
"The real badboy itu apakah penguasanya sekolah? Hingga guru gak bisa walaupun sekadar menegur"
*
**
Singapura
Aly berada di Asrama sekolah tempatnya menjalani transfer student. Selama tiga bulan. Dari tadi dia merasa sakit kepala,bahkan rahangnya pun sangat perih walaupun gak ada luka apapun.
Hari ini dia memutuskan izin tidak masuk belajar,karena rasa sakit yang tiba-tiba ini. Aly mulai merasa,tak enak. Tarakhir kali dia merasa sesakit ini 10 tahun yang lalu. Ketika Fany di siksa seseorang.
Waktu insiden basket sebenarnya,ia juga merasa sedikit pusing tapi,masih bisa di tahan. Dan ini bahkan membuatnya sulit bernafas. Aly mengganti posisi berbaringnya menjadi menyamping.
Mungkinkah Fany mendapat masalah? Dia memutuskan menelpon adiknya yang cerewet itu. Walaupun susah payah ia bangun.
Terdengar nada terputus di Hpnya lalu beberapa saat kemudian operator menyatakan telepon tersebut tak aktif. Perasaan cowok itu menjadi berkecamuk,hal negatif telah muncul di pikirannya.
Sambil menahan sesak,Aly berfikir siapa yang hendak dia telepon.
Tiba-tiba Adly teringat seorang temannya yang gak mungkin di bantah satu sekolah. Salah satu anggota geng nya yang di takuti,termasuk dari sekolah lain.
Aly bernafas lega.....
Via telepon
"Halo! Napa lo mau ganggu tidur siang putra mahkota ini" suara di sana terdengar menahan kantuk.
"Gak. ...gue cuma ngerasa sakit bro" suara Aly serak menahan ringisan.
"Siapa yang gangguin lo di sana?"
"Gak ada! Tp gue kira semua ini ada hubungannya sama adek gue". Otak Aly yang selalu berfikir cepat memudahkannya menarik kesimpulan.
" Apa hubungannya dengan gue?"
"Gue mohon,bro bantuin gue. Gue sama dia kaya udah terhubung dari kecil. Dan gue ngerasa hal sakit yang sama saat dia terluka" Aly memohon,sambil terus memegang dadanya yang semakin bergemuruh.
"Ck...."
"Gue akan bayar apapun yang lo minta"
"Oke! Gue memang melihat sesuatu yang menarik dari sini".
Aly tahu tempat yang di maksud orang itu adalah rooftop.
" maksud lo?".
"Sepertinya,dia adik yang lo maksud"
Aly masih hendak bertanya apa yang terjadi tapi,telepon di matikan secara sepihak oleh 'sang putra mahkota' itu.
Telepon end
***
Aly hanya bisa berharap,agar cowok itu segera melakukan apa yang ia minta sebelum keadaan memburuk.
***
Jakarta,belakang Adyatama High School
11.38 PM
Malaikat tanpa sayap terlihat di hadapannya,yang membuat Fany benar-benar yakin jika ia sudah meninggal.
Samar Fany bisa melihat tato di lengan kirinya,netranya berwarna abu-abu, Benarkah ada malaikat yang memiliki tato? Fany,masih bisa menggigil hingga akhirnya kesadarannya benar-benar hilang dia ambruk tepat dalam pelukan sang malaikat........
__ADS_1
***
Fany membuka mata,saat sebuah cahaya menyinari wajahnya. Seakan mengintip malu-malu dari celah gorden.
Tempat ini terasa asing,dominan warna gelap yang jujur membuatnya sedikit takut.
Fany mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya temaram itu dengan korneanya.
Fany melihat bajunya,yang terlihat kebesaran. Ini bukan baju Fany. Terlihat seperti baju seorang cowok.
Dan tunggu! Bukannya tadi,dia menggunakan kemeja putihnya dengan rok kotak-kotak warna hitam merah garing seragam.
Fany mengamati ruangan yang tidak terlalu besar ini mungkin ukurannya sekitar tiga kali empat meter.
Tapi,bagaimana bisa dia tiba-tiba ada di sini. Bukannya tadi.....
Tap....
Tapp....
Tap..
Terdengar suara langkah kaki mendekat,Fany berlari mendekati pintu satu-satunya yang terdapat di ruangan itu,berusaha membukanya.
Bagaimana jika orang diluar sana itu berniat jahat padanya? Atau bisa jadi ini ulah Tisya,dan di luar sana juga mereka yang mendekat hendak kembali menyiksanya. Apalagi pintu ini sepertinya terkunci dari luar.
Fany menyandar ke pintu hanya itu satu-satunya cara untuk menghalangi orang diluar sana masuk.
Kreek......
Tapi dengan mudahnya pintu terbuka membuat Fany refleks berteriak,yang membuat orang yang membuka pintu itu langsung membekap mulutnya.
"Diam lo," suara serak khas lelaki itu,membuat Fany langsung diam. Matanya yang tadi terpejam ia buka perlahan. Melirik takut-takut ke belakang.
Tepat pada lengannya terdapat tato gambar naga. Fany menghela nafas lega,setidaknya dia mengingat hal itu dari malaikatnya.
Fany mengangguk ragu yang membuat cowok dengan iris abu-abu itu melepaskan bekapannya perlahan.
Fany menghirup nafas sebanyak-banyaknya.
