
Keadaan Mala semakin membaik, Ia juga sudah pulang ke rumah. Rina terus mendampingi saudara nya itu.
"Aku ingin bertemu dengan Julaika, apa bisa dia datang kemari ?"
Adi dan Rina hanya diam, mereka sekarang bahkan tidak tahu Julaika tinggal dimana setelah menikah dengan pria itu.
"kita akan bicarakan itu nanti, kamu juga kan masih masa pemulihan, jangan terlalu banyak pikiran !"
jawab sang suami merangkul pundak Mala.
"ya, tapi aku ingin bertemu dengan Julaika, bagaimana kasus Rasyid ?"
"sudah di tangani pengacara dan kasus nya sudah di serahkan ke pengadilan, semoga ia tidak lama di penjara ?"
"Apa Rasyid tidak bisa bebas ?"
"mana mungkin, ia terbukti memakai dan menjual barang haram itu, Kita harus lapang dada dan menerima apapun kepustakaan hakim nanti !"
Jawab Adi mendesah.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan nya ? kasian Julaika!"
sergah Mala menitikkan air mata nya, Ia sangat menyayanginya Julaika dan berharap ia menjadi menantu nya.
"sudah lah biarkan Julaika mencari yang lain, kita fokus saja pada Rasyid !"
Mala tidak menjawab, ia malah menangis tergugu membuat Adi dan Rina menghela nafas panjang.
Sementara itu Di penjara, Rasyid tengah berpikir keras bagaimana caranya ia bisa kabur dari penjara ?
Ia sangat mencintai Julaika, tidak rela dengan keputusan Julaika memilih pria lain menjadi suami nya, Ia terlanjur menginginkan Julaika dan tidak terima begitu saja Ia bersama pria lain, kalau perlu Rasyid habisi pria yang berani merebut Julaika dari nya.
*
"sayang, Abang langsung berangkat kerja, enggak sempat pulang karena jalan macet dan hujan, Abang khawatir tidak sempat..."
Pesan Azlan pada Julaika yang tengah terisak, terluka karena ucapan Ratna.
Julaika hanya membaca dan mengabaikan pesan itu, Ia memilih untuk tidak melakukan apa apa.
Azlan menunggu hampir satu jam namun Julaika tidak menjawab pesan nya, ia hanya membaca nya saja.
Tak biasa nya Julaika seperti itu? apa dia marah karena ia tidak pulang terlebih dahulu.
Azlan menghela nafas panjang, Pekerjaan sudah di depan mata, Ia tidak bisa meninggalkan nya begitu saja karena Julaika.
*
Julaika menoleh pada ponsel nya yang berdering terlihat Rena melakukan panggilan telepon, Gegas Julaika mengangkat nya karena tangis nya juga sudah Reda, keadaan di luar kamar entah bagaimana Julaika tidak tahu Ratna sudah pulang atau belum.
__ADS_1
"halo kak...?"
"Jul, kamu sedang apa ?"
Rena tertegun mendengar suara serak Julaika seperti sehabis menangis.
"enggak, Jul baru bangun tidur...!"
Julaika menarik ingus nya tak ingin Rena curiga kalau ia habis menangis.
"Jul, kamu enggak bohong kan ?"
tanya Rena tak yakin, Ia tahu seperti apa adiknya nya jika tidak di desak ia tidak akan bercerita !
"enggak, emang kenapa kak ?"
"Jul, kakak kangen sama kamu, datang lah ke rumah kita makan malam bersama !"
"hm, tapi azlan tidak di rumah kak, Ia kerja dan pulang pagi !" Rena tertegun, ia tidak tahu kalau sekarang Azlan kerja di salah satu acara televisi.
"Ya sudah kapan kalian ada waktu datanglah, Kakak tunggu, kak Rian juga kemarin nanyain kamu !"
"ya, kak. Jul akan bilang nanti sama Azlan !"
Setelah itu keduanya mengakhiri percakapan nya.
Julaika menoleh ke arah jendela dimana terdengar suara mobil keluar dari halaman rumah, hujan sudah mulai reda seperti nya itu mobil Ratna.
