
"Hari yang paling membahagiakan adalah mengetahui bahwa dia telah kembali seperti biasanya. Walaupun hal yang terjadi membuatnya terlihat berbeda".
***
Seminggu berikutnya
"Kamu yakin udah bisa datang ke sekolah?" tanya Ratih begitu Fany selesai mengoles selai pada rotinya. Gadis itu hendak memakannya tapi tak jadi karena ibunya tiba-tiba bertanya.
Dia sudah memgenakan seragam sekolah. Dan kini semuanya sudah lengkap. Fany terlihat rapi dan cantik. Walaupun jujur,tubuhnya menjadi lebih kurus. Terbukti dari seragamnya yang sekarang terlihat lebih besar dibanding sebelumnya.
"Yakin mamiku sayangggggg!" kata Fany cempreng karena terlalu semangat. Sebenarnya dia juga merasa wajib ke sekolah karena telah meninggalkan pelajaran hampir tiga bulan. Sungguh Fany bukan murid yang seburuk itu untuk curi kesempatan di temgah kesempitan.
Apalagi ujian semester satu sekitar dua minggu lagi. Dan coba bayangkan betapa lamanya gadis itu meninggalkan pelajaran. Bayangkan apa yang bisa di tulisnya nanti di ujian semesternya.
Farhan memakan sarapannya dengan lahap. Lelaki paruhbaya itu sedang tak banyak kerjaan makanya kembali mengurus bisnisnya yang berada di dalam kota. Hal itu juga sesuai permintaannya untuk selalu berada dekat dengan kedua anaknya.
"Aing jadi iri. Selama ini hiks.....rasa-rasanya gue kok gak di perhatiin". Sahut Ali tiba-tiba menjadi alay begitu melihat interaksi kedua orang tuanya serta adiknya.
Cowok itu sedang berdiri di anak tangga tapi tak ada yang sadar jika Ali berada di sana dan seandainya tak bicara.
Ratih juga menjadi pura-pura miris. Lalu menghampiri anak sulungnya yang berdiri di dekat tangga.
"Cup!cup!!! Anak mami....kamu mau apa sayang!" kata Ratih mengikuti alur permainan Ali.
Wanita itu memeluk anaknya lalu mengusap bahunya lembut. Dan jujur melihat itu,Fany rasanya ingin ngakak. Apalagi ketika melihat ekspresi sebal kakaknya ketika dikatai 'Anak Mami'.
Hmppphhh
Farhan juga menahan tawanya. Dan begitu semuanya terjadi Ali segera melepaskan pelukan ibunya lalu menyambar susu serta rotinya.
Setelahnya mereka berangkat. Dengan diantar Farhan.
"Pi!Ntar aku pulang terlambat ya. Soalnya mau latihan basket persiapan turnamen". Izin Ali sebelum menyalami Farhan. Itu dilakukannya setelah Fany lebih dulu menyalami sang ayah.
Ali lalu turun. Kemudian memerhatikan gerak gerik adiknya,yang tampaknya sedikit gugup untuk turun dari mobil. Hal itu terlihat dari Fany yang menghela nafas berkali-kali.
"Kamu bisa dek?" tanya papinya yang melihat melalui spion depan.
"Bisalah pi. Selama ada aku siapapun gak akan berani sentuh dia". Jawab Ali semangat. Padahal bukan dia yang di tanya.
"Ayo!" ajak Ali sambil menarik tangan gadis itu seakan memberi dukungan. Dan hal itu pun berhasil membuat Fany keluar dari mobil.
Fany menutup matanya berusaha menahan degupan jantungnya. Dia juga bisa merasakan kehangatan dari sentuhan tangan sebagai suggesti positif yang di berikan sang kakak padanya.
Fany menarik nafas lalu berusaha membuka matanya sedikit-demi sedikit. Saat sempurna terbuka saat itulah,mobil ayah mereka melaju meninggalkan sekolah.
Fany melihat pemandangan Adyatama High School masih sama seperti sebelumnya. Gedung tiga tingkat serta pekarangan yang luas. Juga beberapa lapangan.
Siswa-siswa terlihat berlalu lalang masuk ke sekolah. Tak ada yang terlalu peduli padanya,seakan gadis itu sudah biasa jika bersama Ali. Ada beberapa yang berbisik tapi ketika bersitatap dengan cowok yang berstatus.sebagai kakaknya itu. Mereka langsung cengar cengir lalu pergi.
"Lo sampai kapan terus berdiri di sana sambil gandengan tangan kek gitu Li?" tiba-tiba sebuah suara menginterupsi mereka.
