MY HOT DUDA Kesayangan

MY HOT DUDA Kesayangan
BAB 22. BERCANDA


__ADS_3

Di tempat lain Zahra mencari keberadaan Santika saat ini. Dengan menggunakan ojek online yang sudah ia pesan sebelumnya, ia langsung menuju rumah utama keluarga Mahendra. Beberapa menit melakukan perjalanan dari rumah keluarganya, Zahra tiba di rumah utama keluarga Mahendra.


Petugas keamanan yang sudah mengenal Zahra pun langsung membuka pintu gerbang. "Maaf Nona Zahra, mau cari non Santika ya?" tanya petugas keamanan itu kepada Zahra. "Tentu iya dong, tidak mungkin juga saya mencari kamu. Dimana sahabatku Santika? tanyanya penuh dengan selidik.


Terlihat petugas keamanan itu pun berpikir sejenak. Karena mulai malam itu, petugas keamanan tidak ada melihat mobil Santika masuk ke areal rumah utama dan mobil Lamborghini yang biasa digunakan Santika bepergian ke mana-mana,tidak ada terparkir di parkiran mobil.


"Sepertinya non santika tadi malam tidak pulang ke rumah." ucap petugas keamanan itu membuat Zahra terhenyak. "Jika Santika tidak pulang ke rumah, Terus dia pergi ke mana semalam? kan kami sama pergi ke klub malam. Dan aku ditinggal di club Tetapi semua administrasi sudah ia bereskan semua." gumamnya dalam hati.


Tiba-tiba Alexander datang menghampiri Zahra.


"Zahra! pekik Alexander yang melihat kehadiran Zahra di sana.


"Eh kak Alexander yang tampan." sahutnya sambil nyengir.


"Kamu mau nyari Santika ya? sayangnya Santika tidak ada di rumah. Dari semalam dia belum pulang. Katanya ada sesuatu yang harus ia kerjakan saat ini.


"Mencari kakak juga tidak apa-apa. He....he...he." ucap Zara Sambil tertawa cengengesan.


"Mencariku?


"Serius?


Zahra hanya nyengir ia tidak ingin kalau Alexander mengetahui kalau Zahra sudah lama memendam rasa kepada Alexander. "Bercanda Kak jangan dibawa ke hati.


"Serius juga tidak apa-apa Zahra ku sayang." sahut Alexander Sambil tertawa cengengesan


"Kak, jangan panggil aku sayang dong, nanti Zahra besar kepala dan salah mengartikan.


"Salah mengartikan bagaimana maksudmu?


"Entahlah Siapa tahu Zahra jadi baper nanti.


"Baper juga tidak apa-apa, kalau kamu suka kepada kakak no problem, dan kalau kakak juga suka sama kamu kan tidak ada masalah. asalkan jangan kekasihmu marah besar kepada kakak."ucap Alexander lelaki berusia 38 tahun itu kepada Zahra.


"Untung Kakak itu kakaknya Santika, kalau tidak entah apa yang sudah Zahra lakukan kepada kakak. Kakak membuat Zahra gemas." ucap Zahra kepada Alexander seolah dirinya menantang Alexander.


"Daripada berdiri di sini sampai darahmu turun, lebih baik kita ngobrol di dalam. Siapa tahu Santika sebentar lagi pulang." ucap Alexander kepada Zahra.

__ADS_1


Terlihat Zahra berpikir sejenak. lalu ia mengikuti Alexander masuk ke rumah utama. Alexander mempersilahkan Zahra duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Sang asisten rumah tangga datang menghampiri keduanya.


"Maaf Tuan.... non Zahra mau minum apa supaya Bibi buatkan." ucap salah satu asisten rumah tangga yang sudah cukup lama menemani Alexander dan Santika di rumah utama keluarga Mahendra.


"Bisa yang segar-segar dong Bi." sahut Zahra sambil mengembangkan senyumnya. "Siap Nona Zahra." sahut sang bibi sambil memberi hormat kepada Zahra ciri khas keduanya. Sang Bibi sering sekali bercanda dengan Zahra jika Zahra berkunjung ke rumah utama keluarga Mahendra.


Karena di rumah utama keluarga Mahendra, Zahra selalu merasa nyaman dan sahabat yang paling dekat dengannya hanyalah Santika. Ia selalu curhat dengan masalah pribadinya kepada Santika. Begitu juga dengan Santika. Walaupun kondisi ekonomi keluarga Zahra berbeda dengan Santika tetapi Santika tidak pernah mempedulikan hal itu.


Keluarga sederhana Zahra begitu baik kepada Santika. Begitu juga dengan keluarga Mahendra. Justru Tuan Mahendra lah yang memberikan modal kepada kedua orang tua Zahra, untuk membuka toko sepatu yang ada di sebuah mall di kota ini. Sebelum Tuan Mahendra menghembuskan nafas terakhir.


