My Wife Introvert

My Wife Introvert
tentang jodoh.


__ADS_3

Azlan keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya, Julaika menoleh sekilas lalu menunduk, waktu menunjukkan setengah empat pagi.


Julaika tidak menyangka pria itu berani tampil seperti itu di hadapan nya, padahal mereka baru saja mengenal. meskipun keduanya terikat pernikahan.


Julaika terpaku saat Azlan duduk di samping nya, entah kapan pria itu memakai baju.


"apa kamu lapar jule...?"


Julaika mendelik ke arah Azlan, ia tidak suka dengan panggilan itu.


"Nama ku Julaika, jangan panggil jule. aku tidak suka !"


ungkap Julaika membuat Azlan mengulas senyum.


"baiklah, Julaika istri ku. apa kau lapar ?"


Julaika kembali menoleh.


"Aku masih belum paham sebenarnya apa alasan kamu tidak menceraikan Ku ?"


Azlan duduk semakin dekat dan Julaika bergerak menjauh.


"Aku sendiri sebenarnya masih tidak percaya dengan keadaan ini, Aku baru saja selesai mendadani seorang pengantin dan tiba tiba aku di seret ke hadapan penghulu. aku seperti mendapatkan bintang di siang hari....!"


Azlan terkekeh kecil.


Julaika cantik, ia tidak seperti kebanyakan wanita yang selalu banyak bicara. Azlan pikir tidak ada salahnya Ia mencoba untuk menjalani rumah tangga bersama cewek introvert ini.


Meski Azlan tidak tahu apakah ia akan tetap sama seperti saat pertama kenal, atau justru berbanding terbalik saat ia merasa nyaman atau percaya dengan seseorang.


"maksudnya apa ?"


Azlan menoleh memindai Wanita yang berstatus istri nya, tak sehelai pun rambutnya terlihat. lekuk tubuh nya tertutup dress cantik berwarna hitam bercorak bunga.


"Tidak ada yang tahu tentang jodoh, begitu juga dengan kematian yang datang secara tiba-tiba. tidak ada yang bisa menghindari takdir tuhan, apa yang terjadi pada kita telah tercatat di lauhfulmahfuz. kau percaya itu ?"


Julaika terdiam lalu menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"aku tahu ini tidak mudah, menikah dengan seseorang yang tidak kita cintai, tapi aku ingin menjalani nya hingga kita sama-sama jatuh cinta...!"


Julaika terpaku mendengar kata cinta, Ia teringat seseorang yang berada di dalam jeruji besi.


Julaika mencoba bersikap santai, Ia tidak ingin terlalu percaya pada Pria yang berada di hadapan nya.


Kata orang yang bahaya dari laki laki adalah ucapan nya, karena dapat menggangu tidur dan menggetarkan hati saat mengingat nya, maka wanita di sarankan untuk mempercepat bicara nya saat berhadapan dengan nya.


"Julaika, kenapa kamu selalu diam !?"


"Lebih baik diam sampai kau di minta untuk bicara dari pada kau di minta diam karena banyak bicara...!"


tukas Julaika membuat Azlan mengulas senyum.


"Baiklah Jul, kau mau makan dulu atau apa ?"


"memang nya kita mau apa ?"


Azlan terkekeh lagi, ia paham kekhawatiran Julaika.


Julaika termangu melihat Azlan yang beranjak dari duduknya.


"Kau tidak usah khawatir, aku bukan tipe pria yang suka memaksa !"


Julaika semakin membeku, istri macam apa ? ia akan berdosa jika menolak tapi saat ini ia belum siap bersama Azlan, tak pernah terpikir sama sekali dengan keadaan ini.


"kalau kamu tidak mau pesan makan, kembali lah tidur. ini masih gelap !"


sambung Azlan lalu membuka laptop nya, terlihat seorang gadis cantik terpampang di layar tersebut, Julaika tidak tahu apa yang tengah Azlan lakukan ? siapa perempuan itu ? kenapa Azlan terus memandanginya.


