My Clown Boy

My Clown Boy
26


__ADS_3

"Gak ada sesuatu yang tersembunyi jika tak memiliki alasan"


***


"


Bukan cuma ketemu sebenarnya,gue diantar pulang. Astagah.....dia pahlawanku"Mata Rini menerawang seakan mengingat kejadian tadi.


"Delano?"


"Iya. Delano,Lo pasti gak percaya. Sama gue juga,awalnya gue kira ini cuma mimpi. Tapi ini nyata Fany. Delano bahkan ngantar gue pulang. Unchhhh". Tukas Rini,lagi lagi matanya berbinar mengingatnya.


" Ceritanya gimana sih?". Ima masih bingung,dengan apa yang diceritakan temannya itu.


Fany mengangguk membenarkan.


"Hm...kan gini,tadi sepulang sekolah lo ninggalin gue,Ma. Karena mesti latihan PMR. Pulangnya sore banget. Bahkan gue tadi baru sampe langsung nge-vc kalian berdua. Nih gue masih pake baju sekolah". Rini mengarahkan kamera ke bajunya dan benar saja apa yang baru saja di katakannya itu.


"Nah,karena sudah terlalu sore makanya bus terakhir pasti udah lewat. Dan lo tahu sendiri rumah gue,jauh dari halte. Gue baru aja mau pesan gojek. Eh...gue lihat udah ada mobil,keluar dari sekolah. Lalu gue berfikir jika nebeng lebih baik". Jelasnya panjang lebar.


Ima maupun Fany mengangguk mengerti.


"Dan dia langsung mau?"Ima kembali bertanya polos,yang membuat Fany tertawa.


"Gak lah!😖helawww lo tahu kan Delano itu siapa? Mana mau dia bergaul sama rakyat jelata kayak kita"Imbuhnya sedih.


"Hmmm....Kalian belum kenal aja ke dia!" Fany menambahkan mencoba membesarkan hati Rini.


"Eh....tapi gue rasa ada yang aneh deh. Waktu kami tadi lewat di dekat taman. Delano langsung berubah gitu". Rini lagi-lagi bercerita dengan semangat hingga mengundang kembali rasa penasaran dari kedua temannya.


"Terus?"


"Gue sih gak lihat dengan jelas,apa yang dia lihat tapi orang itu kayak badut".


Deg


"itu kayaknya Adly". Batin Fany langsung menyimpulkan.


"Dan Delano,natap mereka lama dan setelah itu dia jadi sangat menyeramkan". Rini bercerita seakan akan ada aura mistis di sekelilingnya.


Ima menguap"Udah dongengnya?"


"Jadi lo kira cerita gue itu dongeng. Ima sayang,mana mungkin gue mau mendongeng di sore hari kayak gini".


"Siapa tahu" tambah Fany membenarkan Ima.


"Terserah kalian sih,gue lelah. Mau bobok. Mimpiin Delano".


Tapi ketika Fany mau menutup teleponnya. Ima menepuk kepalanya pelan,seakan mengingat sesuatu.


"Kalian udah dengar belum,Pak Rinto mau pindah?"


"Udah" jawab Rini malas.


"Eh....Pak Rinto mau pindah? Kapan" Fany seakan baru mendengar hal,itu. Matanya membulat.


Bagaimana tidak baru beberapa minggu yang lalu dia di hukum oleh Pak Rinto tiba-tiba dengar kabar kalau guru itu mau pindah.


Bagaimana mungkin,AH akan kehilangan salah satu guru matematikanya yang melegendari.


Rini menepuk kepalanya,"jadi lo belum dengar? Selama ini lo sekolah di AH lakuin apa aja peyang. Bahkan guru sendiri gak tahu mau pindah".


"Maklum Rin,dia lagi sibuk mikirin Adly huahahauaa" Ima tertawa sampai ia sendiri tersedak air liur.


"Mau pindah kemana?"


"Ke Strada apatuhh....gue gak tahu pokoknya. Di sekolah tempat istrinya tercintah mengajar". Ima kembali menjelaskan.


Fany mengangguk takzim,masih belum percaya guru killer mereka akan pindah. Walaupun mereka belum bebas sepenuhnya sih dari guru killer. Sama seperti pepatah mati satu tumbuh seribu.


Pak Rinto pindah,di sekolah masih ada Bu Zaraya,guru yang bahkan menyetarai pak Rinto berbanding sepuluh.


Tapi bukan itu yang Fany pikirkan melainkan alasan kepindahan Pak Rinto yang tiba tiba.


"Lo tahu siapa yang ngajuin pemindahannya?" Ima kembali bertanya.

__ADS_1


"Gak!" jawab Fany dan Rini serempak.