"Kayak upil ipil!" tambah suara lainnya yang lebih lembut tapi toa.
__ADS_1
"Teletubies!" ralat suara yang pertama.
"Upil....ipil!!!"
Perdebatan itu membuat Ali maupun Fany menoleh. Memerhatikan di sana sudah ada sahabat Ali yang bernama Deska si perempuan toa. Juga Reza si laki-laki berisik yang sekarang merangkap jadi ketua osis.
"Kalian gak ada kerjaan lain selain berantem apa? Gue merasa ternistakan punya sahabat kek kalian berdua". Kata Ali yang membuat keduanya langsung berhenti. Tapi mereka masih terlihat menggerutu.
"Eh!!!!Dik Fany udah datang!" sapa Deska,yang baru sadar jika ternyata orang yang digandeng Ali adalah adiknya sendiri. Tadi sewaktu dia lihat dari belakang Deska mengira gadis itu adalah pacar kesekian dari cowok playboy itu.
"Sudah. Lo gak usah kelebaian. Cuma beda lima menit dari gue. Jadi biasa aja,gak usah pake embel-embel dik segala!" omel Ali yang membuat Deska mencibir.
"Lo sejak kapan jadi kakek!kakek tukang omel gitu Li?" tanya Reza polos yang membuat Ali gemas ingin menampol tuh mulut yang kagak tahu saringan.
"Sejak lo berubah jadi kera sakti!" kata Ali merasa naik pitam.
Setelah itu dia menarik tangan Fany masuk ke dalam sekolah. Malas meladeni kedua sahabatnya. Jika tidak bisa-bisa sampai kiamat pun mereka masih akan terus berdebat di luar sana.
"Emang gue kayak kera sakti ya Ka?"tanya Reza bloon sepeninggal Ali dan Fany.
Deska hanya mengangguk sebagai jawaban.
***
Di koridor lantai dua kelas IPS benerapa siswi terang terangan menatap Ali dengan pandangan lapar. Apalagi semuanya kelas dua belas yang merasa sudah menjadi senior di sekolah ini. Tapi beberapa juga menatap tak suka pada gadis yang sekarang berjalan beriringan bersama sang pentolan sekolah.
Iri tentu saja,walaupun sudah banyak gadis yang di perlakukan serupa oleh cowok itu. Tapi entah mengapa rasa ingin berada di posisi yang sama kerap membuat cewek cewek AH iri pada gadis tersebut.
Kelas Fany mulai terlihat. Beberapa teman sekelasnya terlihat sedang duduk di bangku panjang sambil bercerita seperti biasa. Sebagian lagi mungkin sudah berada di dalam kelas menyalin PR atau bermain game. Mereka belum menyadari keberadaan Fany.
Gadis cantik itu berjalan dengan tempo yang teratur. Ada rasa segan pada dirinya begitu membayangkan nanti bagaimana jadinya jika teman-temannya sadar. Akankah gadis itu di terima baik atau justru sebaliknya?
Fany mengalihkan pandangan sejenak. Dan tepat di seberang sana dengan jelas dia melihat seorang cowok bernetra abu-abu itu sedang mengawasi gerak geriknya. Dan Fany tahu siapa dia. Atau bisa jadi hanya Fany yang kegeeran. Mungkin juga cowok itu sedang mengawasi kakaknya.
Riuh suara mulai terdengar ketika ia kembali menoleh ke kelasnya. Dan ternyata mereka semua sudah memyadarinya. Mereka berdiri di depan kelas dengan sorot berbeda-beda.
Ali berhenti ketika mereka telah sampai. Jujur Fany merindukan mereka. Apalagi wajah-wajah itu,entah kenapa Fany merasa mereka juga menyimpan hal serupa.
"Ini beneran lo kan Fan?" tanya Lisa salah seorang teman sekelasnya,yang cukup akrab dengan Fany.
Fany mengangguk sebagai jawaban. Beberapa cewek-cewek kelas XI IPS 1 berhamburan memeluk gadis itu.
"Uuuuii.....cayang.... Kenapa baru datang sekarang!kau kira ini batu bukan hati!" ujar ketua kelasnya yang entah sejak kapan telah merembes masuk ke kerumunan berniat ikut memeluk Fany. Tapi sebelum itu terjadi Ali segera menarik kerah seragam si ketua kelas.
"Ei.....eitttt tunggu dulu. Jangan main peluk peluk aja dong. Lo cari mati?" ancam Ali berusaha terlihat galak maksimal. Walaupun jauh di dalam sana mungkin cowok itu sedang bersyukur karena teman-teman adiknya menerima Fany dengan terbuka tanpa bertanya macam-macam.
