
"kadang sebagian orang hanya perlu menjadi penonton tanpa perlu terlibat di dalamnya"
***
Karena terlalu sibuk dengan perjuangannya melawan trauma itu Fany hampir lupa sebuah hal.
Dia lupa pada syair serta tulisan berlabel badboy yang terus terusan dia temukan di sekitarnya. Entah siapa yang meletakkannya. Ada-ada saja jalan agar amplop warna abu-abu itu di terima Fany setiap minggu. Karena keadaannya yang semakin membaik setiap harinya.
Gadis itu entah mengapa selalu merasa tenang setelah mendapat surat itu.
Kadang Fany sering berfikir siapa yang diam diam datang lalu meletakkan surat itu di tempat yang bisa dijangkaunya?
Tapi sudahlah,setidaknya Fany yakin orang itu benar-benar suka padanya. Dan dia berterima kasih untuk itu.
"Pagi tuan putri!" sapa suara khas itu yang sudah familiar di telinga Fany akhir-akhir ini. Bagaimana tidak,mereka setiap hari selalu bersama setiap pagi. Dan jika sore akan ada relawan lain berpakaian badut yang sangat jarang bicara dengan Fany.
Entah siapa namanya. Fany tak pernah bertanya dan Fany juga tak mempermasalahkannya asal orang itu membuatnya tenang. Dan memang itualah yang dirasakannya jika bersama badut sore itu.
"Pagi Liam!" cengir Fany membalas sapaan orang itu. Walaupun selama ini Fany belum pernah melihat wajah di balik topeng tersebut. Dan entah mengapa Fany yakin wajahnya lumayan cakep dari cara bicaranya.
Tapi kali ini relawan yang membantu Fany bertambah menjadi dua orang Liam hanya bekerja hingga siang. Sedangkan dati siang hingga sore ada seorang badut lain yang tak pernah Fany dengar suaranya semenjak mulai berada di sini.
Badut satu itu membuat Fany tenang dengan tingkahnya. Gerak geriknya,serta entah mengapa dia selalu merasa tenang di dekatnya dan matanya pasti selalu mengantuk.
Hm sudahlah,Fany sekarang sedang sibuk memikirkan siapa cowok badboy yang selalu mengiriminya surat.
"Kamu mau jalan kemana pagi ini hm?" tanya Liam kembali.
Fany berfikir sejenak tak tahu harus kemana. Dia sudah bosan berkeliling tempat rehabilitasi. Apalagi jam sembilan nanti akan ada terapi rutin yang mesti di jalaninya seperti beberapa minggu sebelumnya.
"Kau mau keluar?"
__ADS_1
"Memangnya sudah bisa?" tanya Fany kembali.
Liam mengangguk.
"Kata dokter Fey mulai hari ini kamu sudah bisa keluar tempat rehabilitasi. Tapi dengan syarat kamu harus kembali dalam waktu setengah jam. Dan tak boleh terlalu jauh dari tempat rehabilitasi". Jelas Liam dan Fany yakin cowok itu sedang tersenyum di balik kostum badutnya.
"Wah hebat!", mata Fany berbinar demi mendengar ucapan itu.
"Jadi kamu mau kemana?"
"Hm ada sebuah tempat yang ingin gue kunjungi!" kata Fany masih dengan senyuman yang tak luntur dari bibir mungilnya.
***
Ali menerawang keluar jendela. Pagi ini dia sedang mengikuti pelajaran matematika tapi fokusnya terpecah akhir akhir ini. Dia tak seperti biasanya yang dengan semangat akan langsung mengetjakan soal begitu guru menunjuknya. Tapi belakangan ini berbeda.
Setidaknya setelah kepulangannya dari Singapura cowok itu terlihat berubah baik dari segi fisik maupun mental.
Tapi sebenarnya tak terlalu kacau sih. Kata yang lebih tepat itu jungkir balik.
Maurina menoleh kebelakang. Pojok,dimana Delano masih tiduran seperti biasanya. Tak pernah sekalipun cowok anak pemilik yayasan itu tak tidur jika di kelas. Tapi guru guru sudah memakluminya. Mereka tak terlalu mau mengusik hidup sang pentolan sekolah. Maurina yang lumayan dekat dengan cowok itu saja jarang melihatnya tersenyum.
