
Julaika menelisik saat merasa seseorang menciumi leher jenjangnya, menyibak rambut yang menutupi bagian wajah nya.
Julaika membuka mata dan melihat Azlan berada di samping nya.
"bang, kamu sudah pulang ?"
Tanya Julaika melihat jam menunjukkan pukul tiga pagi.
"Ya sayang, Abang tuh risau dengan keadaan kamu, kenapa tidak membalas pesan Abang?"
Jawab Azlan lalu memeluk erat tubuh Julaika menciumi kepala nya sayang.
"apa yang membuat istri Abang ini mengabaikan pesan suaminya.?"
Tanya Azlan membuat Julaika tertegun sejenak.
Ia memang tidak membalas pesan dari Azlan karena kesal pada Ratna, mungkin Azlan tak tenang karena hal itu.
"hm, maaf bang ! Jul lupa balas pesan kamu!"
Azlan mengangguk kemudian terlelap, Julaika kembali tertegun, Memahami kalau Azlan lelah dan mengantuk, sementara ia tidak bisa kembali memejamkan mata nya. gegas Julaika beranjak dari ranjang melangkah ke kamar mandi mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat tahajud dua rakaat, inilah saat nya ia mengadukan segala kegundahan nya pada sang pemilik kehidupan.
"ya Rabb lapang kan hati ku Atas apapun yang menjadi segala kehendak Mu, sesungguhnya hanya kepada Engkaulah hamba berserah diri...."
Julaika berharap tuhan melunak kan Hati Ratna agar tidak condong pada kebencian, Julaika tak pernah membayangkan kehidupan seperti ini, namun Ia tidak bisa berbuat apa apa saat Tuhan mengarah kan jalan ini pada nya.
Julaika Tidak tidur kembali sampai suara subuh adzan terdengar samar samar karena jarak dengan masjid kompleks tersebut cukup jauh.
"bang, ayo kita sholat dulu..."
Julaika menyentuh punggung yang polos tanpa sehelai benang.
Pria itu terbiasa tertidur dengan keadaan telanjang dada, menampakkan tubuh nya yang atletis.
"Ngantuk banget dek..."
Azlan membalikkan badannya lalu meraih tubuh Julaika.
"Jul, Kau tahu Abang sangat cemas saat kau hanya membaca pesan Abang, kenapa kau senang sekali berbuat seperti itu hm ?"
Julaika tersenyum getir harus kah ia bercerita tentang Ratna yang sudah mencaci maki nya.
"Bang.....!"
Julaika mendongak ke atas menatap wajah tampan Azlan.
"Ada apa sayang ?"
Tanya Azlan mencium pipi Julaika lama sembari merengkuh tubuh nya.
"HM...
kalau Jul kerja? Apa Abang merasa tidak terurus ?"
Azlan memicingkan mata nya menatap wajah Julaika.
__ADS_1
"Kenapa bertanya seperti itu ? Abang tidak apa apa, yang terpenting kamu tidak terbebani !"
Jawab Azlan beranjak duduk bersandar sambil merengkuh Julaika.
"Ada seseorang yang berbicara menyakitkan ?"
Julaika diam tak bersuara, Ia ragu untuk bercerita karena khawatir Azlan marah pada ibunya.
"Jul, sudah lah jangan pikirkan sesuatu yang berat, kalau Ibu mengatakan sesuatu yang tidak layak di dengar Maka Abang minta maaf, tutup lah telinga mu untuk kita, Abang tahu itu tidak mudah tapi percayalah lambat laun ibuku akan berubah !"
Azlan tentu ingat Kalau kemarin Ratna datang ke rumah seperti kebiasaan nya Minggu Minggu lalu ia tidak pernah absen mengecek rumah.
Julaika menoleh pada jam di dinding, waktu berjalan cepat saat Mereka bersama. seakan kebahagiaan itu cepat berakhir.
"Ya sudah kita mandi terus shalat ya!"
Julaika mengangguk.
Keduanya mandi bersama dan menunaikan shalat subuh berjamaah, setelah itu Azlan mengajak Julaika kembali naik ke ranjang, Ia sendiri masih sangat mengantuk.
"Saat ini aku hanya ingin memeluk mu Jul..."
Ucap Azlan mencium kepala Julaika, karena mengantuk keduanya kembali terlelap dalam dekap.
