
Julaika melangkah masuk ke dalam ruangan CEO perusahaan, Amar Wirahadi.
"Selamat sore pak, ini berkas laporan nya !"
Amar mendongak menatap wajah cantik yang berbalut makeup natural.
Julaika begitu berbeda dengan dia yang dulu pertama bertemu, Saat itu Julaika juga baru selesai kuliah dan menjadi sarjana.
penampilan nya terkesan tomboi tidak seperti Dia yang saat ini berada di hadapannya, elegan dan tampak dewasa.
"Terima kasih Julaika, hm bagaimana kabar mu !"
Tanya Amar membuat Julaika tertegun sejenak lalu mengulas senyum.
"Baik....!
hm, kalau tidak ada hal lain nya saya undur diri, terimakasih pak Amar !"
Jawab Julaika dengan tegas lalu memundurkan tubuhnya.
"tunggu sebentar Jul !"
Pinta amar menghentikan langkah Julaika.
"kau sudah menikah ?"
Julaika mengangguk.
"ini cincin pernikahan saya dan suami..!"
tunjuk Julaika pada jari manis nya.
"permisi pak Amar !"
Julaika keluar dari ruangan itu, tak bisa menjabarkan ekspresi wajah pria itu.
Julaika tidak akan lupa saat pria itu mengatakan kalau Ia perempuan yang aneh.
Amar tersenyum getir merasa kalau Ia telah melewatkan seseorang yang ternyata sangat spesial.
Dulu Amar masih mengharapkan seseorang hingga ia menolak perjodohan dengan Julaika dengan alasan Ia tidak menyukai gadis introvert itu, tapi sekarang Amar merasa menyesal saat melihat perubahan pada Julaika.
*
"Jul, langsung pulang...?"
tanya Reva saat Julaika kembali ke meja nya.
"langsung pulang, tapi sebelum nya aku sholat dulu !"
Jawab Julaika lalu membereskan barang nya ke dalam tas.
"ya sudah aku duluan ya Jul, soal nya aku lagi absen !"
Jul mengacungkan jempol lalu melangkah ke mushola yang berada di kantor itu.
Julaika termenung sendiri, Saat ia pulang justru Azlan baru berangkat kerja.
Lalu kapan mereka bersama jika setiap hari Azlan pulang pagi ?
Amar memperhatikan seseorang yang tengah duduk sendiri di mushola kantor, ia juga hendak menunaikan shalat Ashar di ikuti oleh Azis.
Amar mengambil wudhu dan saat kembali berpapasan dengan seseorang yang ternyata Julaika.
"Jul, kamu ngapain ?"
__ADS_1
tanya Amar memindai wajah Julaika tampak segar.
"sholatlah mana mungkin tidur....!"
Jawab Julaika melenggang pergi meninggalkan Amar yang mematung dengan jantung yang berdebar.
"astaga Amar jangan sampai Kamu terpikat wanita yang sudah bersuami."
gumam Amar lalu menghadap kiblat.
***
Azlan sudah meminta Supir nya untuk menjemput Julaika di kantor.
"Bu mau langsung pulang atau Ke studio ke pak Azlan ?"
Julaika tertegun mendengar pertanyaan dari supir tersebut.
Untuk apa ke studio ? melihat aktivitas Azlan ? Jul rasa tidak, lebih baik ia pulang saja.
"Saya sangat lelah pak, kita pulang saja !"
Supir tersebut mengangguk.
Waktu terus berputar, seminggu berlalu keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing masing.
Azlan selalu pulang pagi Dan Julaika pergi bekerja saat Azlan berada di rumah. keduanya jarang sekali berkomunikasi karena waktu siang Azlan gunakan untuk tidur dan waktu malam Julaika gunakan untuk beristirahat, menghubungi Azlan juga pria itu sibuk.
Azlan bahkan melupakan kalau Istri nya itu sudah tidak datang bulan, Pagi ini malah Azlan belum pulang saat Julaika hendak berangkat kerja.
Julaika melangkah keluar dari rumah dengan malas, Ia sangat merindukan Azlan, tapi suami nya itu selalu pulang pagi.
besok weekend mungkin mereka bisa bertemu karena ia libur kerja, Supir sudah menunggu nya di depan rumah.
