
"Bingung harusnya tak datang kala ada sebuah pilihan sulit"
***
Mereka lalu kembali berjalan keluar. Sarah menggandeng lengan ibunya dengan sangat hati-hati. Saat sampai di bagian depan rumah sakit. Gadis itu membeku begitu dia mendengar suara seseorang.
"Sarah!".
Gadis itu menoleh ketika mengetahui suara itu sedikit familiar. Dan benar saja disana Fany sudah berada bersama ayahnya dengan raut bingung.
Tapi tanpa membalas sapaan Fany,Sarah kembali berjalan bersama ibunya keluar dari rumah sakit. Farhan yang melihatnya mengangkat bahu karena merasa tak asing dengan mereka. Tapi dia lupa dimana pernah bertemu sebelumnya.
"Sarah kenapa?" batin Fany yang merasa tak enak. Dia yakin gadis yang tadi di sapa Fany adalah adalah Sarah. Teman sebangkunya,tapi kenapa kelakuannya menjadi aneh. Dan tak seperti biasanya. Apakah karena mereka bertemu di tempat seperti ini.
Fany sama sekali tak tahu jawabanmya. Dan tak ada waktu untuk berfikir karena ayahnya sudah kembali mendorong kursi roda miliknya.
***
Sebuah kaki yang tak terlalu panjang melangkah melewati lorong-lorong rumah sakit. Di pelukannya terdapat kotak besar yang hampir setinggi dirinya.
Netra matanya warna abu-abu gelap. Tapi tak mengurangi kecerahan serta ketampanan wakahnya karena senyuman terus-terusan menghiasi wajahnya.
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggunya. Dimana salah seorang temannya akan dipulangkan. Dan kata mamanya. Temannya itu sudah menjalani terapi yang panjang hingga sekarang. Dan sudah terhitung satu tahun yang lalu sejak kejadiannya terjadi. Dimana om Dika meninggal.
Serta kedua temannya yang ditemukan memgenaskan. Dan yang satunya menghilang tanpa jejak. Anak itu sekarang berusia sembilan tahun. Tapi tetap saja rasanya ia merindukan masa-masa yang terlewati. Entah apa penyebaabnya.
Tapi kali ini dia sangat senang. Akhirnya,hadiah itu bisa sampai kepadanya. Serta disaku celananya juga terdapat hadiahnya sendiri untuk orang itu.
Anak itu berbelok ke lorong-lorong rumah sakit. Tanpa firasat. Hanya sebuah senandung kecil yang mengirinya.
Hingga semakin dekat ke kamar yang ditujunya. Suara-suara bisikan tapi lumayan keras mulai terdengar di telinganya. Dan jelas saja anak itu penasaran. Hingga ia memutuskan berhenti lalu bersembunyi di sudut yang tepat ketika ia merasa bisa mendengar semuanya dari tempatnya berada.
__ADS_1
Anak itu melihat orang-orang yang terlibat percakapan serius.
Di sana ada istri om Dika,Om Farhan serta tante Ratih. Mereka terlibat perbincangan yang serius. Juga orang yang membelakanginya yang dia rasa mama serta papanya. Dilihat dari rambut pirang yang perempuan,serta rambut hitam milik papanya.
"Selamat ya Rat,Far! Anakmu sudah kembali". Jelas sekali mereka merasa bahagia. Apalagi papanya tersenyum dengan sangat lebar. Walaupun biasanya orang itu sangat jarang tersenyum.
"Terima kasih. Ini juga berkat dari usaha kalian. Dan tentunya. Hari ini akan menjadi hari bersejarah bagi kita". Jawab om Farhan tak kalah senangnya.
"Tapi kata Fey,ingatan mereka tentang kejadian itu serta memorinya sebelumnya akan terhapus. Ini semua efek dari terapi yang dilakukannya untuk menghilangkan traumanya". Semua terlihat terdiam,menghela nafas berat dan suasana sunyi menyelimuti mereka.
"Apalagi mereka masih terlalu muda untuk mengalami hal semacam itu. Sungguh anak anak malang,yang harus terdampak akibat dari keserakahan orang-orang itu".
"Apakah itu serius Han?" tanya mamanya.
Om Farhan terlihat berfikir.
Lalu karena tidak bisa menjawab terpaksa tante Ratih yang menjawabnya.
"Andainya kita tak terlambat" istri om Dika terlihat berkaca-kaca. Sudah jelas karena dia kehilangan anggota keluarganya dua orang sekaligus.
Dan hal itu somtak membuat mama Ryan memeluknya. Lalu mereka terlihat terlibat dalam suasana haru yang kental.
