
Beberapa hari ini, fafa merasa teman-temannya menjauh darinya. Setelah kejadian pemecatan risa di rumahnya, ia jadi jarang berkomunikasi dengan temannya, bahkan dengan sidik pacarnya. Terkadang ia menanyakan kepada david namun david hanya menjawab 'Mungkin lagi sibuk' atau 'Jangan ganggu kaka, kaka lagi banyak tugas'. Kiky pun jarang sekali bersama dengannya, dia lebih memilih menghabiskan waktunya di perpustakaan dibandingkan dengan fafa.
Saat ini fafa sedang berjalan di koridor seorang diri. Di sepanjang perjalanannya menuju kantin tak jarang dirinya melihat penampakan-penampakan aneh. Tanpa di sengaja pandangan matanya melihat sosok yang sudah 2 minggu lebih menjadi kekasihnya. Ya!! Itu adalah sidik, tapi dia sedang bersama seorang siswi yang fafa ketahui itu adalah adik kelas karena terlihat bet yang ia kenakan.
Fafa berjalan menghampiri mereka berdua yang sedang asik mengobrol. Saking asiknya sampai-sampai sidik tidak menyadari jika fafa berada di belakangnya.
"Ka sidik" Panggil fafa
Sidik menoleh ke belakang dan mendapati fafa sedang menautkan alisnya, "Ada apa?" Jawab sidik singkat
"Kaka ngapain ngobrol sama adik kelas?"
"Memangnya kenapa? Apa disekolah ini ada larangan untuk berbicara dengan adik kelas?" Ucap sidik malah berbalik tanya
"B..bukannya begitu, t..tapi gak b..biasanya kaka ngobrol sama adik kelas" Ujar fafa takut
"Salah gitu kalau gue ngobrol sama dia?" Tunjuk sidik kepada siswi kelas 10 itu, "Gak salah kan! Kalau emang gak ada yang penting gue pergi!" Lanjut sidik ketus
"Ayo, kita pergi" Sidik pergi meninggalkan fafa dengan menggandeng tangan siswi kelas 10 itu
"Apa? Ka sidik lebih memilih pergi sama adik kelas itu ketimbang ngobrol sama aku? Dan tadi dia bicara pakai 'gue lo?'" Ucap fafa dalam hati, sambil menatap kepergian dua orang itu yang kemudian menghilang di balik tembok
"Sebenarnya ada apa dengan ka sidik, ka david dan yang lainnya? Kenapa aku gak bisa baca apa yang mereka pikirkan? Dan kenapa ka sidik jadi ketus ke aku" Gumam fafa lirih
Ia memutuskan untuk balik ke dalam kelas, suasana hatinya sedang kacau. Ia ingin menangis tapi tidak bisa. Dan sekarang dimana dinda? Dia juga tidak muncul. Padahal fafa sedang membutuhkannya sekarang.
Fafa mengeluarkan ponselnya di dalam saku roknya dan mencoba mengirimkan pesan kepada kiky
Ulfafa_
*Kiky
Kii lo dimana?
Kiky😥
Kiky Angelicia🙍
Kiky... Masa tadi ka sidik ketus banget sama gue😖
Kiky jawab gue dong!!
Gue telepon ya!!
Kii kok gak di angkat?
Kiky😥*
Fafa menghembuskan nafasnya kasar, pasalnya dari sekian banyaknya pesan yang fafa kirimkan, kiky tidak membalasnya sama sekali. Bahkan membacanya juga tidak.
Fafa mendongakkan kepalanya ketika melihat kiky yang menghampirinya, seketika fafa tersenyum lebar. Setidaknya saat ini ia mendapatkan teman untuk berkelu kesah.
__ADS_1
"Ki, lo dari mana aja?" Tanya fafa
"Kiky, masa tadi gue liat ka sidik ngobrol sama adik kelas" Ucap fafa
"Kiky... Lo kok gak jawab sih"
"BISA DIEM GAK?" Bentak kiky
Sontak fafa langsung terlonjak kaget dan menundukkan kepalanya. Pasalnya baru kali ini fafa di bentak.
"Maaf" Ucap fafa lirih, kiky memutar bola matanya malas
***
Semua murid berhamburan ketika bel pulang sudah berbunyi. Begitu juga dengan fafa, saat hendak menuju gerbang, fafa melihat sidik yang sedang bersandari di mobilnya. Fafa hendak menghampiri sidik, baru beberapa langkah dari pijakannya, fafa kembali memberhentikan langkahnya. Pasalnya fafa melihat adik kelas yang tadi mengobrol dengan sidik terlebih dahulu menghampiri sidik dan masuk kedalam mobilnya.
Sidik menjalankan mobilnya tanpa menoleh kearah fafa yang sedari tadi memperhatikannya. Fafa hanya bisa diam membeku di tempat melihat pacarnya pulang bersama adik kelas.
"Kasihan banget ya!! Kayanya ada yang lagi renggang nih!" Fafa langsung menoleh ke samping kirinya, dan ternyata itu adalah felly.
"Siapa yang lagi renggang?" Tanya fafa
"Ya, lo lah. Tuh buktinya sidik lebih pilih pulang bareng si adik kelas dibandingkan lo. Dan kemana teman lo yang satunya lagi? Lo di jauhin? Hahaha kasihan banget" Ucap felly mengejek fafa
Fafa langsung meninggalkan felly yang masih menertawakan dirinya. Hari ini mau tidak mau fafa harus naik angkutan umum untuk sampai kerumah. Mau bareng david, tapi dia juga nebeng dengan dery. Pesan ojek online tapi fafa tidak mempunyai aplikasinya. Fafa menghembuskan nafasnya kasar.
