
Suara tangis Khanza terdengar jelas di telinga Arya Wiguna. Ketika dirinya sudah kembali dari kantor. Setiap hari Khanza hanya termenung ingin sekali bertemu dengan Santika. Jiwa semangatnya saat ini hilang begitu saja, ketika Santika sudah pergi meninggalkan dirinya. Hal itu membuat hati Arya Wiguna bagai tersayat belati tajam.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Mom?" tanya Arya Wiguna kepada Nyonya Rosalinda. "Mami juga tidak mengetahui apa yang dapat kita lakukan saat ini. Yang pasti bawa Santika kembali ke rumah ini. Maka kebahagiaan pasti menghampiri Khanza dan kamu. Karena Mami memiliki Firasat kalau Santika itu merupakan gadis yang begitu baik dan perhatian. Dari awal Mami sudah katakan kalau kamu langsung melamar Santika waktu itu, maka Santika tidak akan pergi keluar kota." ucap Nyonya Rosalinda seolah menyalahkan Arya Wiguna kali ini.
Di tempat lain tepatnya di Balikpapan. Terlihat Santika terus memantau perkembangan anak cabang perusahaan Glamour company yang ada di sana. Terlihat proyek itu sudah berjalan dengan lancar setelah Santika memantau perkembangan proyek itu di sana. Tiba-tiba Santika teringat kepada gadis kecil yang mencuri perhatiannya itu.
"Bagaimana kabarmu gadis manis? mudah-mudahan kamu sehat dan baik-baik saja di sana. Aku sangat merindukanmu gadis kecilku." Santika membatin seolah dirinya berbicara sendiri. Ia benar-benar menyayangi Khanza sama seperti menyayangi dirinya sendiri.
Sepanjang hari, Arya Wiguna tidak dapat melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan perusahaan dengan konsentrasi. Karena pikirannya beralih kepada putrinya yang selalu menanyakan keberadaan Santika saat ini.
" Ya ampun Santika, kapan kamu kembali putriku sudah sangat merindukanmu. Aku takut kalau putriku sakit dan itu karena merindukan kamu." gumam Arya Wiguna dalam hati.
Hari itu Khanza nekat untuk mencari keberadaan Santika. Khanza samar-samar Mendengar pembicaraan Nyonya Rosalinda dan Arya Wiguna kalau alamat rumah Santika berada tidak jauh dari sekolahnya.
Ketika Khanza sudah pulang sekolah, diam-diam ia keluar dari pintu gerbang sekolah. Ia berjalan menelusuri trotoar untuk pergi ke rumah keluarga Mahendra. Tak ada rasa takut sedikitpun di hatinya. Yang ia inginkan saat ini ingin bertemu dengan sosok yang sangat ia rindukan.
Sementara pihak sekolah sudah tampak panik mencari keberadaan Khanza. Hingga sang wali kelas pun langsung menghubungi nomor ponsel Arya Wiguna. Ketika sambungan telepon seluler itu tersambung ,wali kelas pun memberitahu kalau saat ini Khanza tidak ada di sekolah.
Hal itu membuat Arya Wiguna langsung panik. Ia menghubungi salah satu asistennya untuk menemani dirinya mencari keberadaan Khanza. Arya Wiguna menghubungi nomor ponsel milik Nyonya Rosalinda, berharap Khanza sudah kembali ke rumah.
Tetapi ketika Arya Wiguna menghubungi nomor ponsel Nyonya Rosalinda, Khanza tidak ada di sana. Membuat Arya Wiguna semakin panik. Setelah tiba di sekolah Arya langsung bertanya kronologis kejadian hilangnya Khanza dari sekolah.
lalu sang wali kelas pun memberitahu apa yang ia ketahui tanpa ada yang ditutup-tutupi.
__ADS_1
"Ya Allah ke mana aku harus mencari putriku "Bagaimana keamanan sekolah ini? "Bagaimana mungkin seorang anak kalian biarkan keluar gerbang tanpa ada yang menjemputnya!" amarah Arya Wiguna semakin memuncak.
Jiwa Arogannya kembali berkobar. Membuat sang wali kelas dan kepala sekolah yang mengajar di tempat Khanza menuntut ilmu, menjadi ketakutan melihat kemarahan Arya Wiguna.
"Aku tidak akan mengampuni kalian jika putriku tidak ditemukan hari ini juga." teriak Arya Wiguna. Terlihat sang kepala sekolah menghubungi seseorang berharap seseorang itu dapat menemukan Khanza.
