
Berpikir positif adalah kunci yang tak akan membuatmu hancur
***
Keadaan di club semakin ramai tapi tak membuat kedua remaja itu beranjak dari tempatnya. Malah mereka masih terlibat dalam percakapan yang serius. Musik berganti,tapi Delano masih saja asik dengan pikirannya.
"Ummm.."
"Gue harus minta maaf ke dia. Dan gue akan sangat hancur jika Fany gak maafin gue!" Delano terlihat sendu.
"Gue takut kehilangan adek gue!" tambah Ali yang membuat Delano kembali mengerjap, orang-orang mulai banyak yang masuk ke bar. Tapi Delano tak berhenti minum,sedang milkshake milik Ali hampir habis.
"Lo tahu?kalau Fany gak bisa lawan traumanya dia bisa gila Lan" Ali menatap kosong,tapi Delano tahu jika Ali menyalahkan diri sendiri.
"Ini semua karena gue gak bisa jagain dia",
Delano juga merasa bersalah karena selama Ali tak ada harusnya dia yang menjaga Fany. Dan dia gagal.
"Fany udah berbeda sekarang".
"Gue boleh jenguk?"
"Jangan sekarang dia masih trauma" Delano menghela nafas mendengar jawaban Ali, harusnya ia tahu diri.
"Dia kehilangan keceriaannya" Ali masih asik bercerita,dan tak sadar jika gadis berdandan menor memotret mereka.
"Dan ini karena dia yang datang" Delano tanpa sadar merasa bingung karena ucapan Ali yang ambigu,masa lalu? Siapa itu. Batin Delano.
"Maksudnya?"
"Sudah. Lupain aja!"
"Dan lo gak mau cerita masalah lo ke gue?" ujar Ali yang kembali membuat Delano termangu, terdiam beberapa saat lalu menghela nafas. Sebaiknya ia cerita dari pada hal itu terus mengganggunya.
"Gue....." ucapannya terputus ketika suara dering telepon Ali terdengar.
"Sorry,gue angkat dulu!" Ali merasa tak enakn tapi di tanggapi santai oleh Delano. Dan melihat nama yang tertera di layar,Ali segera keluar. Bisa bahaya jika ibunya tahu sekarang ia berada di club.
"Halo mi" sapanya langsung ketika berada di parkiran,yang lumayan sepi. Karena tak banyak orang.
"...."
"Ali lagi bareng Delano"
"..."
"Mami kenapa nangis?"
"...."
Mata Ali membulat,mendengar kabar yang baru saja di sampaikan oleh ibunya.
"Jadi kalian di mana?"
"...."
Sambungan terputus,kali ini dia menatap kosong.
"Lo kenapa bro?" suara Delano membuyarkan lamunannya.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang!", Dan tanpa aba-aba lagi mereka segera masuk ke mobil.
Delano tak banyak tanya walaupun ia merasa sangat penasaran. Mobil itu melaju di tengah kesunyian malam.
***
"Hai steffy hari ini ulang tahunmu kan,aku punya kejutan untuk kamu", Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu mencekal lengan seorang gadis kecil yang sebaya dengannya. Ketika gadis itu hendak membeli es cream di luar pagar.
Mata gadis kecil itu berbinar demi mendengarnya.
"Wah. Steffy mau"
Sebuah senyuman kecil terbit dari bibir Ian. Lalu menarik tangan Steffy untuk mengikutinya.
Mereka tiba di taman belakang rumah besar bercat coklat itu dan kemudian Ian mengeluarkan kotak besar. Yang hampir setinggi dirinya,membuat Steffy tak sabar membukanya.
"Eh...apa Om Dika tadi bareng papaku?" Steffy bertanya pada Ian. Dan di jawab anggukan oleh gadis kecil itu.
"Nanti malam kamu datang ke rumahku ya! Mama sama papa mau ngerayain ulang tahunku yang ketujuh bareng kakak", Pipi chubby itu terlihat menggemaskan ketika berbicara. Dan tanpa sadar Ian memajukan dirinya,lalu mengecup pipi Steffy.
__ADS_1
Cup...
Gadis itu mengerjap pelan,lalu menoleh ke arah Ian yang tersenyum tanpa dosa.
"Kata bunda,adek yang manis pipinya di cium" jelasnya yang membuat gadis kecil itu tersenyum.
"Kalau besar nanti aku mau nikah sama Ian. Nanti aku minta ke mami" ucapnya polos. Padahal dia tak mengerti apa itu menikah,hanya beberapa kali mendengarnya dari mamanya. Kalau pernikahan,bisa membawa kebahagiaan.
"Kalau aku gak mau sama Steffy gimana?"
Steffy berfikir sejenak sambil membuka kotak besar warna merah itu.
"Aku sama Ryan aja" ucapnya kalem,yang membuat bibir Ian mengerucut.