*
Pagi itu Amar pergi berolahraga bersama Azis di taman kota, berpapasan dengan Viona yang baru saja pulang, ia pergi mencari sarapan bersama Leka.
"gue kesel banget sama Julaika,, seharusnya Azlan tuh sama gue, tapi enggak tahu kenapa tuh cewek alien tiba-tiba aja jadi istri Azlan, tapi Lo harus tahu kalau Ibu Ratna tidak menerima Julaika jadi menantu nya !"
"Tapi yey, Julaika cantik, pantaslah Azlan suka meski menikah karena desakan dari Abang Rian yang tampan !"
Ujar Leka terkekeh melihat ekspresi wajah viona Tampak kesal.
Amar duduk di kursi sebelah namun masih bisa mendengar apa yang mereka tengah bahas.
"gue sih berharap pernikahan Mereka cuma sementara waktu, enggak lama. gila aja gue yang udah menuggu sekian lama di tikung begitu saja sama si Julaika!"
Sergah Viona lalu menambahkan sambal pada bubur nya.
"Tapi Leka lihat Azlan udah jatuh cinta sama Julaika, semalam aja Azlan terus mikirin istri Nya !"
"Tahu ah Lo, bikin gue tambah panas !"
Leka malah tertawa kecil menanggapi kekesalan Viona.
Azis mengernyit heran memperhatikan Amar yang seksama mendengar kan kedua nya berbicara, aneh bukan Amar tidak suka bubur tapi Entah angin apa yang membawa nya ke tempat itu.
Kenapa Amar ingin mendengar kan tentang Julaikah !?
"Aku tunggu di depan zis, biar aku yang bayar !"
Ujar Amar lalu pergi keluar dari kedai bubur ayam tersebut.
Amar memang tidak menyukai bubur ayam, saat sakit pun ia menolak makanan lembek itu.
__ADS_1
Amar termenung mengingat percakapan dua orang tadi, seperti nya mereka teman Azlan.
Sejak kemarin Julaika menguasai benak nya hingga ia tidak bisa tidur, berharap suasana pagi ini dapat melumpuhkan Julaika dari dalam benak nya, Tapi nyata nya tidak.
"Bos sebenarnya Kamu Ini kenapa ? jangan bilang tengah mencari tahu tentang Julaika.!"
Amar terkekeh duduk di trotoar jalan menjulur kan kaki panjang nya.
"Jangan bilang Lo suka sama Julaika, dia itu sudah menikah!"
"ya gue tahu...!"
jawab Amar menceritakan tentang perjodohan nya dulu dengan Julaika, Azis hanya terdiam mendengar kan, ia berpendapat kalau Amar menyesal setelah melihat perubahan Julaika.
"enggak ada niat untuk jadi perebut istri orang kan ?"
Tanya Azis membuat Amar kembali terkekeh.
"ya enggak lah gue juga masih punya pikiran, biarkan saja waktu yang menjawab !"
Jawab Amar kemudian beranjak lalu kembali berlari kecil meniggalkan Azis yang termangu sendiri.
**
Pukul delapan pagi Julaika terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati Azlan di samping nya, Julaika beranjak dan menoleh ke arah kolam renang dimana Pria itu tengah bersandar pada dinding kolam sambil memainkan ponselnya.
Julaika melangkah keluar dari kamar, Ia turun kebawah menghampiri meja makan.
"Sarapan non, ada bubur ayam..."
"Ya bi, terima kasih..."
Julaika meminum segelas air putih lalu beranjak menghampiri kolam renang.
"Sayang, kamu sudah bangun ?"
tanya Azlan naik ke atas permukaan menghampiri Julaika yang langsung duduk di kursi menghadap kolam renang. mencium pucuk kepalanya sayang.
"bang, kamu kok enggak bangunin Julaika?"
tanya Julaika mengusap wajah Azlan yang basah dengan handuk.
"Sengaja kamu juga masih ngantuk kan ?"
Julaika mengulas senyum.
"weekend nya mau kemana dek ?"
Julaika Teringat akan Rena yang meminta nya untuk datang.
"pergi ke rumah kak Rena saja bang !"
Azlan mengangguk lalu mengangkat tubuh Julaika dan membawa nya ke kamar.
bersambung...
__ADS_1