
Azlan menghentikan laju mobilnya di depan gedung tinggi itu, Julaika mencium tangan suami nya sebelum turun dari mobil.
"Nanti Wa ya kalau Sudah pulang, Abang jemput !"
Ujar Azlan kemudian mencium kening Julaika singkat.
"ya bang, nanti Jul hubungi Abang !"
Azlan mengangguk membiarkan Julaika keluar dari mobil.
Azlan tak langsung melaju kan mobil nya, memperhatikan Julaika masuk ke dalam gedung dan terlihat dua orang pria langsung memberi nya berkas, entah apa ?
"aku kira kamu tidak akan datang ?"
ujar Amar membuat Julaika manyun lalu pergi sambil membawa berkas tersebut.
Amar tersenyum dalam hati melihat tingkah Julaika, menutupi hal itu dari Azis.
"ya sudah kita berangkat sekarang ke lokasi syuting ?!"
Ujar Amar lalu melangkah keluar, Azlan terus memperhatikan Amar yang masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil Amar melaju, Azlan langsung pergi meninggalkan Tempat tersebut.
*
Siang...
Julaika melirik jam pada tangan nya menunjukkan pukul sebelas siang, hanya beberapa orang yang lembur dan hanya dia yang berada di lantai itu karena Amar dan Azis sejak tadi belum kembali.
Julaika menelungkup kan kepala nya di meja, Ia benar benar mengantuk dan ingin sekali tidur.
lama kelamaan Julaika pun meletakkan wajah nya pada meja dan terpejam karena tak kuat menahan kantuk.
sepuluh menit berlalu Amar memasuki ruangan nya, Azis keluar untuk membeli makan siang. Amar menghentikan langkahnya saat melihat wajah teduh Julaika yang terlelap di meja kerja nya.
Amar melangkah mendekati namun Julaika masih terlelap hingga terdengar suara dengkuran halus dari perempuan cantik itu.
Amar terus memperhatikan setiap inci wajah Julaika, kenapa jantung nya berdegup kencang Serasa sesuatu yang berbeda tengah ia rasakan.
Amar memalingkan wajahnya lalu pergi meninggalkan Julaika, tersadar bahwa perempuan itu sudah menikah ? dan yang membuat Amar aneh adalah kenapa Perasaan ingin hadir begitu saja di saat Julaika sudah menikah.
perempuan bersuami itu membuat Amar resah karena keinginan itu sebuah kesalahan.
"Julaika...!"
Seru Amar dari dalam, mungkin lebih baik menyuruh nya pulang saja.
"Hm... Anda sudah kembali pak Amar ?"
Sahut Julaika membuka mata nya.
"bawa berkas nya kemari cepat !"
Julaika beranjak dengan gontai sambil menguap karena masih mengantuk.
"kamu pikir ini kantor nenek moyang mu, tidur saat jam kerja !"
"nenek moyang tidak punya perusahaan, nenek moyang seorang pelaut !"
jawab Julaika membuat Amar terperanga.
"apa kamu bilang Jul !"
"maaf pak, saya sangat mengantuk ! ini kan hari libur, biasa nya saya gunakan untuk Istirahat !"
Amar tidak menjawab karena tengah melihat hasil kerja Julaika.
"ya sudah sana pulang !"
Titah Amar membuat Julaika mengulas senyum, akhir nya ia bisa pulang.
__ADS_1
"terima kasih....!"
"hm....!" jawab Amar diam diam memperhatikan Julaika keluar.
"Jul, tunggu !"
Seru Amar menghentikan langkahnya yang hendak membuka pintu.
"hari Senin kita akan tinjau ulang lokasi, kamu akan ikut !"
"kemana ?"
Tanya Julaika menoleh ke arah Amar.
"hm, ke Bandung. kau harus ikut !"
Jawab Amar lalu memalingkan wajahnya. Julaika tertegun sejenak lalu keluar dari ruangan itu.
Gegas ia menghubungi Azlan untuk meminta jemput, "Maaf sayang, Abang langsung tinjau lokasi Wedding, nanti Supir jemput kamu ya!"
Julaika tertegun membaca pesan dari Azlan, Ia hanya memberi jempol tanda setuju.
Gegas Julaika ke musholla saat mendengar suara adzan Dzuhur, Ia hendak menunaikan shalat Dzuhur sembari menunggu Supir menjemput nya.
Setengah jam kemudian..
