Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 48 kesal


__ADS_3

"Usir dia aaaa!" Teriak Rossi saat kucing itu di dekatkan padanya.


"Dia semanis dirimu."


"Aaa....nggak!"


"Lihatlah, apa kau tidak mau melihatnya dari dekat." Di ambil oleh Andhra kucing yang tengah asyik menunggu Rossi tadi. Lucu sekali! Kucing itu menjilati kakinya sehabis memakan sesuatu. Andhra menebak, jika makanan tadi, pasti Rossi yang menjatuhkannya sebab panik ketika berjumpa dengan kucing.


"Hai, kucing tampan. Kau juga pintar memilih gadis rupanya." Andhra mengangkat tinggi-tinggi kucing itu, Rossi berteriak semakin kencang. Antara takut dan juga panik.


"Uhuk  uhuk uhuk. Singkirkan dia dariku. Hat hat hatciiihhhh"


Rossi bersin beberapa kali. Hidung merah dan mulai mengeluarkan ingus.


Efeknya sampai separah itu! Pikir Andhra. Perlahan tapi pasti, dia mulai menjauhkan kucing itu dari Rossi yang masih saja bersin.


"Pergilah! Jangan ganggu dia lagi ya! Meski cantik, tapi dia bukan jodohmu." Kata-kata konyol Andhra membuat Rossi ingin tertawa, tapi urung sebab bersin tidak bisa dia elakkan lagi. Yang tadinya lucu jadi berubah kesal.


"Sekarang, turunkan aku!" pinta Rossi menahan kesal. Masih bersin beberapa kali. Andhra sampai menutupi wajahnya menggunakan tangan.


"Turun saja sendiri."


"Tolong!" Pasang muka memelas di sela-sela bersinnya. "Sesama manusia harus saling tolong menolong lho. Dapat pahala lagi." Bujuk Rossi mode pupy eyes


"Nggak mempan!" Cuek Andhra malah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Rossi sudah tidak ada lagi tenaga, badannya tiba-tiba saja lemas, setelah itu, pandangannya mulai kabur dan dia tidak tahu lagi apa seterusnya. Yang dia ingat, terasa ada yang menangkap tubuhnya saat itu. Dengan samar, diapun masih bisa mencium aroma maskulin sebelum semuanya gelap.


Hufft ... Hah hah!seorang gadis dengan keringat membanjiri sekujur tubuh.


"Kau sudah bangun rupanya. Paman begitu khawatir akan keadaanmu. Apa kau baik-baik saja." Yang ditanya masih diam, matanya nyalang menyoroti setiap detail ruangan tempat dirinya berada. Mengatur nafas yang belum sepenuhnya normal.


"Minum terlebih dahulu." Paman menyodorkan segelas air, yang langsung di teguk Rossi hingga tandas.


"Aku kenapa Paman?" Paman terhenyak sejenak. Mungkinkah keponakannya ini mengalami gegar otak? Tapi dia tidak jatuh sama sekali. "Dan dimana ini Paman? Kenapa aku bisa ada di sini?"  Ruangan ini cukup asing bagi Rossi.


"Syukurlah, kamu masih mengingat paman. Dan ini, adalah ruang kesehatan kantor. Tuan Andhra yang membawamu kemari." Ucap Paman memberitahu.


Pantas saja ada banyak obat di sini. Batin Rossi menatap ke arah lemari kaca berisi banyak obat dan perlengkapan kesehatan.


"Nona Rossi, Anda sudah bangun?" Seorang wanita bekemeja putih masuk dengan senyum mengembang.


"Berikan tanganmu, aku akan memeriksa detak nadi Anda." Beberapa menit kemudian, pemeriksaan telah selesai.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya paman dengan cemas, sebab beberapa jam telah berlalu, namun Rossi tak kunjung pula siuman.


"Keadaannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, dan saya sarankan, agar Nona Rossi istirahat yang cukup semoga kondisinya cepat pulih. Jangan lupa minum vitamin dan obat yang saya berikan. Tapi, jika bersinnya hilang Anda boleh berhenti meminumnya."


"Terima kasih Dok!"


"Kira-kira kami harus bayar berapa ya, Dok?" Tanya Paman. Sebab dia tidak melihat akan adanya tempat pendaftaran atau semacamnya. Jadi, Paman berpikir jika bayarnya langsung dengan dokter di depannya ini.


"Tidak perlu, Pak!"


"Lho kok begitu? Apa sudah ditalangi sama Tuan Andhra?"


"Tentu saja! Sebab kantor sengaja menyediakan layanan medis kepada seluruh staf. Kami para dokter juga berjaga secara bergantian sesuai jadwal yang telah di tetapkan."


"Owh, begitu!" Dokter muda itupun mengangguk. "Wah, keren sekali kantor ini ya!" Dokter itu mengangguk lagi. "Apakah orang luar juga boleh periksa kesehatan?"


"Paman, makin kepo deh!" Rossi mulai turun sambil memegang kepalanya yang masih sedikit berdenyut pening.


"Semua yang berada di area kantor ini diperbolehkan, Tuan!" jawab dokter.