Tapi anehnya,ketika Maurina teringat dari gadis yang berasal dari IPS 1 itu Maurina seakan melihat sisi lain dari Delano yang penuh kelembutan. Tatapannya pada gadis itu sangat berbeda dari pandangannya pada gadis lain.
Tapi sudahlah srbaiknya Maurina fokus saja pada pelajarannya kali ini.
Setidaknya dia tak boleh terlibat pada kehidupan banyak orang. Karena kadang sebagian orang hanya perlu menjadi penonton tanpa perlu terlibat di dalamnya.
***
Fany tersenyum puas begitu mereka sampai di depan sebuah danau. Setidaknya sekarang gadis itu merasa nyaman ketika berada di sini. Dia perlahan turun dari kursi roda lalu berdiri sambil merentangkan tangannya.
__ADS_1
Sehingga angin dengan leluasa membelai wajahnya. Udara dengan bebas masuk ke dalam pori pori tubuhnya. Hal itu terjadi pada lima menit pertama. Pada menit berikutnya. Fany sudah berlarian memutari danau kecil itu. Di tengah tengah danau sekelompok burung bangau berdiri mematuk lalu kembali sibuk. Seakan tak peduli pada kebahagiaan orang di seberang.
Beberapa bunga juga tumbuh disekitar danau membuat Fany lebih menyukai tempat ini. Saking sibuknya dengan pemandangan pagi. Fany sampai lupa jika gadis itu tak sendiri.
Fany juga hampir lupa jika tadi mengenakan kursi roda sampai ke tempat ini. Jika bukan Liam yang memaksanya maka gadis itu justru lebih senang berlari lari diatas rumput dibanding duduk diatas kursi yang membosankan. Kakinya kadang pegal sendiri karena jarang di gerakkan jika duduk diatas kursi menyebalkan itu.
Setelah puas berkeling yang entah berapa kali Fany akhirnya kembali duduk di dekat Liam.
"Kamu suka?"
Dengan antusias Fany mengangguk. Matanya berbinar seakan kagum pada tempat ini selama beberapa waktu.
"Liam lo sebenarnya berasal dari mana?" tiba-tiba pertanyaan itu muncul di kepala Fany. Dan tanpa bisa dicegahnya meluncur begitu saja dari bibir mungilnya.
Dan hal itu membuat Liam tercegang. Tapi Fany tak bisa melihatnya karena tertutup kostum badutnya. Fany penasaran karena Liam tak pernah menyebutkan tempatnya berasal. Mereka telah bercerita tentang banyak hal kecuali hal ini.
Liam menghembuskan nafas. "Dari tempat yang cukup jauh dari sini".
Fany agak kecewa karena jawabannya hanya sesingkat itu. Dan setelah itu Liam tak bersuara lagi. Dan Fany tak berniat mengganggunya.
Sebuah langkah kaki mendekat terdengar di telinga Fany. Langkah itu sedikit terburu buru tapi teratur. Membuat Fany menoleh ke asal suara. Dan saat melihatnya Fany terdiam beberapa saat untuk mencerna situasi. Dan memastikan penglihatannya tidak salah.
Fany mengucek matanya beberapa kali. Tapi sosok itu tetap tak menghilang dari pandangannya. Artinya hal itu nyata.
Dalam beberapa menit berikutnya Fany berlari ke arahnya. Karena memang tangannya sudah terbentang untuk menerima pelukan.
"Papiiiiii...." seperti biasanya panggilan semangat itu selalu membuatnya tenang. Karena rasa rindu serta kesal sudah lama di pendamnya.
Farhan,laki-laki paruh baya itu juga ikut tersenyum begitu putrinya dengan semangat memeluknya. Hari ini untuk pertama kalinya mereka bertemu setelah sebulan lebih.
Mata Farhan yang tadi penuh senyuman tertuju pada sosok badut yang masih duduk di tempat tadi. Dan anehnya senyum itu tiba-tiba menghilang di gantikan wajah tak suka.
__ADS_1
Tbc