
Jika memang banyak wanita yang bersedia menikahi anda, mengapa anda belum menikah? padahal sudah lima tahun lamanya anda menduda." ucap Santika Diandra.
"Aku sangat mencintai istriku. Tidak ada yang dapat menggantikan posisinya di hatiku. kamu pikir mudah melupakan seseorang yang sangat kita cintai? ucap Arya Wiguna kepada Santika Diandra.
Santika Diandra terdiam. "Beruntung sekali almarhumah istri Mu memiliki suami setia seperti kamu. Sementara aku setiap menjalin hubungan dengan lelaki tidak pernah ada yang tulus mencintaiku. Bahkan selalu kandas di tengah jalan, tidak lebih dari dua bulan." gumamnya dalam hati sambil memperhatikan Arya Wiguna dengan seksama.
"To the point saja, Sebenarnya saya bukan tidak bersedia datang menemui Khanza di sana. Tetapi sepertinya kanza Aulia tidak perlu mencari Saya lagi. Karena saya tidak ingin memberikan pengharapan palsu kepadanya. Yang mengharapkan saya menjadi maminya. Lagian dalam jangka waktu dekat Mungkin saya akan pergi untuk mengelola bisnis keluargaku yang ada di luar kota.
Sepertinya luar kota merupakan tempat yang tepat bagiku, Untuk melupakan segala apa yang aku alami di kota ini. Memang seperti yang anda katakan sebelumnya, sulit bagi kita melupakan seseorang yang kita cintai. Sama halnya Seperti yang saya alami.
Tetapi berbeda dengan anda. Kalian berpisah karena maut yang memisahkan. Sementara nasib percintaan saya kandas di tengah jalan karena penghianatan yang dilakukan oleh mantan kekasih saya." ucap Santika Diandra kepada Arya Wiguna.
"Bagaimana mungkin kamu tega meninggalkan Khanza ketika Khanza begitu menyayangimu." ucap Arya Wiguna kepada Santika. "Kamu pikir mudah bagiku meninggalkan gadis kecil yang begitu menyayangiku seperti Khanza?
"Tentu tidak!" tetapi itu harus saya lakukan, karena saya tidak ingin membohongi gadis kecil yang polos itu. Santika tidak ingin memberikan harapan palsu kepadanya." sahut Santika sembari membayangkan wajah gadis kecil yang mencuri perhatiannya akhir-akhir ini.
"Bolehkah sebelum kamu pergi keluar kota bertemu dengan putriku terlebih dahulu?" mohon Arya Wiguna karena sebelum dirinya datang menghampiri Santika ke rumah utama keluarga Mahendra, Arya Wiguna sudah berjanji kepada Khanza kalau dirinya akan membawa Santika Diandra menemui Khanza.
Santika menghela nafas berat. Sepertinya ia memikirkan sesuatu. Ia tidak ingin membuat anak kecil itu kecewa terhadapnya.
Hening ....
Tak ada seorang yang mengeluarkan sepatah kata pun.
Tiba-tiba Zahra muncul menghampiri keduanya, ia terlihat dia terpaku di ruang tamu. "Loh ada tamu?" ucap Zahra sembari memperhatikan sosok laki-laki yang ada di hadapan Santika. Samar-samar Zahra mengenali lelaki itu, tetapi Zahra tidak bisa mengingat di mana ia pernah bertemu dengan Arya Wiguna.
__ADS_1
"San.....,lo kok tidak bangunin gue sih? ini sudah jam berapa ya?" sepertinya gue telat nih pasti nyokap sama bokap nanti mengomel ngak ikut bantuin mereka jaga toko." ucap Zahra.
Santika melirik jarum jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Ya Allah Ini baru jam berapa? masih pukul 09.30, toko kalian saja bukanya jam 10.00. Itu berarti kamu masih memiliki waktu 30 menit lagi. lebih baik kamu langsung bergegas pergi daripada kamu kena omel sama om dan tante. Kasihan mereka menjaga toko. Bukan mudah bagi mereka membuka toko tanpa bantuan kamu. Pasti mereka kerepotan."
ucap Santika Diandra kepada sahabatnya Zahra.
