
Saat ini Rasyid tengah berbicara dengan pengacara nya, membahas perkara yang tengah ia hadapi.
"kalau soal kasus pembunuhan gue enggak terlibat, sumpah. gue cuma tahu rencana itu tapi gue nggak ikut eksekusi..."
Ia memang mengetahui rencana pembunuhan tersebut karena sebuah dendam namun Rasyid tidak ikut campur tangan dalam pembunuhan tersebut.
"ya sudah kita akan bicarakan nanti di sidang tapi kalau soal narkoba, itu semua terbukti. aku tidak yakin kau bisa bebas bersyarat, kemungkinan hanya mengurangi masa tahanan mu saja Id...?"
Rasyid berdecak kesal karena kebodohannya ia mendekam di sel tahanan.
"kalau gue enggak bebas, gimana sama Julaika?"
Tanya Rasyid frustrasi memegang kepala nya.
"bukannya dia sudah menikah, sudah lah id. lupakan Julaika, mungkin kalian tidak berjodoh !"
"Sialan, enak sekali banci itu menikmati hasil jerih payah gue. Dia pikir mudah bawa Julaika mendaftar ke KUA...!"
umpat Rasyid mulai kesal.
"ya mau bagaimana lagi, mereka sudah sah menjadi suami istri !"
"masih bisa bercerai, aku tidak rela Julaika dengan banci itu...!"
Rasyid meminta ponsel pada pengacara nya, Ia akan menghubungi Julaika membicarakan hal itu.
*
Saat ini Julaika dan Azlan tengah berada di butik muslimah yang berada di dalam mall taman anggrek.
Azlan memilih kan banyak dress cantik serta hijab nya.
"bang, banyak banget beli nya ? mau jualan ?"
Tanya Julaika mematung saat Azlan mengepaskan dress dress tersebut dengan tubuh nya.
"Ya, enggak apa apa. harus nya tadi enggak usah ambil pakaian di rumah karena kita beli banyak !"
"enggak ah, jangan membiasakan diri bersikap boros ! Jul enggak suka, kita beli beberapa saja !"
Tukas Julaika menyimpan nya kembali.
"banyak di luar sana yang kekurangan bang, kita berbagi makanan saja dengan mereka !"
Azlan tertegun mendengar penuturan Julaika, istri nya ternyata memiliki jiwa sosial tinggi.
Bukan hanya sekedar cantik tapi berhati malaikat.
Julaika terkejut saat Azlan tiba tiba merengkuh nya.
"Abang, ini di butik orang loh. jangan aneh-aneh !"
"abis nya kamu bikin Abang gemas, ayo kita bayar. Abang mau kita cepat pulang !"
Julaika mengerut kan kening nya mendengar apa yang Azlan katakan, ia tak paham keinginan Azlan yang ingin memeluk nya dengan bebas.
__ADS_1
Kedua nya keluar dari butik setelah membayar semua nya, Azlan mengajak Julaika membeli beberapa tas dan juga sepatu.
terakhir Azlan mengajak Julaika ke toko perhiasan, Azlan memilihkan satu set perhiasan untuk Julaika.
Tiba tiba seseorang duduk di samping Azlan, dan hal itu membuat Julaika terpaku.
"shopping ?"
Tanya Ratna, sang ibu. ia tengah shoping dengan Viona, tak sengaja melihat Azlan masuk ke dalam toko perhiasan.
"wah, baru beberapa hari udah borong barang barang di mall, itu baru beberapa hari loh !"
ujar Viona menutup mulut nya sendiri membuat Julaika tidak bergeming.
"enggak apa-apa ? Azlan lagi beli seserahan buat Julaika, kemarin kan Azlan enggak bawa apa-apa !"
"salah siapa ? kamu kan enggak niat nikahin dia !"
jawab Ratna langsung menohok hati Julaika, Ia paham mengapa Ratna tidak menyukai nya, seperti nya Ratna ingin Azlan bersama viona.
"sudah Bu, jangan bahas itu lagi. Julaika sekarang istri Azlan, dia berhak mendapatkan apapun dari Azlan !"
