
Beberapa tahun kemudian..
Kini fafa sudah lulus dan menjadi sarjana dengan nilai tertinggi di kampusnya. Fafa memilih kampus yang ada di jakarta, alasannya karena dirinya tidak mau jauh dari orang tuanya.
Bagaimana hubungan fafa dengan sidik dan yang lainnya?
Mereka semua masih menjalin tali silaturahmi, seperti pada saat hari kelulusan fafa disaat SMA, mereka semua rela datang jauh-jauh untuk menghadiri acara kelulusannya disekolah. Termasuk sidik, dia juga datang dan memberikan fafa satu bucket bunga yang sangat besar untuk fafa.
Namun saat acara wisuda di kampusnya, sidik tidak datang. Hanya teman-temannya dan keluarganya saja yang datang. Alasannya, karena sidik sedang ada kasus yang harus ia selesaikan.
Ya?!
Sidik menjadi salah satu pengacara terkenal di swedia, bahkan tak jarang ia memenangkan beberapa kasus besar di swedia.
David dan juga tiara memutuskan kembali ke indonesia setelah beberapa tahun bekerja di berlin. Dan sekarang mereka menjadi dokter muda di rumah sakit milik keluarga mahendra.
Sementara kevin, vania dan juga dery, mereka menjadi orang yang sangat sukses, bedanya kevin dan vania sukses dalam bidang kuliner. Mereka memiliki beberapa cabang restoran terkenal di berbagai daerah, sedangkan dery, dia menjadi CEO di salah satu perusahaan bidang property yg berada di bandung.
Sementara kiky? Dia memutuskan untuk menjadi desainer terkenal di jakarta. Mengapa kiky memilih menjadi desainer? Karena itu adalah mimpinya sejak kecil.
Dan fafa? Dia memilih mengikuti jejak papanya menjadi seorang pengusaha. Saat kuliah pun dia memilih jurusan management dan bisnis.
Masalah hubungan fafa dengan sidik? Ntah lah. Sudah 3 bulan ini mereka tidak berkomunikasi sama sekali. Ntah itu karena mereka sama-sama sibuk atau apa. Fafa tidak mengerti.
***
Saat ini, fafa baru saja sampai di kantor milik papanya. Banyak yang menyapanya dan tentu saja fafa membalasnya dengan ramah.
Fafa langsung masuk kedalam lift dan langsung menuju keruangannya yang berada di lantai 30.
"Ah.. fina, nanti tolong kamu suruh OB untuk membuatkan saya kopi susu ya! Dan antar keruangan saya" Ucap fafa pada sekertarisnya itu.
"Baik bu. Apa ada lagi?" Tanya fina
"Tidak ada"
"Kalau begitu saya permisi" Ucap fina kemudian pergi mencari OB.
Fafa masuk kedalam ruangannya, dan langsung melihat andre yang sedang duduk manis di sofa yang ada di ruang kerjanya.
"Kamu ini lama sekali" Gerutu andre.
"Wajar lama! Gue tuh bukan hantu kayak lo, yang bisa seenak jidat pergi kemana aja dengan cepat!" Cibir fafa
"Udah sana ah, jangan ganggu gue! Masih banyak kerjaan gue yg belum selesai" Usir fafa.
"Kalau udah begini, mending aku nurutin permintaan dia aja deh dari pada nanti aku yang di marahin" Gumam andre
"ANDREEE!!! CEPETAN PERGII!!!" Teriak fafa. Untung saja ruangan ini kedap suara, mungkin kalau tidak, suaranya terdengar sampai lantai dasar.
Fafa duduk di kursi kebesarannya dan mulai berkutat di depan laptop.
Tokk.... Tokk.... Tokk....
"Masuk!!"
Munculah OB yang membawa secangkir kopi untuk fafa.
"Permisi bu. Saya di perintahkan oleh ibu fina untuk mengantarkan kopi untuk ibu fafa" Ucap OB wanita itu.
"Hmm.. iya, taruh di sini aja!" Balas fafa sambil menepuk-nepuk meja kosong di sampingnya.
"Apa ada lagi yang ibu mau?"
"Saya rasa tidak ada. Sekarang kamu boleh kembali"
__ADS_1
"Saya permisi bu" Pamit OB itu
"Silahkan!"
Setelah kepergian OB yang mengantar kopi pesanannya, fafa meneguk sedikit kopi itu. Kemudian ia kembali berkutat pada laptopnya dan beberapa berkas yang harus ia periksa.
Ceklek...
Tiba-tiba saja ada yang masuk kedalam ruangannya.
"Sibuk banget ya bu?" Tanya seseorang yang baru saja duduk di kursi yang ada di sebrang meja fafa.
"Aduh ka david, jangan ganggu fafa dulu deh!! Kerjaan fafa masih banyak! Nanti aja" Seru fafa masih dengan terfokus pada laptop
"Masa iya ada yang datang gak di sambut!?"