Tiba-tiba seorang anak kecil datang menghampiri wali kelasnya. "Miss kenapa Papinya Khanza marah-marah? tanya anak kecil itu kepada wali kelasnya.
"Khanza tidak tahu kemana Sayang. Apa kamu mengetahui kemana Khanza pergi?" tanya wali kelas itu dengan selembut mungkin. Berharap anak kecil itu Berbicara jujur Jika dirinya melihat Khanza atau tidak.
Tadi Obin udah larang Khanza keluar dari gerbang, tetapi Khanza bilang kalau Khanza ingin mencari maminya.
"Mencari mami? maksudnya apa sayang? Miss tidak paham." ucap sang wali kelas itu sambil menatap Obin dengan tatapan penuh tanya.
Deg ......
Jantung Arya Wiguna langsung berdegup kencang, ketika mendengar kalau putrinya mencari seseorang. Itu berarti yang dicari Khanza saat ini adalah Santika yang ia maksud adalah maminya.
Kemana Aku mencari putriku? tidak mungkin dia mengetahui alamat rumah Santika." Arya Wiguna bermonolog sendiri. Ia pun langsung berpamitan kepada sang wali kelas dan juga kepala sekolah dengan kemarahannya.
"Maafkan kami Tuan atas Kelalaian pihak kami." ucap kepala sekolah itu kepada Arya Wiguna. Arya Wiguna sama sekali tidak menjawab dan memilih berjalan meninggalkan kepala sekolah itu dan wali kelas Khanza.
Di sepanjang perjalanan Arya Wiguna terus memperhatikan sosok anak kecil yang berjalan. Tetapi ia tidak menemukan Khanza. Ia pun bertanya ke setiap orang yang ia lewati, Apakah menemukan Khanza atau tidak. Arya menunjukkan foto Khanza berharap seseorang mengenali putrinya.
__ADS_1
Tetapi tak satupun yang mengaku melihatnya. Membuat Arya Wiguna semakin khawatir. Ia pun meraih ponselnya dan menghubungi Nyonya Rosalinda kalau saat ini Khanza benar benar menghilang dari sekolahnya. Mendengar cucu yang paling ia sayangi hilang dari sekolah, Nyonya Rosalinda menjerit histeris.
Ia tidak dapat membayangkan jika terjadi sesuatu kepada cucu yang sangat ia sayangi. "Mami tidak mau tahu, lakukan sesuatu. pastikan kamu dapat menemukan cucuku saat ini juga." perintah Nyonya Rosalinda di dalam sambungan telepon selulernya.
Membuat Arya Wiguna menjadi semakin bingung. Ia pun akhirnya pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan putrinya. Tetapi pihak kepolisian mengatakan sebelum ada dua kali 24 jam mereka belum dapat memproses pencarian putrinya Khanza.
Jiwa arogan Arya Wiguna kembali memuncak .Ia pun memukul meja kerja pihak kepolisian itu. "Bagaimana mungkin Anda mengatakan Harus dua kali 24 jam baru kalian bergerak mencari keberadaan putriku! apa harus tunggu mati dulu putriku sehingga kalian baru bergerak mencari keberadaannya?" ucap Arya Wiguna penuh dengan emosi.
Membuat pihak kepolisian itu pun bergedik nyeri. Mereka mengetahui siapa sosok Arya Wiguna sebenarnya. Sehingga pihak kepolisian itu pun akhirnya bersedia membantu Arya Wiguna mencari keberadaan putrinya. Putri yang sangat ia sayangi.
Sementara di tempat lain, Khanza yang sudah tiba di rumah keluarga Mahendra. Ia menghampiri security yang bertugas di sana. "Pak maaf ,saya ingin bertanya apa benar ini rumahnya mamiku Santika?" tanya Khanza kepada security yang bertugas di sana.
"Mami?
Maksud kamu Mami Santika yang mana ya de? tanya security itu kepada anak kecil yang datang menanyakan keberadaan Santika saat ini.
"Santika Diandra yang cantik dan baik Hatim Dia itu mamiku. Dimana dia sekarang Pak? tanya Khanza membuat security itu mengerutkan keningnya. "Ya ini rumah dari Santika Diandra. Tetapi kamu bukan putrinya. Tidak mungkin Nona Santika Diandra memiliki Putri sebesar kamu. Sementara Santika Diandra belum menikah sama sekali." ucap security itu kepada Khanza Aulia.
bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏
JANGAN LUPA, TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏
__ADS_1