My Clown Boy

My Clown Boy
63


__ADS_3

"Ada banyak hal yang terjadi di sekitar kita. Tapi kita tak pernah memerhatikannya. Dan hal itu pulalah yang kadang membuat terkejut ketika terungkap",


***


Ketika sampai di mobil. Willy segera mencari apa yang di maksud ayahnya. Walaupun tak dikatakan dengan jelas,tapi Willy akan terus mencarinya hingga ia temukan.


Anak itu tahu suasana sedang genting. Juga nyawa mereka mungkin saja tergantung pada benda kecil itu. Dan bisa saja jika terlambat sedikit semua akan habis tak bersisa.


Dia tadi bisa melihat bagaiamana ayahnya yang ia anggap laki-laki paling kuat di dunia, jatuh dipukuli di depan matanya sementara dia tak bisa melawan.


Anak itu mencari di laci bagian depan dengan tergesa-gesa. Berharap segera menemukan benda itu dengan cepat. Ketika ia melongok melalui jendela mobil. Dapat ia lihat dari jauh ayahnya di seret oleh orang-orang berpakaian hitam. Hatinya mencelus, mendadak rasa takut itu datang begitu saja.


Menjadi naluri,jika ada sinyal bahaya. Dia bergegas. Dan akhirnya setelah meraba-raba cukup dalam. Dia menemukannya.


Kening Willy berkerut melihat benda yang sekarang di pegangnya. Karena ia mengira yang dimaksud ponsel ayahnya adalah benda pipih yang sering ia dan adiknya mainkan.


Tapi ternyata bukan. Benda itu sangat kecil mungkin segenggaman orang dewasa. Juga yang ada di sana adalah tombol. Bukan layar sentuh seperti milik ayahnya yang sering digunakannya.


Karena mengira bukan benda itu yang dimaksud. Willy kemudian mencari kembali. Bahkan karena tak menemukannya di depan, anak itu juga mencarinya di jok belakang.


Dia menyusuri mobil itu memcari sesuatu tapi hasilnya nihil. Dengan nafas tertahan karena lelah, Willy kembali ke depan. Melihat benda yang tadi di pegangnya. Menekan salah satu tombolnya. Dan ajaibnya menyala. Mata Willy berbinar demi melihatnya.


Dia akan menceritakan pengalaman ini nantinya pada ibunya.


Dan hal itu kembali membuatnya sadar tak ada waktu untuk berleha-leha. Awalnya dia menekan nekan sembarang tombol. Tapi lama-kelamaan anak itu tahu cara kerjanya. Dia kemudian melihat ke kontak yang tersedia. Dan ternyata di sana hanya ada sebuah nomor.


Dengan cepat dia menekan nomor itu, ke panggilan.


Selang beberapa menit ada jawaban di seberang. Dan dia tahu suara siapa itu.


"Halo, mas! Kamu berhasil kan? Willy hilang mas, tadi masih ada di sini. Tapi entah sejak kapan dia pergi. Seisi rumah mencarinya kemana-mana tapi tak ada" tanya Wati , yang nada suaranya bergetar.


Willy yang mendengarnya, hanya diam. Hampir lupa jika malam semakin larut.


"Ini Willy Bun!" sahut Willy takut-takut. Takut jika ibunya tahu dia akan marah besar.


Terdengar helaan nafas lega dari ibunya.


"Syukurlah,tapi ayahmu berhasil kan membawa adikmu kembali? Kenapa bisa kamu yang menggunakan ponsel miliknya. Kemana ayahmu nak! Berikan sebentar, Bunda mau bicara sayang" pertanyaan beruntun yang di berikan Wati membuat Willy kesusahan harus menjawab dari mana.


Akhirnya ia memutuskan pesan yang disampaikan ayahnya tadi.


