
"Bang, saya pesan satu ya...!"
Julaika tertegun mendengar suara seorang pria yang ia hapal betul siapa pemilik nya.
Julaika menoleh pada Amar yang tengah memainkan ponselnya, tersenyum sendiri mengamati layar kaca tersebut.
"Pak Amar ?"
Seru Julaika penasaran kenapa pria itu selalu ada di dekat nya.
"Hai Ika....!"
Amar senyum sementara Julaika termangu mendengar sebutan Ika.
Hanya fardan sang ayah yang memanggil nya Ika.
"Ayo Ika, ayah temani kamu bermain ?!"
Bayangan bersama fardan memutar di benak Julaika, Seorang ayah yang memberi warna di hari hari nya, namun semua berubah saat perusahaan milik fardan berkembang pesat, sang ayah sangat sibuk hingga tak memiliki waktu seperti dulu.
Itulah awal Julaika menjadi pendiam, rindu sosok ayah yang dulu selalu meluangkan waktu untuk nya.
***
Julaika memalingkan wajahnya dari Amar, pria itu langsung mematung mendapatkan respon acuh dari Julaika.
"Jul, tunggu...."
Amar mendekati Julaika yang hendak menghampiri Rena dengan putranya.
"kenapa sih Anda selalu saja Ada dimana saya berada, seperti hantu yang menghantui saya..."
Amar terkekeh kecil melihat wajah cantik Julaika yang memanyunkan bibirnya.
"Mungkin kita jodoh, dimana ada kamu di situ ada aku..."
Julaika menganga mendengar ungkapan Amar yang bagi nya lucu tapi tidak bagi Julaika, pria itu tertawa sendiri.
"aku bercanda Ika, mungkin kebetulan saja..."
sambung Amar memindai kembali wajah Julaika dengan memiringkan wajahnya.
Dari jauh Rena memperhatikan interaksi keduanya, bukan kah itu Amar?
Kenapa Rena merasa kalau Amar seperti menyukai Julaika, terlihat dari tatapan nya yang berbeda.
Julaika melenggang pergi meninggalkan Amar sendiri.
"Aku yakin kau akan berbalik Jul..."
gumam Amar mengulas senyum, Julaika melangkah meninggalkan Amar lalu menoleh ke belakang dimana amar mengharapkan hal itu.
Amar senyum sembari melambaikan tangan nya saat Julaika menoleh ke belakang.
"dasar gila..."
umpat Julaika lalu menghampiri Rena dan mengajak nya untuk pulang.
"Jul, itu bukan nya Amar ?"
Julaika mengangguk lalu mengajak Rena dan keponakan nya pulang.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Julaika langsung menghubungi Sang ayah, fardan yang tengah senggang langsung mengangkat telepon tersebut.
"halo nak, Julaika ayah gimana kabar kamu ?"
fardan langsung mengalihkan ke panggilan video.
Rida juga melambaikan tangan nya, fardan tengah berduaan dengan istri nya.
"Sayang, ibu rindu sekali.. kamu baik baik saja kan ?"
"Ya Bu, Jul juga rindu kalian. Jul baik baik saja !"
mereka berbincang banyak hal, keduanya juga menanyakan keberadaan Azlan, Julaika menjawab seadanya.
setelah itu mereka mengakhiri percakapan, Julaika menoleh pada seorang wanita paruh baya masuk ke dalam rumah, Wanita itu mertua kakak nya.
"hai, Ada Julaika...!"
sapa ibu ane lalu memeluk Julaika.
"sedang main atau memang menginap ?"
Tanya ane duduk di hadapan Julaika, Rena tengah mengambil minum untuk mertua nya itu.
"sedang menginap Bu, Kangen sama Erik"
jawab Julaika senyum lalu memperhatikan interaksi sang kakak dan mertua nya yang begitu Akrab, ibu ane sangat baik pada Rena.
Julaika melangkah ke kolam renang, Air nya begitu jernih dan tenang.
Teringat percakapan nya dulu dengan sang ibu.
Tanya Julaika memperhatikan Rida berbelanja pakaian untuk menantunya itu.
