
Viona langsung tertegun mendengar penuturan Kevin, Air mata jatuh begitu saja mengalir di pipi nya, Rasa sakit menyeruak akan penolakan dari Kevin.
"Kevin bicara apa kamu ? siapa yang mengajari kamu seperti itu ? Dia mengandung darah daging mu, kamu tega membunuh nya ?"
Tanya Ratna dengan tatapan geram terhadap putra sulungnya itu.
"Dia itu sudah tidak perawan lagi, Mana mau aku bekas orang ?!"
jawab Kevin enteng lalu menyodorkan sebuah cek.
"kita damai saja, pernikahan hanya akan membuat kita saling menyakiti, aku tidak menyukai mu apa lagi mencintai mu...!"
Viona langsung menunduk serasa diri begitu rendah di hadapan Kevin.
"Aku tak akan pernah menggugurkan Kandungan ku, kelak aku akan katakan pada anak ku bahwa ayahnya telah mati !"
jawab viona lalu pergi meninggalkan kedua nya.
Ratna mematung menatap punggung Viona yang menjauh, sebagai seorang wanita ia juga kecewa terhadap anak nya.
"kau akan menyesal Kevin....!"
Seru Ratna lalu melangkah pergi meninggalkan Kevin, pria itu melenggang pergi meninggalkan Rumah itu.
Di rumah itu banyak sekali kenangan Ia dan kedua adik nya, semua hancur karena keegoisan Ratna. sang ibu yang hanya mementingkan kepentingan nya sendiri.
Gegas Kevin mengejar viona yang belum jauh, Ia harus berbicara empat mata.
Pagi....
Azlan mendengar kan berita terbaru terkait Pencarian Beberapa Tahanan yang masih buron, termasuk Rasyid. entah dimana pria itu bersembunyi? sementara Azlan dan Rian melakukan penjagaan ketat di rumah itu.
Azlan menoleh ke arah Julaika yang membuka mata nya, Menelisik di bawah selimut. waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. cahaya matahari mulai menembus kaca jendela, Ia tidur begitu nyenyak hingga siang.
Azlan menghampiri lalu duduk di tepi ranjang, mengecup kening Julaika yang masih berbaring. Julaika tertegun sejenak mengingat kejadian kemarin yang masih hangat.
"Abang minta maaf ya Jul soal kejadian kemarin..."
Ujar Azlan merapikan rambut Julaika yang berantakan.
"kenapa enggak bangunin aku, ini sudah siang !"
Tanya Julaika memejamkan mata nya saat Azlan kembali mencium kening nya.
"kenapa kamu senang sekali mengalihkan pembicaraan, apa kamu masih marah ?"
Julaika bungkam.
Azlan memindai wajah Julaika tanpa ekspresi, Azlan tahu kalau Julaika memikirkan tentang pekerjaan nya.
__ADS_1
"Abang kemarin sudah datang ke kantor kamu...!"
Julaika terperangah menatap wajah Azlan yang Juga tengah menatap nya, masuk ke dalam selimut lalu memeluk Julaika dari belakang.
"Aku sudah bilang pada bos kamu, kalau kamu berhenti bekerja...!"
Julaika langsung menoleh ke belakang menilik wajah Azlan.
"apa yang Abang lakukan di kantor ?!"
Tanya Julaika cemas sesuatu terjadi di kantor.
"Abang hanya peringatkan Dia untuk menjauh dari kamu, Abang tidak melakukan hal lain selagi ia mau mendengar ! Abang masih kasih dia toleransi, tapi kalau dia tetap nekad dekati kamu maka Abang tidak akan segan untuk menghajar nya !"
Ujar Azlan membuat Julaika tertegun.
Azlan mengeratkan pelukannya, mencium kepala nya berulang kali.
"Kamu enggak suka Abang menemui nya ? kamu khawatir dengan keadaan Amar, Jul ?"
Tanya Azlan membuat Julaika membeku seketika, tak menyangka Azlan seberani itu.
"Abang tahu, Dia mungkin lebih baik dari Abang ! kamu juga masih marah karena masalah pengaman itu kan ?!"
Julaika membalikkan badannya menatap wajah tampan suami nya.
