
" Kamu tenang saja, kali ini tidak ada hukuman seperti itu. Yang pasti kamu harus baik-baik saja dan Jangan membantah karena Khanza sangat sayang sama kamu. Dia setiap hari menanyakan kapan kamu datang menghampiri Khanza." ucap Arya Wiguna sambil mengajak Santika menyicipi menu sarapan pagi, yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangga yang bekerja di apartemen milik Arya Wiguna.
Kali ini Santika masih terdiam. Entah karena masih denyutan di kepalanya membuat Santika tidak banyak mengoceh. Biasanya Ia banyak berbicara kepada Arya Wiguna.
"Bagaimana kabar Khanza saat ini? apa dia baik-baik saja? dan mengapa kamu membiarkan Khanza datang sendiri ke rumah mencariku? Apa kamu tidak bisa menghantarkannya ke sana? Ayah macam apa kamu ini? ucap Santika menyalahkan Arya Wiguna karena Santika mengingat saat Khanza datang sendiri, mencari Santika ke rumah utama keluarga Mahendra. Saat Santika masih berada di Balikpapan.
Saya tidak mengetahui Khanza pergi ke mana saat itu. Tiba-tiba saja pihak sekolah menghubungiku siang itu memberitahu kalau Khanza hilang dari sekolah. Membuat saya panik. Saya mencarinya ke mana-mana tetapi tak kunjung menemukan Khanza.
Sampai saya mau lapor ke kantor polisi. Tetapi mengatakan mereka tidak dapat memproses pencarian sebelum satu kali 24 jam. Sehingga saya marah besar kala itu di kantor polisi.
Hingga pada saat itu pihak kepolisian pun akhirnya bersedia membantuku mencari keberadaan Khanza. Tetapi walaupun pihak kepolisian ikut mencari keberadaan Khanza saat itu. Tetapi kami tak kunjung temukan
Eh tiba-tiba saja Mami menghubungiku saat jam sudah pukul 18.00 sore memberitahu kalau Khanza sudah kembali ke rumah dihantarkan oleh Alexander kakak kamu." ucap Arya Wiguna kepada Santika Diandra menceritakan apa yang terjadi saat itu.
"Saya mohon temui Khanza sekarang." ujar Arya Wiguna kepada Santika Diandra. "Aduh kepalaku masih nyut-nyutan. Sepertinya aku masih butuh istirahat. lebih baik aku pulang dulu ke rumah, habis itu kalau kondisiku sudah baikan aku pasti akan menemui Khanza." ucap Santika Diandra.
Arya Wiguna terdiam tidak dapat memaksakan kehendaknya. Tiba-tiba suara deringan ponsel miliknya terdengar jelas di telinganya.
Ia melihat yang menghubungi dirinya nomor ponsel milik Nyonya Rosalinda. Arya Wiguna mengerutkan keningnya Mengapa pagi-pagi sekali mami menghubungiku? gumamnya dalam hati sambil langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Nyonya Rosalinda.
"Kamu di mana?
"Ada apa mom? kok nada suara mami panik seperti itu?" tanya Arya Wiguna kepada Nyonya Rosalinda.
" Bagaimana Mami tidak panik! saat ini Khanza sedang demam tinggi dan sekarang kami sudah menuju Rumah Sakit. Sebentar lagi kami sampai di rumah sakit." ucap Nyonya Rosalinda membuat karya Wiguna terhenyak.
"Apa?
__ADS_1
"Rumah sakit? Arya Wiguna meninggikan suaranya. Karena Arya terkejut mendapat berita Kalau Putri semata wayangnya sedang demam tinggi dan saat ini nyonya Rosalinda membawanya ke rumah sakit.
Arya Wiguna memutuskan sambungan telepon selulernya, dan bersiap ingin pergi menemui putrinya ke rumah sakit.
"Kamu kenapa panik?
"Siapa yang sakit? tanya Santika Diandra melihat wajah Arya Wiguna yang sudah begitu panik.
"Khanza sakit dan saat ini dia berada di rumah sakit." ucap Arya Wiguna membuat Santika Diandra terhenyak. Seolah denyutan di kepalanya hilang seketika, ketika mendengar kalau Khanza saat ini sedang sakit.
"Aku ikut bersamamu!" kata-kata itu yang langsung keluar dari mulut Santika. Padahal saat itu Santika sudah ingin pulang kerumah keluarga Mahendra.