"Kata ayah, Willy di suruh telpon Bunda. Lalu bunda bilang ke om Farhan jika ini sudah saatnya. Bunda harus bilang gitu kalau mau Ian sama Steffy selamat", anak itu berkata dengan berusaha menahan tangisnya. Karena mengingat bagaimana yang dikatakan ayahnya tadi. Juga ketika melihat adiknya harus terluka.


Hening beberapa saat. Lalu suara isakan dapat di dengar oleh Willy barusan. Dan suara ibunya pun tergantikan oleh suara yang lebih berat.


"Hallo Williy, kamu baik-baik saja kan nak?"


"Hm...tapi Willy takut, hanya Willy yang ada di mobil. Ian sama ayah di tangkap. Sedangkan Steffy di ikat. Om!" jelas anak itu masih menahan tangis.


"Kamu jangan takut,kamu nyalakan Gps mobil ayahmu ya nak!. Willy tahu kan?"tanyanya sepelan mungkin agar anak itu mengerti.


"Tahu. Willy pernah liat ayah melakukannya",


"Pintar. Kamu tetap di sana ya!", kata Farhan sesaat sebelum hp yang dipegang Willy mati karena kehabisan baterai.


Anak itu meletakkan saja ponsel yang di pegangnya ke sembarang tempat. Dia segera melakukan apa yang di perintahkan Farhan.


Sesaat setelah Willy mengatakannya. Terdengar suara teriakan dari orang yang sangat dikenalnya. Ayahnya, suara itu memyiratkan kepedihan, juga perlawanan.


Dan sebagai anak yang rasa penasarannya cukup tinggi. Tanpa sadar Willy menggerakkan kaki menuju ke asal suara. Dia lupa pesan ayahnya untuk tetap berada di mobil.


Kaki kecilnya menuntunnya berjalan ke sebelah timur gedung tua itu. Samar dia bisa melihat kerumiman orang berpakaian serba hitam. Anak itu semakin mendekat, matanya menangkap sosok wajah menyeramkan itu di indrera penglihatannya.


Juga ayahnya yang entah mengapa terlihat semengenaskan itu dari belakang. Dia melihatnya hanya dari belakang, tapi dia bisa menebak jika itu ayahnya.

__ADS_1


Sungguh, anak itu membeku. Terpaku, karena takut yang sangat. Juga kasihan,kesal semuanya bercampur.


"Bawa mereka! Agar mereka bisa melihat seberapa menyedihkannya orang yang mereka banggakan ini". Kalimat itu di ucapkan dengan lantang seakan tanpa beban. Dan diakhir kalimat ada kekehan yang keluar. Di ikuti tawa tawa yang lain.


Lutut Willy bergetar, dia seakan terpaku di tempatnya. Katika tak lama kemudian. Kedua orang yang tadi menghilang, sekarang ada di sana di seret secara paksa oleh beberapa orang-orang dewasa bertubuh kekar.


Anak itu refleks melangkah melihat adiknya tak kalah mengenaskannya. Ia tak peduli lagi jika orang-orang itu melihatnya. Tidak-tidak mereka harus pergi dari sini secara bersama. Itu perjanjiannya demgan ayahnya tadi. Tapi kenapa kenyataanya tidak seperti yang mereka harapkan.


Anak itu menginjak ranting, sehingga bunyi patahannya terdengar bahkan hingga ke telinga Wils.


Willy berhenti berjalan. Dia sadar keberadaannya diketahui oleh orang berwajah menyeramkan itu.


Tapi anak itu tak berniat mundur. Dia terus berjalan. Termasuk ketika Wils menyeringai.


"Rupanya di sini ada anak kecil yang mencoba menjadi pahlawan", kata-kata Wils barusan mengundang perhatian orang-orang disana. Dan dalam hitungan menit semua mencari keberadaan orang yang dimaksud Wils.


Termasuk Dika.


Laki-laki itu walau tak melihat keberadaannya jelas tahu jika anak yang dimaksud Wils itu adalah anaknya.


"Sialan kau Wils. Lakukan apa maumu padaku. Tapi jangan libatkan mereka", ujar Dika berusaha membentak tapi tenaganya tak sampai.


