My Indigo

My Indigo
Peresmian Hotel


__ADS_3

Hari ini adalah hari peresmian hotel milik keluarga Mahendra. Banyak tamu dari rekan bisnis yusuf yang datang, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Yusuf juga mengundang para karyawan dan staff di perusahaannya.


Dery, kiky, kevin, dan juga feri baru saja sampai di hotel tempat acara berlangsung. Mereka berdecak kagum melihat lobi hotel tersebut.


"Anjiiirrrr, papanya david benar-benar tajir melintir" Celetuk kevin


Mereka semua masuk, dan dibuat terperangah lagi. Pasalnya mereka berempat melihat ruangan itu layaknya seperti sebuah istana yang penuh dengan lampu-lampu kristal unik dan nampaknya acara ini memakan dana yang cukup fantastis.


"Sumpah ini keren gilaa...." Seru kevin sumringah


"Beruntung banget ya jadi fafa sama ka david. Punya ortu orkay, tajir melintir pula" Celetuk feri.


Kemudian mereka berjalan kearah hidangan yang ada di sana.


"Ck. Gilaa makanannya ala jepang sama prancis coyyy..." Dery berdecak kagum


"Ya iya lah makanan jepang sama prancis, david sama fafa kan keturunan dari sana" Jawab feri, "Emangnya lo ka!.. kalau nanti nikahan sama kiky makanannya nasi uduk, kerak telor, ketoprak, sama gado-gado." Lanjut feri


"Yeee enak aja! Kayak gini juga gue keturunan bule kali.." Balas dery tidak terima, "Eh tapi boleh juga tuh"


"Yee si dodol" Umpat kevin, "Iya lo itu keturunan bule, tapi Bulepotan."


"Hahaha..." Mereka tertawa ketika berhasil menjaili dery.


"Hai, kalian udah sampai?" Sapa fafa, hari ini fafa mengenakan gaun berwarna ungu pucat


"Cantik" Gumam Feri, fafa hanya membalasnya dengan senyuman


"Eh iya. Kita berempat baru aja sampai. Oh iya david mana fa?" Tanya kevin


"Ka david lagi nemenin papa sama mama, biasa ketemu sama temen-temen papa"


"Terus sidik?" Tanya dery


"Ka sidik belum sampai, kemungkinan dia sebentar lagi. Soalnya dia bareng sama mama papanya." Ucap fafa, mereka semua menganggukkan kepalanya


"Yaudah, ayo kita kesana" Ajak fafa sambil menunjuk tempat duduk yang kosong.


Mereka semua duduk, dan berbincang-bincang tentang acara malam ini. Tak lama david menghampiri mereka semua.


"Oyy... Udah lama?" Sapa david sambil duduk di sebelah fafa


"Enggak, baru aja nempel nih bokong gue" Celetuk kevin ketus


"Yaelah jomblo ketus amat bro... Sans aja kali..." Ucap david sambil terkekeh


"Tiara mana vid?" Tanya dery


"Dia lagi di jalan, bareng sama papanya" Jawab david


"Dia gak sama mamanya juga?" Tanya dery lagi

__ADS_1


"Enggak, katanya mamanya berangkat ke jepara karena ada urusan mendadak" Ujar david, "Oh iya, sidik belum sampe fa?" Tanya david


"Belum, bentar lagi mungkin" Jawab fafa sambil mengedarkan pandangannya, "Nah itu dia" Tunjuk fafa kepada sidik yang baru saja sampai.


Yusuf dan arum menghampiri sidik dan kedua orang tuanya, begitu juga dengan fafa. Ia berjalan berdampingan dengan yusuf dan arum.


"Hoho... Mr. Wijaya akhirnya kau datang juga, saya kira anda tidak akan datang, mengingat anda baru saja pulang dari swedia" Ucap yusuf sambil menjabat tangan papanya sidik


"Justru saya merasa beruntung bisa di undang di acara anda Mr. Mahendra. Walaupun saya masih di swedia, saya akan pulang jika mendapati undangan dari anda" Jawab Mr. Wijaya


"Hai, om. Selamat atas peresmian hotelnya" Ucap sidik sambil menjabat tangan yusuf


"Terima kasih, nak sidik." Jawab yusuf, "Hmmm sepertinya sidik sudah cocok untuk menjadi menantu saya" Canda yusuf


"Ah, om bisa aja. Tapi kalau fafanya mau sih, sekarang juga saya siap om" Goda sidik


Mendengar penuturan kata dari sidik, fafa tersipu malu, fafa menundukkan kepalanya. Arum menyenggol lengan anaknya itu yang menunduk. Arum paham betul apa yang sedang dirasakan fafa, malu bercampur senang.


Sedangkan sidik!? dia menunjukkan senyum yang memperlihatkan deretan giginya di hadapan fafa. Dalam hati, fafa sedang mengumpatkan kata-kata kasar untuk sidik. Bisa-bisanya dia tersenyum seperti itu sedangkan fafa menahan malunya di hadapan kedua orang tuanya dan juga orang tua sidik.


Fafa menatap tajam kearah sidik, namun sidik sebaliknya. Fafa terus menatap tajam seakan memberikan bendera perang untuk sidik.