Santika langsung meraih tas sandang miliknya. "Dimana ponselku? tanyanya sambil berjalan mengikuti Arya Wiguna keluar dari Apartemen.Arya Wiguna menatap Santika Diandra lalu memberikan ponsel milik Santika .
Ketika mereka sudah berada di mobil yang sama, Arya Wiguna langsung melakukan mobilnya ke arah jalan raya menuju rumah sakit, dimana saat ini kanza dirawat. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit dari apartemen pribadi milik Arya Wiguna, menuju Rumah Sakit, Mereka pun akhirnya tiba.
" Kamu dari mana saja? Mengapa satu malam tidak pulang ke rumah? apa kamu tahu Khanza terus mencari Mu dan mencari Santika Diandra?" ucap Nyonya Rosalinda yang belum melihat kehadiran Santika Diandra di sana.
" Maaf nyonya karena saya tuan Arya Wiguna tidak kembali ke rumah utama. Ini murni kesalahan saya." ucap Santika Diandra kepada Nyonya Rosalinda. Membuat Nyonya Rosalinda terhenyak melihat kehadiran Santika Diandra disana.
" Santika!" Nyonya Rosalinda langsung memeluk Santika Diandra.
"Apa yang terjadi kepada putriku Nyonya? pertanyaan itu langsung dilontarkan oleh Santika kepada Nyonya Rosalinda.
"Putriku? gumam Nyonya Rosalinda dengan nada kecil. seolah Nyonya Rosalinda tidak percaya Santika menyebut Khanza merupakan putrinya sendiri.
Santika Diandra langsung masuk ke ruang UGD tanpa menunggu jawaban Nyonya Rosalinda. Ia sudah melihat Khanza sudah diperiksa oleh tim medis yang bertugas di rumah sakit itu.
__ADS_1
" Khanza!" ucap Santika Diandra sambil langsung memeluk Khanza.
" Mami......, tangis Khanza sembari terus memeluk Santika. Seolah dirinya tidak ingin berpisah dengan Santika.
"Putri saya Kenapa dokter? tanya Santika penuh dengan selidik.
"Putri anda hanya demam biasa saja. Tapi sepertinya dia harus mendapatkan perawatan di sini. Karena demamnya cukup tinggi." ucap dokter itu kepada Santika Diandra.
Santika menatap Khanza dengan tatapan penuh kasih. Ia benar-benar menyayangi Khansa sama seperti menyayangi dirinya sendiri. "Lakukan yang terbaik kepada putri saya." ucap Santika Diandra kepada dokter yang bertugas menangani Khanza.
Saat itu juga, Khanza dipindahkan ke ruang rawat inap. Arya Wiguna bersama Nyonya Rosalinda masuk ke ruang UGD untuk melihat kondisi kesehatan Khanza saat ini.
"Papi....., Khanza tidak mau di rumah sakit. Khanza hanya ingin di rumah bersama mami." ucapnya memohon kepada Arya Wiguna agar Khanza tidak perlu dirawat inap di Rumah Sakit.
" Tidak sayang, kamu harus dirawat di sini. mami pasti akan menemani kamu di sini. Mami tidak akan pergi lagi." ucap Santika Diandra berusaha membujuk Khanza agar Khanza bersedia dirawat inap di Rumah Sakit.
"Tidak mau!" Khanza tidak apa-apa. Asalkan ada mami di samping Khanza." ucap Khanza Aulia sembari terus memegang erat tangan Santika. Melihat interaksi keduanya, Arya Wiguna tertegun melihat Khanza begitu menyayangi Santika.
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan sekarang? sepertinya sulit bagi Khanza terlepas dari Santika. Tetapi Santika tidak mungkin bersedia menikah denganku seorang duda anak satu sama seperti yang ia katakan sebelumnya."gumam Arya Wiguna dalam hati sambil terus memperhatikan interaksi antara Santika dengan Khanza Aulia putrinya.
Nyonya Rosalinda tahu betul apa yang ada di dalam pikiran putranya Arya Wiguna. Saat ini nyonya Rosalinda mengelus pundak putranya. "Lakukan yang terbaik untuk Putri Kamu. Jangan kamu sampai menyesal nanti." ujar Nyonya Rosalinda tepat di telinga Arya Wiguna. Arya Wiguna menatap Nyonya Rosalinda dengan Tatapan yang sulit diartikan.
Bersambung....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏💓
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN, HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1