
"Adakalanya,keadaan akan membuat kita sadar betapa berharganya dia".
***
"Apa?"jawab Adly berikutnya dan hal itu membuat Ali semakin geram.
"Lo kan yang ingin dia temui di taman, jadi gue tanya lo sekarang. Di mana lo nyembunyiin Fany?",kesal Aly karena Adly menampilkan wajah datar seperti biasa. Walaupun juga terlihat gurat terkejut.
Adly menyeka wajahnya,lalu dia menoleh ke Emon dan Wendi yang melihat semuanya. Tapi kedua cowok itu langsung mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
Adly menggeleng lemah. Dan mau tak mau Ali akhirnya melepaskan cekalannya pada baju cowok itu. Dia terlihat linglung, serta bingung tak tahu harus mencari kemana lagi.
"Lalu siapa? Katanya dia berangkat setelah menerima chat dari lo!", tanya Ali penuh selidik karena belum sepenuhnya percaya. Dia bisa melihat Adly juga terlihat panik dari gurat wajahnya.
Adly menunjuk menggunakan tatapan ke arah Emon dan Wendi. Kedua cowok yang sudah babak belur itu menelan ludah bersamaan. Mereka takut kembali di hajar oleh sosok yang berbeda,karena orang yang sama.
"Maaf Bang! Kami tadi hanya berniat bercanda. Tak tahu jika akan berakibat sefatal ini", ucap mereka bersamaan. Mereka melirik takut-takut ke Ali.
Memang kebodohan mereka yang berlebihan itu bisa membawa petaka. Apalagi di hadapan mereka ada Ali. Cowok yang di kenal memiliki banyak bakat termasuk jago dalam karete. Bahkan hingga SMA Garuda saja banyak yang membicarakannya. Mereka pernah memdemgar jika Ali sudah sabuk hitam dalam karate.
Dan secara langsung mereka tadi melihat bagaimana Ali dalam sekali pukulan membuat mulut Adly tergores, membuat darah segar menetes dari sana. Bagaimana nasib keduanya jika harus mengalaminya juga.
"Kalian tahu, gue juga suka membuat lelucon!" tanya Ali penuh penekanan pada nada suaranya.
Emon dan Wendi menggeleng kompak,seakan dikomandoi.
"Jangan pernah bermain-main lagi!,kalian tahu akibatnya jika melakukan itu lagi", desis Ali memperingatkan.
Sementara Ali sibuk mengurusi Delano. Adly yang terduduk di bangku tak berhentinya memikirkan Fany. Apakah memang ini mungkin kesalahannya?
Ali mendongak menatap langit malam yang semakin larut. Mungkin sekarang sudah jam dua belas malam. Tapi cowok itu tak merasakan kantuk. Dia perlu berfikir kemana perginya cewek itu. Kalau tidak, entah mengapa dia selalu merasa ada yang hilang.
Flasback.
Sebelum berada di taman A. Tak sengaja Adly melihat ke arah halte. Dan di sana seorang gadis yang terlihat mirip dengan Fany sedang duduk melamun dengan seluruh pakaian yang telah. Basah.
Gadis itu terlihat kedinginan karena berusaha memeluk dirinya sendiri. Adly menghela nafas lega, begitu dia yakin gadis itu memang Fany.
"Ck! Dasar gadis bodoh!" decaknya tanpa sadar. Adly memarkir motornya, di pinggir jalan hendak segera memdatangi gadis itu.
Tetapi beberapa mobil sedang lewat. Jadi ia hanya berdiri sejenak sampai menunggu kendaraan itu habis. Adly berdiri tepat di seberang Fany. Saling berhadapan. Tapi sayangnya Fany terlihat fokus pada ponsel yang mungkin tak bisa menyala di tangannya.
Gadis itu sedih, yang mungkin baru benerapa saat lalu senyumnya menghilang karena Adly.
Adly kembali melihat jalanan, dan kendaraan sudah berlalu. Cowok itu ingin segera menyeberang. Tapi sebelum itu dia menyadari sesuatu ketika kembali lagi melihat Fany. Di sana gadis itu kembali tersenyum. Tapi dia tak sendiri. Ada seseorang berpakaian serba hitam, di hadapannya.
