
Ketika Santika Diandra sudah tiba di rumah dan saatnya Santika Diandra bersama Khanza sedang bercanda gurau. Terlihat Khanza begitu bahagia saat bersama Santika.
Arya Wiguna menikmati pemandangan indah itu. "Ya Allah tertawa putriku lepas ketika bersama Santika bagaimana ini? jika Khanza mengetahui Santika akan pergi keluar kota untuk mengelola perusahaan keluarga mereka? apa yang harus aku lakukan sekarang? Arya Wiguna bermonolog sendiri sambil memperhatikan interaksi Santika dengan Khanza yang begitu terlihat akrab dan dekat.
Nyonya Rosalinda menghampiri Arya Wiguna.
"Kamu tidak lihat, betapa bahagianya Khansa bersama Santika? tanya Nyonya Rosalinda kepada Arya Wiguna sambil memperhatikan interaksi antara Santika dan juga Khanza. Arya Wiguna menatap Nyonya Rosalinda dengan Tatapan yang sulit diartikan. Ia ingin memberitahu rencana Santika yang ingin pergi ke luar kota mengelola perusahaan milik keluarganya.
Arya Wiguna meminta Nyonya Rosalinda untuk mengikuti dirinya menjauh dari Santika dan juga Khanza karena ia tidak ingin pembicaraan mereka di dengar oleh Khanza. Arya ingin membicarakan hal tentang niat Santika yang ingin pergi ke luar kota.
Nyonya Rosalinda mengikuti putranya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan sama Mami?" tanya Nyonya Rosalinda penasaran.
"Arya tidak tega memisahkan Santika dengan Khanza. Tetapi kita tidak dapat memaksakan kehendak kita terhadap Santika.
Karena sebelum Santika datang ke sini, Santika mengatakan kalau dirinya dalam waktu dekat ia ingin pergi keluar kota untuk mengelola usaha keluarganya. Dan sepertinya Santika di sana membutuhkan waktu yang lama.
Entah apa yang harus Arya katakan kepada Khanza jika Khanza mengetahui Santika akan pergi ke luar kota. Pasti Khanza akan kecewa." ucap Arya Wiguna kepada Nyonya Rosalinda .
"Kalau begitu cegah Santika agar jangan pergi keluar kota. Mami tidak ingin cucuku kecewa sulit bagi Khanza dapat menerima seorang wanita, menggantikan posisi maminya didalam hatinya. Hanya dengan Santika Khanza langsung dekat. dan sepertinya keduanya saling menyayangi." ucap Nyonya Rosalinda kepada Arya Wiguna.
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Santika ingin berpamitan kepada Khanza. Sepertinya Khanza memiliki Firasat kalau Santika tidak akan kembali lagi kerumah utama keluar Wiguna.
"Mami jangan tinggalkan Khanza, Khanza sangat menyayangi mami." rengek Khanza seolah dirinya tidak ingin ditinggalkan oleh Santika Diandra.
Santika menghela nafas panjang. Sejujurnya ia juga tidak tega meninggalkan Khanza yang begitu menginginkan kehadiran selalu.
__ADS_1
Tetapi kali ini, keputusan Santika ingin keluar kota mengelola bisnis keluarganya tidak dapat ditunda lagi.
"Begini sayang, mami ada tugas dari tempat kerja mami. Jadi mami harus pergi dulu. Nanti lain kali mami pasti akan datang lagi, dan kita akan bermain bersama." ucap Santika berusaha untuk meyakinkan Khanza kalau dirinya akan datang bermain bersama gadis kecil yang begitu menggemaskan itu.
Arya Wiguna merasa tidak tega melihat putrinya menangis ditinggalkan oleh Santika.
"Maaf nyonya, Tuan Arya Wiguna. Saya harus segera pulang untuk mempersiapkan keberangkatan saya keluar kota." ucap Santika berpamitan kepada Nyonya Rosalinda dan Arya Wiguna.
"Nak...., apa tidak bisa kamu disini saja? Khanza pasti sedih kamu tinggalkan nak." mohon Nyonya Rosalinda kepada Santika. berharap Santika mengurungkan niatnya pergi keluar kota.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa menunda kepergian saya. Pekerjaan saya menanti disana." ucap Santika kepada nyonya Rosalinda. Nyonya Rosalinda menghela nafas panjang. Ketika mendengar Santika harus segera berangkat ke luar kota.
Nyonya Rosalinda dan Arya Wiguna tidak dapat memaksakan kehendak mereka karena di antara Arya Wiguna dengan Santika tidak ada hubungan apa-apa. Santika bersedia datang ke rumah utama keluarga Wiguna hanya senantiasa karena sangat merindukan sosok gadis kecil yang begitu mencuri perhatiannya.