Julaika tertegun saat supir mengirim pesan bahwa mobil mogok dan harus masuk bengkel, Terpaksa ia mencari taksi.
"Jul, kamu belum pulang ?"
Tanya Amar, ia juga baru selesai menunaikan sholat Dzuhur.
"belum, kata supir mobil nya mogok !"
jawab Julaika lalu melangkah pergi.
"pulang dengan ku saja, ini untuk mu !"
"Untuk saya ?"
Amar mengangguk lalu melangkah menuju mobil, Sementara Julaika masih tertegun di depan gedung.
"tinnn....!"
Suara klakson membuat Julaika terkejut.
"Ayo masuk ?!"
Ingin menolak tapi Awan sudah hitam, sebentar lagi hujan. gegas Julaika masuk ke mobil milik Amar.
"hei, di depan ! kamu pikir aku supir ?"
Julaika kembali tertegun namun cepat Amar membuka pintu.
"Pak Azis kemana ?"
"sudah pulang !"
Jawab Amar lalu melajukan mobilnya menuju rumah Julaika.
"Jul, apa benar suami mu seorang perias pengantin ?"
Tanya Amar tiba tiba membuat Julaika terpaku.
"Apa kamu di jodohkan juga ?"
"Tidak, aku menolak untuk di jodohkan karena aku pikir aku bisa mencari nya sendiri !"
jawab Julaika tanpa menoleh.
Tak ada yang berbicara lagi, suasana berubah hening, Amar juga memilih untuk Diam.
__ADS_1
Hanya air hujan yang mulai turun membasahi kaca mobil.
*
"hm, Sekarang kamu beda ya Jul...?"
setelah beberapa menit Amar kembali bicara.
"beda bagaimana, aku tetap sama seperti dulu..."
Amar senyum mengingat pertemuan pertama nya dengan Julaika, Gadis itu diam dan jarang sekali tersenyum. Ia hanya bicara saat sang mami bertanya selebihnya ia akan diam dan mendengar kan mereka yang berbicara, hal itu membuat Amar enggan karena Julaika Begitu berbeda dengan mantan pacar nya bar bar dan cerewet sekali.
Saat itu juga Amar belum bisa move on dari mantan pacar nya yang menikah dengan pria lain.
Tapi saat ini Julaika justru membuat nya tertarik dengan sikap nya yang tegas namun tetap Tak banyak bicara.
"Jul, aku merasa kalau kamu berbeda dengan yang dulu ?"
"Dan apakah hal itu membuat anda menyesal ?"
Tanya Julaika menoleh sekilas, ia sudah sampai di depan rumah.
"terima kasih pak Amar yang baik hati sudah mau mengantar saya pulang !"
"pakai payung ini, jangan sampai kau sakit karena kehujanan !"
Amar menyodorkan payung lipat bercorak bunga.
"terimakasih...!"
Julaika mengambil payung tersebut lalu keluar dari mobil, hujan cukup deras mengguyur wilayah tersebut.
Julaika masuk ke halaman menggunakan payung milik Amar.
"Coba dong lemari pajangan juga di bersihkan jangan di biarkan berdebu seperti ini !"
Suara Keras dari seseorang membuat Julaika terpaku di ambang pintu, Ratna ada di dalam.
"baru pulang, kelayapan... suami enggak ada di rumah, ikut pergi juga !"
ujar Ratna saat Julaika melangkah masuk.
"assalamualaikum Bu, Julaika abis kerja lembur !"
"hm, kerja?"
Julaika mengangguk pelan.
"kalau kamu kerja terus siapa yang ngurusin Azlan, percuma dong punya istri kalau apa apa masih sendiri ? tugas kamu sebagai istri mana ?"
semua pembantu menundukkan kepalanya mendengar ocehan Ratna yang tidak berujung.
"Aku...hm, bang Azlan kasih izin kok Bu !"
"ya, tapi seharusnya kamu lebih mengutamakan pelayanan Kamu terhadap Azlan, anak saya ! dia kan sibuk harus nya kamu bantu pantau dong bisnis nya di rumah bukan malah kerja di luar, enggak guna jadi istri !"
Julaika mengigit bibir nya, kali ini ucapan Ratna begitu menusuk relung hati nya, Julaika naik ke atas tak menghiraukan Seruan Ratna.
"Julaika.....!"
****
**
*
*
*
***
__ADS_1
bersambung.....