
Azlan tertegun mengingat percakapan nya dengan Amar, kedua nya berbicara empat mata.
"Aku cuma mau pesan sama kamu, tolong jaga dan sayangi Julaika. jangan kamu sakiti dia karena saat aku tahu dia terluka, maka aku tidak akan segan-segan merebut nya dari mu, saat ini aku berupaya untuk menerima karena dari awal aku yang salah, penyesalan memang selalu di belakang..."
Ujar Amar mencoba untuk berlapang dada.
Cinta nya pada seseorang yang membuat nya susah untuk move on, entah dimana perempuan itu sekarang?
"Ya, aku akan menjaga nya dengan sepenuh hati..."
"ya, Lan. aku percaya kan Julaika. apa yang Rasyid lakukan pasti mengguncang jiwa nya, pria itu memang gila, aku akan terus memantau perkara nya di sini...."
tukas Amar, Ia tidak ingin hal itu kembali terjadi. Kalau bisa Rasyid di hukum seumur hidup dengan berbagai kasus yang menjeratnya.
"Amar, terima kasih....."
"ya, tunjukkan pada ku bahwa aku tidak salah membiarkan Julaika dengan mu..."
Azlan mengangguk, keduanya berpelukan sebelum Azlan pamit pulang.
"Aku cinta, Namun bukan sekedar ingin memiliki tapi lebih ingin melihat mu bahagia meski bukan bersama ku...."
**
******
Beberapa jam berlalu,,,
Mereka sampai di rumah Rian setelah dua jam yang lalu sampai di bandara, Julaika masih terlelap dalam dekapan Azlan.
Yulia dan Rena langsung menghampiri mobil, Julaika membuka mata nya lalu mengulas senyum pada kedua Kakak nya itu.
"Jul, kamu baik baik saja kan?"
Tanya Rena saat Julaika keluar lalu gegas memeluk adiknya itu, Yulia ikut merengkuh.
"kita benar-benar khawatir Jul...!"
tambah Yulia lalu mendekap tubuh Rian.
"ya, Alhamdulillah. Amar yang tolong Jul..HM kebetulan dia tengah berlibur di rumah kakak nya !"
Rena mengangguk lalu mengajak mereka masuk.
"Ya kamu tinggal di sini saja dulu Jul sampai keadaan kamu membaik !"
ujar Rian dan di anggukan oleh Julaika.
"Azlan juga kan harus kerja...!"
Julaika menoleh pada Azlan yang langsung merengkuh pundak nya.
"Abang akan Risen untuk sementara waktu sampai kamu benar benar siap Abang tinggal kerja !"
Julaika tertegun mendengar hal itu, benar kah ?
"tapi apa tidak apa apa bang ? kamu kan sibuk ?"
"ya, tapi saat ini yang terpenting kamu dulu, soal Wo juga ada Rara dan Siva, mereka sudah pintar dan bisa sendiri !"
Julaika mengulas senyum lalu mendekap erat Azlan.
Fardan dan Rida merasa lega mendengar hal itu, Azlan akan tunjukkan bahwa ia suami yang bertanggung jawab.
*
Beberapa waktu berlalu....
Sudah dua kali Azlan mengantar Julaika bertemu psikolog, Keadaan Julaika sudah membaik dan yang terpenting ia bisa makan tanpa harus mengingat kejadian itu.
Reva dan Alisa juga rutin mengunjungi Julaika di rumah Rian, sementara Ratna sibuk dengan urusan restoran nya.
"Lan, kapan mulai kerja lagi ? team kita butuh kamu loh ?!"
__ADS_1
Tanya seseorang di telpon.
"Aku belum bisa memastikan hal itu, karena kalau malam istri ku selalu histeris dan ketakutan mengingat kejadian itu..."
"ya sudah kamu kerja sampai jam sembilan saja lan, selebihnya biar kami. kita kan sibuk di awal waktu saja !"
Julaika menghampiri Azlan lalu memeluk nya dari belakang.
"ya sudah nanti kita bicarakan lagi, nanti aku hubungi kembali !"
Azlan langsung mematikan panggilan telepon nya, membalikkan badannya lalu memeluk tubuh istri nya.
"Ada apa sayang !?"
Julaika menatap wajah Azlan.
"hm, pergilah kalau mereka membutuhkan Kamu bang !"
"ya, tapi kamu lebih membutuhkan Abang !"
jawab Azlan senyum lalu mengecup bibir istri nya singkat, membawa nya masuk ke dalam kamar.
"mau pergi jalan jalan ?"
"kemana ?"
Tanya Julaika, waktu sebentar lagi senja.