"Fafa..." Panggil seseorang, fafa langsung menoleh kesumber suara
Feri langsung menyebrang jalan karena mobilnya dengan halte bus bersebrangan. Ia menghampiri fafa yang sedang duduk sendirian di halte bus.
"Lo kok sendiri? Ka sidik kemana?" Tanya feri
"Dia udah pulang duluan tadi" Ucap fafa
"Terus mobil lo?"
"Mobil gue lagi di bengkel, lo kok baru pulang?" Tanya fafa
"Iya, tadi gue abis ngerjain tugas kelompok dulu di kelas" jawab feri, fafa hanya menganggukkan kepalanya
"Lo mau bareng sama gue?" Tawar feri
Fafa nampak menimang-nimang ajakan feri sebelum ia menyetujuinya. Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil milik feri, ia melajukannya dengan kecepatan normal. Sementara fafa hanya memandangi kearah luar.
"Fa, anter gue ke mall dulu yuk! Ada yang mau gue beli" Ujar feri, fafa langsung menoleh ke arah feri setelah itu mengangguk
Ketika lampu berwarna merah feri memberhentikan mobilnya. Ia memperhatikan fafa yang terus-menerus melihat keluar kaca mobil.
"Lo kenapa fa? Ada masalah?" Tanya feri tiba-tiba
"Eh, engga kok. Cuma sedikit pusing aja" Jawab fafa
__ADS_1
"Lo pusing? Mau ke apotik dulu?"
"Gak usah, kita langsung ka mall aja"
Tak memakan waktu yang lama akhirnya mereka sampai di sebuah mall terbesar di jakarta. Fafa dan feri langsung turun dan masuk kedalam mall tersebut.
Feri mengajak fafa untuk berkeliling sebentar setelah menemukan barang yang feri cari. Tanpa di sengaja, fafa melihat sidik yang sedang jalan berdua dengan adik kelas yang tadi pulang bersama sidik. Mereka berdua nampak masuk kedalam toko boneka, sepertinya sidik tidak menyadari jika ada fafa di mall ini. Fafa menatap sendu kearah dua orang itu. Feri yang melihat fafa hanya bengong saja langsung menjulurkan tangannya dan menggoyangkannya di depan wajah fafa
"Fa... Fafa.. heloo!? Lo kesambet?" Tanya feri
"Ah.. eh gue gapapa kok"
"Lo gak pinter bohong fa" Celetuk feri, "Lo lagi ada masalah sama ka sidik?" Tebak feri
"Enggak ada" Jawab fafa masih memperhatikan mereka berdua dari luar
"Yaudah mending kita ke tempat favorit gue aja, gimana?" Ajak feri
"Dimana?"
"Udah ikut aja" Cicit feri sambil menarik fafa keluar dari mall
***
Dilain tempat empat orang sedang berkumpul, nampaknya mereka sedang merencanakan sesuatu. Mereka nampak menampakkan smirik jahatnya setelah rencana yang mereka buat sudah tersusun rapi.
"Rencana ini harus berhasil, kalau gak berhasil bisa habis kita" Ucap orang yang memakai kaos hitam itu
"Makanya kita harus menjalankannya sesuai rencana" Kata orang yang berbaju toska
***
Kini fafa dan juga feri tengah berada di sebuah taman dengan danau yang cukup luas, pepohonan yang besar-besar membuat taman ini begitu nyaman. Mereka duduk diatas bangku yang tersedia disana, fafa menatap lurus kedepan dengan pandangan mata kosong.
"Fa.." Panggil feri
Fafa menoleh kemudian menatap kedepan lagi, "Kenapa?"
"Kok gue jarang liat lo main sama kiky, dan yang lainnya? Bahkan sama sidik juga" Tanya feri hati-hati
"Iya! Belakangan ini gue emang jarang main sama kiky, ka dery, ka kevin, bahkan sama ka david juga. Kiky selalu menghabiskan waktu istirahatnya di perpus. Kalauka dery dan ka kevin gue gak tau dia kemana aja selama di sekolah. Gue gak sedih kalau mereka udah jarang main sama gue. Yang bikin gue sedih, tadi kiky bentak gue di dalam kelas! Padahal gue cuma butuh teman ngobrol, itu pertama kalinya gue dibentak sama kiky. Ka david setiap gue tanya pasti dia jawab 'Gak tau' atau 'Jangan ganggu kaka, kaka lagi banyak tugas'." Fafa menjeda perkataannya, dia menarik nafasnya dan membuangnya kasar, "Gue jadi ngerasa sendirian" Fafa tersenyum kecil
"Terus hubungan lo sama ka sidik?"
"Gue juga gak tau akhir-akhir ini dia juga ngejauhin gue, bahkan sekarang gue sama dia udah jarang chattingan. Sekalinya chattingan cuma sebentar itu juga dia balesnya singkat banget" Ujar fafa, "Gue gak tau kenapa sikapnya jadi berubah ke gue. Gue juga gak tau kenapa dia bisa akrab banget sama adik kelas itu" Lanjut fafa lirih, tak terasa air matanya jatuh begitu saja.
"Eh,, kok gue malah nangis sih" Ucap fafa dengan kekehan kecil, dan langsung menghapus air matanya
"Kalau lo mau nangis, ya nangis aja!! Kalau itu bikin lo lega" Perintah feri
Namun fafa hanya tersenyum, sebenarnya ia ingin sekali menumpahkan keluh kesahnya dengan tangisan. Namun ia tidak mau terlihat lemah hanya karena masalah seperti ini.
__ADS_1