"Lo yang tadi nyelamatin gue?" tanyanya ragu.
Walaupun samar Fany bisa melihat orang di hadapannya mengangguk lalu berjalan ke arah jendela.
"Tapi ini dimana?" Fany bertanya hati-hati walaupun orang ini telah menyelamatkannya. Tapi Fany,tidak boleh percaya begitu saja padanya. Siapa tahu ada niat terselubung. Kan bahaya,menculik misalnya. Dan Fany bahkan memikirkan kemungkinan terburuknya sekalipun.
"Yang jelas ini masih area sekolah"
Fany akhirnya bisa bernafas lega,setidaknya dia tidak berniat menculiknya.
Fany menyadari sesuatu,tepatnya baju
"Dan yang gantiin baju gue siapa?" Fany mulai heboh,jangan sampai cowok itu yang melakukannya.
"Gue yang gantiin" jawab cowok itu santai,lalu menoleh sekilas kemudian kembali menatap jendela.
Mata Fany melotot tak percaya,tak percaya barusan yang di dengarnya.
"WHATTTT??????LO MESUM", mulut Fany komat kamit membaca sumpah serapah. Dia sudah tak bisa membayangkan cowok itu ternyata,sudah omg....Fany gak sanggup.
Namun tak ada respon dari yang bersangkutan. Sedangkan dia sendiri sudah panik plus pusing.
"Bagian mana yang lo liat!Ha!". Ekspresi Fany dia buat segalak mungkin.
Cowok bermata abu-abu itu hanya memutar bola mata malas.
"Elah. Gak usah segitunya juga kali. Gue juga udah telepon guru yang mengajar di kelas lo jadi gak usah khawatir."
__ADS_1
"Santai lo bilang? Ini menyangkut masa depan gue tau gak". Fany menggeleng tak percaya,hal yang ia jaga selama dengan mudahnya cowok itu bilang santai.
Cowok itu menoleh,hingga membuat Fany refleks mundur. Takut atas segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Gue emang brensek. Tapi gue gak akan ngerusak cewek yang istimewa kaya lo". Fany merasa di tembak tepat,yang membuatnya tak bisa berkata apapun.
"Gue nyuruh,tukang kebun" lanjutnya ketika melihat Fany terdiam.
"Tapi tetap aja lo mesuuuummm!' walaupun di dalam sana ia menghela nafas lega.
"Males bicara sama orang yang menderita Hyperaktive". Suara cowok itu lirih tapi Fany mendengarnya dengan jelas.
Apa-apaan tuh!Hiperaktif,emangnya lo gak mirip psikopat.
Batin Fany
" Gue mau pulang!Hei cowok gak punya nama". Fany menekankan kalimat terakhirnya.
Cowok itu lagi-lagi gak merespon yang membuat Fany teringat sosok yang sama datarnya.
Fany mulai mewek,kakinya di hentakkan.
Cowok itu menghela nafas," kenalin Delano Aryan A,lo bisa manggil apapun yang lo suka".
Mata Fany membulat sempurna,dia tak menyangka orang sesempurna itu rela menjulurkan tangan di depannya.
"Cowok mesum boleh?" beo Fany yang membuat Delano menyeringai.
"Itu juga gpp asal lo yang manggil gue gak nolak",mata abu-abu itu berbinar.
Fany menelan saliva kasar,mundur beberapa langkah. Menyesal menjahili cowok yang dengan mudah menguasai alur mainnya.
" Gak-gak,anterin gue pulang sekarang!".
Namun cowok itu seakan-akan gak peduli lalu mengambil sekotak rokok di atas nakas. Kemudian keluar dari ruangan yang kecil itu.
Fany mengekori,ketika ia melihat pemandangan di luar Fany dibuat kagum.
"Jadi ini rooftop" katanya,sambil berdecak kagum.
Namun tidak ketika melihat Delano yang duduk,di tembok sambil menghisap dalam rokoknya,lalu asapnya menyembul di udara.
Refleks Fany mendekat,merebut benda itu lalu menginjaknya.
"Lo ngerokok?" tanyanya gak percaya.
Delano menatapnya sekilas lalu menjawab"iya. Dan itu bukan urusan lo!"
Fany menelan saliva kasar.
"Gue mau ngerokok atau apapun itu gue gak mau lo terlibat. Dan lo bakal selamat,sekali lo ngusik ketenangan gue ,jangan harap lo akan selamat". Delano berkata penuh ancaman.
" dan gue gak pernah kasihan sama mereka",lalu cowok itu tertawa jahat,Fany menatap mata itu,tatapannya sangat tajam,mengintimidasi,atau mungkin mematikan.
Fany mundur selangkah,mengangguk dengan peluh membasahi pelipisnya.
Dia lagi-lagi ketakutan,tangannya memutih sedikit bergetar. Delano melihatnya,cowok itu sedikit menyesal membuatnya maju untuk menenangkan bahu yang juga ikut bergetar itu.
Dia tahu kalau gadis itu memiliki trauma dari masa lalunya,tapi entah setan apa yang merasuki dirinya hingga ia lupa.
Dan Fany tak melawan kala Delano mendekapnya,lembut. Hingga isakan kecilnya terdengar.
"Maaf" suara itu terdengar lirih....
Fany menggeleng....
Semua ini salahnya
__ADS_1
Tbc