"Wah, hebat! Tapi selama ini saya koin Ndak tahu ya?"


"Mungkin karena ruang ini baru di buka beberapa bulan yang lalu." Terang Sang Dokter. Paman manggut-manggut mengerti.


"Semoga kantor ini selalu berjaya. Agar saya juga kecipratan rezekinya. Dan terima kasih, karena dokter keponakan saya sehat kembali."


Setelah Rossi dan paman pergi, Dokter itu menerima panggilan dari seseorang.


"Iya Tuan?"  Mendengarkan dengan seksama.


"Saya sudah melakukan yang terbaik, secepatnya Nona Rossi akan segera pulih." Ucap Dokter memastikan.


Sambungan terputus.


"Bagaimana keadaannya?" Kedua pria ini menjalani aktivitas berbeda. Satunya terlihat sibuk dengan laptop dan tumpukan berkas. Sedangkan yang satunya duduk santai tanpa beban. Bahkan sengaja bersandar enak di sofa.


"Dia baik-baik saja!"


"Tidakkah kau ingin melihat keadaannya?" Pria yang sengaja menaikkan kakinya ke atas meja. Baru saja mendarat, sebuah bolpoin melayang tepat di sepatunya. Tatapan tajam Andhra membuat pria itu menurunkan lagi kakinya. Mengangkat kedua tangannya sebagai pertanda meminta maaf.


"Tidak! Untuk saat ini. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku." Andhra membaca sebuah dokumen, lalu mengetik sesuatu pada laptopnya, setelah di rasa cukup, Andhra membubuhkan tanda tangan, kemudian beralih pada berkas lain.


"Dimana Ozan?" Andhra menghentikan kegiatannya mengetik.

__ADS_1


"Menemani istrinya cek up!"


"Tapi, bukankah tadi aku lihat dia baru saja keluar dari kantor ini?" Tanya pria itu lagi.


"Yah, dia meminta cuti untuk tiga hari ke depan. Anita akan menjalani operasi caesar."


"Hemmh, kabar yang sangat bagus. Jika saja aku mampunyai banyak waktu, tentu aku sudah memiliki banyak anak seperti dirinya. Sayangnya, Bosku tidak sebaik Bos Ozan." Pria itu kini berjalan ke arah kulkas, mengambil sebotol minuman dingin dan sebuah jeruk. Dengan segara, pria itu mengupas jeruk dan mulai memakannya.


"Kau protes padaku?"


"Tidak juga! Aku menikmati kebebasanku kali ini. Hanya saja, aku khawatir pada Mella. Kedua orang itu tidak bisa dianggap remeh."


"Ternyata, telah keliru sebab mengandalkan dirimu." Ejek Andhra tanpa menoleh.


"Hai... Bukan begitu, kau tahu sendiri seperti apa pria karakter pria yang pura-pura menjadi diriku itu. Aku tidak rela, jika Mella sampai jatuh ke tangannya."


"Lakukan pekerjaanmu, akan kupastikan Mella benar-benar aman."


"Kau memang terbaik. Aku harus pergi. Farid sepertinya kesulitan mengatasi masalah di Indochick. Lihatlah, dia mengirim pesan padaku.


Sepertinya Farid enggan meminta bantuan dariku. Baguslah, setidaknya dia akan banyak belajar lebih baik lagi.


"Lakukan yang terbaik, aku juga akan datang berkunjung Minggu depan. Pastikan semua selesai sebelum itu. Lindungi Farid dan keluargaku di desa."


"Siap Tuan! Ku pastikan semua aman terkendali. Tapi ada satu lagi masalah, Hasma sepertinya melakukan pembenahan operasi wajahnya yang gagal. Jadi, barang tentu perubahan kali ini juga akan di salah gunakan."


"Terus awasi dia."


"Pasti! Bahkan aku sudah menyiapkan orang-orang pilihan. Tapi, aku tidak bisa menjamin keselamatan Mella, sebab aku takut jika ketahuan olehnya."


"Aku mengerti. Mella akan aku tugaskan keluar kota beberapa hari ini. Kau bisa menemaninya sebagai supir."


"Benarkah? Kau sangat baik." Girang bukan kepalang. Pria itu meloncat sambil bersorak bahagia, seperti anak kecil yang menang lotre.  Andhra hanya menggidikkan bahu acuh.


Suara pintu di ketuk, membuat pria itu segera menutup kepalanya dengan tudung jaket kulit miliknya.


"Masuk!" Ucap Andhra setelah pria di sofa terlihat rapi guna menyamarkan identitasnya.


"Tuan, ini berkas yang Anda minta tadi."  Mella meletakkan berkas, tepat di depan wajah Andhra. Segara Andhra memeriksa dan membubuhkan tanda tangan.


Mella menatap lama seseorang yang duduk tenang di sofa, bahkan gadis itu mulai mendekat.


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

__ADS_1


To be Continued....


Jangan lupa dukungannya ya! Share, vote,like, kasih bintang 5 dan komentar. Terima kasih 😊


__ADS_2