
"Hah....
"Enam bulan?
"Enam bulan kamu katakan dengan waktu yang singkat! yang benar saja dong Santika ngomongnya. Ngapain kamu lama-lama di luar kota? Apa kamu tidak merindukanku nanti?" tanya Zahra Sambil tertawa cengengesan dalam sambungan telepon selulernya.
"Zaman sekarang mudah. Jika kamu merindukanku, kan bisa melakukan sambungan video call, itu saja kok ribet." ucap Santika sambil langsung mematikan sambungan telepon seluler dari Zahra. Hal itu membuat Zahra semakin kesal kepada sahabatnya. Karna mematikan sambungan telepon seluler tanpa mengakhiri pembicaraan terlebih dahulu.
Zahra yang tidak terima sahabatnya langsung mematikan sambungan telepon selulernya, ia langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya ingin menemui Santika. Setelah mendapat izin dari kedua orang tuanya, Zahra langsung berlalu meninggalkan toko sepatu milik mereka menuju rumah utama keluarga Mahendra.
Dengan menggunakan ojek online yang sudah ia pesan sebelumnya, Zahra tiba di rumah keluarga Mahendra. Terlihat Santika sudah bersiap-siap berangkat ke luar kota. "Enak saja kamu main berangkat tanpa berpamitan kepadaku." gerutu Zahra ketika sudah melihat Santika sudah bersiap ingin berangkat.
"Kamu ini seperti jelangkung. Datang tak diundang pulang tak diantar." ucap Santika sambil terkekeh.
"Berapa lama kamu sebenarnya di luar kota? tanya Zahra yang mengkhawatirkan sahabatnya pergi sendiri ke luar kota.
"Tidak lama kok. Paling juga sekitar enam bulan.
"Santika, Zahra serius ngomongnya. Jangan main-main dong." gerutu Zahra yang mengira kalau saat ini Santika berbohong kepadanya, kalau Santika pergi selama enam bulan.
"Siapa juga yang berbohong kepadamu Zahra." ucap Santika sambil menatap sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Terus bagaimana dong dengan gue? siapa temanku di sini? apa kamu tidak akan merindukanku? ucap Zahra terlalu lebay.
"Kamu ini lebay banget sih. Kan tadi juga Aku sudah ngomong dalam sambungan telepon, Kalau kita bisa melakukan sambungan video call, Jika kamu merindukan aku! kan mudah urusannya."
__ADS_1
"Santika sahabatku yang cantik dan kece badai, berhubungan antara sahabat dekat hanya dengan sambungan video call, itu tidak enak rasanya. Apalagi sudah sering berpergian bersama, tiba-tiba kita tidak bertemu lagi dalam jangka waktu yang lumayan lama. Apa kamu tidak dapat mengurungkan niatmu untuk pergi ke luar kota?" Zahra kembali mempertanyakan hal yang sama saat berada di sambungan telepon seluler.
Santika menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak dapat menunda kepergiannya. Karena proyek di luar kota sudah menunggu dirinya. pesawat Ku akan berangkat sebentar lagi. Aku harus segera berangkat ke bandara. Jika kamu ikut menghantarkan Ku, Ayo silakan ikut tidak masalah kok." ucap Santika Diandra sambil menatap sahabatnya itu dengan tatapan sendu.
Santika mengirimkan pesan Whatsapp kepada Alexander, kalau dirinya sudah berangkat menuju bandara sesuai dengan yang sudah mereka bicarakan sebelumnya. Kalau saat ini Santika yang bertugas mengelola perusahaan milik keluarga Mahendra yang ada di luar kota.
Alexander mengembangkan senyumnya menerima pesan Whatsapp dari adik yang paling ia sayangi. "Aku tahu kamu mampu mengelola perusahaan itu adikku. Kamu wanita yang bisa diandalkan. Kamu itu sangat pintar dalam mengelola bisnis, hanya saja nasib percintaan Kamu kurang baik." ucap Alexander bermonolog sendiri, ketika dirinya selesai membaca pesan WhatsApp yang masuk ke layar ponselnya.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih empati Puluh menit dari kediaman Mahendra menuju bandara Soekarno Hatta, kini Santika sudah berada di ruang tunggu bandara menunggu jam keberangkatan dirinya pergi ke luar kota. Untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan perusahaan keluarga Mahendra yang ada di luar kota.