"Kemarilah nak. Saksikan kematian ayahmu. Sebelum aku melenyapkanmu juga".


Samar-samar suara lolongan anjing malam terdengar hingga ke dalam hutan. Malam kian larut. Tapi tak mengurangi suasana tegang. Ian yang berdiri tepat dihadapan ayahnya memberontak. Tak peduli pada tubuhnya yang terluka. Anak itu terus melawan agar bisa bebas.


Sementara Steffy gadis kecil itu terus meminta tolong. Dan Dika terus saja menyumpahi Wils. Sementara Wils hanya bisa terkekeh seakan pertunjukan dihadapannya adalah hal paling menarik.


Dan kesempatan emas itu datang. Orang yang tadi terus memegang Ian dan Steffy kewalahan. Karena Willy anak itu menggunakan ketapel miliknya menembaki mata orang-orang itu. Tapi hanya sekadar dua orang yang terus memegangi adiknya. Kesempatan itu digunakan mereka untuk berlari.


Wils yang melihat anak-anak itu menggeram.


" Sekarang!!"cetusnya.


Wils lqgi-lagi tertawa. Tawa penuh kemenangan. Tapi tubuh itu. Melemah.


"Ayah......" teriaknya sambil berlari dengan cepat ke arah tubuh itu tergeletak.


Di susul suara lain yang juga akan melakukan hal yang sama.


Kali ini anak itu akhirnya menangis. Tubuh ayahnya kaku, juga darah yang dikeluarkan cukup banyak.


"Kamu suka nak?" tanya Wils yang membuat anak itu terdiam. Dadanya naik turun.


Dia menatap mata itu tanpa takut.


Ian dan Steffy melihat semuanya dalam diam.


***


"Tidak! Tidak! Ini pasti cuma mimpi kan? Lo gak mungkin Sarah!" cetus Fany karena perubahan tiba-tiba dari orang yang dianggapnya teman itu.


"Gak! Ini nyata Fany. Gue Sarah. Sarah Aninda!" Sarah tergelak, semakin maju mendekati Fany. Dia tersenyum menyeramkan.


"Tapi kenapa?" tanya Fany nanar. Dia tak bisa menahan diri dari rasa penasaran itu. Walaupun ada seberkas rasa takut yang memyelimuti hatinya.


Sarah tertawa, jenis tawa yang memyeramkan lalu diakhir terdengar begitu hambar.


"Kamu pura-pura bodoh atau memang naif?" tanya Sarah balik merendahkan.


Topengnya telah dibukanya, maka tak ada lagi alasan untuk memperlihatkan wajah sok polos yang biasanya.


Kening Fany mengeriyit. Sama sekali tak mengerti. Dan melihat Fany masih terdiam Sarah melanjutkan perkataannya tadi.


"Lo tak tahu jika selama ini gue suka Adly!" kata Sarah memberikan penekanan pada akhir kalimatnya.

__ADS_1


Fany terkejut. Fakta tersebut baru diketahuinya. Dia sama sekali tak berfikir sejauh itu. Jika ternyata Sarah menyukai orang yang sama dengannya.


Fany menggeleng yang membuat tawa sinis dari Sarah menggema.


"Jelas. Lo gak akan tahu. Karena lo hanya mentingin diri lo sendiri. Lo gak pernah noleh atau bertanya pada gue". Nafas Sarah terengah setelah mengucapkan kata barusan.


"Gak. Gue gak bermaksud gitu Sar. Andainya gue tahu dari awal jika termyata lo suka ke Adly. Gue akan mundur", sesal Fany pada akhirnya. Tapi dia jelas-jelas tak bisa menghindari perasaannya. Jika ia juga tak mau menyukai orang yang di sukai Sarah. Tapi faktanya itu yang terjadi.


Dia tak berniat menyakiti Sarah.