"Tebak sayangkuhhh"


Fany dan Rini bergidik mendengarnya,Ima mengucapkan kata sayang dengan matanya yang menyipit sempurna dengan senyum anti mainstream miliknya. Siapapun akan berfikir hal yang sama. Lebay.


"Siapa sih" Rini menjadi gak sabaran.


"Delano".


" WHAT????"Kembali Fany dan Rini menjawab serentak seakan dikomandoi.


"Cieeeee....Kompak"ejek Ima.


"Mana mungkin Delano,setega itu sama Pak Rinto" elak Rini tak mau percaya.


"Bukan tega Rin,tapi pak Rinto pasti kesenangan di sana kan bisa tiap hari ketemu His Wife!" Ima kembali nyengir.


Belum sempat mereka membahas lebih jauh. Sekarang sudah masuk chat dari walikelas mereka di XI IPS 1 untuk menyumbang atas kepindahan pak Rinto. Dan Ima sekarang sudah berekspresi menyebalkan.


Dari tatapan matanya dia memuji diri sendiri.


Fany seakan mengerti apa yang diucapkannya.


"Sekarang lo percaya kan?"


***


Di tempat lain,masih dalam waktu yang sama terlihat seorang pemuda berdiri tepat di hadapan sebuah rumah mewah. Dia menghela pelan,melihat rumah yang sudah lama ia tinggalkan.


Kenang-kenangan dari masa kecilnya mulai terlintas. Pemuda itu kemudian melangkahkan kakinya mendekat. Jika dahulu ia hanya mengawasi rumah ini dari jauh. Sekarang ia memutuskan untuk mendekat. Memastikan sesuatu yang besar pengaruhnya dalam hidupnya.


Pemuda itu kemudian melangkahkan kakinya,memasuki gerbang yang bahkan sangat tinggi dan besar.


Satpam yang berjaga segera menghampirinya,ketika satpam itu melihatnya untuk sesaat dia melongo. Antara bingung,kikuk, atau justru senang mengetahui orang yang berada di hadapannya.


Satpam itu kemudian berdehem,lalu kembali menormalkan ekspresinya terlepas dari rasa terkejutnya.


"T...tuann muda"kata sang satpam tergagap,belum sepenuhnya bisa menghilangkan rasa terkejutnya.


Selepas itu,ia langsung masuk ke dalam rumah. Rumah yang berwarna coklat muda itu,di sertai warna putih pada bagian bagian tertentu itu terlihat mencolok diantara rumah rumah di sekitarnya.


Dan di dalamnya pun sama,ia sudah hafal setiap jengkalnya hingga ia tak merasa kesulitan sedikit pun dalam mengenalinya.


"Kak Ian?" suara gadis kecil itu memecah lamunannya tentang masa yang telah lewat.


Pemuda itu menoleh,mendapati gadis kecil usia lima tahun itu berlari kearahnya hingga untuk beberapa saat ia hanya berdiri mematung.


Suaranya sangat pelan mengucapkan namanya. "Vanilla!"


Dan beberapa menit saling tatap,gadis kecil itu kemudian menghambur ke pelukannya.


Pelukan Vanilla sangat erat menggapit lehernya,dan entah mengapa ada rasa tenang menghampirinya walau tak ia tunjukkan secara jelas.


Setelah di rasa cukup gadis kecil itu berhenti,lalu menatap polos wajah orang di hadapannya.


"Kakak gak rindu sama Vani?" tanyanya yang membuat orang yang dipanggil ia menghela nafas lelah.


"Hmmm...." jawabnya yang membuat Vanilla memberengut kesal lalu berlari menuju dapur.


"Bunda....Bunda.Kak ian datang" serunya yang membuat Wati menoleh. Menghentikan aktifitasnya yang sedang sibuk memasak.


Wanita paruh baya itu kemudian berbalik,dan mendapati putra sulungnya sudah berdiri di belakangnya.


Wati melihatnya,dan masih mendapati hal yang sama pada putranya. Tatapannya,yang berubah sejak peristiwa yang telah berlalu entah berapa tahun yang lalu.


"Ian?" Wati terharu,lalu memeluk Ian. Dan pemuda itu pasrah saja tak bergeming di tempatnya.


"Gak terjadi apa apa kan sama Bunda!". Nada suaranya biasa saja,tapi Wati bisa merasakan adanya kecemasan dalam diri Ian saat ini. Hingga ia mengangguk.


Ian menghela nafas lega," Ian pergi dulu Bun!". Pamitnya berniat pergi dari sana. Karena tugasnya telah selesai.


Ia sudah memastikan keluarganya dalam keadaan baik.


"Kamu mau pergi kemana?Rumah dan keluargamu berada disini", Wati berusaha menahan lengan putranya yang berniat meninggalkan rumah ini lagi.

