
Amar Rizaldi.
Halu author saja ðŸ¤ðŸ¤
Julaika termangu Saat melihat Amar tengah memperhatikan nya yang baru terbangun dari tidurnya, mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Nyenyak sekali ya sampai Air liur nya menetes ?!"
Goda Amar membuat Julaika terkesiap menyeka bibir nya, namun tidak ada air liur seperti yang di lontarkan oleh Amar.
"enggak kok...!"
Julaika berpaling lalu memalingkan wajahnya dari Amar yang langsung terkekeh, entah lah kenapa rasanya senang sekali menggoda Julaika.
"Kamu abis bergadang semalaman? pules banget tidur nya !"
"kepo....!"
Jawab Julaika lalu keluar dari mobil, Ia tertegun melihat pemandangan alam yang begitu indah, Rumput padang yang hijau dan begitu luas, beberapa sapi pilihan berada di ladang rumput itu.
Julaika melangkah ke peternakan itu, beberapa kru pembuatan iklan sudah tiba sejak tadi pagi, saat ini mereka tengah makan siang.
"makan dulu, sudah tersaji di sana !"
Ujar Amar sembari melewati Julaika yang masih memindai sekeliling tempat, gegas ia mengabadikan momen indah itu dengan berpose dan membuat video singkat.
Amar memperhatikan Julaika yang tersenyum melihat ponsel nya sendiri, Ia melangkah menuju kursi yang tidak jauh dari Padang rumput membuka kotak nasi yang ia bawa dari rumah.
"Ini jatah mu...!"
ujar Amar memberikan nasi kotak lalu merekam tempat itu dengan kamera nya.
"tidak usah, aku bawa dari rumah !"
"terserah kau mau apakan, itu jatah makan siang mu Jul !"
Julaika melangkah lalu memberikan nasi kotak tersebut pada seorang bapak yang tengah membersihkan halaman tersebut.
"Ini untuk bapak !"
Julaika senyum memberikan makanan itu, Tanpa tahu beberapa kali Amar memotret pergerakan nya menggunakan kamera digital nya.
"Cantik dan ternyata begitu baik...!"
Kedua nya kembali fokus pada pekerjaan, semua team bersiap untuk melakukan syuting, Julaika memperhatikan seorang perias wanita yang tengah merapikan make up nya.
"Jul, kamu catat semua yang aku bicarakan !"
Julaika mengangguk mulai mengetik apa yang Amar katakan.
"Jul, kamu Cantik...!"
Jari nya membeku seketika mendengar penuturan pria yang langsung pergi meninggalkan nya menghampiri kru Film.
__ADS_1
Apakah ia tidak salah mendengar ?
Julaika tercenung mendengar ponselnya berdering, terlihat Azlan menghubungi nya.
"Sayang, kamu di mana ?"
Tanya Azlan, Ia baru saja keluar dari showroom mobil membeli kan hadiah untuk istri nya itu.
"Di Bandung, sudah sampai peternakan ! Sekarang lagi jalan syuting bang !"
"Jul kenapa kamu enggak berangkat sama pak Sholeh ? tahu gitu Abang bisa antar kamu dan minta izin untuk hari ini !"
ujar Azlan tak suka.
"Ya bang tadi tuh buru buru banget...!"
"ya sudah kamu hati hati ya, jangan nakal !"
"hm...!"
Julaika termangu entah apa maksud suaminya itu mengatakan jangan nakal.
Semua kru tengah beristirahat, Tak sadarkan kalau Sejak tadi Amar memperhatikan nya, memotret gerak nya menggunakan Kamera digital milik nya.
Senja, udara begitu dingin Julaika hanya menggunakan Dress batiknya saja tanpa sweater. Semua pekerjaan sudah selesai dan mereka tinggal pulang saja.
Amar memperhatikan Julaika yang berdiri di dekat kandang dekat Padang rumput yang hijau, Ia memang suka dengan keadaan itu.
Suasana alam yang sejuk dan Tenang, jauh dari keramaian dan hanya ada suara sapi yang terdengar.
Julaika menghampiri salah satu pegawai di lingkungan itu, memberi makan pada sapi yang sudah berada di kandang. sapi tersebut melahap rumput dari tangan Julaika yang putih dan bersih.