Dengan sebuah payung, walaupun pakaiannya sedikit basah. Mata Fany yang tadi murung kembali berbinar seperti sebelumnya. Mereka saling menatap di bawah lenerangan lampu halte.
Laki-laki itu membelakangi Adly jadi dia tak bisa melihat dengan jelas ciri-cirinya. Tapi ketika melihat plat mobilnya. Adly jadi sadar jika orang yang di sana adalah orang yang memang selalu membuat Fany tersenyum.
Seketika dia hanya membeku di tempatnya. Tak berniat beranjak, dia melihat semuanya dalam hening. Menjadi pengamat, walaupun dia merasa tak suka.
__ADS_1
Ad Delano katanya suka ke gue. Apa gue terima aja. Kalau lo bilang ya! Walaupun gue gak suka ke dia, gue akan terima. Lalu berusaha untuk suka ke dia.
Tapi gue selalu suka ke lo Ad. Gue harap lo gak maksa lagi untuk berhenti.
Gue harap setelah bertemu hari ini gue bisa memutuskan. Apakah berhenti suka ke lo atau tidak.
Tapi lo datang cepat ya!
Seketika chat itu muncul di kepala Adly berputar. Dan membuatnya sadar, jantungya entah sejak kapan berdebar cepat. Tapi sejak kapan dia selalu mengelak.
Juga saat itu, di sekolah. Ketika Fany bersama Delano cewek itu akan banyak tersenyum. Berbeda jika bersama dengannya, lebih banyak menangis. Dia juga tak bisa melindunginya, melainkan dia pernah membuat gadis itu hampir kehilangan dirinya sendiri.
Hari ini Adly sadar jika memang ia tak pantas untuk Fany. Karenanya, dia diam saja ketika gadis itu di peluk oleh laki-laki yang ia kira Delano.
Dia terlalu buruk untuk gadis bermasa depan cerah seperti Fany. Juga sudahlah, sekarang mereka masuk ke mobil lalu pelan tapi pasti meninggalkan halte yang perlahan legang. Menyisakan Adly yang masih menatap mobil itu hingga ketika menjauh. Bahunya menurun, lemah.
Juga pakaiannya seluruhnya telah basah diguyur air hujan. Bukankah seharusnya memang ini yang di inginkannya? Tapi mengapa jauh dalam relung hatinya ada sedikit rasa tak rela.
Apakah ini sebuah kesalahan lalu Tuhan memberinya karma, dengan membuat Fany berpaling ke orang yang lebih pantas?
Adly tak ingin mengutuk, tapi air hujan seakan sengaja datang untuk menambah suasana dramatis malam ini. Oh Adly hampir lupa. Ada sesuatu yang harus dilakukannya setelah ini. Makanya cowok itu segera naik ke atas motornya lalu meninggalkan halte. Yang ternyata menjadi tempatnya sebagai saksi jika ternyata Fany diculik. Dan orang itu jelas bukan Delano.
Andainya Adly menyadarinya. Andainya dia tak hanya berdiri menatap mereka. Dan Andainya Adly datang lebih cepat pasti semua ini tak akan terjadi. Setidaknya dia bisa mencegahnya terjadi.
End flasback
Adly masih menatap langit malam. Dia yang membuat Fany seperti ini. Maka dia pula yang harus bertanggung jawab. Ali masih berada di kost. Duduk tak jauh dari tempat Adly berada. Cowok itu berusaha menenangkan diri.
Mata cowok itu membulat begitu menyadari sesuatu.
Dia langsung mengambil hpnya. Dan hendak meluruskan semuanya.
Dia yakin sekarang.
***
Seorang gadis perlahan membuka matanya. Dia merasa sedikit aneh karena merasa tertidur tapi bukan di kamarnya. Tubuhnya terasa kebas karena mungkin tidurnya tak berada pada posisi nyaman.
Gadis itu menoleh, menyadari jika dirinya berada di dalam mobil. Tapi sejak kapan?
Dan mengapa berhenti. Dia ingat tadi ada seseorang yang datang menjemputnya. Tapi pertanyaannya kemana orang itu. Dan kenapa hanya dirinya sendiri di dalam mobil.
