
Rian memberikan dua buku nikah pada Azlan dan Julaika, Semua sudah Rian beres kan.
Dengan uang semua masalah bisa cepat terselesaikan, Rian bersyukur karena Julaika tak jadi menikah dengan Rasyid.
Ia tidak bisa membayangkan memiliki adik seorang narapidana, mungkin Tuhan masih menyayangi mereka hingga Kejadian penangkapan itu terjadi sebelum Rasyid menikah dengan Julaika.
Rian juga tidak tahu seperti apa Azlan, namun ia berharap kalau ia jauh lebih baik dari Rasyid.
"Sudah Bu, kalau peluk Julaika terus kapan berangkat nya ?"
Ujar fardan membuat Rida cemberut, Rena juga memeluk Julaika.
"Ya, ibu tenang saja. Ada kak Rian dan juga Rena di Jakarta, Julaika tidak sendirian. kalau ada apa apa kita tidak akan diam saja !"
Rena mengulas senyum melihat Azlan tampak kaku.
"maksudnya itu, kalau Julaika sakit butuh seseorang sementara Azlan sibuk, ada kakak !"
sambung Rena khawatir azlan berpikir lain.
"Ya, ibu tenang saja ! besok kita juga mau pergi ke Bogor, Azlan ada job di sana !"
Rida mengangguk lalu kembali memeluk Julaika.
Dari tiga anak nya, Julaika lah yang paling diam di antara mereka, Rena malah cerewet.
Julaika memilih tinggal bersama Rian karena Rian kakak yang baik dan sigap, istri nya juga baik. menganggap Julaika seperti adiknya sendiri.
Putri bungsu nya ini memang Cantik namun dia tidak ramah pada seseorang yang baru ia kenal, terkesan cuek saja.
Tapi kalau sudah kenal Julaika, Siapa pun berkata kalau Julaika baik, Ia peduli dengan teman teman nya. meski ia tidak memiliki banyak teman tapi bagi Julaika, satu dua cukup yang terpenting satu hati, sejalan dan tidak bermuka dua.
Banyak kolega bisnis fardan yang ingin menjodohkan anak nya dengan Julaika, namun Putri nya selalu menolak dengan alasan belum siap menikah, pernah satu kali ia bertemu dengan Amar, anak salah satu kolega bisnis sang ayah, Julaika bersikap cuek dan dingin hingga pria itu menunda perjodohan tersebut, hingga saat ini mereka belum pernah bertemu lagi.
"Kamu ikut ?"
tanya Rida menatap wajah Julaika.
"ikut Bu, hm... Senin depan kan Julaika udah masuk kerja, jadi sekalian liburan sebelum masuk kerja !"
"kamu mau balik ke kantor ? kakak kira kamu Risen ?"
Tanya Rian.
"enggak, tidak ada kegiatan di rumah juga ada pembantu, jadi lebih baik kerja saja !"
Rian mengangguk.
"ya, sudah yang yang terpenting Azlan mengizinkan, karena sekarang dan seterusnya kamu harus meminta izin pada Azlan, Jul.
__ADS_1
Mau pergi kemana dengan siapa harus ada izin dari Azlan !"
Sambung Rian dan di anggukan oleh Julaika.
Setelah itu Rida beranjak dari duduknya, Ia akan segera pulang bersama Fardan.
Rian akan mengantar mereka ke bandara, Rena juga akan pulang ke rumah nya, namun sebelumnya Rena akan mengantar mereka pulang ke bandara.
"ibu dan ayah pulang ya, kamu baik baik ya nak. turuti perkataan suami mu jika itu kebaikan !"
pesan fardan memeluk Julaika, Ia sama seperti Julaika, tak pernah banyak bicara namun Ia lah yang selalu memperjuangkan kebahagiaan anak anak nya.
Tak memaksa saat Julaika tidak ingin di jodohkan, menerima Rasyid sebagai pilihan Julaika meskipun berakhir kecewa, namun fardan berharap Azlan mampu membimbing Julaika ke jalan yang lurus.