"Besok pasti dia datang lagi ?"
Julaika paham siapa yang di maksud dia oleh Lulu yaitu Ratna.
Bukan hanya pembantu tapi ia juga malas menghadapi wanita itu, Entah apa lagi yang akan ia komentari nanti.
setengah jam kemudian Ia sampai di kantor, seperti biasa Rosa dan Helen mendelik tak suka pada Julaika, namun ia tidak perduli.
beberapa hari ini juga Julaika jarang bertemu dengan Amar.
"Jul, kamu di panggil pak Azis suruh ke atas sekarang..."
ujar Alisa saat Julaika sampai di meja kerja nya.
"Ada apa Lis, perasaan laporan udah aku serahin..."
Sahut Julaika mengernyit heran.
"enggak tahu Jul, kayak nya bukan karena itu deh. coba kamu ke atas..."
jawab Alisa membuat Julaika tertegun.
Julaika naik ke atas sesuai permintaan dari Azis.
"Pak Azis, Alisa bilang Anda meminta saya untuk kemari..."
"ya, Jul. jadi begini Saya minta kamu untuk menjadi sekretaris sementara waktu sebelum saya mendapatkan pengganti Restu..."
"sekertaris....?"
Julaika tertegun, mengapa harus dia ? padahal banyak yang bisa ?
__ADS_1
"ya sudah Jul, kamu mulai hari ini ya!"
ujar Aziz meninggal Jul sendiri di depan meja sekertaris Amar.
Julaika membuang nafas panjang lalu melangkah mengambil tas dan barang barang nya, kenapa ia tiba tiba menjadi sekretaris ? bukankah dengan seperti itu Ia akan selalu bertemu dengan Amar ?
Alisa dan Reva membantu Julaika membereskan barang-barangnya, mereka sendiri tidak curiga apapun karena tidak mengetahui kalau Amar dan Julaika sebelumnya pernah hendak di jodohkan.
"ya sudah sementara waktu sebelum dapat pengganti Mba restu, Aku dengar dia pulang kampung dan memutuskan untuk Risen karena hendak menikah !"
Cakap Alisa dan di anggukan keduanya.
"padahal gajih nya sudah besar Loh, enggak sayang ya!"
"ya orang Calon suami nya pengusaha dan uang nya banyak...!"
jawab Alisa lalu melangkah ke atas menuju meja sekertaris.
"Azlan ngizinin kamu kerja Jul ?"
tanya Reva berjalan di belakang Alisa.
"ngizinin, ngapain di rumah juga enggak ada kerjaan !"
jawab Julaika menghela nafas lalu merapikan barang nya di meja kosong tersebut.
"ya sudah Jul kita balik ke meja kita ya!"
Julaika mengangguk.
"terima kasih sudah membantu ya !"
"sip... kita kan teman !
kalau Helen tahu kamu jadi sekertaris dia pasti iri tuh!"
sahut Reva terkekeh, Ia tahu kalau Helen tengah mencari cari perhatian dari Amar, CEO tampan itu.
Julaika hanya mengedikan bahu nya lalu melanjutkan pekerjaan nya.
Julaika menoleh ke arah ponsel nya yang berdering terlihat Azlan melakukan panggilan video.
"Halo bang....!"
Julaika senyum memindai wajah lelah yang seperti nya baru pulang.
"halo sayang, Jul Abang rindu sekali sama kamu. maaf ya Abang baru pulang !"
Julaika hanya mengulas senyum.
"Jul kalau sudah selesai masuk ke ruangan saya ya...!"
Suara bariton milik Amar membuat Azlan tertegun.
Julaika mengangguk kecil lalu kembali fokus pada Azlan.
"siapa dek ?"
Tanya Azlan Memindai Wajah ayu Julaika dengan pasmina nya berwarna navy.
"Itu pak Amar, ya sudah Jul kerja dulu ya bang ! nanti jam makan siang Jul telpon. kamu tidur saja dulu !"
Sahut Julaika lalu mematikan panggilan telepon nya, sementara Azlan tertegun memikirkan Istri nya bersama pria lain.
"Ada apa pak Amar ? kenapa anda memilih saya untuk menjadi sekertaris anda !"
__ADS_1
bersambung.
terima kasih yang sudah mampir 😍😍