"Aku buka disini sekarang atau nanti?" tanya Steffy memecah keheningan yang tercipta.
"Nanti aja di rumah kamu" ucap anak laki-laki itu kalem.
Dan hanya diangguki oleh Steffy.
"Rasanya Steffy tak sabar membuka hadiah ini" senyum kecil terbit dari bibirnya yang membuat Ian kembali merasa gemas. Dan kali ini anak itu mencubit pipi chubby Steffy. Dan membuat gadis kecil itu meringis hingga matanya melotot.
"Iaaannnn..." Steffy berteriak ketika Ian berlari meninggalkannya setelah dengan seenaknya anak itu mencubitnya.
Steffy yang merasa tak terima pun ikut mengejar. Harus membalasnya. Suasana sore hari itu cerah hingga mereka tak sadar beberapa meter dari sana ada yang mengawasi. Sambil menelpon seseorang.
Seorang anak laki-laki lewat,netra abunya membelalak melihat orang dengan gelagat aneh itu. Orang aneh itu menyeringai melihat anak itu lewat.
"Nak kau kenal mereka?" suara sedalam sumur itu membuat bulu kuduk merinding,hingga mau tak mau anak itu mengangguk ragu.
Orang itu tertawa sejenak.
"Kebetulan yang menyenangkan. Kurasa permainan ini akan dimulai", Orang itu terus menatap ke dalam rumah besar tempat Steffy dan Ian bermain.
"Kau hanya perlu melihatnya nak. Maka kau akan selamat. Tak perlu terlibat terlalu jauh". Orang itu terus berkata,tapi tak di mengerti oleh anak laki-laki itu.
"Aku pergi dulu..." ucapnya ragu yang di balas kekehan oleh oleh orang itu.
Anak itu kemudian berjalan menjauh,sesekali menoleh ke belakang tapi ia tetap tak mengerti. Hingga sebuah ide terbesit di kepalanya ketika melihat semak-semak.
"Steffy...Ian jangan main terlalu jauh nak!" teriak wanita muda dari dalam rumah.
"Ian..... Jahat" kesal Steffy karena masih belum berhasil menangkap Ian.
Ian menoleh sesaat lalu menjulurkan lidahnya.
"Wleeeee"
Lalu kembali berlari,kaki kecilnya menapak ke aspal yang panas. Awalnya ia berhenti teringat perkataan ibunya tadi. Tapi melihat Steffy sudah dekat ia memacu larinya.
Bahkan sekarang Steffy masih memeluk kado pemberiannya. Sehingga anak itu sedikit tersenyum kecil.
Saat mereka berhasil keluar,terlihat mobil sedan hitam terparkir tak jauh darinya hingga anak itu memutuskan bersembunyi di sana.
"Mungkin Steffy tak akan menemukanku" pikirnya.
Anak itu lalu berdiri di dekat mobil yang ia yakin tak akan di lihat oleh Steffy. Jantungnya berdegup lebih kencang karena terlalu lelah. Nafasnya ngos-ngosan sedari tadi. Hingga ia memutuskan berjongkok.
Pintu mobil terbuka,sebuah sepatu kulit terlihat oleh matanya. Lalu pelan pelan ia mendongak. Hingga matanya tertuju pada mata rusak itu. Berputar-putar,dan mata hitamnya timbul tenggelam.
Ian bergidik ngeri,karena sebelah matanya yang tak rusak berwarna merah menatapnya tajam. Lalu sebuah seringaian terlihat.
"Hai nak" suaranya sedalam sumur,membuat Ian kembali bergidik.
"Siapa kau?" tanyanya
Orang itu tertawa kian kencang,seakan semua ini hanya lelucon. Suasana di jalanan itu sekarang sepi.
Entah kemana semua pengendara yang sering lewat. Angin berhembus,menerbangkan anak rambut Ian yang hitam.
"Aku....orang yang akan membuatmu kesakitan. Hingga memohon kehidupan singkatmu padaku" orang itu kembali terkekeh melihat kerutan di wajah Ian.
"Aku....orang yang akan membuat ayahmu ikut memohon. Hingga air matanya berubah menjadi darah sama seperti yang dia lakukan padaku". Ian mulai takut,melihat mata itu melotot menyeramkan padanya.
"Aku sungguh tak tahu" ucapnya mencoba memohon.
"Aku hanya ingin melihat ayahmu hancur. Sama seperti yang dilakukannya pada istri dan anakku".
Orang itu lalu mengangkat Ian seperti karung beras masuk ke bagasi mobil. Ian mencoba melawan tapi mulutnya di bekap,dan tenanganya tak sebanding. Karena di dalam mobil ternyata masih ada dua orang berbadan besar.
__ADS_1
Ian menggigit tangan orang itu,tapi anehnya tak memberikan efek yang berarti pada tangan besar itu. Hanya seringaian yang kian lebar yang ia dapat.
