
Adly yang berniat mencari udara segar dengan memgikuti langkah kakinya. Dia seakan hanya menuruti instingnya yang menyuruhnya ke taman rumah sakit.
Adly terpukau dengan keindahan taman ini. Dan ketika melihat taman ingatannya,tiba-tiba saja kembali ke saat itu. Karena rasanya gadis itu Fany identik dengan taman. Serta bunga-bunga.
Cowok itu terdiam beberapa saat. Dadanya sedikit janggal saat mengingat gadis itu. Senyuman yang tanpa beban membuat Adly sedikit merindukan moment itu.
Ketika Fany di sekolah,akan terus menempel padanya hingga jam pulang. Sungguh,kadang dia merasa aneh ketika Fany tak berada di sekitarnya.
Adly menghirup nafas sebanyak mungkin. Dia terkejut ketika mendengar suara yang rasanya tak asing.
"Jadi sekarang kamu jinak ke gue?"
Adly menoleh ke arah sumber suara. Dan benar saja,orang yang baru saja di pikirkannya itu sedang bermain dengan seekor kupu-kupu warna biru gelap.
Adly melangkah perlahan ke sana. Dan semakin dekat semakin jelas pula punggung mungil itu.
"Gue iri sama hidup lo yang bisa dengan bebas terbang kemana pun yang lo mau!"
Kening Adly sedikit mengerut demi mendengar nada suara protes itu. Tapi anehnya dia lega. Tadi malam sempat panik melihat gadis itu di bawa ke sini.
Dan rupanya tak terjadi apapun. Buktinya Fany sekarang terlihat baik-baik saja. Ya tentu saja kecuali dengan perban putih yang melilit di tangan kirinya. Dia tahu hal itu dari Ali semalam. Dan hal itu membuatnya menyesal.
Tapi pertanyaannya,apa Fany mau memaafkan kesalahannya? yang bahkan kata Ali trauma gadis itu kembali karena dirinya.
"Meskiun sendiri setidaknya lo bisa dengan bebas melihat dunia!" ucapnya berusaha tak terdengar lemah
Adly kembali menatap punggung Fany ketika dirasa jarak mereka cukup dekat. Dia menghentikan langkahnya, dia baru mendapati Fany yang seperti sekarang. Karena sepertinya gadis berambut coklat itu merasa sangat kesepian. Bahkan kupu-kupu saja diajaknya berbicara.
Tak berapa lama sebuah bunga terbang tepat di depan kakinya. Lalu kupu-kupu yang tadi hinggap di tangan Fany menyusul setelahnya. Adly tahu jika keadaannya sama seperti biasanya Fany akan menyusul setelahnya.
Dan benar saja,baru saja hal itu terpikirkan olehnya sekarang sudah terjadi. Adly melihat gadis itu membeku beberapa saat ketika menyadarinya.
"Bang. Gue kira lo akan lama"
Adly rasanya ingin tertawa, rupanya gadis itu mengiranya Ali.
Tapi ketika Fany mendongak dan mata mereka bertemu secara langsung Adly terkejut.
Reaksi Fany masih sama seperti dulu terakhir kali mereka bertemu.
"Ad....ly" suaranya sedikit tercekat ketika menyebut nama itu.
Fany syok,jantungnya mendadak terasa berdetak lebih cepat. Kupu-kupu itu terbang menjauh begitu Adly melanglahkan kakinya mendekat. Fany yang berjongkok pun berusaha berdiri sambil kakinya terus mundur ke belakang.
Gadis itu menggeleng sambil menutup telinga.
"Jangan mendekat!" serunya sambil menggelengkan kepala.
Adly yang hanya berjarak dua langkah dari Fany berdiri mematung dengan tangan yang terjulur dan mata yang menatap Fany tak terbaca.
"Gak! Stop please!!!" Fany memohon dengan sedikit isakan.
__ADS_1
"Gue minta maaf!" ucap Adly pada akhirnya mengeluarkan suara.
Fany menggeleng semakin mundur hingga tubuhnya terpojok ke bundaran tempatnya tadi duduk.
"Pergi.....pergi dari sini!" usirnya yang membuat Adly terdiam cukup lama.
"Fan....!"
"Pergi....!" kata Fany mulai berteriak sambil menutup telinganya.
Dan rupanya teriakan Fany barusan mengundang orang-orang termasuk Ali untuk segera datang.
Orang-orang berkerumun karena penasaran akan apa yang terjadi. Adly masih syok dengan keadaan barusan. Sementara Ali langsung saja memeluk adiknya.
