
Author saran kan untuk membaca saat malam hari, saat para reader tidak puasa, khusus episode ini ya🤭🤭😍🙏
**
*
***
**
"Aku sangat merindukanmu mu, Jul. sengaja aku minta libur agar kita bisa bersama. tapi Kenyataannya kamu malah pergi ke kantor polisi menemui Rasyid ! katakan padaku apa kamu masih mengharapkan nya ? kamu tidak nyaman hidup dengan ku ?"
Beberapa pertanyaan mencerca Julaika, Azlan beranjak dari duduknya melangkah hendak keluar dari kamar, namun cepat Julaika mendekap tubuh nya dari belakang sambil terisak.
Azlan membeku seketika mendengar tangisan pilu istri nya.
"Maafkan aku bang....!"
Hanya itu yang mampu Julaika katakan di sela tangisan nya.
Azlan menghela nafas panjang, Ia paling tidak bisa melihat orang yang ia sayangi menangis.
Azlan membalikkan tubuhnya lalu memangku wajah Julaika yang basah karena air mata, cepat jari jari nya menghapus air mata itu.
"Maaf bang, Julaika tidak seperti yang kamu pikirkan !"
Cakap Julaika terbata lalu menunduk kan wajah nya, Azlan langsung mencium kepala nya sayang lalu kembali mendekap nya.
Azlan membawa Julaika untuk duduk di tepi ranjang lalu kembali memeluk nya.
"jangan datang lagi, Abang marah Jul karena kamu menemui Rasyid tanpa izin dari Abang !"
Ujar Azlan memegang tangan Julaika menatap nya lekat. Ia ingin marah dan pergi meninggalkan Julaika tapi Hati Tidak tega.
Azlan membiarkan Julaika hingga ia tenang, merengkuh tubuh nya yang masih terisak.
setelah tenang Azlan menyuruh Julaika ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Istri nya keluar sudah menggunakan piyama tidur berbahan sutra.
"kemari....!"
Titah Azlan menepuk ranjang samping nya, Julaika menurut dan langsung naik lalu menoleh ke arah Azlan yang masih menatap nya.
"katakan apa yang membuat mu datang menemuinya Jul, apa kamu...!"
gegas Julaika menutup bibir Azlan.
__ADS_1
"enggak bang, Jul sebenarnya tidak mau datang meski beberapa kali Ari datang meminta !
Tapi Julaika tidak ingin membuat bang Rasyid terus berharap, Jul datang juga hanya untuk memberikan pemahaman tentang hubungan Jul dan dia yang Harus berakhir, itu saja !"
cakap Julaika menjelaskan pada Azlan.
"ya, tapi seharusnya kamu minta izin Abang, bukan pergi diam-diam seperti itu, bagaimana Abang tidak curiga ?"
Jawab Azlan memberikan pandangan bahwa Ia tetap memiliki kuasa atas hal itu karena Azlan suami nya.
"ya, maaf...!"
Julaika menundukkan, Azlan kembali merengkuh.
"Jul, Abang sangat merindukan mu, Jangan berpikir kalau Abang baik baik saja jauh dari kamu...!"
Julaika terpaku, Azlan mengusap punggung nya.
"Maafkan Abang karena sudah marah sama kamu !"
Julaika mendongak, malah dia yang meminta maaf. Azlan mengusap pipi Julaika yang masih basah. "jangan melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan Abang, karena hal itu akan menciptakan kesalahan pahaman ! kamu mengerti Jul !"
Julaika mengangguk lalu merebahkan tubuh nya karena ia sangat lelah, hari ini benar-benar menguras tenaga nya. Azlan ikut berbaring lalu memiringkan tubuhnya memeluk Julaika.
"Jul, apa kamu ragu dengan Abang ?"
"tidak bang,, Jul kan tadi sudah bilang, aku datang hanya ingin memberikan pemahaman bang, walau bagaimana dia itu kan mantan calon suami Jul...."
Azlan mengangguk dalam hati cemburu karena Julaika menemui Rasyid.
Julaika menundukkan kepalanya saat Azlan menatap nya lekat, mungkin kah malam ini akan menjadi yang spesial untuk mereka ?
Azlan mencium kepala Julaika, meraih dagu nya lalu kembali menatap wajah Julaika.
"Jul Abang sangat rindu...!"
