
Pagi ini keduanya berencana untuk pulang, Namun Julaika terus muntah dan mengeluh pusing, Azlan berpikir untuk menunda waktu hingga keadaan Julaika membaik.
"Sayang, Sebaiknya kita tunda saja kepulangan kita ke Jakarta, Abang khawatir dengan keadaan kamu !"
Julaikah termangu menatap wajah Azlan yang cemas dengan keadaan nya, sejak semalam ia merasa pusing dan lemas.
"Enggak apa apa bang? nanti kerjaan kamu gimana ?"
Tanya Julaika melangkah mendekati Azlan yang berdiri mematung.
"enggak apa apa sayang, itu bisa di atur !"
Azlan meraih tangan Julaika lalu memeluk tubuh nya erat, mengusap rambut nya yang sebahu.
"Sekarang istirahat ya !"
Tambah Azlan membawa Julaika ke ranjang.
"Mau pesan makanan ?"
Julaika menggeleng kan kepala nya lalu meringkuk di ranjang, Azlan memeluk nya dari belakang.
"Ini yang Abang cemas kan dulu dek, Abang kasihan lihat kamu mual muntah terus !"
Julaika langsung menoleh ke arah belakang dimana suami nya berada.
"enggak apa apa bang, Julaika enggak ngeluh kok !!"
Azlan mencium rambut istri nya.
Salju masih turun, perlahan namun tidak pernah berhenti. suasana begitu dingin namun Julaika merasa hangat saat tubuh Azlan mendekap nya erat.
"Jul ingin menikmati momen ini bang, terkadang ada ibu hamil yang tidak merasa kan apa apa, tapi Julaika ikhlas !"
Sambung Julaika membalikkan tubuhnya lalu menatap wajah Azlan, melingkarkan tangannya pada pinggang Suaminya itu.
"Ya, kalau ada yang bisa Abang lakukan. katakanlah jangan diam saja ya!"
Julaika mengangguk lalu memejamkan mata nya sambil menghirup aroma maskulin dari tubuh Azlan.
Tak berapa lama Julaika langsung tertidur, semalam Ia memang kurang tidur karena bolak balik ke kamar mandi.
Azlan membiarkan Julaika terlelap, Ia memindai wajah pucat istri nya.
Merasa iba dengan apa yang Julaika rasakan, meskipun itu hal lumrah yang terjadi pada ibu hamil namun tetap saja Azlan tidak tega.
Hingga siang salju masih turun dan keadaan Julaika sudah lebih baik, Saat ini ia tengah memakan buah apel yang telah Azlan kupas.
Mereka berencana untuk kembali ke Jakarta sore ini, sebenarnya Julaika masih betah namun Ia tidak bisa berlama-lama di negara itu karena Azlan juga harus bekerja.
"Abang bereskan barang barang kita dulu, kamu di sini saja dek !"
__ADS_1
Julaika meraih tangan Azlan yang hendak beranjak dari duduknya.
"Terima kasih bang !"
Cakap Julaika mengulas senyum, Ia begitu bersyukur karena memiliki suami seperti Azlan yang sabar dan begitu pengertian.
***
Pagi ini mereka kembali ke Jakarta, Rara yang menjemput mereka di bandara.
"kita langsung ke rumah kan kak"
tanya Rara mulai melajukan mobilnya, Azlan mengangguk kemudian merengkuh tubuh Julaika.
Azlan lega karena selama perjalanan pulang Julaika tidak mengalami mual muntah seperti di hotel, Keadaan nya membaik hingga mereka tiba di Jakarta.
"Di rumah ada Ibu sama ayah, kemarin malam kita menginap di rumah kak Azlan, ibu mau ketemu sama kak Jul !"
Ujar Rara memberi tahu kalau Ratna dan Fadli berada di rumah bersama bayi Rafki.
Azlan menoleh pada Julaika yang termangu, apa mereka sengaja menunggu kepulangan nya ?
Tak berapa lama mereka sampai di rumah, Azlan langsung mengajak Julaika masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum...!"
Azlan langsung menghampiri kedua nya di ikuti oleh Julaika.
"ya, kak Kevin mana?"