"ya, tapi ibu tidak mengakuinya...!"
jawab Ratna langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Azlan langsung menoleh ke arah Julaika, istri nya itu tidak bergeming. hanya air mata yang menjadi saksi betapa sakit nya ia mendengar penuturan Mertuanya itu.
"sayang, maaf ya !"
Azlan langsung memeluk nya, pramuniaga toko tersebut terlihat iba pada Julaika. semua langsung terdiam karena kejadian itu, Ratna berhasil membuat nya malu.
Tangan nya merengkuh bahu Julaika, istri nya itu bungkam tak ingin berkomentar.
Anggap saja kejadian tadi ujian untuk menguatkan mental nya, Julaika yakin ini baru permulaan selanjutnya mungkin akan lebih dari ini.
"maafkan ibu ya dek...!"
sahut Azlan saat mereka berada di dalam mobil.
Julaika tak bersuara, ia masih mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi semua itu.
"Jul, Abang mohon maaf kan ibu Abang !"
tambah Azlan menggenggam tangan Julaika, perlahan Julaika mengangguk.
"seperti nya beliau ingin Abang dengan Viona !"
"biarkan saja, jangan pikirkan itu ! sekarang kamu istri Abang jadi tidak usah menghiraukan ucapan ibu !"
"tapi mana bisa seperti itu ? dia ibu kamu ? bukan orang lain !"
"ya, Abang tahu. lambat laun juga ibu akan menerima kita !"
Julaika tak menjawab, ia lebih memilih diam dan sadar akan dirinya yang memang menikah bukan dengan calon suaminya.
__ADS_1
"kita makan dulu ya ?"
Ajak Azlan menepikan mobilnya ke sebuah restoran.
Julaika beranjak dari mobil saat Azlan membuka pintu mobil nya.
Azlan memperhatikan Julaika tampak murung semua karena kejadian tadi.
"Mau pesan apa dek ?"
Tanya Azlan duduk di hadapan Julaika.
"Mau spaghetti aja bang !"
Azlan mengangguk lalu memesan makanan untuk mereka, ia juga memesan banyak makanan untuk di bagikan nanti, Azlan yakin hal itu bisa merubah mood Julaika.
Keduanya makan berhadapan, Julaika menunduk saat Azlan terus memindai wajah nya.
"kamu masih marah sama Abang ?"
"Jul enggak marah sama Abang ?"
jawab Julaika berhenti mengunyah makanan nya.
"Ya, Abang paham apa yang kamu rasakan Jul. Abang juga enggak suka ibu berbicara seperti itu. kalau orang lain mungkin Abang bisa balas tapi....!"
"ya, Jul paham akan hal itu, Abang tidak perlu memikirkannya lagi !"
tukas Julaika lalu kembali mengunyah makanan nya.
"kita langsung pulang saja !"
pinta Julaika tertegun saat pelayan membawa beberapa bok nasi.
"kita bagikan ini dulu di jalan ya !"
Julaika mengangguk sambil mengulum senyuman.
Keduanya beranjak dari restoran tersebut, pelayan membantu mereka membawa bok nasi tersebut. Azlan cukup banyak membeli nasi box untuk di bagikan. benar saja mood istri nya langsung membaik.
Beberapa kali mereka berhenti di jalan membagikan makanan pada pedagang dan anak anak jalanan. Pemungut rongsokan dan yang lain nya hingga nasi box tidak tersisa.
Julaika tersenyum senang melihat wajah ceria anak anak menerima makanan dari nya.
"kasihan mereka, masih kecil tapi sudah harus berjuang keras untuk bertahan hidup !
bukan kah kita jauh lebih beruntung...!"
Ujar Julaika menoleh sekilas ke arah Azlan yang tengah menyetir.
"ya dek kamu benar! kita memang harus banyak bersyukur !"
jawab Azlan kagum dengan Julaika, di balik sikap nya yang pendiam ia begitu peduli terhadap sesama. terlihat acuh namun ternyata tidak, ia begitu baik.
Ratna terdiam sejenak, ia melihat Azlan dan Julaika tengah membagikan makanan pada anak jalanan. Hal yang tidak terpikir oleh mereka yang banyak bergaya dengan hartanya.
__ADS_1
Namun tetap saja Ratna tidak menyukai Julaika, Ia terlanjur menginginkan Viona menjadi menantu nya.
bersambung..