"ya, memang harus seperti itu ! ibu berharap apa yang ibu lakukan ada timbal balik nya untuk kamu dan kak Rena, memiliki mertua yang baik dan sayang pada menantu nya !"
percakapan itu begitu menohok hati, air mata jatuh begitu saja mengingat bagaimana Ratna, ia memperlakukan nya sama seperti pada pembantu, marah tanpa tanggung, bicara langsung tanpa ada perantara, dan lagi ucapan nya tidak pernah manis.
awal bertemu langsung Garang tanpa ada sandiwara terlebih dahulu, meski Jul sadar bahwa ia tidak pernah berencana untuk menikah dengan Azlan, tapi ia berharap mendapat kan penerimaan dari Ratna karena ia juga berusaha memberikan yang terbaik untuk Azlan.
Kenapa Ratna tidak seperti Mala atau Salwa yang bersikap baik pada nya?
Julaika menoleh ke arah Rena dan ibu ane yang tertawa bersama, mereka terlihat kompak.
Julaika kembali menoleh ke arah ponsel nya yang berdering, terlihat Azlan menghubungi nya.
"Halo dek,,!"
Sahut Azlan langsung saat Julaika mengangkat telepon nya.
"halo bang...!"
"kamu sedang apa ?"
"tidak sedang apa apa, Abang kapan pulang ?"
"kemungkinan sore setelah acara selesai, Abang langsung pulang ke Jakarta, nanti Abang jemput ya !"
"baiklah...!"
Jawab Jul lalu keduanya berbincang hal lain nya.
__ADS_1
***
Mala menemui Rasyid di kantor polisi, ini pertama kalinya Mala datang setelah kesehatan nya benar benar membaik.
"bagaimana keadaan kamu nak ?"
tanya Mala memindai wajah Rasyid tampak Suram, Senin depan Adalah sidang perdana nya, namun Rasyid sudah tidak sabar ingin segera kabur dari penjara.
"Rasyid ingin segera bebas Bu, tolong Rasyid Bu !"
"ya, nak. kamu harus sabar. setelah putusan hakim keluar Ibu akan minta kamu untuk direhabilitasi, berubah lah nak, tinggal kan barang haram itu !"
Rasyid mengangguk, ia juga menyesal. karena barang haram tersebut ia kehilangan semua nya, karir dan yang terpenting adalah calon istri nya.
"ya kamu harus sabar, Julaika pasti menunggu kamu !"
Ujar Mala membuat Rasyid tertegun, Adi mengedip kan mata nya meminta Rasyid untuk mengangguk.
pulang nanti Adi akan menjelaskan mengapa Mala berbicara seperti itu.
Rasyid bertambah semangat karena sang ibu masih mendukung nya dengan Julaika, Ia tidak sabar untuk keluar dari penjara.
"Ya, ibu tenang saja ! aku akan merebut kembali Julaika dari tangan banci itu, aku tidak rela orang lain menikmati hasil kerja keras ku...!"
gumam Rasyid dengan menggebu.
*
Di tempat lain Amar tengah bersama dengan Azis, duduk di saung gazebo yang berada di samping kolam renang nya.
memindai wajah cantik yang tengah memperhatikan pedagang kerak telor membolak-balik jajanan tersebut.
"Mar, Lo suka sama Julaika?"
Tanya Azis dan di tanggapi dengan senyuman.
"gila, itu istri orang..."
"emang tapi gue enggak pernah ada niat untuk merusak hubungan mereka, Gue jalani apa yang ada di depan mata..."
"hm, mar kenapa harus Julaika, banyak perempuan yang masih lajang. kalau pun mereka berpisah Lo mau sama janda ?"
tanya Azis menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan pemikiran Kawan nya itu.
"Alah, apa yang salah dengan janda. banyak kok jaman sekarang gadis tapi keadaan sudah seperti janda, memang hina menjadi janda ?"
"Ah dasar Lo mabok ya Mar, perempuan banyak malah ngincar bini orang !"
"nih dengerin gue....!"
Amar menceritakan awal pertemuan mereka sebelum di kantor, Amar sendiri tidak tahu kenapa rasa itu singgah begitu saja tanpa melihat status, cinta memang buta.
"Terus langkah selanjutnya apa ?"
"memastikan dia baik baik saja, udah itu saja !"
jawab Amar dengan enteng.
bersambung.
terima kasih sudah mampir para reader tercintaaaaaa 🤭😍😍😍
__ADS_1