Ryan,anak yang tadi berdiri sambil mengamati di balik tembok jelas sudah mengerti sedikit apa yang diperbincangkan kelima orang dewasa di depan sana. Karena setelah hari itu. Dia tak pernah lagi bertemu dengan teman-temannya.
Mereka berpisah. Juga kehilangan kontak. Lalu perlahan mungkin waktu akan membuatnya lupa mungkin juga tidak. Karena dirinya mendengar semuanya. Merekam dengan jelas dalam memorinya. Kotak besar itu dipeluknya dengan erat.
Dia tahu ini milik anak yang berada di dalam sana dari seseorang. Dan karena tak bisa terus-terusan menyimpannya maka anak itu memutuskan memberikannya hari ini.
"Sudah!sudah. Semuanya sudah terjadi dan tak ada yang berubah. Ini adalah takdir untuk kita. Jadi jangan ada yang menyalahkan diri sendiri". Ucapan papa Ryan yang seketika itu membuat semua orang mengangguk membenarkan. Termasuk istri om Dika.
"Yang harus kita pikirkan adalah menyembuhkan anak-anak. Menggibur mereka,dengan menjalani kehidupan yang lebih baik. Agar perkembangan mereka tak terhambat. Hidup mereka tetap harus berlanjut. Bukankah itu adalah yang selalu dipesankan Dika pada kita?" Papa Ryan berkata mantap. Dan hal itu kembali membuat semuanya mengangguk.
__ADS_1
"Jadi kita lakukan saran Fey?" tanya om Farhan pada papa Ryan.
"Harus. Walaupun itu pasti berat. Tapi ini semua demi anak-anak dan masa depan mereka. Dan jika waktunya sudah tepat. Mereka pasti akan kembali dipertemukan dalam kehidupan yang lebih baik. Dan hal itu akan terjadi jika semuanya telah membaik. Dan mereka juga sudah siap".
"Terima kasih. Karena kalian selalu menjadi orang-orang yang saling memdukung". Ucap tante Ratih penuh haru.
"Bukankah ini kemauan dari almarhun Dika".
Karena Ryan sudah malas berdiri maka anak itu berteriak. Hingga terdengar di perkumpulan orang dewasa itu. Dan kelimanya yang tadi sibuk berbicara langsung menoleh padanya. Yang kesusahan membawa kotak hadiah besarnya.
"Wah-wah!/anak tampan mama ternyata sudah datang". Mamanya tersenyum begitu melihatnya berdiri beberapa langkah dari kerumunan itu.
Juga wanita itu mengambil kotak besar yang dipeluknya.
Lalu memberikannya ke tante Ratih.
"Ini katanya. Boneka itu untuk Fany. Dia yang menemukannya tahun lalu. Dan baru sempat dibawanya sekarang". Jelas mamanya pada mereka.
Kening Ryan mengerut begitu mendengar nama yang disebut mamanya tadi. Tapi anak itu tak ambil pusing asalkan semuanya sampai pada pemiliknya.
"Kamu mau melihatnya nak?" tanya Om Farhan pada Ryan.
Tapi tanpa anak itu sadari papanya melihat Farhan dengan pandangan yang hanya bisa dimengerti keduanya.
Dan pada akhirnya Ryan masuk ke dalam kamar. Dan mendapati anak perempan seusianya sedang terbaring tenang di tempat tidur. Seakan tak ada yang pernah terjadi sebelumnya. Lalu setelah itu Ryan pulang. Tanpa sempat memberikan hadiah yang masih tersimpan di saku celananya. Dan hal itu menjadi hal yang paling di sesalinya. Karena hari itu menjadi hari terakhirnya bertemu dengan anak perempuan berambut coklat itu. Juga dengan temannya Ian. Mereka lalu hidup saling terpisah satu sama lain dengan takdir yang sengaja tak bersinggungan. Tak ada yang tahu kabar satu sama lain. Mereka tumbuh dilingkungan baru. Tapi siapa yang tahu hadiah itu adalah hal yang berusaha di ingatnya untuk siapa diberikan. Bahkan dia lupa setelah sepuluh tahun.
Karena mereka dikendalikan oleh waktu. Juga waktu pula yang akan mengembalikan mereka seperti kata papanya saat itu.
***
Jam berdentang di kamar bernuansa abu-abu itu. Kotak kecil tua warna merah yang mulai pudar terlihat di atas nakas. Entah sejak kapan dia menyimpannya. Tapi dia yakin benda itu berharga untuknya dimasa lalu. Kalau tidak mengapa ia menyimpannya selama itu?
__ADS_1
Tbc