Tanya Azlan sementara Julaika memilih untuk diam memperhatikan Ratna yang tengah menggendong bayi Viona.
"Mereka pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, ibu larang mereka bawa Rafki !"
Jawab Ratna, Viona belum terlalu bisa mengurus bayi sehingga membuat Ratna cemas dengan cucunya itu, sementara Kevin menolak membawa baby sitter dan hal itu membuat Ratna khawatir hingga melarang mereka membawa Rafki.
"benar Julaika hamil ?"
Tanya Ratna memindai wajah Julaika sedikit pucat.
"Ya, tapi kami belum tahu berapa bulan, mungkin nanti siang kita periksa ke dokter ya sayang !"
Julaika mengangguk.
"Ya. di jaga kandungan nya, harus hati-hati dan memilih makanan yang aman dan boleh di konsumsi oleh ibu hamil. jangan seperti Viona, susah di atur dan makan apa saja yang ia mau ! untung Rafki tidak apa apa !"
gerutu Ratna membuat Julaika termangu.
"ya itu terjadi mungkin karena kurang perhatian dari Kak Kevin !"
"emang mereka berdua itu semaunya !"
__ADS_1
Azlan terkekeh.
"ya lah kalau Azlan enggak akan seperti itu, Azlan akan curahkan semua perhatian Pada Julaika..!"
sambung Azlan mengulas senyum mengusap kepala Julaika.
"ya, sudah ajak Julaika untuk istirahat!
Nanti ibu suruh bi Asih untuk buat kan rujak, kebetulan pohon mangga yang di belakang sudah berbuah !"
Julaika langsung mengulas senyum, tak menyangka kalau Ratna akan perhatian pada nya.
Azlan mengangguk lalu mengajak Julaika naik ke atas kamar.
*
Julaika naik ke atas ranjang setelah membersihkan diri, Tubuh nya terasa lelah dan mengantuk. dengan cepat Julaika menarik selimutnya lalu memeluk guling.
Nyaman dan begitu tenang, Julaika begitu bersyukur karena Azlan dan keluarga nya begitu baik.
Tak henti Julaika mengucapkan Alhamdulillah, Dengan cepat keadaan berubah membaik, kesabaran nya terbayarkan dengan indah. Julaika yakin tidak ada yang percuma, kesabaran akan berbuah manis.
keadaan pasti berubah, Suka dan duka datang silih berganti.
*
Azlan masuk ke dalam kamar membawa makanan untuk Julaika, namun istri nya itu sudah terlelap dalam tidur nya.
ibu hamil yang satu ini selalu merindukan Guling dan selimut, saat mual dan muntah maka obat nya adalah tidur.
Azlan memindai wajah Julaika yang tenang, dengkuran halus nya mulai terdengar menandakan ia sudah terlelap dalam mimpi.
Azlan duduk di samping nya, Rara tengah membagi kan oleh oleh yang ia beli di Belanda, Azlan menghubungi pimpinan crew hendak meminta izin waktu untuk membawa istrinya memeriksa kehamilan nya, kemungkinan Azlan akan datang terlambat ke studio.
Julaika membuka mata nya dan melihat Azlan ikut terlelap di samping nya, makanan tergeletak begitu saja di meja dalam nampan.
Julaika mengulas senyum memperhatikan wajah tampan suami nya, siapa yang menyangka ia akan berjodoh dengan pria yang menjadi perias pengantin nya.
Azlan hadir begitu saja dalam hidup nya tanpa tanggung tanggung, Ia langsung menjadi Suaminya. sementara pria yang Ia bayangkan menjadi teman hidup nya kini mendekam di penjara.
skenario tuhan memang begitu indah, tak ada yang tahu kita akan berjodoh dengan siapa ?
Yang pasti apapun yang tuhan kehendaki itulah yang terbaik untuk hambanya.
Julaika meraba wajah Azlan yang putih dan bersih, yakin banyak wanita yang mendambakan nya, namun ia malah berjodoh dengan perempuan introvert seperti nya.
"terima kasih sudah hadir dan bersedia menjadi teman hidup ku...!"
tukas Julaika mendekap tubuh Azlan, pria itu terbangun dan balik memeluk istrinya.
bersambung...
__ADS_1