
Azlan tak henti memikirkan Julaika, Ia bilang di ruangan nya tidak ada pria, semua perempuan tapi tadi ?
Azlan menelungkup kan wajah nya di bantal, Ia sangat merindukan Julaika.
gegas ia menghubungi Rasya untuk meminta libur hari ini, Karena besok weekend ia lebih sibuk, Azlan akan memberikan kejutan pada Julaika nanti sore.
**
Julaika duduk termenung di meja nya memindai beberapa berkas yang harus ia pelajari, Teringat percakapan nya dengan Amar tadi.
"Aku melihat pekerjaan mu rapih, itu alasan ku memilih mu Julaika, jangan berpikir lain apalagi menyangkut tentang kita di masa lalu..."
Julaika tertegun dengan jawaban dari Amar, kenapa ujung Jawaban nya seperti itu dan terkesan kalau Julaika gede rasa.
"Ya sudah..."
***
Tiba jam makan siang, Reva dan Alisa sudah menunggu Julaika untuk ke kantin bersama.
"Hai...."
Sapa Reva terkekeh melihat raut wajah Julaika tampak kusut.
"kenapa sih..?"
Ujar Alisa merangkul pundak Julaika.
Amar memberikan nya pekerjaan yang begitu banyak.
"enak dong jadi sekretaris bos ganteng !"
Julaika malah manyun.
"kerjaan nya banyak banget, aku sampai enggak bisa hubungi Azlan !"
Reva dan Alisa malah terkekeh kecil.
Helen merasa iri dan geram saat mendengar kalau Amar memilih Julaika mengganti kan Restu untuk sementara waktu.
Ketiga nya duduk di kantin menghadap taman Kantor yang berada di samping gedung, Julaika memesan satu mangkok bakso kesukaan nya.
"lihat deh yang iri sama kamu, Jul..."
ujar Alisa tersenyum mengejek ke arah Helen dan Rosa.
"yang kemarin berkicau sana sini sekarang kelihatan kesel....!"
tambah Reva terkekeh kecil melihat ke arah Rosa.
"Jul..."
seseorang memanggil lalu duduk di hadapan Julaika.
"Jul, Lo belum ke kantor polisi ?"
Tanya Ari membuat Julaika tertegun sejenak.
"Jul, gue kasihan sama Rasyid, dia mau ketemu sama Lo !"
sambung Ari, beberapa kali Rasyid menitip pesan pada pengacara meminta Ari menemui Julaika lagi.
__ADS_1
"Jul, gue tahu Rasyid salah tapi walau bagaimanapun kalian pernah memutus kan untuk hidup bersama, jadi gue mohon Jul. seenggaknya Lo kasih dia pemahaman tentang hubungan kalian yang harus berakhir !"
Julaika bungkam dengan nafas tersengal, mengingat Rasyid membuat nya sesak, kebingungan Saat Hari itu kembali membayangi membuat pilu, orang lain berpikir bahwa ia begitu enjoy menjalani semua itu, padahal ia berjalan tertatih tatih.
"ya, sudah nanti pulang kerja kita ke kantor polisi, Aku antar kamu Jul !"
Ujar Reva memegang tangan Julaika.
Semua memang harus di selesaikan, kalau tidak khawatir Rasyid meradang.
*
Julaika menghempas kan bokong nya yang kecil di kursi meja sekretaris, Ia termenung memikirkan ucapan Ari, Julaika memang mengabaikan hal itu karena ia tidak ingin berurusan lagi dengan Rasyid, tapi ternyata pria itu tetap bersikukuh ingin bertemu dengan nya.
Apa tidak apa apa Ia pergi ke kantor polisi, lebih baik Azlan tidak tahu ia ke kantor polisi, karena Julaika yakin kalau Azlan tidak akan mengizinkan.
Mungkin lebih baik pergi dengan Reva dan Alisa, seperti yang Reva katakan bahwa semua harus di selesaikan secepatnya.
"Jul, tolong kamu salin laporan ini..."
Titah Amar menyimpan berkas di meja, namun Julaika tidak bergeming, Ia tetap menghadap ke depan Dengan pemikiran entah dimana.
Amar menggeleng kan kepala nya, mengulas senyum melihat ekspresi wajah Julaika tampak lelah.
"Jul...."