"pergi kemana saja, ayo !"
Ajak Azlan keluar dari rumah.
fardan dan Rida juga sudah kembali ke Palembang setelah keadaan Julaika membaik, Ia percaya kan Putri nya itu pada Azlan suami nya.
Azlan mengajak Julaika berkeliling menggunakan motor sportnya, Julaika memeluk punggung suami nya itu.
"sebenarnya lebih senang pakai motor !"
ujar Azlan melajukan motornya dengan pelan.
"enak sih di peluk kamu !"
jawab Azlan terkekeh menoleh sekilas kebelakang.
"kita mampir di restoran ibu ya ? dia sibuk banget, jadi jarang ke rumah !"
Azlan memarkirkan motor nya di depan restoran yang cukup ramai pengunjung.
"Ayo sayang, tidak apa apa !"
Azlan menarik tangan Julaika masuk ke dalam restoran itu.
Azlan menghentikan langkah nya saat melihat sang ibu tengah berbicara dengan seseorang yang sudah lama sekali tidak ia jumpai, raut wajah Ratna tampak kesal berbicara dengan pria itu.
"Assalamualaikum Bu !"
Kedua nya menoleh.
pria berumur lima puluh tahun itu masih gagah dan tampan, jas hitam nya selalu melekat pada tubuh atletisnya.
entah kenapa ia masih saja sendiri setelah sekian lama berpisah, dan entah angin apa yang membawa nya pulang.
"Azlan, Jul...!"
Seru Ratna dengan wajah datar.
"Ayah....!"
sahut Azlan meraih tangan pria itu. Ia tetap hormat meskipun sering terjadi perdebatan di antara kedua nya.
"istri kamu ?"
Azlan mengangguk, Julaika mengulas senyum lalu mencium tangan Padli.
__ADS_1
"Cantik....!!"
Sahut Padli menoleh ke arah Ratna yang langsung manyun dan melenggang pergi.
Gegas Padli mengejar perempuan keras kepala itu, Azlan dan Julaika sama sama menoleh.
"Biarkan saja, seperti nya mereka sedang CLBK..!"
Azlan mengajak Julaika untuk duduk dan memesan makanan, terdengar suara Ratna berbicara lantang di dalam.
"salut sih sebenernya sama ayah, sabar banget menghadapi Abang dan ibu yang keras kepala !"
Ujar Azlan lalu tak lama kedua nya keluar dari ruangan, Padli memaksa merangkul pundak Ratna yang kaku. berjalan keluar meninggalkan mereka berdua.
Azlan terkekek kecil melihat tingkah keduanya, sebenarnya mereka masih saling cinta tapi ego nya yang terlalu tinggi.
"Abang tidak pernah berhenti menghormati mereka meskipun ada sikap atau hal yang membuat jengkel, walau bagaimanapun mereka adalah orang tua yang sudah membesarkan Abang, yang Abang lakukan adalah selalu berdoa agar Tuhan melunakkan hati mereka...!"
Cakap Azlan membuat Julaika tertegun.
"Jadi sekarang ibu jarang ke rumah ?"
tanya Julaika, pembantu pasti lega.
"ya, semenjak mengelola restoran ini...!"
Julaika mengangguk.
Azlan memesan beberapa makanan untuk istri nya itu, Julaika sudah bisa makan dengan lahap.
***
Mala memikirkan keadaan Julaika, Adi menceritakan semua yang Rasyid lakukan pada Julaika, rasa nya kecewa dan tidak menyangka Rasyid begitu tega.
Adi juga memberi tahu hal sebenarnya pada mala, kalau Julaika sudah menikah dengan pria yang menjadi perias pengantin nya.
Mala tak dapat berkata-kata apa apa, Ia hanya bisa menangisi apa yang terjadi?
Adi berkata jujur karena tidak ingin Mala terus berharap pada Julaika, Rasyid mendekam di penjara dengan tuntutan penjara selama dua puluh tahun dengan kasus narkoba, penganiayaan dan pembunuh berencana.
*
***
*****
*
**
****
"Kesabaran adalah kendaraan yang tidak akan pernah tergelincir dan sikap menerima adalah pedang yang tidak akan pernah tumpul !"
**Ali bin Abi Thalib**
bersambung...
Terima kasih sudah mampir dan masih setia.
Maaf kalau alur nya tidak sesuai dengan harapan pembaca,
Azlan hanya insan biasa, memiliki kelebihan dan kekurangan,,
Percaya lah di dunia ini tak ada yang baik baik saja, semua di uji dengan ujian masing masing.
*
**
***
tengkyu..
__ADS_1
*
**