Tuan Mahendra begitu baik terhadap setiap orang yang memerlukan bantuannya, termasuk keluarga Zahra saat itu. Hingga kondisi ekonomi keluarga Zahra saat ini sudah semakin membaik dengan usaha toko sepatu dan tas yang mereka kelola selama ini, membuat kondisi ekonomi mereka semakin membaik.


"Silakan Nona Zahra yang cantik dan kece badai."ucap Sang Bibi setelah menyajikan dua gelas jus untuk Alexander dan juga Zahra


"Wah sepertinya segar banget nih .Sudah bisa dicicipin tidak Tuan Alexander yang terhormat?" ucap Zahra kepada Alexander dibalas tatapan tajam dari Alexander.


"Jangan menatapku seperti itu dong Kak. ngeri aku melihatnya."ucap Zahra sambil nyengir.


"Kamu panggil apa tadi kakak! tanya Alexander dengan wajah datar.


"Sebelum kamu memanggil kakak apa?


terlihat jarah seolah berpikir apa yang diucapkan sebelumnya. "Oh Tuan Alexander yang terhormat." sahutnya sambil terkekeh


"Kamu pikir ini kantor?


"Ini di rumah jangan pernah panggil aku dengan sebutan seperti itu.


"lebih baik kamu panggil kakak , sayang, beb atau apalah itu." ucap Alexander dengan nada datar. Hal itu sontak membuat Zahra langsung tertawa ngakak mendengar apa yang dikatakan Alexander kepadanya.


"Apa?


"Sayang? apa Zahra tidak salah dengar Kak? bisa-bisa Zahra kena tabok sama kekasih kakak. Zahra tidak mau jadi pelakor daripada jadi pelakor, lebih baik Zahra jomblo seumur hidup." ucap Zahra kepada Alexander.


"Jadi Kamu jomblo? tanya Alexander penuh selidik


"Sudah tahu nanya. Tidak usah diperjelas kali Kak."sahutnya sambil menatap Alexander dengan Tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Kalau begitu Kakak juga jomblo, kita pacaran aja yuk." ucap Alexander yang dianggap Zahra hanya candaan Alexander saja.


"Kak kalau bercanda itu jangan kelewatan. nanti Zahra Bisa baper dan besar kepala. Jika Kakak mengatakan kita pacaran sekarang, bisa-bisa Zahra tidak bisa tidur Satu malam padahal kakak itu hanya bercanda kan?


"loh memangnya siapa yang bercanda?


"Kakak!"


"Itu kan perasaan kamu saja, kakak tidak bercanda kok. Kakak serius. Jika kamu mau kita langsung menikah." ucap Alexander tanpa ada basa-basi.


"Kak hentikan candaanmu. Tidak lucu!"


"Memangnya siapa yang bercanda? tidak ada yang lucu juga?


Zahra hanya menggelengkan kepalanya dan memilih untuk menyeruput jus buatan sang bibi."Ah ngomong sama kakak tidak pernah ada menangnya. Bercanda melulu tidak pernah serius." ucap Zahra sambil kembali terus menyeruput jus buatan sang Bibi sampai jus itu hampir habis.


Entahlah perasaan Zahra berkecamuk ketika Zahra mendengar apa yang dikatakan Alexander kepadanya. Antara percaya dan tidak yang pasti hanya Alexander yang mengetahui kalau dirinya bercanda atau tidak.


"Bagaimana kalau pernikahan kita bulan depan dilaksanakan? Kamu jomblo dan aku jomblo kita satukan dalam ikatan pernikahan." ucap Alexander yang dianggap Zahra terus bercanda. Membuat Zahra emosi tingkat dewa.


"Kak hentikan candaanmu!" Aku tidak suka bercanda Yang namanya perasaan." ucap Zahra dengan nada tinggi. Alexander langsung meraih tubuh Zahra dan memberikan kecupan hangat di bibir manis Zahra.


Mendapat serangan mendadak dari Alexander, membuat Zahra tidak dapat berbuat apa-apa. Perlahan kecupan itu semakin mendalam. Ketika Zahra sudah mulai menikmati kecupan dari Alexander, tiba-tiba sang bibit datang menghampiri keduanya.


Membuat Zahra sontak mendorong tubuh Alexander.


"Eh maaf non.... Tuan kedatangan saya mengganggu tuan dan Nyonya." ucapnya sambil langsung meninggalkan Alexander dan juga Zahra.


"Zahra pamit Kak!" ucap Zahra sambil beranjak dari tempat duduknya. Karena ia sudah merasa malu melihat Alexander. Tetapi Alexander langsung menahan tubuh Zahra.


"Jangan Pergi!" di sini saja. Kakak masih membutuhkanmu disini. Kakak serius dengan omongan kakak. Cepat atau lambat Kakak akan melamar kamu di depan kedua orang tua kamu." ucap Alexander dengan wajah serius membuat Zahra menatap Alexander dengan tatapan penuh tanya.


Bersambung....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓💓


JANGAN PERNAH LUPA, TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


__ADS_2