Kebetulan orang tua Zahra memiliki toko tas dan sepatu yang ada di salah satu mall ternama di kota ini. Zahra langsung berpamitan kepada Santika, tanpa ada niatan meminta bantuan dari Santika untuk menghantarkan dirinya.
Karena sebelumnya Zahra sudah memesan taksi online melalui aplikasi yang ada di layar ponsel. "Aku pamit dulu.Nanti aku hubungi kamu jika aku sudah pulang." ucap Zahra sambil melambaikan tangannya ke arah sahabatnya.
Arya Wiguna memperhatikan interaksi antara Santika dan Zahra yang begitu dekat. "Dia itu siapa kamu?" Tanya Arya Wiguna penuh dengan selidik.
"Dia sahabatku, sejak duduk di bangku SD. kedua orang tuanya memiliki toko tas sepatu yang ada di mall, yang lokasinya tidak jauh dari sini." ucap Santika kepada Arya Wiguna.
Ia melihat nomor ponsel Nyonya Rosalinda yang menghubungi dirinya.
Kring....
kring.....
kring.. .
Suara Deringan ponsel itu menjerit-jerit dari saku celana Arya Wiguna.
__ADS_1
"Sepertinya ponsel Anda berdering. Lebih baik anda angkat dulu, siapa tahu penting." ujar Santika.
Arya Wiguna meraih ponsel yang ada di saku celananya. Ia melihat di layar ponselnya kalau nyonya Rosalinda yang menghubungi dirinya. Arya menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung dengan Nyonya Rosalinda.
"Hallo Assalamualaikum ma!" sapa Arya Wiguna di dalam sambungan telepon selulernya. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." sahut Nyonya Rosalinda dari ujung telepon.
"Ada apa mom sampai mom menghubungiku? si Khanza sangat rewel sekali. Dia ingin bertemu dengan Santika. Apa kamu sudah berhasil menemukan alamat rumah Santika?" tanya Nyonya Rosalinda penuh dengan selidik.
"Mom Tenang saja. Sekarang Arya berada di rumah kedua orang tua Santika, dan saat ini Santika berada di sini. Mom tenang saja, kami sebentar lagi akan sampai di sana." ujar Arya Wiguna kepada Nyonya Rosalinda berharap kalau Khanza akan menghentikan tangisnya jika Nyonya Rosalinda memberitahu kepada Khanza Kalau hari itu Santika akan datang menemui dirinya.
Saat itu juga Arya Wiguna memohon kepada Santika agar bersedia mengikuti dirinya menemui Khanza Aulia yang sudah sangat merindukannya. Mengingat sosok wajah polos Khanza membuat Santika merasa tidak tega menolak permohonan ayah anak itu, yang menginginkan dirinya menemui Khanza.
Akhirnya Santika pun setuju untuk menemui Khanza saat itu juga.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 35 menit, mereka tiba di rumah keluarga Wiguna. terlihat Khanza langsung berlari menghampiri Santika ketika ia melihat Santika keluar dari mobil milik ayahnya. "Mom Khanza sangat merindukan Mami." ucap Khanza sambil langsung memeluk Santika.
Santika berjongkok lalu meraih tubuh mungil gadis kecil itu ke pelukannya.
"Mami juga sangat merindukan kamu sayang." sahutnya sambil langsung memberikan kecupan hangat di wajah tembem Khanza yang begitu menggemaskan menurut Santika.
Ketika Santika Diandra sudah tiba di rumah dan saatnya Santika Diandra bersama Khanza sedang bercanda gurau. Terlihat Khanza begitu bahagia saat bersama Santika.
Arya Wiguna menikmati pemandangan indah itu. "Ya Allah tertawa putriku lepas ketika bersama Santika bagaimana ini? jika Khanza mengetahui Santika akan pergi keluar kota untuk mengelola perusahaan keluarga mereka? apa yang harus aku lakukan sekarang? Arya Wiguna bermonolog sendiri sambil memperhatikan interaksi Santika dengan Khanza yang begitu terlihat akrab dan dekat.
bersambung....
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓💓
JANGAN LUPA, TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