Santika berlalu dari kediaman keluarga Wiguna. Arya Wiguna menawarkan untuk menghantarkan Santika sampai ke rumah utama Mahendra. Tetapi Santika menolak, dan memilih menaiki taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya. Karena kebetulan Santika hari itu tidak mengendarai mobil Lamborghini kesayangannya datang menemui Khanza.
Sepeninggalan Santika, Khanza menangis sesungguhkan. "Kalau Papi menjadikan mamiku sah menjadi maminya Khanza maka Mami tidak akan pergi lagi meninggalkan Khanza ucap Khanza Aulia kepada Arya Wiguna sambil menangis sesungguhkan.
Karena kali ini Arya Wiguna tidak dapat berbuat apa-apa. Arya Wiguna merupakan pebisnis handal di negara ini, mampu meraih proyek-proyek besar mengalahkan beberapa perusahaan besar di negera ini.
Tetapi untuk kali ini, Arya Wiguna tidak dapat berbuat apa-apa untuk kebahagiaan putrinya. Nyonya Rosalinda menatap tajam Arya Wiguna, karena Arya Wiguna membentak cucu kesayangannya. "Bisa tidak kamu rubah sikap kasar Mu itu? ucap Nyonya Rosalinda kepada Arya Wiguna.
" Bagaimana Arya tidak emosi dari awal Arya sudah menjelaskan kepada Khanza jangan meminta permintaan yang aneh-aneh. Tetapi makin hari Khanza semakin melonjak meminta sesuatu yang tidak bisa aku berikan. Jika Khanza meminta membelikan sesuatu untuknya semahal apapun, pasti akan Arya beli. Semua keinginan Khanza akan Arya penuhi.
"Kalau kamu ingin memenuhi permintaan putrimu, nikahi Santika resmi di mata hukum dan agama. Itu yang membuat putrimu bahagia." ujar Nyonya Rosalinda kepada Arya Wiguna.
" Mami jangan ikut-ikutan seperti Khanza. Arya tidak suka! Memangnya Mami pikir semudah itu melupakan maminya kanza? tidak! karena Arya benar-benar sangat mencintai almarhumah istri Arya." ucap Arya Wiguna berharap Nyonya Rosalinda paham akan perasaannya saat ini.
__ADS_1
"Cobalah untuk membuka hatimu. Mungkin almarhumah maminya Khanza juga akan merasa bahagia jika kehidupan kamu dan Khanza juga bahagia." ujar Nyonya Rosalinda sembari menatap putranya dengan tatapan penuh harap.
Arya Wiguna menggelengkan kepalanya. Ia tidak paham jalan pikiran Nyonya Rosalinda dan Khanza yang menginginkan Santika menjadi Ibu sambung Khanza. "Memangnya Santika mau pergi ke mana? tanya Nyonya Rosalinda penuh dengan selidik. Arya Wiguna menggerdikkan bahunya pertanda dirinya tidak mengetahui Santika akan pergi kemana. yang pasti, Ia hanya mengetahui kalau Santika harus pergi ke luar kota.
Di tempat lain Santika sudah mulai berkemas memasukkan beberapa potong pakaiannya ke dalam koper. Karena ia harus segera berangkat hari itu juga. Suara deringan ponsel Santika terdengar jelas di telinganya.
Ia melihat nomor ponsel Zahra yang menghubunginya.
"Ada apa Zahra?" tanya Santika ketika sambungan telepon selulernya tersambung kepada Zahra.
"Kamu serius ingin pergi ke luar kota? tanya Zahra penuh dengan selidik
"Ya ini aku sudah mau berangkat ke bandara ingin memantau proyek yang ada di luar kota. Sepertinya di sana membutuhkan pengawasan ku." Ucap Santika kepada Zahra.
"Bagaimana dengan aku? Aku pasti sangat merindukanmu sahabatku yang baik , dan kece badai." ucap Zahra kepada Santika.
"Kamu ada-ada saja, Santika pergi untuk memantau proyek yang ada di sana. Santika tidak akan lama kok. Paling sekitar enam bulan." ucap Santika kepada Zahra
"Hah....
"Enam bulan?
"Enam bulan kamu katakan dengan waktu yang singkat!" Yang benar saja dong Santika ngomongnya. Ngapain kamu lama-lama di luar kota? Apa kamu tidak merindukanku nanti? tanya Zahra Sambil tertawa cengengesan dalam sambungan telepon selulernya.
Zaman sekarang mudah. Jika kamu merindukanku, kan bisa melakukan sambungan video call. Itu saja kok ribet." ucap Santika sambil langsung mematikan sambungan telepon seluler dari Zahra. Hal itu membuat Zahra semakin kesal kepada sahabatnya, karna mematikan sambungan telepon seluler tanpa mengakhiri pembicaraan terlebih dahulu.
bersambung....
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏
JANGAN LUPA, TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