"Kau ternyata bandel nak" Ian menggeram mendengarnya,lalu menit berikutnya ia dihempaskan kedalam mobil. Dan punggungnya tepat mengenai besi.
Membuat Ian meringis kesakitan,kepalanya juga terbentur ke sandaran jok.
Untuk sesaat anak itu tak bisa bergerak,hanya berteriak sambil berusaha untuk duduk.
Orang itu kemudian mengusap sudut bibirnya berniat menutupnya tapi urung ketika melihat mata Ian terus-terusan menatap ke belakangnya.
Menyadari ada seseorang di sana. Orang itu meninggalkan bagian bagasi. Langkahnya penuh perhitungan.
Steffy berusaha mencari Ian tapi tak menemukannya. Sudah sepuluh menit yang lalu anak itu bersembunyi darinya.
Steffy kemudian berjalan mendekat ke arah mobil sedan,ketika sayup-sayup dia mendengar bentakan. Gadis kecil itu mengeratkan pelukannya pada kotak besar miliknya yang ia belum tahu isinya.
Steffy membeku ketika melihat Ian yang di gendong lalu di hempaskan ke dalam mobil. Tulang tulangnya rasanya ikut nyeri mendengar decitan yang ditimbulkan.
Steffy tak dapat melihat dengan jelas orang yang menghempaskan Ian,karena hanya dari belakang. Tapi,ia jelas tahu orang itu menyeramkan dari suaranya. Bahkan dalam jarak dua meter berhasil membuatnya ketakutan.
Tapi tanpa berfikir panjang gadis itu berlari,berniat mengeluarkan Ian dari sana. Ketika orang itu meninggalkan bagasi menuju ke jok kumudi.
Ian yang melihatnya menggeleng,tapi gadis itu tak peduli.
Dia berlari secepat mungkin.
Jantungnya berdebar seiring pelukannya pada kotak yang kian mengerat.
Ian merengsek maju,berniat menggapai tangan kecil itu ketika Steffy sudah berada tepat di hadapannya.
"Ian...." lirihnya,karena terlalu lelah.
Tapi rasa takutnya lebih dominan hingga ia tak peduli.
Rambut coklatnya berayun ketika gadis itu berdiri,dengan nafas yang tak teratur.
"Ayo...kita kabur!" pintanya dengan suara serak.
Bajunya basah oleh keringat,tapi mereka sama-sama tahu bahwa mereka dalam bahaya.
"Lari!" ujar Ian tak kalah pelan.
"Pergi dari sini"
Steffy menggeleng,"kita harus pergi bersama. Nanti bunda kamu bisa marah!"
Ian menggeleng,saat melihat orang itu kembali datang. Suara tawanya menggema,hingga Steffy menoleh.
Steffy kali ini juga ikut di hempaskan ke dalam mobil dengan keras. Kotaknya yang tadi ia peluk perlahan terjatuh,mengenai aspal panas.
Setelah itu,orang berjaket kulit coklat itu segera menutup bagasi mobil. Menyisakan Ian dan Steffy yang meringkuk. Ketakutan, karena menit berikutnya Steffy sudah tak tahu apa-apa. Yang ia ingat hanyalah ketika terbangun gadis itu berada di sebuah gedung tua dengan suara-suara menyeramkan.
Melihat mobil itu melaju,anak bernetra abu itu keluar dari semak tempatnya bersembunyi. Kotak besar itu tergeletak di jalanan yang legang. Dia syok,dengan yang barusan di lihatnya.
Anak itu kemudian mendekati kotak di jalanan yang semakin legang. Tutup kotak sedikit terbuka hingga ia bisa melihat benda di dalamnya. Sebuah boneka panda besar dengan warna hitam putih.
***
"Gimana keadaannya dok?" tanya Ratih begitu melihat laki-laki berjas putih keluar dari ruangan bertuliskan UGD.
Dokter itu tersenyum pelan,"Keadannya baik-baik saja kok! Hanya saja saya memberinya beberapa jahitan kecil karena anak anda mengiris syaraf yang rentan mengeluarkan darah".
Ratih bernafas lega.
"Setidaknya anda membawanya ke sini tepat waktu"
"Terima kasih dok!" ucap Ratih penuh syukur yang diangguki sang dokter.
"Sepertinya,anak anda juga mengalami trauma bu!" Dokter berkata dengan nada prihatin,lalu menepuk pelan pundak Ratih kemudian meninggalkannya sendiri.
Ratih lalu masuk,ia menatap putrinya yang tertidur dengan tenang. Ada rasa penyesalan yang terbesit di hatinya melihat wajah itu.
Dia tahu mungkin besok Fany harus kembali ke tempat itu lagi sebelum sadar. Tapi Ratih berusaha menguatkan diri dengan tersenyum,walaupun sedikit di paksakan.
Ratih tahu,Fany kuat menghadapinya.
Setidaknya untuk bertahan.
Tbc
__ADS_1