
Ting.. Tong...
Fafa yang sedang mengambilkan minum untuk kiky, dery dan juga kevin langsung menuju ke sumber suara.
"Hmm, cari siapa ya?" Tanya fafa
"Perkenalkan nama saya risa" Ucap wanita yang bernama risa sambil menjulurkan tangannya, "Saya sekretaris pak yusuf, saya disuruh kesini sama bapak" Ucap risa sopan
"Saya fafa, putri bungsunya" Jawab fafa, "Silahkan masuk, saya akan panggilkan papa dulu"
Fafa pergi meninggalkan wanita itu di ruang tamu, dan menuju ruang keluarga, disana terdapat papanya yang masih berkutat di depan laptop dan berkas-berkas dokumennya.
"Pah, ada yang nyariin. Katanya sekretaris papa" Ujar fafa
"Oh iya. Kamu bisa buatin minum?"
"Iya, pah."
Kemudian yusuf beranjak sambil membawa semua berkas-berkas dan laptopnya menuju ruang tamu, yang disana sudah ada sekretaris sedang duduk di sofa.
"Sudah lama?" Tanya yusuf tiba-tiba
Risa yang sedang memperhatikan interior rumah tersebut kaget mendengar suara yusuf.
"Eh, tidak pak. Saya baru saja sampai" Jawab risa
Fafa sedang membuatkan minum, ia memperhatikan kearah dua orang yang sedang membicarakan masalah pekerjaan, lebih tepatnya fafa memperhatikan risa. Tanpa di sengaja, pandangan mata mereka bertemu. Fafa dapat melihat itu semua! Melihat dari kilatan mata milik risa.
Fafa mengeluarkan ponselnya, "Halo, ki.. kalian bisa kedalam sebentar? Gue lagi ada di dapur, cepet lo sama yang lain kesini. Ada yang mau gue tunjukin" Ucap fafa berbisik. Setelah mendapatkan jawaban dari kiky, fafa langsung memasukannya lagi kedalam saku celananya.
"Fa, kenapa lo tiba-tiba manggil kita? Emangnya apa yang mau lo tunjukin?" Tanya kiky yang sudah berada di dapur.
"Stttt..... Jangan berisik. Gue mau kalian duduk aja dulu di ruang keluarga. Nanti juga bakalan tau" Ujar fafa, "Bentar ya, gue mau antar minum ini dulu buat papa sama sekretarisnya"
Fafa berjalan menghampiri papanya sambil membawa dua gelas jus. Fafa terus memperhatikan sekretaris papanya itu.
"Silahkan di minum" Ucap fafa sambil menyodorkan minuman itu ke risa, fafa melirik sebentar kemudian dia beranjak pergi.
"Risa, sebelumnya saya minta maaf. Karena telah mengganggu waktu libur kamu" Ucap yusuf
"Tidak apa-apa, pak. Sudah tugas saya sebagai sekretaris bapak, untuk membantu pekerjaan bapak" Jawab risa
"Baiklah, saya mau kamu mengantarkan satu dokumen ke pak santoso. Sebentar saya ambilkan dokumen itu" Ujar yusuf, kemudian pergi meninggalkan risa sendiri
Setelah kepergian yusuf, risa nampak melihat-lihat sekeliling rumah. Dirasa sudah aman, risa mengambil dokumen yang ada di dalam tasnya, dan menukar dokumennya dengan dokumen milik yusuf.
"Bagus, dengan begini aku tidak akan susah-susah memikirkan rencana untuk menukar dokumen ini" Gumam risa
Tanpa risa sadari, sedari tadi ada yang sedang memperhatikannya. Siapa lagi kalau bukan fafa. Fafa membulatkan matanya, ketika risa menukar dokumen penting milik papanya. Fafa melihat papanya kembali dengan membawa dokumen yang lain.
"Tolong, kamu berikan ini kepada pak santo-" Ucapan yusuf terpotong karena tiba-tiba saja fafa langsung menyambar pembicaraannya.
__ADS_1
"Papa jangan memberikan dokumen itu ke sekretaris papa"
"Maksud kamu apa, fa?" Tanya yusuf bingung
"Dari awal kedatangan dia kerumah ini, aku udah mulai curiga" Fafa terus memandangi risa dengan tatapan datar, "Aku liat risa menukar dokumen yang papa perlukan untuk ke prancis" Perkataan fafa berhasil membuat risa membulatkan matanya
"Jangan asal menuduh, nona. Saya tidak menukar dokumen milik pak yusuf" Elak risa
"Gak usah ngelak deh" Ucap fafa ketus
"Fafa, kamu tidak boleh bicara sembarangan. Tidak baik menuduh orang tanpa bukti" Ucap yusuf, jika bisa di lihat risa tengah tersenyum
"Mungkin rekaman video di ponsel saya bisa membuktikan semuanya" Tiba-tiba saja sidik dan yang lainnya datang menghampiri fafa.
Sidik memberikan ponselnya kepada yusuf, setelah melihat rekaman itu, yusuf menatap risa tajam.