Tapi melihat siluet manusia yang sedang berdiri di luar sana membuat gadis itu lega. Orang di luar sana mungkin sedang menelpon seseorang. Gadis itu merasa kedinginan karena bajunya basah. Dia melihat diatas tubuhnya, dan ternyata ada subuah jaket warna hitam. Dia menciumnya, entah hidungya yang salah atau justru memang benar begitu. Kenapa wanginya berbeda.
"Mungkin saja efek hujan!", batinnya.
Tak berapa lama,orang itu kemudian mendekati mobil. Mendadak dada gadis itu berdebar. Begitu pula saat membuka mobil. Matanya yang berwarna coklat terang terus mengawasi orang itu.
Saat orang itu berhasil masuk ke mobil mata Fany memdadak melotot. Bagaimana tidak, orang yang tadi menjemputnya tidak memakai baju. Hanya celana jeans panjang.
Jangan-jangan. Lo harus kontrol emosimu Fany. Batinnya sambil berusaha menutup mata. Ya walaupun dia ingin sekali melihatnya. Orang itu kemudian menutup pintu. Lalu berusaha mengambil sesuatu dari jok belakang. Saat itulah, di saat yang tak di sangka-sangka Fany membuka mata.
__ADS_1
Dan hal yang tak sengaja dilihatnya membuat Fany terkejut. Punggung cowok itu penuh bekas luka. Hanya bekasnya, karena mungkin luka itu dia dapatkan telah lama. Tapi kenapa Fany baru melihatnya sekarang.
Padahal kalau dia fikir-fikir dia sering bersama cowok di dekatnya ini.
Saat orang itu berhasil mengambil apa yang di inginkannya. Fany tak sempat kembali menutup mata. Hingga cowok itu berhasil memergoki Fany.
Dia terdiam sejenak, menatap Fany dari atas hingga bawah.
*****! Kenapa harus kepergok sih. Gue malu ****! Kutuk cewek itu tapi dalam hati. Dia hanya bisa menelan ludah bersiap menerima konsekuensi akhirnya.
Dan saat itulah Fany melihat apa yang tadi ingin dihindarinya. Yaitu perut six pack milik cowok itu.
Fany yang merasakan jantungnya dangdutan pun tak bisa menahan untuk tak berkedip.
"Matanya biasa aja kali! Gak usah kayak anak kecil ileran. Gue gak punya permen untuk di beri ke lo!", cetus cowok itu yang berhasil membuat Fany menganga.
Kenapa sepanjang itu?
Bisanya palingan hanya dua atau tiga kata. Paling mentok di lima.
Cowok itu segera memakai baju yang tadi diambilnya dari jok belakang. Tunggu-tunggu Fany merasa tak asing dengan baju yang sekarang cowok itu pakai.
Dia mengingat, seseorang yang sering memakianya. Delano! *****, tapi kenapa orang dihadapannya ini santai saja. Apa itu memang bajunya dan kebetulan mirip milik Delano. Apalagi baju seperti itu pasti memiliki kembaran lain diluar sana.
Melihat Fany tak bereaksi cowok itu berkata pelan.
"Lo tidur aja dulu! Kita belum sampai!", katanya sembari menutup hidung Fany dengan sapu tangan yang sudah di teteskannya sesuatu.
Fany yang tak tahu apa-apa pun tak sempat menghindar. Gadis itu mencium aroma yang begitu menusuk itu lalu lama-kelamaan kesadarannya menghilang. Kepalanya agak pening.
Yang sempat ia lihat sebelum benar-benar pingsan. Mereka mungkin memasuki hutan.
Tbc
Hohohohhhhho
Apa yang akan mereka lakukan jika memang itu hutan?
Bdw ada yang bisa tebak cowok yang bersama Fany itu siapa? Intinya cowok itu seksoyyy abiss...
Dan pernah muncul di cerita ini. Jadi dia bukan orang baru.
Itu aja kuncinya.
Tebak yaaa🙃🙃🙃
Salam ....
Tunggu chapter selanjutnya ya :v
Pengagum gelapmu.
__ADS_1