
Bab 24
"Lurus terus ada perempatan nanti belok kiri, rumah bercat hijau muda," suara dari belakang sudah sedikit melemah dan sedikit berubah serak.
*Suaranya kenapa berubah? Apakah dia benar-benar sakit?*
Desa yang lumayan jauh dari keramaian kota. Tapi menyimpan rasa yang damai. Anak anak berlari membawa kitab menuju ke musholla, banyak pula menyebutnya 'Langgar' atau 'Surau' Andhra sesekali berhenti karna jalan yang mereka lalui lumayan sempit.
"Maaf, Bu!" ucap Andhra hampir saja menabrak seorang ibu ibu yang sepertinya juga hendak ke Mushola. Ibu itu memakai mukena atasan dan sebuah sajadah di dada.
"Hati hati, dong kalau bawa motor!" nyolot si ibu itu spontan. Padahal Andhra sudah berinisiatif minta maaf terlebih dahulu. "Eh mbak Rossi sama pacarnya ya," kepo ibu ibu itu saat melihat Rossi menyembul dari punggung Andhra, karna ingin melihat siapa yang berteriak.
*Kenapa harus ketemu sama pemimpin gosip ini seh* batin Rossi.
"Bu..kan ini...!" belum sempurna menjawab eh Rossi malah bersin bersin.
"Mbak Rossi sakit ya," tanya ibu itu lagi meski remang remang tapi masih bisa melihat wajah pucat milik Rossi. Mulai deh cari bahan gosip.
"Bu, apakah kami boleh lewat sekarang?" Andhra mulai jengah karna ibu ibu itu tidak juga berpindah tempat. Ibu itupun menyingkir, tapi pikirannya menyusun kalimat demi kalimat gosip yang keren.
Dengan pelan motor melaju lagi hingga sampai di sebuah rumah sederhana dengan bercat hijau sesuai yang di tunjukkan oleh Rossi.
"Terima kasih, ya!" ucap Rossi yang baru turun dari motor sambil mengusap hidung yang mulai mengeluarkan ingus.
"Rossi kamu sudah sampai!" sebuah suara membuat mereka berdua mengalihkan pandangan. Tadi saat di dalam ibu mendengar ada suara motor berhenti di halaman rumahnya. Sesuai dugaan Rossi yang datang.
"Iya, bagaimana kondisi ibu? Dan dimana ayah?" Rossi mendekati ibunya dan mencium tangan.
"Ayahmu pergi jama'ah sama kakakmu tadi," jawab sang ibu.
"Berarti kaka juga pulang ya, Bu!" Ibu Rossi pun mengangguk.
"Siapa Dia, Nak! Kenapa tidak di ajak masuk?" Ibu Rossi memandang Andhra yang diam di tempat.
"Dia Andhra ibu, teman Rossi di perjalanan," jelas Rossi sambil beberapa kali bersin.
__ADS_1
"Kamu lagi datang bulan ya?" tebak ibunya, yang ditanya hanya mengangguk sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangan masih saja bersin terus. Sudah jadi kebiasaan Rossi jika datang bulan datang pula pileknya.
"Sudah sana bersih bersih dulu, nanti ibu buatin wedang jahe, madu dan kunyit biar nyeri haid kamu berkurang." Rossi mengangguk, tapi kemudian teringat akan Andhra, Rossi memutar kepalanya.
"Diajak masuk to Nduk temennya. Kasihan tuh, biar dia istirahat sejenak." Rossi menggidikkan bahunya acuh, melenggang pergi ke kamar.
"Ayo masuk dulu, Nak! Ke sini!" Ibu melambaikan tangannya, "Ayo sini. Rossi memang begitu orangnya. Kamu jangan ambil hati ya! Banyak teman lelakinya yang bermain ke rumah, tapi begitulah Rossi, terlalu cuek." Ibu mendekati Andhra dan menarik lengan pemuda itu. Menuntunnya agar bersedia mampir. Dengan sedikit ragu Andhra melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
Rumah yang cocok untuk sebuah keluarga kecil dengan bentuk paris minimalis. Ruangannya tertata begitu rapi dan elegan dengan warna monokrom gaya modern.
"Silahkan duduk dulu, nak." Ibu mempersilahkan, sedangkan Rossi sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Andhra mengirim pesan kepada Farid agar menjemput. Tapi sudah lama pesannya tidak di baca apalagi di balas.
*Oke, aku pinjam saja motor gadis ini* batin Andhra.
Sedangkan di dalam kamar Rossi sudah selesai mandi menyisir rambutnya pelan. Mandi kilat yang cukup membuatnya menggigil. Dia tidak akan bisa tidur kalau belum mandi. Teringat akan tamunya, dia pun bergegas ke ruang tamu. Andhra duduk diam sambil menopang dagunya.