"Ya tuhan kenapa memiliki mertua seperti Itu ?"
gumam Julaika lelah lalu memejamkan matanya yang terlelap.
*
Azlan sejak tadi tidak tenang karena Julaika tidak membalas pesan nya,
apa mungkin istri nya itu marah ?
"kenapa sih gelisah gitu bang?"
Tanya Leka Assiten Viona.
"enggak lagi inget bini di rumah !"
Jawab Azlan senyum sembari mendandani wajah seorang pria yang menjadi salah satu kontestan di acara musik tersebut.
"Mentang-mentang punya bini, bikin bos leka cemburu, kasihan dong bang !"
Sahut Leka membuat Viona menoleh seketika.
__ADS_1
"Jangan cemburu, masih banyak kok yang singel !"
Jawab Azlan lalu mengulas senyum, mempercepat pekerjaan nya agar ia bisa cepat pulang.
"Pasti pengen cepat pulang, tahu deh kalau udah tahu rasa nya dorayaki...!"
balas Leka terkekeh malah semakin membuat Viona kesal, Azlan benar benar berubah tak seperti dulu yang mau berlama-lama ngobrol dengan nya meski sekedar pekerjaan atau makeup tapi sekarang pria itu selalu menghindarinya.
"ya, ingin cepat pulang kasihan istri enggak ada yang meluk !"
"his bang Azlan,,, bikin Leka tambah panas !"
Azlan malah terkekeh kecil, teringat malam indah yang dilalui bersama. sebuah karya Tuhan yang begitu menakjubkan,,ia tutupi dengan pakaian longgar serta hijab nya.
perhiasan indah yang tidak ternilai harganya, Julaika begitu indah, di balik sikap nya yang pendiam menyimpan keindahan yang membuat nya selalu merindu, seperti saat ini Azlan ingin segera pulang.
**
Di tempat lain seseorang termenung sendiri mengingat percakapan nya dengan Julaika.
"apa anda menyesal ?"
pertanyaan yang begitu menohok hati karena benar ia rasakan, namun Amar tidak ingin menampakkan hal itu khawatir Julaika sungkan pada nya.
Sikap nya yang pendiam justru membuat Amar penasaran ? Tiba tiba saja ia terpikat sosok Julaika yang sudah bersuami.
Amar mencari tahu tentang Azlan, perias ternama yang menjadi pengantin pria pengganti Rasyid. beruntung sekali dia ?
Amar membaca artikel tentang Azlan, Anak dari seorang pengusaha bernama Fadli Nuril dari perusahaan heavy industry, adik dari Kevin Aprillio.
Amar tak menyangka hal itu, mengapa Azlan justru menggeluti dunia tata rias.
Amar tahu perusahaan mereka berkembang pesat di dalam dan luar negeri, Siapa sangka Fadli adalah ayah Azlan Mertua Julaika.
Amar kembali tertegun, sejak pulang tadi hingga saat ini Amar terus memikirkan perempuan itu ?
Cepat ia tersadar lalu pergi ke kamar mandi mengguyur tubuh nya di bawah shower, namun entah mengapa bayangan Julaika terus memenuhi benak nya hingga membuat Amar Risau akan keadaan hati nya.
**
malam itu pukul dua Azlan bergegas pulang, Waktu terasa berjalan lambat saat ia menginginkan cepat berada di rumah, sementara Julaika sudah terlelap dalam tidur nya tak ingin memikirkan ocehan Ratna yang hanya menyesakan dada.
"Sabar non Jul, Ibu Ratna bibir nya emang pedas karena kebanyakan makan bon cabe..."
ujar Lulu terkekeh sendiri, sementara asih hanya menggeleng kan kepala nya.
"kalau enggak inget keluarga di rumah, udah enggak betah. tiap weekend makan hati mulu."
sambung Lulu, Julaika paham apa yang mereka rasakan tapi ia sendiri tidak bisa berbuat banyak karena Ratna nyonya besar di rumah itu, sementara ia tinggal hanya karena terikat oleh anak nya, selebihnya Ratna tidak pernah menerima nya sebagai menantu.
__ADS_1
bersambung.