"Apa kamu enggak mau punya anak ? kenapa berpikir bahwa aku menganggap amar lebih baik dari kamu bang ?"
jawab Azlan Menyadari bahwa Istri nya tidak menyukai pekerjaan nya itu. Namun sebenarnya bukan seperti itu, Julaika menerima apapun profesinya asal kan ia jujur.
"Abang mau punya anak dari kamu, tapi tidak sekarang. Abang menundanya sampai Kita benar benar siap !"
julaika tidak menjawab.
"kau tahu sendiri bagaimana keadaan kita, Aku berpikir untuk pacaran saja dulu dengan mu, soal anak kita akan bicarakan setelah kamu benar-benar siap Jul, memiliki anak bukan perkara mudah, Abang juga sibuk. kalau Abang kurang perhatian salah juga.."
Julaika membalikkan badannya memunggungi Azlan.
Entah lah....
"Sekarang Mandi, kita ambil mobil kamu di rumah. untuk sementara waktu tinggal di sini saja, dan lagi tidak akan ada Ibu yang mengusik kamu !"
Julaika mengangguk lalu beranjak dari ranjang melangkah ke kamar mandi.
*
Sementara itu Reva tertegun saat Amar memangil nya, Ia menitipkan uang gajih dan pesangon milik Julaika selama bekerja di perusahaan itu. Reva tak tahu kalau Julaika mengundurkan diri, nomor ponsel nya juga tidak bisa di hubungi. entah apa yang terjadi dengan sahabat nya itu, Apa mungkin terjadi suatu masalah ?
"Tolong kamu berikan ya Ren..!"
__ADS_1
"Ya pak, saya akan berikan nanti sepulang dari kantor !"
jawab Reva lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Ia langsung ke meja dan berbicara dengan Alisa tentang hal itu.
"Aku dengar dari Rere, sore kemarin ada Azlan datang kemarin !"
Reva mengangguk.
"duh, ada apa ya ? kok perasaan Ku enggak enak deh, nomor Julaika juga enggak aktif. di tambah berita tentang Rasyid ? aku khawatir kalau Rasyid berbuat jahat pada Julaika...!"
"Aku juga cemas, coba kamu hubungi kak Rena, va!"
Reva mengangguk lalu mengirim pesan pada Kakak Julaika.
Helen Merasa senang saat mendengar Julaika keluar dari kantor, Usaha nya menyingkirkan Julaika dari kantor berhasil.
Helen tidak menyangka kalau Azlan ternyata pria Tulen dan bukan banci banci seperti kebanyakan perias pria lain nya, Ia bahkan datang langsung memberikan peringatan dengan berani pada Amar.
"Hebat juga dia, hm... pantesan si Viona tergila gila. gue sangka tuh cowok banci..!"
Gumam Helen dalam benaknya lalu pergi setelah mendengar percakapan Reva dan Alisa.
*
Azlan membawa kan Julaika sarapan, istri nya itu menyembul keluar dari kamar mandi.
"Ayo sarapan dulu...."
Julaika termangu melihat Beberapa makanan dalam nampan dan segelas teh hangat kesukaan Julaika.
"kita ambil mobil kamu di rumah Abang, setelah itu Abang mau ketemu teman, kamu mau ikut ? dia mau sewa gaun pengantin punya Abang ?!"
Julaika duduk di samping Azlan dengan lemas, dalam keadaan datang bulan seperti ini, Ia memang sering kali sakit.
"Enggak Jul di rumah saja, Kepala ku sedikit pusing !"
"ya itu karena kamu terlalu banyak menangis ?!"
"ya, siapa yang membuat aku menangis !"
"ya, Abang tahu, Abang kan sudah minta maaf...!"
Jawab Azlan memangku wajah Julaika lalu mencium matanya yang sembab lalu memeluk nya.
"Abang sangat menyayangi kamu Jul, Abang tidak bermaksud untuk menyakiti kamu !
Abang ingin bertahan di dalam rumah tangga ini meski kamu enggak cinta sama Abang !"
Julaika memalingkan wajahnya, Sebenarnya ia juga cinta, terlanjur mencintai meski tersemat luka tapi Ia berusaha untuk memaafkan dan menerima keinginan Azlan untuk menunda momongan.
__ADS_1
bersambung...
terima kasih sudah mampir 😍😍😍