My Clown Boy

My Clown Boy
12


__ADS_3

"Ketika ada seseorang yang suka ganggu ,anggap aja itu caranya merhatiin. Karena semakin sering dia ganggu,semakin pikirannya terpusat padamu"


(My clown boy)


***


Mereka saling menabrak.


Membuat Fany maupun orang itu terpekik kesakitan.....


"Maaf.....maaf gue gak sengaja" Fany berusaha,membantu orang yang bertag nama Tisya itu.


"Udah gak usah sok baik lo! cewek gatel"


Cewek yang berlipstik warna merah terang itu menolak dibantu oleh Fany. Kalau di lihat oleh guru bk pasti sudah di hapus olehnya.


Tisya memandang Fany dengan tatapan menilai. Dari atas hingga bawah yang membuat cewek itu sedikit kikuk.


"Jadi ini yang bernama S.T.E.V.A.N.H.Y R.H.I.Z.K.Y murid baru yang berhasil membuat Aly bertekuk lutut sekaligus nembak Adly,di saat yang bersamaan". Cewek dengan bando berwarna pink cerah,yang tadi hanya tersenyum sinis sekarang angkat bicara. Nathalie namanya,salah satu dari sekian banyak orang yang mengidolakan Aly.


" Menjijikan!" desis Fanya,yang juga salah satu dari ketiganya sambil mendorong kasar Fany,hingga tersungkur beberapa langkah ke belakang.


Fany langsung gak terima,dia bahkan gak kenal dengan ketiga orang di hadapannya tapi dengan entengnya mereka mengatakan hal yang tidak sesuai dengan kenyataan.


"Lo bilang apa? Cewek gatel,punya mulut di jaga ya! Kenal juga kagak,lo seenaknya aja langsung nuduh". Siapa coba yang gak marah dihina sama orang yang gak dikenal.


" Lo kayaknya butuh cermin",suara Fany sedikit lirih.


"Mau ngelawan lo?" Tisya tiba-tiba berang tersulut emosi.


"Maaf gue gak mau ribut,sama kalian!" Fany berniat segera pergi melihat mereka bertiga yang sepertinya memang tak suka padanya.


Namun dia dihalangi oleh kedua teman Tisya.


"Mau kemana?" tanya Fanya galak.


"Lepasin gue!" pinta Fany,yang semaksimal mungkin agar tidak memicu pertengkaran yang serius. Fany juga berusaha melepaskan cengkraman tangan dari keduanya.


Namun,Fany tak bisa berkutik ketika ia diseret ke belakang sekolah,tempat yang lebih sepi saat jam pelajaran seperti ini.


"Apa maksud lo dekatin Adly?" sarkas Tisya sambil memainkan anak rambut Fany.

__ADS_1


"Apaan sih lo! Emang urusan gue segitu pentingnya buat lo." jawab Fany ketus. Sambil berusaha menghempaskan tangan Tisya.


Nathalie dan Fanya masih terus menahan cewek berambut coklat itu. Sehingga mambuat Fany tidak bisa banyak gerak.


"Diam" bentak Nathalie.


Sedang Tisya,yang tadi memainkan anak rambut Fany sekarang menarik kasar rambut itu hingga menjadi jambakan.


Fany meringis kesakitan,sekelebat peristiwa masa lalu berputar difikirannya.


"Om Dika,tolongin Steffy"


Mulut gadis kecil yang disekap,orang dewasa yang tidak diketahui oleh Fany menghampiri gadis kecil itu.


"Om Dika,akan menyelamatkanmu nona kecil".


Wajah orang itu dipenuhi luka bekas cambukan,tapi setelah ini kamu dan Ian harus pulang.


Gadis kecil itu mengangguk,Ian di sebelahnya menangis. Setelah ikatannya terlepas,seseorang melihat mereka. Steffy dan Ian berlari,berharap semua akan berakhir jika mereka meninggalkan tempat ini.


" Doorrrr!" suara itu terdengar menggema.


"Papa........."


"Om. .. Dika"


Mereka berteriak,melihat tubuh itu tumbang begitu saja.


.


***


Tiba-tiba saja kakinya melemah,tubuhnya gemetaran. Perasaan bersalah serta takut menghampiri dirinya. Phobia. Fany memiliki hal itu jika melihat,atau mengalami kekerasan. Untuk itulah,mami atau papinya tak pernah membentaknya. Begitu pula Aly.


Melihat itu Tisya dan teman-temannya tertawa puas. "Cih takut. Hei ******! Lo masih murid baru di sini. Lo harus tahu aturan di sekolah ini". Fanya berkata penuh penekanan.


Walaupun,takut Fany berusaha menatap orang dihadapannya,kalau tidak mereka pasti akan merasa Fany sangat lemah.


..


" Lo mau tahu kesalahan lo apa?". Ujar Tisya sengit.

__ADS_1


Sedangkan kedua temannya memanas-manasi gadis itu.


"Gue gak merasa punya salah sama lo. Kalaupun ada,gue mohon lepasin gue,dan gue anggap hal ini gak pernah terjadi". Mohon Fany dengan suara bergetar.


Lagi ketiga cewek itu hanya tertawa macam psikopat memperlakukan mangsanya.


"kesalahan lo,yang pertama lo sok-sok bisa ngedapatin Adly dan yang kedua ngegoda Aly. Apa lo gak pantes di bilang cewek gatel?" tanya Tisya sarkastik.


Fany tertawa berusaha tidak terlihat takut,"gue yang gatel apa lo?",lirih Fany yang sekarang keadaannya jauh dari kata baik-baik saja. Rambut coklatnya berantakan,tangan dan wajahnya membiru sedikit lebam.


Suasana dibelakang sekolah sangat sepi,yang membuat Tisya CS leluasa menyiksanya.


Tisya tanpa ampun langsung menampar Fany dengan sangat keras,bahkan rahang gadis itu sedikit mengeluarkan darah. Fany merasa pandangannya mulai mengabur,dia pasrah tangannya bergetar hebat, sekujur tubuhnya sedingin es,dia pasrah atas apa yang di lakukan orang yang seakan tak punya hati dihadapannya.


Tamparan,umpatan,makian,atau apapun itu Fany sudah tak peduli,tubuhnya seakan mati rasa. Saat kesadarannya mulai menghilang,Fany merasakan guyuran air dingin di kepalanya yang membuatnya mendongak.


Darah segar mengalir dari mulutnya,dia sudah tak sanggup karena terus-terusan di siksa. Hingga samar dia melihat tangan Tisya yang hendak kembali menamparnya.


Fany memejamkan mata,jika ini akhir hidupnya dia tak peduli. Dia lebih baik mati secara mengenaskan untuk menebus kesalahannya pada Om Dika,Fany ingat walaupun samar gadis kecil itu adalah dirinya.


Dan dia ikhlas,harus menemui Om Dika sekarang,


Tapi....


Fany tak merasakan tamparan itu lagi,apakah sekarang ia sudah mati?


Tapi mengapa secepat ini?


Dan rasa sakitnya pun tak Fany rasakan,cengkraman di tangannya terlepas. Mungkin memang sekarang dia sudah di alam lain.


Saatnya membuka mata.


Dan.....


Malaikat tanpa sayap terlihat di hadapannya,yang membuat Fany benar-benar yakin jika ia sudah meninggal.


Tbc...


Comment !


Next 13 september 2019

__ADS_1


__ADS_2