"Marilah kita sambut, CEO dari Starlight Hotel and Resort ini! Mr. Mahendra..." Sambut sang pembawa acara. "Untuk Mr. Mahendra diharapkan menuju keatas panggung, untuk menyampaikan pidatonya" Seru sang pembawa acara


"Pah, papa udah di panggil tuh" Ucap fafa


"Ah, iya. Fafa kamu bisa temenin sidik sama kedua orang tuanya kan?"


"Hmm, Mr. Wijaya! Saya mohon maaf, saya tinggal sebentar ya"


"Iya tak apa."


Kemudian yusuf pergi meninggalkan mereka menuju ke atas panggung, suasana yang awalnya ramai, mendadak hening. Banyak tatapan memuja dan kagum ketika melihat yusuf berdiri di atas podiumnya.


"Selamat malam semua" Sapa yusuf


"Malam...." Jawab semua orang yang ada di situ


"Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri, perkenalkan nama saya adalah Yusuf Mahendra, Putra pertama dari mendiang Liam Mahendra" Ujar yusuf


"Starlight Hotel adalah hotel yang berbeda dari hotel lain di kawasan ini. Karena hotel ini memiliki keunggulan dalam hal rancangan, fasilitas, dan pelayanan yang diberikan dibandingkan hotel-hotel sekelasnya. Maka dari itu, Hotel Starlight akan menjadi salah satu hotel yang menarik untuk dikunjungi sembari menginap di tengah hiruk pikuk Jakarta. Kami akan senantiasa berkomitmen untuk memberikan yang terbaik dari hotel bagi masyarakat, dan kami pun berharap agar hotel ini dapat diterima dengan baik di hati masyarakat dan juga para konsumen. Sekian terima kasih." Yusuf menutup pidatonya, seketika semua tamu yang hadir pada acara tersebut berdiri dan suara tepuk tangan bergemuruh di ruangan itu.


Yusuf turun dari podiumnya dan banyak yang memberikan selamat dan tak jarang mereka berfoto bersama.


Di tempat lain, kini fafa dan sidik sedang berada di rooftop hotel


"Papa benar-benar bikin hotel yang mewah" Gumam fafa menghembuskan nafasnya kasar.


"Ya terus?" Tanya sidik


"Ini mewah banget.. sumpah"

__ADS_1


"Terus"


"Nabrak dong" Jawab fafa


Sidik tertawa mendengar jawaban fafa, "Haha, bisa aja kamu"


Fafa menyandarkan kepalanya di bahu sidik, hari ini ia merasa lelah karena harus berjalan kesana kemari ditambah memakai high heels. Sidik paham betul apa yang dirasakan fafa ketika memakai sepatu ber-hak tinggi itu.


"Pegal ya?" Tanya sidik, fafa mengangguk, "Sini" Ucap sidik sambil menepuk-nepuk pahanya, meminta agar fafa menaikkan kakinya


"Kamu mau ngapain ka?" Tanya fafa panik


"Udah diem aja" Cicit sidik sambil menaruh kaki fafa di atas pangkuannya, kemudian sidik memijat kaki pelan kaki fafa.


"Ka...." Panggil fafa


"Hmmm"


"Makasih ya!"


"Buat?"


"Makasih karena kaka udah mau ngertiin aku, udah mau sabar ngadepin sikap aku yang kayak anak kecil, yang sering buat kaka ilfil, kadang suka bikin aku marah." Ucap fafa pelan sambil menunduk


Sidik menaikkan satu alisnya, dan langsung menurunkan kaki fafa, kemudian ia mengangkat dagu fafa menggunakan jarinya.


"Heiii... look at me! why do you talk like that? listen to me! aku gak peduli dengan sikap kamu yang kekanak-kanakan, aku gak pernah merasa malu dengan sikap kamu. disini kita saling melengkapi. kamu melengkapi kekuranganku dengan kelebihan kamu, dan aku melengkapi kekurangan kamu dengan kelebihan aku. kita berdua gak ada yang sempurna. kamu tahu itu kan!?" Jelas sidik, fafa mengangguk. Mata fafa mulai berkaca-kaca mendengar penuturan kata dari sidik.


"Aku beruntung bisa bertemu dengan kamu ka!!" Ucap fafa


"Aku jauh lebih beruntung bertemu dengan wanita sekuat dan sebaik kamu, ya!! Walaupun kadang galak sih" Sambung sidik


"Ih... Kaka ngeselin" Ucap fafa geram, sambil mencubiti perut ramping sidik


"Aww... Aww... Faa, udah berhenti.."


"Bodo amat"


"Love you.."


"Ha? Apa?" Tanya fafa


"I love you" bisik sidik


Fafa tersenyum menunjukkan deretan giginya


"I love you too" Balas fafa


"Ha? Apaan? Aku gak denger"


"I love you too. Sidik Pramudiya Wijaya" Teriak fafa. Sidik tertawa senang mendengar fafa menyebutkan namanya dengan lengkap.

__ADS_1


Mereka berdua hanyut dalam perasaan mereka masing-masing. Namun mereka berdua tidak tau apa yang sedang nenunggu mereka di kemudian hari. Karena fafa tidak bisa melihat masa depan orang-orang terdekatnya.


__ADS_2