
Beberapa hari berlalu,,
Mereka masih berada di negara itu, Adi terpaksa datang mengurusi perkara Rasyid, sementara Julaika memaksakan diri untuk datang memberi kan keterangan.
Sampai saat ini Julaika masih tidak mau makan dan Sering sekali merintih ketakutan hingga Azlan tidak pernah sekalipun meniggalkan Julaika.
"yah, gimana kalau kita tanya psikologi mengenai rasa trauma Julaika, Azlan khawatir karena dia tidak mau makan sama sekali..."
ujar Azlan, ia bahkan melupakan pekerjaan nya karena terus memikirkan dan mengurusi Istri nya yang masih labil.
"boleh juga, HM.... menurut ayah sebaiknya kita segera pulang ke Indonesia agar Julaika tak lagi mengingat kejadian itu..."
Sahut fardan, Ia juga khawatir dengan keadaan Julaika.
"Ya, Aku sudah urus semua nya, Tinggal ayah bicara dengan keluarga pak Wibowo, Rian dengar hari ini Amar pulang dari rumah sakit !"
"ya, itu urusan Ayah nanti dan ibu mu !"
jawab Fardan, ia sudah menyiapkan hadiah yang ia janjikan pada Amar, beberapa hari ini juga Fardan dan Rian tidak pernah absen melihat keadaan Amar di rumah sakit, semua di lakukan sebagai bukti rasa terima kasih mereka pada Amar, bahkan biaya rumah sakit di tanggung oleh Azlan sepenuhnya sampai Amar bisa pulang dari rumah sakit.
"baiklah kalau begitu, kamu bilang Sama Julaika kalau kita mau pulang !"
Azlan mengangguk lalu masuk ke dalam kamar dimana Julaika tengah tertidur.
Rambut nya sudah Azlan rapikan, Mau tak mau Julaika harus potong pendek rambut nya.
Setiap malam gelisah dan merintih ketakutan, menjelang pagi istri nya itu bisa tertidur, itu pun karena sudah sangat mengantuk.
Azlan mengecup kening nya perlahan, Membelai rambut nya yang pendek sebahu, Rasyid benar benar kejam, Ia memberikan rasa trauma yang mendalam terhadap istri nya itu.
"sayang ....!"
Desis Azlan di telinga nya.
Julaika kembali terisak karena bayangan menakutkan itu kembali datang membuat nya pilu.
"Hei, sayang... Tenang, kamu berada di sisi Abang !"
Julaika membuka mata nya dengan bulir bening yang meluncur bebas, gegas Azlan mendekap nya erat-erat.
"Aku takut bang, Bau bangkai...."
Julaika terisak.
"jangan takut sekarang Kamu berada di sisi Abang, kita akan pulang ke Indonesia siang ini..."
Julaika mendongak menatap wajah tampan suami nya.
"Jul, apa Rasyid menyentuh kamu? maaf maksud Abang ?"
Azlan menatap wajah sembab istri nya, mata nya bengkak karena terlalu banyak menangis.
"HM, tidak. Alhamdulillah. Rasyid tidak sampai menyentuh Jul, bersyukur Jul sedang menstruasi, pria itu masih punya akal sehat... mungkin bisa saja dia melakukan hal itu jika Jul tinggal lebih lama lagi...."
Julaika menangis tergugu, jiwa'nya benar benar terguncang oleh peristiwa itu.
Azlan memeluk nya erat, mencium pucuk kepala nya berulang kali.
__ADS_1
"Abang merasa berhutang pada Amar, dia sudah menyelamatkan kamu dek !"
Julaika tertegun mendengar hal itu.
"sebenarnya Pertolongan datang dari Tuhan, dan Bang Amar sebagai perantara...Jul sudah berterimakasih bang !"
Azlan memangku dagu Julaika, melihat ke dalam netra nya. apakah ada cinta untuk nya ?
"ya, Tapi tetap saja Abang merasa berhutang...!"
"lantas Abang mau apa ?"
Azlan diam sambil berpikir, ia juga bingung mau apa ?
"Nanti Abang pikirkan, Kamu makan dulu ya ?"
Julaika menggeleng kan kepalanya, lagi lagi ia menolak.
"HM, kita pergi makan di luar yuk ? sebelum pulang kita pergi jalan jalan ke sungai Thames mau?"