Keduanya pergi meninggalkan rumah bersama Rian dan Rena, Julaika tidak ikut karena hendak membereskan barang barang nya di kamar, Ia akan membawa nya sebagian ke rumah Azlan.
Ada si kecil Nabila yang tengah bersama Baby sitter nya, Yulia sendiri tengah berada di butik milik nya.
Julaika dan Azlan masuk ke dalam kamar, Julaika membuka jendela yang beberapa hari ini tertutup karena sang pemilik tidak ada.
Azlan menatap sebuah bingkai foto Julaika dan Rasyid.
"Abang minta buang saja foto ini !"
Julaika tertegun melihat bingkai foto tersebut, potret nya bersama Rasyid kala itu.
Mereka memang baru mengenal Enam bulan ini, keduanya hanya berteman dekat karena Julaika tidak mau pacaran, bagi julaika setelah menikah baru lah pacaran.
Maka dari itu Rasyid langsung mengajak nya menikah karena Julaika tidak mau dijadikan pacar.
"ya sudah tinggal simpan saja, enggak usah manyun seperti itu. itu hanya sebuah foto !"
jawab Julaika menyimpan nya ke dalam laci lemari.
"kenapa tidak di buang ke tong sampah?"
Tanya Azlan saat Julaika malah menyimpan nya.
"untuk kenangan, puas kau bang !"
jawab Julaika manyun.
"jangan seperti itu, kau suami ku. posisi dia tidak ada apa apa nya di banding kamu bang. jangan merajuk seperti itu!"
sambung Julaika membuat Azlan senyum.
"hm, katakan padaku apa yang membuat mu yakin menikah dengan nya ?"
"Jul tak mau jawab, karena keadaan sudah menyimpang aku tidak menikah dengan nya ?!"
__ADS_1
jawab Julaika, Rasyid adalah pria pertama yang gencar mendekati nya meskipun ia bersikap cuek dan dingin, namun Rasyid tak pantang menyerah hingga Saat ia meyakinkan Julaika untuk menjadi teman hidup nya.
"ya, pasti sebelum nya ada kan alasan nya ?"
tanya Azlan lagi, ia ingin tahu apakah Julaika mencintai Rasyid atau menikah karena alasan lain.
"sudah lebih baik bantu Jul, beres kan barang barang ini. kita mau pulang atau terus di sini !"
"Disini juga boleh !"
jawab Azlan membuat Julaika menghela nafas panjang.
Azlan terkekeh kecil lalu merengkuh tubuh Julaika, mencium pipi nya berulang kali sementara Jul masih memanyunkan bibirnya.
"bang, kalau kayak gini gimana beresin bajunya ?"
Azlan terkekeh lagi kemudian membantu Julaika mengemas barang nya.
"Hm, nanti pulang dari sini kita ke mall ya!"
"ngapain ?"
Tanya Julaika memasukan pakaian nya ke dalam koper, sebagian ia biarkan di dalam lemari.
"Jul, Abang belum kasih seserahan pernikahan, kita beli sendiri saja. masa Abang enggak beliin apa apa untuk kamu !"
"seserahan ?"
Julaika tertegun, Ia memang tidak mendapatkan itu, mas kawin saja ATM. cincin pernikahan juga tidak ada.
Julaika menoleh pada cincin yang di melingkar di jari nya, itu pemberian dari Rasyid saat ia melamar Julaika.
"ya, sudah terserah Abang saja !"
Julaika beranjak dari duduknya lalu membuka cincin tersebut, dan menyimpan nya bersama foto mereka.
biarlah menjadi kenangan, semua sudah berlalu. Julaika juga sudah menerima semua nya.
"Ya sudah bang, kita pulang sekarang saja ! kak Yulia juga sedang di butik !"
"istri nya kak Rian seorang designer ?"
tanya Azlan menarik koper keluar dari kamar.
"Ya, tapi hanya pakaian muslimah, dress, gamis, Tunik dan yang lain nya. tidak ada gaun pengantin !"
Azlan mengangguk paham.
bersambung...
__ADS_1