.


"Yoi!!! Diakan belum nikah!" imbuh Rini membuat pikiran di otak mereka berputar-putar.


Tapi tanpa mereka sadari Adly telah melihat mereka melalui spion motornya. Dan dia tahu persis apa yang dilakukan keduanya melihat muka mereka di dua tempat yang sama sekaligus.


"Shittt!" umpatnya lalu berhenti ketika memasuki jalan tikus.


"Ma Adly belok tadi!" ucap Rini melihat ke depan,karena motor hitam itu sudah tak ada.


"Ya!!! Masa kita kehilangan jejak sih. Udah jauh juga!" Rutuk Ima kesal.


Ia memutuskan menghentikan motornya di depan penjual gorengan.


Tapi saat motornya tepat berhenti di sana. Tak jauh dari tempat mereka berdiri dia menemukan motor hitam itu.


"Kalau motornya ada di sana orangnya mana?"gumam Ima yang bisa di dengar dengan jelas oleh Rini.


Ima celingukan mencari Adly. Dan tiba-tiba matanya terhenti pada sosok yang menenakan kaos putih lengan panjang dengan celana hitam menatapnya tajam.


"Eh Adly..." celetuk Ima melihat wajah itu.


Beberapa menit berikutnya Rini juga menyadari keberadaan cowok itu.

__ADS_1


"Tamat"


Tbc


__ADS_2