Julaika mengangguk dengan antusias.
mungkin dengan cara seperti itu Julaika bisa melupakan masa pahit itu.
kalau Rasyid tidak mendekam di penjara, ingin rasanya memukulinya sampai babak belur, Azlan benar benar kesal dengan perbuatannya yang tidak memiliki hati.
Rian mengizinkan mereka pergi berjalan jalan, fardan tengah pergi ke Rumah sakit mengantar Amar pulang ke rumah Runi, fardan juga berencana memberikan hadiah untuk Amar siang ini juga, karena mereka hendak kembali ke Indonesia.
Azlan mengajak Julaika berjalan jalan di sekitar Sungai Thames itu, banyak para turis asing yang juga tengah menikmati keindahan sungai itu.
Julaika melihat sekeliling tempat itu, Ia dan Rasyid memang pernah berencana pergi honeymoon ke negara itu, namun lain kenyataannya justru ia menciptakan sejarah kelam dalam hidup nya.
"kita makan di resto itu yuk !"
Ajak Azlan kesebuah restoran yang letak nya tidak jauh dari sungai itu.
"tapi....!"
Julaika kembali mengelak.
"sayang, sebenarnya hanya kamu yang bisa melawan rasa pahit itu, Abang yakin kamu bisa ! kamu pasti kuat !"
Azlan menarik tangan Julaika masuk ke dalam restoran.
Azlan langsung memesan beberapa makanan khas negara itu, Julaika duduk tak bergeming.
tak lama pesanan datang, Azlan duduk di samping nya lalu menyodorkan makanan.
"Ayo makan, lihat Abang dan sekitar tempat indah ini !"
Julaika menghela nafas panjang lalu memejamkan mata nya mencoba untuk melupakan masa itu.
Julaika menarik nafas dalam-dalam, menatap Azlan yang juga menatap nya penuh kasih.
menyuapi nya perlahan hingga satu, dua, tiga, Azlan mampu memasukkan makanan ke dalam mulut Julaika.
__ADS_1
"Lihat Abang, oke !"
Julaika mengulas senyum sembari menitik kan air mata, apapun yang orang katakan tentang mu, aku yakin kau menyayangiku.
Azlan merengkuh tubuh Julaika, mencumi kepala nya.
"Nanti setelah di Indonesia, Abang akan ajak kamu konsultasi dengan psikolog..."
Ujar Azlan dan di anggukan oleh Julaika.
*
Fardan memberikan sebuah cek dengan nominal cukup banyak, cukup lah untuk Amar membeli mobil baru.
"jangan pak fardan, saya ikhlas menolong putri anda. ya sebenarnya saya sangat menyesal karena dulu membatalkan perjodohan itu..."
cakap Amar terkekeh sendiri, menolak cek yang di berikan oleh Fardan.
"ya, lepas dari itu mungkin memang kalian tidak berjodoh..."
jawab Wibowo membuat amar tertegun Lalu mengangguk.
"ya, papah benar... Amar juga yakin seperti itu, jodoh tidak akan kemana..!"
Sahut Amar mencoba untuk Menerima segala ketentuan nya.
"sebelum pulang, Amar hanya ingin bicara dengan Azlan, apa boleh !?"
Tanya Amar, ada hal yang ingin Ia sampaikan pada suami Julaika.
"ya, tentu saja. nanti Saya telpon. Julaika juga pasti ingin pamit dulu sebelum kembali ke Indonesia...!"
Amar mengangguk lalu mengembalikan cek tersebut.
"sekali lagi Saya berterima kasih, kalian sudah seperti saudara !"
"ya, betul. tak apa tak jadi besan tapi kita bisa menjadi saudara !"
tukas Wibowo mengulas senyum lalu berpelukan dengan Fardan.
Setelah itu Fardan menghubungi Azlan agar Ia dan Julaika mendatangi rumah Runi.
Kedua nya tengah duduk sambil memandangi sungai dengan air yang jernih dan pemandangan kota yang begitu indah, Azlan membuka pesan dari fardan.
"Sayang, ayo kita ke rumah kak Runi, ayah minta kita berpamitan pada Amar sebelum kembali ke Indonesia !"
Julaika mengangguk lalu beranjak bersama Azlan.
*
**
***
****
bersambung..
__ADS_1
berapa hari lagi menjelang Hari raya, Para reader pasti mulai sibuk ya, terimakasih ya masih menyempatkan waktu nya untuk membaca dongeng author yang penuh halu ini 🤭🤭🤭👍
Tengkyu...😍😍💪💪