Bau harum menguar di hidung, membuat Andhra menoleh. Rossi mengenakan setelan baju tidur berbahan kaos bergambar Spongebob. *Kenapa gambar Spongebob bisa begitu seksi ketika di kenakan orang dewasa ya, Cantik sekali* batinnya.
"Mau istirahat dulu apa pulang sekarang?" Bukan pertanyaan tapi seperti sebuah usiran secara halus untuk segera pergi itu kalau menurut pemikiran Andhra.
Dia harus segera mungkin pulang ke rumah agar bisa mengecek pekerjaannya di kantor melalui email. Dan besok paginya dia baru akan ke makam kakek Suluh. Sedangkan gadis di depannya ini sepertinya menaruh curiga.
"Enggak mau, enak saja!" mengembalikan uang itu ke tangan Andhra. "KTP sini" Rossi menodongkan tangannya. Yang di mintai terheran di buatnya, menatap Rossi dengan dahi berkerut.
*Mau apalagi sih dia, oh ya Tuhan. Baiklah turuti saja biar cepat berakhir.* Batin Andhra.
"Nah, siniin!" mengambil KTP di tangan Andhra. "Ini sebagai jaminan agar anda tidak mau jual motor saya," formal banget pakai sebutan anda lagi. Andhra hanya menghela nafas menemukan ada tanda tanda gagal pinjam.
*Yaelaah gadis ini ya. Beli seratus juga mampu, aku.* Tapi itu hanya terucap di hati Andhra. Demi bisa pulang ke rumah tujuan, Andhra menyodorkan kartu yang di minta oleh Rossi.
"Kau sampai sebegitunya menyimpan KTP ku segala, apa kau sengaja biar bisa lebih dekat dengan ku ha." Andhra tersenyum sinis.
"Idiiih ogah banget ya, apa lu ngarep ya. Memang benar seh saya cantik tapi nggak banget deh jika punya pacar yang nyebelin kayak anda. Wahai tuan Angger Andhra Abhimanyu," pas sebut nama Rossi mengeja KTP yang berada di tangannya.
"Padahal saya yakin anda sudah tergoda lho dengan saya. Tuh buktinya pakai minta KTP segala." Andhra berkata dengan gaya cool nya.
__ADS_1
*Kenapa aku yang jadi terpojok dan kalah strategi seh. Akukan hanya ingin sebuah jaminan, agar motorku bisa di pastikan aman bersamanya. Apa aku kembalikan saja KTPnya ya. Ah tidak tidak! Kalau nanti motorku di jual sama, dia bagaimana? Apalagi kreditnya belum lunas lagi.* Rossi menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Hai, malah bengong." Andhra menjentikan jari membuyarkan lamunan Rossi.
"Tidak bisa ini sebagai jaminan nanti kalau ada apa apa dengan motor saya." Tegas Rossi.
Bersamaan itu datanglah dua orang pria beda usia mengucapkan salam. Dan di jawab oleh kedua orang beda jenis yang saling berdebat.
"Ada tamu rupanya!" sapa Ayah Rossi yang wajahnya serasa tak asing bagi Andhra.
"Iya ayah, dia bang Andi, kami tadi berangkat bareng dari terminal pertama. Aku juga tidak menduga jika akan satu tempat duduk. Ternyata desa kita juga bersebelahan. Jadi kami pun pulang bareng." Ungkap Rosssi, sedangkan Andhra masih sibuk mengingat.
*Kenapa wajahnya seperti tidak asing ya*
"Saya Heru ayahnya Rossi dan ini kakaknya Rossi namanya Rusdi." memperkenalkan pemuda yang ada di sampingnya juga. Andhra sempat terbengong sejenak tapi setelahnya juga membalas uluran tangan mereka.
Andhra masih diam memperhatikan sosok yang seperti tidak asing di dalam kenangannya. Hanya ada guratan samar yang berhasil dia dapatkan dari ingatan masa kecilnya. Sosok wajah dan nama yang sama. Tapi Andhra tidak mau gegabah, bisa jadi dia salah orang.
"Nak Andhra memang dari mana?" Tanya Heru setelah mereka sama sama duduk.
"Dari desa Kembang!" jawab Andhra singkat.
"Kebetulan saya juga mau ke sana, nak! Saya akan menemui pak, Farid, Kepala desa Kembang."
"Nak Andhra rumahnya sebelah mana?"
"Kebetulan saya saudara Farid kepala desa kembang, pak! Kalau boleh saya numpang sampai ke sana, pak? Soalnya tadi saya mau pinjam motor putri bapak, tapi malah KTP saya diminta sebagai jaminan, takut nanti saya jual motornya, Pak."
Rossi melotot tajam kearah Andhra.
Sial banget nih orang ngadu ke ayah segala.
To be continued
Dasar Andhra nyebelin.
__ADS_1