Amar berbicara dengan mendekatkan wajahnya pada Julaika, sontak hal itu membuat Julaika terkesiap hingga dengan cepat memundurkan tubuhnya.
"Julaika..."
Julaika terjengkang dari kursi dan refleks menarik dasi Amar hingga pria itu tertarik dan menimpa tubuh Julaika.
Julaika teriak namun tertahan saat Amar menutup mulut nya, gegas ia beranjak dari tubuh Julaika yang begitu empuk bagian dada.
"Kau sengaja membuat ku kaget.?"
tunjuk Julaika lalu merapikan pakaian nya.
Amar terdiam, ia malah memindai wajah Julaika yang langsung memerah menahan malu, untung tidak ada yang melihat kejadian itu.
"kenapa kamu melamun terus Jul, aku tidak tahu kalau tanggapan mu akan seperti itu !"
Jawab Amar lalu melengos pergi meninggalkan Julaika sendiri.
"dasar menyebalkan...!"
umpat Julaika memukul meja lalu mengaduh.
"AW... sakit, mengapa meja nya keras sekali !"
Rintih Julaika termangu saat melihat Amar melihat hal itu dan mentertawakan nya.
"Dasar....!"
Julaika memalingkan wajahnya lalu mulai membuka laptop.
Amar terkekeh kecil lalu duduk di kursi kebesaran nya, kejadian tadi memutar di benak nya, Wajah ia dan Julaika berjarak begitu dekat hingga terasa hembusan nafasnya.
"Astaga, kenapa terus memikirkan cewek aneh itu ?!"
gumam Amar lalu menelungkup kan wajah nya di meja, Azis tengah keluar mengurus sesuatu.
__ADS_1
Julaika mengerjakan apa yang Amar perintah kan, setelah selesai ia langsung masuk ke dalam ruangan hendak menyerahkan nya pada Amar.
"pak Amar, ini laporan nya !"
Julaika menyodorkan berkas tersebut namun Amar tidak bergeming.
"apa dia tidur ? hm dasar aneh !"
umpat Julaika lalu keluar meninggalkan Amar yang mengintip nya berbicara, senyum sambil memperhatikan Julaika keluar dari ruangan nya dengan mengerucut kan bibir nya.
Sore hari...
Azlan meminta supir untuk mengirim kan pesan bahwa ia tidak bisa menjemput Julaika karena ada urusan, Azlan akan memberikan Julaika kejutan nanti.
Azlan mengendarai motor sport milik nya, sebentar lagi Julaika akan keluar dari kantor.
Julaika pasti senang melihat nya datang menjemput.
*
"Syukurlah...."
Jawab Julaika saat supir mengatakan tak bisa menjemput nya, Ia tak harus mencari alasan untuk pergi dengan Reva dan juga Alisa.
Mungkin sore ini waktu yang tepat untuk menemui Rasyid di tahanan.
"Jul, kita pesan taksi online aja..."
Saran Reva karena ia juga tidak membawa kendaraan.
"ya sudah tunggu di depan gedung saja...."
balas Alisa.
Azlan memperhatikan Julaika yang tengah berdiri di depan gedung bersama dua orang perempuan, Ia hendak menghampiri namun tertahan saat melihat seseorang menghampiri Julaika.
"Jul..
ponsel mu tertinggal di mushola !"
Amar menghampiri ketiga perempuan itu.
Julaika menerima Ponsel yang Amar sodor kan, Ia begitu ceroboh Karena lupa membawa ponsel nya yang tergeletak di sajadah setelah ia sholat ashar.
"terimakasih pak Amar...!"
Tak lama taksi online tiba di hadapan mereka, Julaika langsung pamit dengan mengangguk kan kepalanya pada Amar.
Azlan terus mengamati pergerakan Istri nya yang naik ke dalam taksi, siapa pria yang menghampiri Julaika.
Azlan menyalakan motor sportnya mengikuti laju mobil taksi yang membawa istri nya serta dua orang teman nya.
"Jul, kok aku merasa pak Amar beda deh sama kamu ?!"
Ujar Alisa menoleh ke belakang karena ia duduk di depan.
"beda bagaimana, jangan suka aneh aneh...!"
jawab Julaika tak berpikir lain, mungkin teman teman nya akan berpikir macam-macam jika mengetahui kejadian tadi siang.
bersambung....
__ADS_1