"Apa maksud dari rekaman ini?" Tanya yusif ketus
"I..itu hanya rekaman, pak. Bisa saja itu editan" Jawab risa
"Oke, anda bisa saja mengira rekaman ini adalah editan, kalau begitu boleh liat tas anda?" Tanya fafa sambil menyeringai
Risa membulatkan matanya ketika fafa meminta tasnya
"Kenapa? Takut ketahuan? Kalau memang gak da apa-apanya, kasih aja kali!!" Kini kiky yang bersuara
"Yasudah, nih ambil. Lagi pula gak ada apa-apanya kok" Jawab risa acuh
"Heh, gak ada apa-apanya anda bilang? Lantas ini apa?" Celetuk fafa sambil melayangkan sebuah dokumen, "Masih kurang bukti juga?" Tanya fafa datar
"Itu cuma dokumen biasa!" Elak risa
"Ooohh.. dokumen biasa ya!!" Ucap fafa mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian membuka lembar demi lembar dokumen itu.
"Pah, coba papa periksa dokumen yang papa persiapkan untuk di prancis nanti!!" Perintah fafa
Yusuf langsung memeriksa dokumen yang fafa maksud, ia mengernyitkan dahinya ketika melihat isi dokumen itu.
"Ini berbeda dengan yang papa buat" Gumam yusuf
"Jelas beda, karena dia sudah menukarnya" Cicit fafa sambil menunjuk risa
"Ini dokumen papa yang asli" Fafa menyerahkan dokumen yang asli kepada yusuf papanya
"Jelaskan apa maksud kamu menukar dokumen saya?" Tanya yusuf datar namun risa hanya diam
"JELASKAN!!" Bentak yusuf membuat semua orang yang ada di ruang tamu terlonjak kaget termasuk dinda yang baru saja muncul.
"Baru aja muncul, eh udah denger bentakan" Gumam dinda, fafa menoleh kearah dinda begitu juga dengan sidik. Mereka berdua menatap dinda horor
"Lah... Lah... Lah... Kenapa kalian natap aku kaya gitu?"
__ADS_1
"Bisa diem gak?" Kata fafa ketus, dinda langsung membekap mulutnya sendiri menggunakan tangannya.
Kini pandangan mereka kembali terfokus kepada risa yang masih bungkam.
"Mulai detik ini kamu saya pecat" Kata yusuf tajam, "Kamu pergi dari rumah saya, SEKARANG" Usir yusuf
Fafa tersenyum miring, "Anda dengar kan papa saya bilang apa? Sekarang anda pergi dari rumah saya sebelum saya melaporkan anda ke polisi" Ucap fafa
Risa bangkit dari tempat duduknya, namun saat risa akan melangkahkan kakinya kevin memanggilnya.
"Nih, jangan lupa bawa tas murahan lo" Celetuk kevin sambil memberikan tas milik risa dengan menunjukkan wajah jijiknya.
Fafa menatap risa, terlihat aura kebencian yang tercetak disana. Namun fafa tidak menghiraukannya.
Fafa melihat papanya yang sedang memijit pelipisnya, "Papa istirahat aja ya!" Perintah fafa
"Iya, sayang. Makasih ya! Karena kamu dan teman-temanmu dokumen papa dan perusahaan kita yang ada di prancis aman" Ucap yusuf sambil mengecup puncak kepala fafa.
"Om berterima kasih banyak kepada kalian, karena kalian telah menolong om" Ucap yusuf kepada sidik, dery, kevin dan juga kiky
"Iya sama-sama om" jawab mereka serempak
"Yasudah papa ke atas ya fa, nanti kalau mama kamu pulang, bilang aja papa ada di kamar" Ujar yusuf
"Iya pah".
***
Kini mereka semua kembali ke taman balakang rumah fafa, memakan cemilan yang fafa bawa dari dalam tadi.
"Oh iya fa, david kemana? Kok gak keliatan?" Tanya dery
"Engga tau, dari tadi juga gue gak liat dia" Jawab fafa
"Gue gak habis pikir, kok bisa ya sekretaris papa lo ngelakuin hal semacam itu" Ujar kiky
"Gue juga gak tau, semenjak kedatangan dia gue udah mulai merasa ada sesuatu yang akan terjadi, dan benar kan dia menukar dokumen papa gue, makanya gue minta kalian untuk masuk dan liat itu semua" Jelas fafa, "Dan, kok bisa kaka merekam semuanya?" Pertanyaan fafa kini terlontar kepada sidik
"Yaa!! Bisa aja. Pas kamu mengantar minuman itu, aku udah siapin semuanya. Aku menaruh ponselku di atas meja. Dan ya!! Semuanya terekam di ponsel ini" Jawab sidik santai
"Peka juga lo dik" Ucap kevin
"Ternyata gue punya teman yang kadar kepekaannya di atas rata-rata" Kini dery yang menyaut
"Aww.. sakit ****" Keluh sidik karena dery menepuk pundaknya dengan keras
"Sorry, sorry. Abisnya gue gemes sama lo"
"Idih, jijik gua" Ucap sidik bergidik ngeri
Mereka semua tertawa melihat tingkah dery dan juga sidik.
__ADS_1