Apakah pantas jika ia bertanya pada Azlan, atau jangan jangan itu adalah kekasih nya ?


Julaika memijat keningnya yang berdenyut pusing, ia pun langsung merebahkan tubuhnya dan membelakangi Azlan. tak ingin memikirkan pria itu !


Azlan tengah memindai wajah perempuan yang sebentar lagi akan ia dandani, sebelum nya juga seperti itu, ia terus memindai wajah cantik Julaika sebelum ia dandani, dan tidak menyangka perempuan yang ia kagumi alis tebal nya malah menjadi pengantin nya.


Dan untuk pertama kalinya pengantin menolak untuk di cukur alis nya, kebanyakan mereka tidak berkomentar apa apa pada nya.

__ADS_1


Azlan menoleh ke arah Julaika yang meringkuk membelakangi nya, istri nya itu memang irit sekali bicara, Azlan memikirkan apa yang ia sampaikan barusan pada Julaika, Ia memang tidak akan memaksa Julaika untuk tidur dengan nya, hal itu perlu waktu untuk saling menerima keadaan.


Gegas Azlan memesan sarapan pagi untuk Julaika, Ia hendak pergi ke lokasi Untuk merias pengantin wanita, Ia akan membiarkan Julaika beristirahat saja di hotel.


**


Satu jam berlalu, Julaika terbangun saat melihat jam menunjukkan pukul setengah enam pagi.


Ia memindai sekeliling kamar tersebut nampak sepi, dan melihat makanan di dekat meja dekat sofa dengan sebuah pesan pada Kertas Putih dekat nampan.


"Aku pergi ke lokasi untuk merias pengantin, aku lupa meminta nomor ponsel mu, tidak usah menunggu ku sarapan saja lebih dulu...aku akan kembali siang "


itulah pesan dari Azlan, Julaika memindai makanan yang berada di hadapan nya, teh hangat Dan Nasi langgi yang disajikan dengan nasi uduk yang dilengkapi dengan beragam lauk, seperti ayam suir, irisan telur dadar, kering tempe, perkedel, serundeng, hingga daging sapi.


Azlan tak tahu menu makanan kesukaan Julaikah, ia pikir makanan itu tak asing lagi. dan berpikir kalau Julaika suka.


Julaika melangkah ke kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu lalu melaksanakan shalat subuh sendiri, Ia membiarkan makanan tersebut dingin.


"Ya Allah, Tuhan ku seluruh alam.


sesungguhnya aku pasrahkan jalan hidup ku pada mu, aku ikhlas apapun yang menjadi ketetapan Mu, aku mohon kuatkan aku dan lapang kan hati ku menerima keadaan ini. aku berharap dia memang kau hadir kan untuk menjadi imam ku yang terbaik..."


Julaika menengadahkan tangan nya sembari berkaca kaca, Ikhlas dan pasrah adalah jalan yang harus ia tempuh, Mungkin ini sudah menjadi kehendak Tuhan. Mungkin Rasyid memang bukan jodoh nya hingga semua terjadi saat mereka hendak melangsungkan akad pernikahan.


Julaika beranjak setelah berdoa, ia menghadap makanan yang sudah di pesan oleh Suami nya itu, Julaika berharap Azlan mau menerima diri nya yang penuh kekurangan ini.


Ia juga tidak ingin ada perceraian setelah berjanji di hadapan Tuhan, Julaika berusaha ikhlas dan membiarkan waktu berproses.


Julaika menyantap habis makanan tersebut lalu membereskan nya di meja, terlihat seseorang mengirimkan pesan.


Sang ibu menanyakan keberadaan nya, Julaika langsung menyambar ponsel nya.


"Jul, nak. kamu sudah sampai di Jawa ?"


tanya Rida terdengar cemas, bagaimana tidak Ia masih syok dengan keadaan ini, Bagaimana Julaika bisa menempatkan diri nya bersama seseorang yang baru ia kenal, itu tidak lah mudah. di rumah saja dia tidak pernah banyak bicara, apa lagi dengan orang asing yang baru ia kenal, Rida sangat khawatir.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2