"Gak! Gak bang. Gue belum mau mati. Belum nikah soalnya! Kasian nanti jodohku,kalau gue mati secepat ini!" cengir ketua kelas gesrek itu. Walaupun tahu mereka seangkatan tapi entah kenapa dia lebih suka panggil Ali dengan sebutan abang.
"Abang!abang! Sejak kapan gue jadi kakak Loe?" amuk Ali tambah kesal,tapi bukannya takut beberapa sekelas Fany malah semakin gemas melihat ekspresi Ali ketika marah.
"Heheheheee! Emang gak boleh ya?"
Mata Ali melotot demi mendengar pertanyaan bloon itu.
__ADS_1
"Kagak!" ucapnya galak.
"Marah aja tetap keliatan cute!!!uwuwuw jadi makin cinta sama babang Ali", celetuk salah satu siswi yang Fany lupa namanya siapa.
"Beruntungnya Fany punya pacar kek gitu!" dan demi mendengar ucapan yang terakhir Fany langsung tersedak. Apa? Pacar sejak kapan kakaknya jadi pacarnya. Benar-benar teman-temannya itu. Tapi memang banyak sih yang tak tahu hubungan sebenarnya dari mereka apa.
"Kalian jagain dia ya!" titah Ali pada benerapa anak cowok teman Fany.
"Awas kalau lecet dikit kalian...bakal?" Ali memberikan isyarat seperti hendak menggorok leher mereka membuat benerapa bergidik.
"Iye...iye bang!" ucap ketua kelas cepat lalu mendorong cowok itu pergi.
"Gue bukan abang lo!" kata Ali menepis tangan ketua kelas Fany itu lalu kembali untuk mengusap-ngusap kepala adiknya sebelum pergi.
"Bilang ke gue kalau ada yang macam-macam sama lo ya!" pesan Ali yang entah mengapa tiba-tiba membuat cewek-cewek sekelas Fany heboh sendiri sambil teriak teriak mengatakan betapa irinya mereka.
Tapi Fany mencari beberapa sosok yang belum kelihatan sejak tadi. Siapa lagi kalau bukan teman-teman seperjuangannya selama menjadi murid baru di sekolah ini.
Beberapa temannya mulai bertanya ini itu ketika mereka akan memasuki kelas. Semuanya antusias.
"Eh....eh....Fany mana Fany mana?" suara cempreng itu terdengar suara cempreng yang tak asing itu tak berapa lama setelah Fany memikirkannya. Dan hal tersebut membuat Fany tersenyum senang.
"Minggir-minggir orang cantik mau lewat!" ucap Ima menyuruh temannya yang berkerumun agar memberinya jalan. Beberapa mendelik sebal beberapa juga ingin melempar Ima sejauh mungkin.
"Fanyyyyyyyyyyyyyy!!!!!!" tanpa bisa di kontrol lagi suara toa Ima membahana. Yang bukannya membuat Fany terharu malah rasanya ingin kabur.
Tiba-tiba sebuah tangan membekap mulut Ima dari belakang.
"Hushhhhh! berisik" ucap Rinhy dengan gaya sebalnya. Tapi berubah seratus delapan puluh derajad begitu melihat Fany yang berdiri dihadapannya.
"Uwuwuww Fany kok kurusan?" tanya Rinhy yang langsung berlari ke pelukan temamnya itu. Begitu pula Ima.
Mereka melepaskan rindu satu sama lain.
"Pelukan kek gitu rasanya kek lihat teletubies!" celetuk ketua kelas yang membuat suasana jadi berubah. Ima melepaskan pelukannya lalu menatap ketua kelas dengan tatapan membunuhnya.
Glep
Menit berikutnya ketua kelas telah berlari lari minta di lepaskan.
Mereka lalu masuk. Tapi saat berada di depan pintu Fany melihat sosok yang tak asing berdiri di sana. Mata tajamnya menatap Fany dalam entah apa maksudnya.
Tingginya,membuat Fany harus mendongak untuk melihatnya.
Deg
Entah mengapa jantungnya masih tak normal setiap kali masuk ke dalam mata kelam itu.
Jujur entah sampai kapan Fany harus terperangkap pada rasa ini. Walaupun Fany tahu mungkin ini salah. Tapi dia amat rindu padanya.
"Morning my clown boy" sapa Fany lalu tersenyum misterius. Yang entah kenapa membuat cowok yang berdiri itu tertegun.
Tbc
__ADS_1