"Hussshhh....udah udah Fan. Lo amam sekarang!" ujarnya menenangkan. Demi mendengar itu Fany balas memeluk kakaknya.
"Suruh dia pergi bang!" katanya parau sambil menunjuk Adly tanpa melihatnya.
"Oke!jadi lo tenang. Dan kembali ke kamar,ikut sama suster".
Fany langsung mengangguk,lalu dengan pasrah menurut pada dua orang perawat yang datang memapahnya.
Setelah mereka pergi,termasuk orang-orang yang tadi berkerumun. Ali mendekat ke arah Adly.
Memgajak cowok itu duduk di bundaran.
"Lo sebaiknya jangan ganggu Fany!" cetus Ali to the point.
"Sorry!" Adly berkata pelan.
Ali menggeleng. "Lo lupa apa yang tadi malam gue bilang". Sindirnya tapi Adly tak menunjukkan reaksi apapun.
"Lo jangan muncul dulu sampai Fany membaik. Berapa kali harus gue ingatin!"
"Hmmm......gue kira dia....!" ucapan Adly menggantung karena Ali langsung menginterupsi.
"Jangan sekarang!"
"Oke!" Bahkan hingga akhirpun ekspresi Adly masih tetap sama.
"Gue sebenarnya gak bermaksud demikian. Tapi semua ini demi Fany" Ali sekarang berkata tak enak.
Adly menggeleng.
"Gak papa!"
"Gue pergi dulu!" pamit Adly lalu beranjak meninggalkan tempat bundar itu. Dia rasa sudah terlalu lama meninggalkan Sarah dengan ibunya. Barangkali gadis itu sudah menunggunya untuk pulang.
Ali menatap punggung itu sedikit merasa prihatin. Setidaknya Adly menuruti perkataannya. Hanya satu masalahnya sekarang, mencari orang yang tepat untuk membantunya menghilangkan trauma adiknya.
***
__ADS_1
Di balik tiang rumah sakit seorang gadis berwajah oriental tersenyum puas setelah memyaksikan semuanya. Di tangannya terekam dengan jelas video mereka.
Mulai dari pertemuan Adly dengan Fany hingga cara Ali menekankan Adly agar tidak memdekati adiknya.
Senyum miring terlihat jelas dari bibirnya. Gadis itu kemudian membuka sebuah roomchat bertuliskan dad.
Lalu melampirkan video itu sebelum akhirnya menekan kata bertuliskan sent.
"You'll be mine ma boy!" katanya sebelum akhirnya meninggalkan tempatnya. Jalannya senyap tanpa suara,dan langkahnya anggun penuh perhitungan.
Pelan-pelan samar terdengar suara teriakan Fany dari kamar bernomor 12.
***
Adly mencari Sarah di kamar mamanya tapi sudah tak menemukannya. Cowok itu kemudian keluar mencarinya, entah kemana gadis itu keluyuran sekarang.
Adly berjalan memeriksa setiap sudut yang dilaluinya barangkali Sarah tersesat tapi tak menemukannya.
Adly memutuskan mencarinya di luar. Adly merasa lega ketika mendapati gadis itu duduk di motornya dengan bosan.
"Lo dari mana saja sih Ad?dari tadi gue nunggu disini" protes gadis itu begitu Adly sampai di hadapannya.
"Gue tadi nyari lo!"
Kening Sarah mengerut,"dari tadi gue nunggu lo di sini".
"Makanya gue kembali".
"Udah ah. Ayo pulang"
Adly menurut saja,apalagi sekarang memang sudah sore. Dia harus pulang untuk bekerja malam. Karena nanti akan ada acara di tempatnya bekerja,dan cowok itu hari ini mendapatkan sif malam.
***
Di sebuah rumah yang jauh di dalam hutan. Terdengar tawa bersahutan dari dua orang laki-laki.
Seseorang yang lebih muda dengan tato tengkorak di lengan kirinya. Serta seorang laki-laki paruh baya yang rusak mata kanannya. Mereka baru saja melihat video yang di kirimkan seseorang.
"Bagaimana menurutmu nak?" tanya laki-laki bermata rusak di selingi dengan suara tawa menyeramkannya.
"Not Bad!" desis laki-laki muda dengan sorot penuh benci.
"Bukankah dia bodoh?"
"Memang. Tapi bagaimanapun dia adikmu nak".
Laki-laki muda itu meludah,tapi hanya dibalas kekehan oleh si laki-laki paruh baya.
Setidaknya hari ini mereka tahu ke depannya akan seperti apa.
Tbc
__ADS_1