Amar menghampiri untuk mengajak Julaika pulang.
"Ayo pulang....!"
Ajak Amar meraih tangan Julaika yang langsung tertegun, perlahan tapi pasti Julaika melepaskan genggaman tangan Amar yang terasa begitu hangat.
Amar menoleh ke Arah Julaika yang tidak bergeming, kedua nya berdiri saling menatap satu sama lain, namun cepat Julaika memalingkan wajahnya tersadar bahwa keadaan tidak lah sama seperti saat ia mengharapkan pria itu, gegas Julaika berjalan cepat meninggalkan Amar yang mematung sendiri.
"mengapa begitu sulit menahan rasa ini ?"
gumam Amar lalu melangkah perlahan, dari jauh Azis memperhatikan Kedua nya, Merasa kasihan dengan Amar, kenapa harus terpikat sosok Julaika?
Kali ini Julaika duduk di depan bersama Supir karena Azis ikut dengan mobil mereka, tak ada percakapan saat di perjalanan, Amar dan Azis membahas soal pekerjaan di lapangan, sementara Julaika memilih untuk tidur dengan menutup wajahnya dengan Pasmina panjang nya.
Satu jam berlalu, Amar meminta singgah di sebuah kedai makan, Julaika tertegun saat supir mengajak nya keluar dari mobil, Terpaksa Julaika mengikuti mereka yang Ingin beristirahat.
"Pesan apa saja nanti aku yang bayar...!"
Ujar Amar lalu duduk di bawah karena rumah makan tersebut ala lesehan.
"Wedang jahe saja satu...!"
Pinta Julaika saat pelayan menghampiri.
__ADS_1
Julaika menoleh ke arah Azis yang berdiri jauh dari mereka tengah menerima telepon entah dari siapa ?
"Amar....?"
Seseorang menghampiri kedua nya, ternyata Wanita itu Mama nya Amar, Salwa.
"Loh kok sama Julaika, benar kan Julaika!"
Julaika mengangguk tersenyum.
"ya ampun sekarang cantik banget...!"
ujar Salwa memeluk Julaika.
"Mama ngapain di sini ?"
Tanya Amar memperhatikan kedua wanita cantik yang tengah cipika cipiki kemudian berpelukan.
"Mama sama Teman ada urusan, dari puncak terus mampir di sini, kalian ngapain ?"
Salwa mengernyit heran karena mengetahui bahwa Julaika sudah menikah.
"Sayang maaf ya, Mama enggak datang di acara pernikahan kamu sama siapa nama suami kamu ?"
Salwa kembali fokus pada Julaika.
"Azlan Tante.....!"
jawab Julaika dengan senyum kaku, Amar menjelaskan kenapa mereka bisa berada di rumah makan tersebut.
Salwa tidak menyangka kalau Julaika kerja di salah satu perusahaan nya yang di Jakarta.
Kedua nya berbincang banyak hal, Amar sendiri memilih makan dengan lahap tanpa menghiraukan kedua nya ngobrol.
"Kenapa sih kamu nolak Julaika dulu Amar ?"
gumam Salwa yang sangat menyukai Julaika.
setelah itu kedua nya berpisah karena Salwa pulang dengan Teman nya, Azis juga kembali ke tempat tadi karena ada barang yang tertinggal.
"kita tunggu saja disini daripada balik lagi ke tempat tadi ?"
Ujar Amar membuat Julaika tertegun, lagi lagi ia berdua dengan Amar.
Dan tiba tiba saja hujan turun, Azis bergegas pergi menuju tempat semula.
Udara begitu dingin, angin berhembus kencang. tidak ada sinyal lagi.
"Jul, makan saja dulu sembari menunggu Azis, seperti nya akan lama !"
Julaika mengangguk saja lalu memesan nasi dan sup daging.
Ia juga lapar, mungkin lebih baik makan sambil menunggu Azis kembali.
Amar sendiri asik memindai kamera digital nya, senyum memperhatikan potret perempuan cantik yang saat ini tengah makan.
__ADS_1
"Aku tahu aku salah ? tapi aku juga bingung karena perasaan itu hadir bergerak begitu saja...!"
bersambung....