"Gue suka ke dia sebelum lo datang dan jadi pengganggu. Karena awalnya semua berjalan biasa aja diantara kita. Adly gak mau dekat dengan cewek lain kecuali gue. Tapi setelah lo datang. Lo bahkan nyita seluruh perhatiannya. Dan dia lupa jika ada gue. Dia perlahan lupa SAMA GUE!!!meskipun gue ada di dekatnya". Emosi gadis berwajah oriental itu menggebu-gebu. Dan Fany hanya bisa mendengarkan semuanya.


Dia tak tahu dari mana datangnya rasa itu. Tapi yang jelas rasa itu tumbuh begitu saja. Menghadirkan apapun yang baru dari Fany tanpa bisa terhindarkan.


Sarah menyeringai. Gadis itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.


Fany tercegang karena benda itu berupa pisau. Pisau kecil tapi terlihat lumayan tajam.


"Gue akan mengakhiri malam ini sebelum papa mempertemukan kalian. Gue harus ngebunuh lo sebelum dia datang!" Desis Sarah penuh penekanan. Dan hal itu membuat Fany mundur perlahan. Dia tak bisa menahan rasa takut itu untuk tak muncul.


Sarah mengancungkan pisau itu ke depan. Matanya berkilat tajam seakan ingin menerkam.


"Sar gue mohon. Lo jangan lakuin hal gila kek gini!". Kata Fany berusaha mengulur waktu.


"Hal gila! Hahahhaaha! Hal gila lo bilang. Buktinya yang gila itu lo! Lo tahu alasan Delano nyekap gue waktu itu. Lo tahu?" tanya Sarah masih dengan seringai iblisnya.


Fany menggeleng tanda tak tahu. Sarah berhenti di jarak dua langkah darinya.


"Gue berterima kasih pada lo untuk hal itu. Karena gara-gara lo Delano gak jadi ngelakukan sesuatu pada gue!".


Jeda sejenak,Sarah menarik nafas dalam.


"Itu karena gue nyebarin video lo yang gila di internet. Dan Delano dengan segala koneksinya, dia bisa tahu jika itu gue. Tapi hari itu lo datang dan nyelamatin gue.  Gadis gila!" Nada suara gadis berwajah oriental itu mengejek.


Sementara Fany tak bisa berkata apa-apa. Dia terlalu naif, bisa berteman dengan orang seperti Sarah. Gadis licik itu bahkan merasa tak bersalah sedikitpun ketika mengatakannya.


"Sar lepasin gue. Dan gue janji akan maafin lo! Lo tetap temen gue!" kata Fany sekali lagi.


"Dalam mimpi lo!" semenit berikutnya pisau itu terayun ke depan. Dan hal tersebut refleks membuat Fany menutup mata.


Hampir saja pisau itu menggores kulitnya. Fany menunggu beberapa saat tapi tak ada yang terjadi. Juga,ada sesuatu yang menetes diatas kulitnya. Terasa kental dan tercium bau amis. Dan hal itu membuat Fany memberanikan diri membuka mata.


Mata Fany membulat begitu melihat orang yang berada di depannya. Menggenggam pisau yang masih berjarak satu jengkal dari tubuhnya.


Sarah terlihat terkejut. Segera melepaskan pisau itu. Lalu menggeleng perlahan.


"Gak!gak mungkin!" cetus gadis itu.


Sementara orang yang menggenggam pisau melepaskan benda itu. Tangannya masih meneteskan darah. Tapi dia merobek ujung bajunya lalu membalut luka di tangannya. Pelan Fany menyandar di tembok.


Lama kelamaan merosot ke bawah. Bahunya bergetar demi menyebutkan nama itu.


"Adly....."


Orang yang disebut namanya mengeluarkan ekspresi yang tak terbaca. Lalu menoleh ke Sarah sambil menatap gadis itu nanar.


***


Tbc


Lahlahlah....


Atau yang dilihat Fany itu bisa jadi halusinasi. Jadi banyak kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.


Jangan lupa vote sama commentnya

__ADS_1


__ADS_2