Ujar Azlan lalu mencium bibir Julaika, meraup nya perlahan hingga ciuman itu semakin menuntut meski tak ada balasan dari Julaika, istri nya hanya diam membiarkan Azlan memagut bibir nya dengan mesra.
semakin lama Azlan semakin memperdalam ciuman nya, hembusan nafas nya memburu penuh hasrat, perlahan Azlan menghimpit tubuh Julaika.
Azlan melepaskan ciuman nya saat merasa nafas nya mulai tersengal, memandang wajah merona Julaika penuh hasrat.
"Jul, apa Abang boleh melakukan lebih ?"
Tanya Azlan meminta persetujuan dari Istri nya, khawatir Julaika belum siap dengan hal itu, namun Julaika langsung mengangguk tanda memberi mandat untuk Azlan memulai nya.
__ADS_1
Azlan mencium kening Julaika sembari berdoa untuk memulai penyatuan mereka, Julaika tertegun mendengar Azlan berdoa, Julaika memejamkan mata nya saat Bibir Azlan menelusuri leher jenjangnya yang putih, memberi gigitan kecil hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Julaika hanya mampu mengigit bibir nya menahan sensasi geli juga rasa yang membuat nya meremang.
Azlan membuka kancing piyama milik Julaika, Azlan tersenyum saat Julaika menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan.
"kenapa sayang ?"
Desis Azlan di telinga Julaika lalu mengigit nya pelan.
"geli bang, kamu....!"
Azlan terkekeh kecil lalu mencium pipi Julaika berulang kali.
Julaika memejamkan mata nya membiarkan Azlan mencumbu nya, menyusur setiap jengkal tubuh nya dari bawah hingga atas.
Julaika pasrahkan hidup nya untuk seseorang yang berjanji di hadapan tuhan atas dirinya, pria yang dianggap banci oleh seseorang, mungkin mereka berpikir kalau Azlan tidak menyukai perempuan tapi apa yang terjadi di ranjang saat ini, pria itu mencumbu nya dengan lihai.
"Jul, kamu siap sayang ?!"
Julaika mengangguk memejamkan mata nya, menarik nafas panjang saat sesuatu mulai mendelesak pada milik nya, Julaika mengigit bibir nya saat merasa kan perih seperti teriris.
"Sakit sayang....?"
Julaika tak menjawab, hanya air mata dengan nafas tersengal yang menjabarkan rasa itu.
Azlan menghentikan gerak nya, menghapus air mata Julaika, menciumi wajah nya hingga istri nya itu tenang dan rasa sakit itu sedikit berkurang.
Malam yang indah bagi Azlan karena dapat memiliki istri nya seutuhnya, bersyukur karena Julaika menjaga mahkota nya dengan baik. Ia persembahkan pada pria yang menjadi suaminya.
"Jul, kita lanjut atau berhenti sayang ?"
Julaika tak menjawab, wajah nya merona mendapati Kedua nya dalam penyatuan.
"lanjut ?"
Julaika mengangguk mengulas senyum membuat Azlan bahagia dan kembali mencumbu Istri nya, perlahan tapi pasti menciptakan rasa nyaman hingga berujung indah dan tak ingin berhenti.
Ingin terus mendekap nya erat dalam penyatuan rasa, kejutan indah yang tidak ternilai harganya, rasa menakjubkan yang membuat nya tak ingin melepaskan perempuan itu.
Perseteruan yang berujung indah, Kedua nya sama sama melunak dan tidak berkeras hati, Azlan juga tidak menuruti amarah nya karena ia tidak suka melihat Julaika menangis, seperti halnya saat ia mendengar Rasyid tertangkap polisi, rasa iba langsung merayap pada jiwa nya Sebenarnya bisa saja ia menolak pernikahan itu, tapi jiwa nya meringis iba melihat Julaika hingga ia bersedia menjadi pria yang mengucapkan janji suci di hadapan penghulu dan Tuhan.
Tak sia sia ia mengambil libur karena apa yang Julaika berikan Lebih dari rasa kecewa nya pada Julaika, Azlan mendekapnya erat saat kedua nya bersama mencapai pelepasan.
bersambung...
__ADS_1
terima kasih sudah mampir, jangan lupa untuk like and komentar biar author menggebu untuk up 😍😍😍