Terlihat Zahra begitu sedih melepaskan kepergian sahabatnya, sekalipun itu pergi hanya waktu yang singkat. Tetapi untuk kali ini sepertinya ia tidak dapat menahan sahabatnya itu lagi.
Panggilan dari ruang informasi di bandara Soekarno Hatta, terdengar jelas di telinga Santika bahwa pesawat yang akan ia tumpangi menuju kota yang ingin Ia kunjungi sudah meminta agar penumpang segera menaiki pesawat. Berhubung pesawat itu akan take off dari bandara Soekarno Hatta.
Santika melambaikan tangannya kepada Zahra yang masih setia menunggu keberangkatan sahabatnya itu. Ketika Zahra sudah melihat pesawat yang ditumpangi Santika meninggalkan Bandara Soekarno Hatta, barulah Zahra kembali ke rumah.
Setelah tiba di kantor Glamour Company, Zahra langsung menuju ruang kerja Alexander. Orang-orang yang ada di Glamor company itu sudah mengetahui siapa sosok Zahra bagi pemilik perusahaan itu.
Tok....
Tok....
Tok....
suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga penghuni ruang kerja itu
__ADS_1
"Masuk! teriak seseorang dari dalam ruang kerjanya. Zahra masuk membuat Alexander Mahendra merasa heran melihat sahabat dari adiknya itu menghampiri dirinya. "Zahra! wkik Alexander sambil mempersilahkan Zahra duduk di hadapan kursi kerajaannya. "Ada apa gerangan sehingga kamu datang ke kantor kakak?" ucap Alexander penuh dengan selidik.
"Zahra Mau nanya dong, tetapi tolong Jawab dengan jujur. "Apa benar Kakak yang meminta Santika memantau perusahaan Glamour company yang ada di luar kota? tanya Zahra kepada Alexander.
"Sebenarnya kakak tidak pernah memintanya untuk pergi ke luar kota. Justru kakak menginginkan kalau dirinya di sini saja.
"Tapi mengapa Kakak mengizinkan Santika pergi ke luar kota sendiri? itu dapat membahayakan dirinya sendiri kak."
"Kamu tenang saja. Santika itu adikku aku yang lebih mengetahui siapa sosok adikku." ucap Alexander sambil menatap Zahra dengan Tatapan yang sulit diartikan.
"Tapi Kak, Zahra pasti akan merindukan Santika." ucap Zahra berterus terang kepada Alexander.
" Kenapa hanya Santika saja yang kamu rindukan? Kenapa tidak kakak?tanya Alexander sambil mengembangkan senyumnya. Wajah Zahra merah merona. Ia mengira kalau Alexander sudah mengetahui kalau dirinya diam-diam mencintainya.
****
Dua minggu sudah berlalu. Santika berada di salah satu kota untuk memantau perkembangan anak cabang perusahaan keluarga mereka di sana. Ia berusaha ingin memberikan yang terbaik kepada perusahaan Ia berharap perusahaan itu dapat berkembang dengan pesat. Apalagi saat ini kakaknya Alexander mempercayakan proyek itu kepada Santika. Membuat Santika harus benar-benar menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana mestinya.
Santika memang dapat diandalkan terlihat proyek yang terbengkalai sebelumnya sudah mulai rangkum. Alexander begitu bahagia mendengar kalau adiknya berhasil menjalankan tugasnya memajukan perusahaan milik keluarga mereka yang ada di sana.
****
"Papi..... Papi dimana mami? mami Santika." tangis Khanza karena sudah dua minggu lamanya Santika sama sekali Belum menunjukkan batang hidungnya ke rumah keluarga Wiguna. Membuat Nyonya Rosalinda dan juga Arya Wiguna kewalahan untuk membujuk Khanza yang sedari tadi menangis ingin bertemu dengan Santika.
bersambung....
__ADS_1
hai Hai readears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA, TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏💓💓