"Ngapain segala minta di sam-.." Fafa menjeda perkataannya
"Eh tunggu deh, kok suaranya beda ya sama ka david!?" Gumam fafa. Kemudian dia mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang di depannya.
Fafa membulatkan matanya ketika mengetahui siapa yang sekarang ada di depannya itu.
"Kenapa? Masih mikir kalo gue ini david dan berharap kalau sidik yang ada di depan lo?" Tanya orang itu
"Feriiii..... Lo nyebelin banget sih!!" Ucap fafa geram, "Eh tapi kenapa lo ada di sini? Bukannya lo di surabaya?" Tanya fafa
"Iya kenapa emangnya?" Fafa menyesap kopinya
"Cantik juga ya!"
"Lo naksir sama fina?"
"Jadi namanya fina?" Tanya feri, "Oke lah kalau begitu, gue mau kedepan dulu. Mau PDKTan sama neng fina" Ucap feri kemudian beranjak dari kursi. Sebelum dia benar-benar pergi, feri berucap
"Gue dateng ke sini gak sendiri fa!!" Setelah mengatakan itu, feri keluar dari ruangan fafa.
"Ya iya lah lo gak dateng sendiri, tadi kan lo sendiri yang bilang kalau lo dateng sama bokap lo. Dasar ikan lele!!" Gerutu fafa kemudian menyesap kembali kopinya. Lalu memfokuskan dirinya pada laptop.
"Sejak kapan suka kopi begini?"
Fafa terlonjak kaget ketika ada yang bertanya di belakangnya.
"Andre!! Kan udah gue bilang jangan ganggu gue!! Gue masih banyak banget peker-.."
Cupp...
Fafa membeku ketika tiba-tiba saja ada yang menciumnya dari belakang. Sontak fafa langsung memutar kursinya dan melihat siapa yang ada di belakangnya itu.
__ADS_1
Pria dengan memakai kemeja berwarna putih dibalutkan dengan jas berwarna hitam, tak lupa dasi yang melekat di lehernya.
Fafa hampir terjungkal ke belakang jika saja tidak ada meja di belakangnya. Seketika air matanya mengalir begitu saja. Ntah dia merasa senang atau sedih ketika melihat orang yang selama ini ia rindukan dan selama 3 bulan belakangan tidak ada kabar.
"K...kamu!!"
"Miss me?" Ucap sidik tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya. Fafa diam mematung di tempat duduknya
Greepp....
Fafa langsung memeluk tubuh laki-laki itu erat, seakan tidak mau melepaskannya.
"Aku gak mimpi kan?" Gumam fafa
"Ini bukan halusinasi aku aja kan?"
"Kamu gak halusinasi. Ini aku, sidik"
Fafa semakin mengeratkan pelukannya ketika mendengar suara sidik.
"Aku masih gak percaya!! Pasti aku beneran halusinasi.." Rancau fafa
Sidik melepas pelukan fafa, dan berjongkok di hadapan fafa. Ia menghapus air mata fafa yang masih mengalir di pipinya. Fafa memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan lembut dari sidik di pipinya.
"Kamu beneran ka sidik kan? Kamu bukan hantu yang menjelma jadi dirinya kan? Atau kamu ini andre yang nyamar jadi ka sidik?" Tanya fafa masih tidak percaya.
"Aww...." Tiba-tiba saja fafa mencubit lengannya sendiri, "Kok sakit ya!? Berarti aku gak mimpi?" Guman fafa.
Sidik mengulas senyum ketika melihat tingkah konyol fafa. Fafa menatap bingung ke arah sidik
"Kenapa kamu liatin aku kayak gitu? Aku ini beneran sidik, aku bukan hantu! Jadi jangan liatin aku kayak gitu!"
"Tapi aku masih gak nyangka aja, kalau ini beneran kamu"
Sidik menyesap kopi milik fafa yang ada di atas meja fafa.
"Itu kan kopi aku! Kenapa kamu minum?" Ucap fafa memberenggut kesal
"Sejak kapan kamu suka minum kopi gini?"
"Ntah lah, tapi sepertinya sejak aku masuk kantor papa dan sering lembur di kantor, aku jadi suka pesen kopi" Jelas fafa
"Udah makan siang belum?" Fafa menggeleng, "Yaudah kita makan sekarang!" Sidik menarik tangan fafa
Mereka berdua bergegas keluar dari ruangan fafa.
"Fina..!! Nanti kalau papa saya atau yang lainnya nyari saya, bilang aja saya sedang keluar" Ucap fafa pada fina
Fafa dan sidik jalan berdampingan dengan sidik melingkarkan tangannya pada pinggang fafa posesif, seakan memberitahu bahwa fafa miliknya.
__ADS_1