__ADS_1


"Makan malamnya di sini aja!"Pinta Wati pada Ian berharap dengan demikian mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Seperti dahulu sebelum waktu merenggut semuanya.


"Maaf!" Ian menolak dengan halus,tapi Wati melakukan segala cara agar putranya mau menghabiskan waktu walau hanya sebentar.


Melihat mata ibunya membuat Ian tak tega,bagaimanapun Wati tetaplah orang pertama yang paling di sayanginya. Makanya dia mengalah,hanya kali ini.


Dan demi melihat anggukan itu semangat Wati kembali muncul ia memanggil ART untuk membantunya memasak.


Sedangkan Vanilla dia sudah menarik tangan kakaknya menuju ke kamarnya.


Ian heran,entah mengapa adiknya itu sangat suka warna pink. Padahal masih banyak warna lain yang lebih bagus dari warna itu.


"Eh....kak Ian. Kakak tahu gak kalau Vani punya teman cewek yang cantik". Cetus Vanilla,membuat Ian melihatnya heran. Karena Ian sekarang sudah duduk sambil bersandar di kepala ranjang milik Vanilla yang juga warna pink.


Dia terkantuk kantuk mendengar cerita adiknya yang semangat.


"Um...." gumamnya malas antara sadar atau tidak.


"Kak.... kakak tahu gak namanya?" Vanilla berkata sambil mencari sesuatu di laci meja belajarnya. Dia masih ceria sama seperti tadi.


"Gak!!!"


"Kakak mau tahu?"


"Gak".


Vanilla merasa kesal,bicara dengan kakaknya hampir sama seperti bicara dengan patung.


"Kak Ian tega sama Vani,Vanilla marah gak mau ketemu lagi sama kakak!" Kesal Vanilla sambil mengerucutkan bibirnya.


Tapi hal itu malah terlihat lucu,bagi Ian dan sekeras mungkin menahan agar tak tertawa atau gadis kecil itu akan marah.


"Iya...iya Vani". Akhirnya Ian mengalah.


"Namanya Kak Fany orangnya cantik loh! Kayak Vani", Cerita Vanilla dengan PD-nya. Mendengar nama itu disebut kening Ian mengeriyit,merasa tak asing dengan nama barusan.


"Kenal,dimana?" entah mengapa dia merasa tertarik dengan nama itu.


"Di Bus waktu pulang sekolah!" terang Vanilla antusias,dan mengalirlah kisah pertemuannya dengan Fany waktu itu itu.


"Kamu punya fotonya?" cetusnya pelan. Dan Vanilla mengangguk senang kemudian menyerahkan sebuah foto. Dimana di sana ada Vanilla dan gadis yang bernama Fany dengan rok abu-abunya dan berpita warna biru.


Ia tertegun beberapa saat,tapi tak disadari Vanilla karena tiba-tiba sudah terdengar suara ibunya yang memanggil.


Mereka makan tanpa banyak bicara hanya menikmati bagian masing-masing. Meja makan ini lumayan panjang. Dan Wati duduk berseblahan dengan Vanilla sedangkan Ian berada di hadapan mereka sama seperti sebelumnya. Dengan kursi yang berada di ujung tetap kosong.


Tapi terlepas dari hal itu makan malam mereka berjalan lancar.


Selesai makan Ian langsung beranjak. Apalagi hari sudah mulai gelap.


Saat ingin pulang,Ian sempat melirik foto keluarga yang terpajang di ruang tengah. Di sana mereka semua tersenyum dan terlihat bahagia.


Ian berjalan menyusuri kegelapan malam yang agak dingin ini. Entah mengapa udara malam ini terasa menusuk.


Dia memilih berjalan,apalagi tempat yang di tujunya memang tidak terlalu jauh.


Dia memilih jalan pintas yang jarang di lalui orang-orang. Dan jalan itupula yang terdekat.


Tapi semakin masuk ke lorong,keadaan semakin mencekam. Dan suara langkah kaki di belakangnya terdengar melalui telinganya yang tajam.


Dengan perasaan was was. Ian mempercepat langkah kakinya.


Hingga langkah itu terdengar semakin mendekat. Ian perlahan menoleh dan mendapati seseorang dengan tato di lengan kirinya.


Ian memicingkan mata,tepat beberapa detik kemudian sebuah bogem langsung mengenai pelipisnya. Membuat orang itu menyeringai.


Ian menggeram lalu membalas perbuatan cowok itu hingga mengenai perutnya.


"Katakan apa yang lo inginkan" desis Ian dengan nafas tersegal.


Orang itu menyeringai, mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya. Lalu mendekati Ian.


"Dia...."


Tbc

__ADS_1


__ADS_2